Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Kesempatan


__ADS_3

Mobil terparkir sempurna di parkiran khusus presdir. keluar dari sana dan memasuki gedung adinata. saat sebelum mobil masuk, zan melihat banyak sekali karangan bunga. itu sudah pasti. sekarang para penjilat akan menampakkan mukanya.


Semua karyawan menunduk, presdirnya sudah datang. bersama sekertaris kesayangannya tentunya.


"tuan kemarin ada banyak karangan bunga yang dikirim kesini" ucap office boy yang tampangnya ketakutan saat melihat zan.


"taruh di sana" menginstruksikan lewat matanya.


"baik" menunduk dan menjauh dari sana. berbicara seperti itu saja sudah membuatnya berdegup ketakutan.


"selamat pagi tuan rangga" ketiga staf sekertaris itu menunduk serempak.


Rangga melewatinya tanpa membalas, tetapi zan membelok ke meja staf sekertaris. memeriksa jadwal rangga. benar dugaannya, mereka semua sudah mengantri.


"buat salinannya" mendorong buku yang berisi seluruh jadwal setiap hari rangga.


"baik" salah satu dari ketiganya mengambil selembar kertas dan meraih buku itu.


blam


pintu ruang presdir tertutup.


Disana sudah ada rangga yang duduk di kursinya. saat dia masuk sudah ada beberapa map coklat diatas meja. sudah bisa ditebak apa itu. dia membuka salah satunya.


"para penjilat mulai menjilati tanah rupanya" dan akhirnya dia melempar map coklat itu ke atas meja.


"tuan ada rapat setengah jam lagi" berjalan mendekat ke meja. merapihkan kertas yang terbuang dari mapnya.


Rangga menaruh tangannya diatas meja. menatap map coklat lainnya.


Sehari setelah ditinggal papa kino, rangga harus kembali ke adinata. para penjilat yang akan mengadukan sedihnya dihadapannya, padahal intinya ingin membentuk kerja sama. dengan kedok teman bisnis lama papa kino. bulshit .


Rangga hanya akan mendengarnya, mendengarkan aduan omong kosong dari mulut-mulut penjilat. lama-lama rangga merasa terhibur dengan segala omong kosong itu.


Hari ini rangga merasa malas untuk berbicara. moodnya turun drastis.


tok tok


"masuk" perintah yang membuat pintu terbuka.


"ada perwakilan yang datang tuan" menunduk saat matanya bersih tatap dengan rangga.


"suruh dia" ucapan zan terpotong.


"suruh dia kembali ke perusahaannya" si presdir yang memotong.


"b–baik tuan" bergegas keluar. tatapan rangga menyeramkan sekali tadi.


Zan menatap rangga yang balik menatapnya dengan tatapan yang melambangkan suasana hatinya.


"apa perkataan nyonya marlin membuat anda terbebani tuan?" hatinya ikut tidak tenang melihat wajah rangga.


"papa meminta itu pasti akan aku kabulkan" bangkit dari duduknya. menatap keluar jalanan yang sangat padat.


"saya akan menambah pengawal untuk besok" berdiri tak jauh di belakang rangga. memperhatikan punggung dan kepala rangga dari belakang.


"tidak usah" memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya.


"baik" tidak berpindah tempat masih berada dibelakang rangga.


Rangga menghela nafas pelan, suara geluduk awan tidak membuatnya bergeming. awan akan meneteskan hujan sepertinya.


"jangan pernah seolah-olah kau adalah robot ku" menunjuk seseorang yang dimaksud dengan kata-katanya.


orang yang dimaksud sangat peka. tidak ada orang lagi selain zan dan rangga.


"kenapa?" membalikkan tubuhnya menghadap zan.


"untuk menghormati sumpah yang diucapkan kedua orang tua saya dan untuk menghormati jasa-jasa tuan kino untuk saya tuan" mengerti apa topik rangga. dia awalnya mengira rangga tidak akan tahu.

__ADS_1


Rangga kembali menghadap jalan raya. membuang nafasnya kasar.


"apa kau mengira dia akan diam saja?"


zan diam menatap luar. hubungannya sekarang seperti mobil-mobil itu, diam ditempat dan berjalan seperti kura-kura. lambat.


"wanita sangat susah kalau sudah dikecewakan" mengeluarkan tangannya dari dalam kantungnya dan melipatnya di depan dadanya.


"bagi saya, adinata dan anda adalah hal yang harus saya prioritaskan" hatinya dan mulutnya sekarang tidak satu tujuan. hatinya gelisah tapi bibirnya tidak mau mengucap.


Rangga memutar tubuhnya kembali "akan ada saatnya orang-orang yang ada di dekat ku harus aku lepaskan, jangan sampai menyesal" berjalan melewati tubuh zan yang masih ditempat.


Dia tidak terlalu takut tentang cinta, adinata dan rangga lah yang menjadi prioritasnya. cinta masih bisa dicari, tetapi tuan rangga tidak bisa dikesampingkan.


****


Malam harinya, setalah mengantarkan rangga kembali kerumah utama. disinilah zan sekarang, didepan sebuah rumah berpagar hitam yang sudah setengah jam lalu ia perhatikan. hanya ada dua pilihan turun atau tidak?.


Hatinya tiba-tiba gusar, apalagi melihat tatapan rangga yang seperti sedang menginstruksikan dirinya untuk pergi kesini. di jok belakang ada beberapa makanan yang dia beli tadi sebelum kesini. sudahlah akhirnya dia mengeluarkan hpnya.


"keluar" hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. lalu setelahnya dia menutup telponnya. tidak peduli orang yang dia telpon mati kutu membaca bahasanya.


Tidak lama gerbang dibuka sedikit, memunculkan kepala seorang wanita yang celingak-celinguk.


Zan tertawa geli tanpa ia sadari. wanita itu keluar dengan rambut yang seperti singa. sepertinya dia baru bangun atau baru ingin memasuki alam mimpi?. zan keluar, saat dia menutup pintu mobil. wanita itu menyipitkan matanya.


Saat zan sampai didepan wanita itu. dia masih menyipitkan matanya, benar wanita itu baru ingin memasuki alam mimpinya.


"kenapa kau kesini?" teriaknya setelah sadar siapa orang yang didepannya.


dia adalah rasya.


"kenapa?" balik bertanya tanpa dosa dan bermuka datar.


rasya melangkah mundur dengan seringai di bibirnya. "wahh" dia sudah aba-aba untuk menggeser pagar.


tetapi tangannya ditahan dengan tangan besar zan.


Pengang juga lama-lama gendang telinga zan.


"kau ingin membangunkan anjing tetangga?" urat dilehernya mulai bangun. tangannya ditepis dan diteriaki.


"iya! sekalian sama orang-orangnya, pak mamat sekalian biar kau digebukin di jalanan" menantang sekali.


digebukin ya? gak kebalik tu ntar?.


Zan mendekat tiba-tiba, membuat tubuh rasya merapat ke tembok.


"jangan mendekat" memajukan tangannya menahan zan yang tetap berjalan mendekat.


"diam" berteriak sekaligus membentak.


zan memberhentikan kakinya. kenapa rasya sudah 11 12 dengan singa?.


"pulang sana" menggerak-gerakkan tangannya mengusir. padahal kakinya gemeter menatap wajah orang kaku ini.


"kau mengusir ku?" menunjuk dirinya sendiri. sambil menatap marah sekaligus ahh itu pokoknya.


"y–ya" mana ada dia punya keberanian menantang zan, hasrat ingin mengusir datang begitu saja. "me–memangnya kau ingin ngapain kesini malam-malam?" memegang dinding tempat tubuhnya merapat hampir menempel.


zan menatap jam tangannya. ini baru jam setengah sepuluh malam.


"kalau kau ingin kesini liat waktu dong" sinisnya padahal dirinya pun gemetar-gemetar takut, sapa tau zan akan menculiknya. kalau zan tiba-tiba menyeretnya ke dalam mobil bagaimana?.


"ini baru setengah sepuluh sudah malam dari mana?" melipat tangannya.


"mendongak cepat"


zan mendongak keatas, langitnya hitam. lalu kenapa? pikir zan.

__ADS_1


"lalu?"


bodoh sekali ya?.


"lihat hari sudah gelap, dari ujung sana sampai sana tidak ada orang apa kau buta?" ucapnya galak sangat galak seperti maung. karna geram dia jadi tidak sadar telah mendekat ke zan.


Saat sadar dan hendak menjauh lagi, tangan zan langsung menarik pinggang rasya.


"udah pedo modus lagi" ingin melepaskan tangan zan dari pinggangnya, tapi kenapa zan seperti mencengkram pinggangnya? tidak bisa dilepas sial!.


Zan menarik rasya ke mobil. dan tentu saja mendapat amukan dari Rasya.


"papa tolong aku mau diculik" teriaknya dan langsung ditutup oleh zan.


Zan benar-benar merasa seperti penculik sekarang.


"papa aku diculik" teriaknya saat sudah berada didalam mobil zan.


menyusahkan juga ya ternyata.


"tidak ada yang ingin menculik mu" menutup mulut rasya. berisik sekali.


Rasya membalas didalam bekapan zan. suaranya tidak jelas.


"tidak ada untungnya juga kalau menculik mu"


bukk


Rasya memukul lengan zan. tentu saja tidak terasa oleh zan.


"buka cepat" menatap kesal zan. tetapi zan sama sekali tidak bergeming.


"maaf kemarin aku tidak datang kerumah mu" membuka topik yang sesungguhnya.


Rasya membanting punggungnya ke kursi. kesal yang melandanya kemarin lah yang membuatnya seperti tadi. tapi disisi lain dia tenang zan tidak kerumahnya, entah apa yang akan dikatakan zan nanti.


"gapapa" melempar pandangannya.


"mau memberi saya kesempatan kedua?" memperhatikan wajah rasya yang tertutupi rambut singanya.


kesempatan? rasya bingung dengan kata-kata itu. memangnya siapa dirinya? dan mereka ini sebenarnya apa?.


"pasti kau sudah tahu berita adinata kemarin, alasan itu yang membuat ku tidak bisa kemari" menjelaskan apa yang terjadi. wah jarang sekali melihat sekertaris zan menjelaskan seperti ini.


"kau tidak perlu menjelaskan" membuang wajahnya ke jendela. tidak dia tidak mau menatap zan lama-lama wajah tampannya bisa membuatnya tidak fokus.


Keheningan tercipta. zan tidak tahu harus berbicara apa.


"apa danita baik-baik saja?" memutar kepalanya menatap zan yang sontak menoleh kepadanya. rasya langsung membuang pandangannya lagi.


"nona menangis semalaman" tidak memutar kepalanya kembali menghadap ke depan. rasya kikuk sendiri diliatin gitu.


"buka ini cepat" mari kembali. menunjuk-nunjuk pintu. dia ingin cepat-cepat turun dari sini.


"beri aku kesempatan sekali lagi baru kau boleh turun"


Rasya menghela nafas kasar, sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan zan. tetapi ibunya lah yang ia pikirkan.


"yaudah terserah" yang penting ayo cepat turun.


zan memencet tombol agar pintu bisa dibuka. "terima kasih" oh tidak sekertaris zan tersenyum.


Rasya buru-buru turun, bisa-bisa gila dia kalau melihat lama-lama. tapi tadi itu tampan sekali.


"sadar rasya sadar" menepuk-nepuk pipinya. dia berlari menuju pagar.


"lain kali sisir dulu rambut mu" teriak zan mengeluarkan kepalanya.


ah sial rasya baru sadar, rambutnya seperti singa. sudahlah bodo amat, yang penting dia sudah keluar dari naungan macan itu. bukan macan si, balok es mungkin?.

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2