
seharian itu menjadi hari terburuk bagi para dokter dan suster yang ada dirumah sakit, mereka mendapatkan amukan dari Rangga yang mengoceh kenapa mereka tidak bertindak secara cepat memberikan pertolongan pertama untuk danita. ya Rangga tau ini bukan kesalahan sepenuhnya dari para dokter disana, tapi karna Rangga sudah terlanjur kesal dengan mereka semua akhirnya dia meluapkan semuanya.
oh jangan lupakan audri yang sudah diperingatkan oleh zan akan kesalahan terbesarnya.
"bagaiman kau bisa membiarkan danita kesakitan?" dari tadi sudah menatap audri yang berwajah pias. "apa kau tidak bisa mempercepat mobil agar cepat sampai?" menatap tajam kedepannya. "jawab" melempar sepatunya kearah audri tapi tidak kena audri.
"maafkan saya tuan muda" itu adalah kata-kata reflek audri yang keluar begitu saja.
"cih" membuang mukanya kearah zan. "jangan tampakkan mukamu didepan ku" kembali menatapnya.
"maafkan saya tuan muda" menunduk hormat dan keluar dari sana tanpa menimbulkan suara diikuti zan.
"pergilah kemana saja kau mau, kembali lah saat tuan Rangga sudah memaafkan mu" memegang gagang pintu agar tidak menutup semuanya.
"baik tuan" mengangguk dan berjalan pergi Masi menundukkan kepalanya.
dari kejauhan terlihat dokter rajwa yang berjalan membawa beberapa kertas kearah sini. mengingat itu adalah ruangan pribadi kepala dokter dirumah sakit ini.
"apa ada pertumpahan darah?" berdiri didepan zan yang masi memegang gagang pintu.
"ya hanya sedikit teriak-teriak" membukakan pintu ruangan.
rajwa masuk kedalam ruangan dan zan menutup pintu dengan rapat. sementara dirinya sendiri pergi meninggalkan ruangan itu.
"pendarahan ya, kenapa ini sangat merepotkan" zan menyisir rambutnya kebelakang menjadi sedikit tidak tertata rapi.
didalam sana rajwa memulai perbincangan dengan Rangga yang terlihat sedang frustasi diatas kursinya.
"mukamu jangan dijelek-jelekkan" duduk di kursinya, mengembalikan kertas-kertas tadi ke tempatnya.
"pendarahan...." memijat dahinya dan menarik rambutnya kebelakang.
__ADS_1
"cukup mengejutkan bukan? dengan pendarahan kecil yang terjadi pada danita berhasil menggemparkan seisi rumah sakit ini" menyenderkan tubuhnya ke kursi yang sangat nyaman itu.
"gua gak tau harus gimana pas denger pendarahan, ya walaupun itu pendarahan kecil bisa berbahaya kan?" mukanya itu sudah sangat gusar dari tadi.
"memang, dari pendarahan kecil kalau tidak segera diatasi bisa menjadi pendarahan yang mengancam janin atau sang ibu" ucapnya menatap Rangga yang mulai lebih gusar.
terdengar rangga membuang nafasnya kasar mendengar perkataan rajwa.
"gua udah khawatirkan ini, usia danita Masi terbilang cukup rentan untuk melahirkan, rahimnya belum cukup kuat menampung janin yang ada didalamnya, aku selalu memberikan vitamin yang harus diminum setiap hari untuk memperkuat janin dan juga dinding rahimnya" melipat tangannya diatas meja.
"gua kadang lupa kalau gua menikahi wanita yang masi sangat muda" menatap langit-langit ruangan.
"haha, sulit bukan menjadi seorang suami?"
Rangga diam itu sudah sebuah jawaban bagi rajwa untuk pertanyaannya.
"kau pasti bisa melalui ini semua, ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang sudah kau lalui selama ini" berwajah yakin dengan kata-katanya.
"hahahaha aku lupa" tertawa garing yang dia sengaja agar suasana tidak sunyi.
Rangga hanya melirik rajwa yang tertawa sendiri, dia tidak ada niat untuk tertawa sekarang. tapi melihat rajwa yang tertawa garing, dalam hatinya dia tertawa samar.
"gua balik dulu" meninggalkan rajwa yang menatap kepergiannya.
"dia menangis" lirih rajwa dalam hatinya saat pintu sudah tertutup tanpa suara dan hanya meninggalkan sekelebat bayangan Rangga yang berjalan.
****
sementara itu didalam ruang inap danita hanya ada dia seorang didalam ruangan itu. saat seorang dokter datang untuk memeriksanya, dokter itu tidak berani menatapnya dia hanya fokus memeriksa danita tidak lain. danita menyimpulkan sendiri kalau ada sesuatu yang terjadi disini.
dia berfikir Rangga tidak akan datang lagi kesini dan Rangga mungkin akan sangat marah kepadanya terlepas dari perginya Rangga tadi sore dengan raut wajah yang tidak enak, tapi tebakannya salah semua tidak mungkin seorang Rangga meninggalkan istrinya begitu saja.
__ADS_1
"kenapa kau belum tidur?" suaranya mengejutkan danita yang muncul dari balik pintu.
"aku menunggumu" lirih danita menatap dengan mata sayu ke Rangga yang masi berdiri disana.
Rangga berjalan sambil melepaskan jas dan dasi yang masi melekat dibajunya. "sekarang tidur lah" menepuk kepala danita dengan lembut.
"ayo tidur disamping ku" menarik-narik lengan baju Rangga yang belum dilepas kancingnya.
Rangga menuruti keinginan danita, dia sekarang membuka kemejanya dan tidak lupa jamnya. dia sudah memakai baju itu seharian penuh tentu saja dia merasa gerah.
"kenapa dia sangat lucu dengan badan seperti itu?" menatap tubuh kekar Rangga dengan tatapan yang aneh. "sayang kenapa kau melepas kemeja mu?" Masi menatap Rangga disana.
"kenapa? aku merasa gerah atau jangan-jangan kau memikirkan yang macam-macam?" berjalan mendekat dan naik keatas ranjang rumah sakit.
"tentu saja tidak, kau jarang melepas bajumu ketika tidur" membuang pandangannya ke benda disekitar Rangga.
Rangga tidak mendengarkan lagi, dia menidurkan perlahan danita, menarik selimut sampai menutupi tubuh danita. dia sendiri tidak kebagian semua, ya karna dia gerah.
"sayang apa kau nanti tidak akan masuk angin?" perlahan dia merasakan Rangga yang menarik tubuhnya untuk masuk kedalam dekapannya.
"tidak" dia sudah mulai memejamkan matanya.
"kenapa kau tidak marah denganku?" merasakan hembusan nafas Rangga yang bercampur dengan angin malam.
"aku sudah sangat lelah dengan hari ini" danita terdiam dengan perkataan itu.
membayangkan lelahnya berada diluar, ditambah lagi dengan kejadian hari ini sudah membuat danita lelah hanya dengan membayangkannya. bagaimana dengan Rangga yang melewatinya?.
"maafkan aku" menyembunyikan suaranya didalam dekapan Rangga, karena Rangga sudah mulai masuk kedalam mimpinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika Ada typo.