
Kamar utama terdengar sangat ramai. suara obrolannya sampai terdengar di luar. bagaimana tidak? tiga orang ada didalam kamar utama.
"itu ganteng banget demi apa" rasya menunjuk layar laptop danita dengan semangat.
"so sweet banget so sweet banget" danita pun histeris melihatnya.
Sementara satu manusia lagi sangat fokus menonton. tanpa suara. yang paling tenang dia doang kayaknya. diantara dua manusia sedang ribut ini.
"dia mau kiss dia mau kiss" tambah histeris rasya.
"aaa" danita berteriak riuh.
"jangan nona" menutup layar laptop danita.
"yahh kenapa sari?" menatap kecewa.
"itu tidak boleh dilihat kan nona?" matanya polos sekali.
"emang umur mu berapa?" tanya rasya menatap wajah polos sari.
"emm delapan belas lebih" menunjuk ke 8 jarinya.
"itu sudah cukup umur" ujar rasya.
"tetapi itu kan tidak boleh dilihat" ahh polos sekali sari.
Rasya menepuk dahinya, polos sekali. padahal kan ganteng banget artisnya tadi.
"memang kamu tidak pernah menonton drama Korea?" menyentuh tangan sari.
sari menggeleng.
"terus nonton apa?" tanya rasya menatapi wajah sari.
"biasanya ikut pelayan lain nonton Doraemon" jawabnya sangat polos.
Rasya dan danita menepuk dahinya keras. memangnya masih ada kartun Doraemon sekarang?.
"kamu bawa hp kamu gak? sini aku kasih tahu tempat nonton drama Korea" menjulurkan tangannya ke sari.
"saya tidak mempunyai handphone nona" menopang dagunya.
"astaga" rasya pasrah dengan sari.
"seriusan? handphone itu penting loh sari" danita pun gak menyangka.
"saya tidak tahu bagaimana menggunakannya"
"kenapa tidak bertanya pada yang lain? terus kamu hubungin orang tua kamu gimana?"
"terkadang saya meminjam handphone pelayan lain" menatap wajah danita.
"sari handphone itu sangat penting, kamu tidak punya uang untuk membelinya?"
"punya kok nona, setiap bulan saya akan mengirim semuanya ke kampung"
"semuanya?" rasya membulatkan matanya.
sari mengangguk menatap rasya.
"kenapa kamu kirim semuanya? memangnya kamu tidak punya keperluan?" tanya danita menyelipkan rambut sari ke belakang telinga.
"saudara-saudara saya lebih membutuhkannya"
Danita diam, takut untuk bertanya selanjutnya.
"memangnya kamu berapa bersaudara?" rasya kembali bersuara.
"Lima"
__ADS_1
"kamu anak ke berapa?"
"dua" mengacungkan dua jarinya.
"kakak pertama kamu memangnya dimana sekarang?"
"sudah meninggal karna kecelakaan"
Rasya ber oh. dia juga sudah tidak berani melanjutkan pertanyaannya. terlalu sensitif pertanyaannya.
"saya merantau kesini, saat saya sudah tak tahu harus kemana lagi, sekertaris zan menemukan saya lalu membawa saya kerumah ini" sari bercerita.
"lalu?"
"awalnya saya tidak tahu harus melakukan apa saat di uji kemampuannya, dahulu saya suka membantu ayah ibu saya mencocok tanam di sawah. karna ke bisaan saya dalam tanam-tanaman, tuan rangga memperkejakan saya di bagian perkebunan"
"ohhh" danita dan rasya ber oh bersama.
"saya sangat berterima kasih kepada tuan zan yang telah menemukan saya saat itu" curhatnya menunjukkan rasa terima kasihnya.
"sekertaris zan punya hati juga ternyata" gumam danita pelan.
"hati sekertaris zan itu sebenarnya sangat baik nona, tetapi dia sangat menyeramkan kalau sudah marah" mempraktikkan aksi marah yang ada di film-film.
"hahahaha" danita tertawa melihat aksi sari.
sementara rasya terkekeh geli, baik dari mananya? dia itu sangat pemaksa dan suka seenaknya. ahh sepertinya sari teracuni otaknya. pikir rasya seperti itu.
"yaudah ayo lanjut nonton lagi" ucap rasya mengakhiri aksi sari.
"ayo lah" kembali membuka laptopnya.
"nona tapi adegan itu dilewatkan ya?" pinta sari.
"iya" tersenyum lalu menyetel kembali vidionya. tapi danita percepat.
"rasanya gua pengen polosin tu anak" gumam rasya sangat pelan di samping danita.
"nyenyenye" meledek tak peduli.
Mereka bertiga menonton dengan serius. sampai episode terakhir untuk Minggu ini. artinya masih ada episode selanjutnya.
"jadi pengen sauna" ucap rasya merenggangkan otot-ototnya diatas ranjang empuk.
"enak kali ya sya kayak di korea" mengikuti apa yang dilakukan rasya.
Rasya mengangguk setuju.
"sauna itu apa nona?" tiba-tiba sari memunculkan jiwa polosnya.
"gua dari tadi udah gemes tau gak liat kepolosan lu?" menimpa tubuh kecil sari dengan gemas.
"nona tolong saya nona" menjulurkan tangannya ke danita.
Tapi danita malah ikut memeluk tubuh sari, jadilah sekarang mereka berdua seperti sedang perebutan tubuh sari.
*****
ceklek
"danit–a" rangga melongo saat masuk ke kamar.
kamarnya berantakan, tidak lebih tepatnya ranjangnya yang sangat berantakan. bantal yang sudah ada dilantai, selimut yang setengahnya berada dilantai. dan seprainya sudah tak berbentuk.
Sari yang tersadar duluan langsung berdiri dengan rambut yang berantakan. disusul danita yang tak kalah berantakan juga.
"sa–sayang kamu sudah pulang?" menyingkirkan rambutnya yang ada di wajahnya.
Sari sudah gugup sekaligus takut. dia buru-buru merapikan rambutnya dengan jemarinya.
__ADS_1
"danit" dan rasya yang baru tersadar langsung bangkit dari tidurnya dengan rambut seperti singa. dan langsung berwajah tegang.
"kenapa kau tidak bilang tuan rangga pulangnya cepat!" menatap tajam danita.
Mereka bertiga sekarang seperti sedang disetrap.
"apa yang kalian lakukan?" menatap ketiga manusia yang ada didepannya.
Tidak ada yang menjawab.
"nita?" matanya terhenti menangkap sosok yang berdiri diantara sari dan rasya.
"ka–kami hanya sedang bermain sayang" berusaha tersenyum agar bisa menyelamatkan kedua orang ini.
"bermain?" mengerut kan dahinya.
zan muncul dari balik pintu, rangga belum sempat menutup pintunya. jadi zan langsung masuk dan melihat yang ada didalamnya.
"apa yang terjadi?" matanya mengabsen ketiga orang yang rambutnya entah apa bentuknya.
"i–iya sayang kami tadi sedang bermain lempar-lemparan bantal" menyembunyikan rasa gemetarnya.
Rangga berjalan mendekat, membuat sari menggeser tubuhnya. lalu tangan rangga mendekat ke rambut danita yang sudah tak jelas.
"seru sekali sepertinya" mengambil beberapa helai rambut danita. kusut dan tak beraturan, begitulah bentuknya.
"kau keluar" melirik sekilas sari yang menunduk dalam.
Sari langsung melangkah keluar dengan tangan yang gemetar dan rambut yang terburai berantakan.
"bagaimana dengan ku?" dia sedikit bisa melihat kaki dari yang keluar. sementara dirinya? ahh sudahlah.
"sayang kami tadi hanya bermain lempar-lemparan bantal serius" hatinya sudah khawatir dengan sari.
Rangga melempar tatapan tak mengenakan ke danita. memerintahkannya untuk diam.
"kau" beralih ke rasya dengan rambut singanya.
"i–iya?" dia reflek mendongak.
"apa saja yang kalian lakukan?" bertanya sambil berjalan ke sofa. lalu duduk dengan tenang.
Rasya melirik danita sekilas, dia harus menjawab apa?. rasya takut salah bicara.
"jawab saja jangan melihat Nita ku" ucapnya menyilangkan tangannya.
"ka–kami menonton drama Korea bersama, be–berbincang dan bermain lempar-lemparan bantal" gugupnya tak bisa dia tutupi.
"kenapa bicara mu gagap?" menatap tajam.
"sa–saya kebelet buang air kecil tuan" merapatkan kakinya seperti sedang menahan buang air kecil.
Danita melotot ke rasya "cerdik sekali kau mencari alasan" menatapi dari bawah sampai atas.
bukan danita saja yang terkejut, zan juga terkejut mendengar alasan yang di pakai rasya. dia menatap rasya yang sedang berekting disana.
"pergi" ucap rangga dingin. dia tahu itu hanya alasan. hanya orang bodoh yang memakai alasan itu.
Rasya menangis terharu dalam hatinya, aktingnya bisa menyelamatkan hidupnya. tuhan terima kasih. langsung mengambil tasnya yang terjatuh di lantai dan berjalan ke pintu.
"antar dia zan" menatap zan yang berada didepan pintu.
Rasya langsung memberhentikan langkahnya saat melihat zan didepan pintu. ini sama saja berhasil selamat dari mulut singa lalu masuk kedalam mulut macan. untuk menyelamatkan hidupnya dia langsung berlari menabrak tubuh zan.
Sekarang yang tersisa hanya danita, dia bersyukur dua temannya sudah keluar. tapi dirinya sekarang tengah berada didalam naungan singa.
"mau menjelaskan dengan tubuh mu?" menarik pinggul danita. dia dekatkan bibirnya ke leher putih istrinya.
Danita merinding merasakan hembusan nafas halus rangga di lehernya. tidak papa dia yang akan menanggungnya. yang penting dua temannya sudah keluar dari sini.
__ADS_1
BERSAMBUNG