
Matahari diluar sana sudah sangat terik, semua aktivitas manusia sudah dimulai. ada yang bekerja diluar, ada gang bekerja dirumah seperti pelayan rumah tangga dan sebagainya. hanya danita yang tidak tahu harus ngapain didalam kamar itu. dia berulang kali melihat-lihat hpnya, tidak ada yang seru kata batinnya.
"Rasya Vita pasti lagi ada kelas" menatap grup wa nya yang berisi tiga orang.
"aku bosan" membuka selimut yang menutupi seluruh kakinya.
dia membuka balkon yang menghalangi sinar matahari masuk kedalam kamar. merenung lama duduk disana, menatap taman yang sedang dirawat oleh beberapa pelayan.
danita melihat sari ada disana juga sedang mengganti pot bunga yang ada disana. dia ingin memanggil tapi pasti pekerjaan sari akan terganggu. akhirnya dia hanya menatap dari atas tanpa berbicara apapun.
"ada apa ini" terdengar banyak notifikasi ramai di hpnya.
anak 1: "eh lihat deh di kabar berita hari ini, tuan Rangga katanya pergi sama wanita"
anak 2: "untung gak ketinggalan info, kayaknya kenal ma wanitanya"
anak 3: "wanita itu anak perusahaan yang kerja sama dengan adinata bukan si?"
anak 2: "oh iya Alice kan namanya?"
anak 4: "iya cantik banget astaga"
anak 3: "cocok banget sama tuan Rangga gak si?"
anak 1: "atau jangan-jangan dia istrinya tuan Rangga?"
anak 3: "cocok parah si"
danita membaca grup angkatan kuliahnya yang sedang ramai itu, tidak begitu ramai mungkin karna ini belum jam istirahat. ada rasa penasaran yang yang memenuhi hatinya. akhirnya dia melihat berita terbaru.
"pengusaha sukses Rangga adinata digosipkan sedang menjalin hubungan dengan seorang putri pengusaha, banyak yang menduga dia adalah istri Rangga adinata yang dirahasiakan selama ini..."
deg
__ADS_1
danita menyipitkan matanya melihat sebuah foto yang diambil secara diam-diam sepertinya. Rangga yang berpakaian sama persis dengan semalam dan wanita yang duduk didepannya dengan sangat cantik dan elegan.
wajah-wajah yang tidak bisa diartikan muncul dengan sendirinya. danita sudah menahan air matanya agar tidak jatuh, tapi gagal dengan sendirinya air mata itu jatuh membasahi pipinya. rasa sesak di hatinya itu tidak bisa dibendung lagi olehnya. dengan kasar dia menghapus jejak air matanya, dan menghubungi salah satu sahabatnya.
"halo nit" sambungan terhubung.
"sya lu lagi ada kelas gak?"
"baru kelar, kenapa?"
"anterin gua ya"
"kemana?"
"udah Dateng aja kesini nanti gua kasi tau jalan rahasia disini"
"oh oke oke gua otw"
sambungan terputus oleh danita.
****
"nit lu serius?" tanya Rasya dengan gagap dan khawatir.
"iya udah cepet" memukul-mukul tangan Rasya yang berada di kemudi.
"kalau pala gua dipenggal gimana?" menatap danita tajam dan penuh tekanan.
"gak bakal udah cepet" celingak-celinguk melihat kebelakang.
"kenapa gua harus terlibat" menjalankan mobilnya dengan sedikit cepat karna danita yang memintanya.
"anterin gua ke rumah" ucapnya bersandar pada kursi.
__ADS_1
"lu ngomong enak ye, gua gemeter ini" menatap selang-seling antara jalanan dan danita.
"udah anterin aja" menatap keluar jendela.
cukup lama perjalanannya karna macet yang sangat parah, beberapa kali danita mengeluh kenapa harus macet disaat seperti ini? Rasya hanya mendengarkan ocehan sahabatnya. jarak rumah danita dan rumah Rangga cukup jauh, cukup memakan waktu.
"danita hiks gua takut kalo besok gua digantung" ucap Rasya saat sudah sampai di depan rumah danita.
danita tidak mendengarkan rasya, dia langsung turun dan melangkahkan kakinya menuju rumah yang sudah sangat dia rindukan.
tok tok
mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. dan akhirnya dalam ketukan pintu kedua kali ada yang membukanya.
"danita? kamu sama siapa?" yang keluar ibu.
"kok kamu diem? tuan rangga mana?" memegang lengan danita yang tampak mulai berisi.
"Nita sendiri Bu" ucap danita lirih menatap sendu ibunya.
"masuk dulu" menggenggam tangan putrinya masuk.
danita melengos pergi kekamarnya tanpa memperdulikan ibunya yang menatap penuh tanda tanya dan bingung. dia saat ini hanya ingin sendiri.
"itu anak kenapa? telpon bapak aja deh" meraih benda pipih itu dan menekan no.
didalam kamar danita duduk secara perlahan di tepi kasurnya yang sudah lama dia tinggali, barang-barangnya yang dia tidak bawa ke rumah Rangga Masi tetap pada tempatnya. foto-foto dirinya bersama sahabatnya, Poto bersama Rio dan foto saat lulus SMA dipajang di samping tempat tidurnya. perasaannya seperti terbagi dua antara rasa sesak karna berita yang haru saja dia lihat dan kerinduannya dengan rumah.
"hufft" menghembuskan nafas kasar sambil berbaring atas sana.
lama kelamaan matanya terpejam, satu tetesan kecil dari matanya keluar seiring dengan danita yang masuk kedalam alam mimpinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo