
"Papaaa" teriakan seorang anak kecil dari kejauhan.
"kamu kesini sama siapa?" langsung mengangkat tubuh anak kecil itu.
"sama dia" menunjuk sosok anak lelaki yang berdiri sigap dengan satu orang perempuan disampingnya.
"bukannya sekarang kamu seharusnya sedang belajar?" menatap anak kecil digendongnya dengan penuh kasih sayang.
"emmm iya, tapi aku mencari mama" anak yang lugu dan lucu.
tatapan lelaki itu langsung berubah menjadi sendu, entah kenapa wanita yang dimaksud anak kecil ini berhasil membuat pikirannya terbuyarkan.
"kamu dah janji kan sama papa, akan belajar dengan sangat giat tapi kenapa sekarang kamu pergi kesini?" menurunkan tubuh si anak kecil tadi.
"aku mau ketemu mama" mendongakkan kepalanya menatap tubuh yang menjulang tinggi didepannya.
"mama nanti malam akan pulang, sekarang kamu pulang ya?" mengusap Surai hitam.
"oke deh, papah jangan lama-lama ya pulangnya" senyum manis dan polos itu sangat imut di wajah anak kecil ini.
orang yang dipanggil papah itu mengangguk sambil mengusap rambutnya dan berdadah kepada anak kecil yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.
"mungkin kembali mungkin juga tidak nak" bergumam sendiri.
semua menunduk hormat ketika dirinya berjalan ditengah-tengah kepadatan karyawannya.
disinilah awal sebuah alkisah.
"zan kok mama enggak pernah pulang ya?" memegang pegangan ayunan itu dan dia pun berkata.
anak yang bernama zan itu menengok kearah sumber suara dan berdiam sebentar. "mungkin nyonya sedang liburan" ikut menatap kedepan.
"kenapa mama enggak ngajak aku?" menatap zan yang wajahnya sedang ditampar angin sore.
zan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"kau seperti wanita" kembali menatap kedepan.
zan hanya menengok ke sebelahnya menunggu maksud dari ucapannya.
"terkadang kau terlalu sensitif, bahkan aku selalu bingung ketika kau hanya diam saja" wajah tampan itu bertabrakan dengan udara sejuk yang menyisir rambutnya sampai terlempar ke belakang.
"ayo kita pulang ini sudah sore" bangkit dari ayunannya.
"tunggu sebentar lagi" menggoyangkan sedikit ayunannya, tidak perduli ucapan orang yang disampingnya.
"pak tan pasti mencari mu" menatap datar bocah yang masi menikmati ayunan pelan.
bocah itu Mala memejamkan matanya menikmati angin sore yang menerpa wajahnya.
"kenapa kau sangat berbeda dengan tuan Kino?" sekarang tatapannya jadi kesal.
"apa yang membedakan ku dengan papa?" menatap wajah yang tertutupi sedikit sinar matahari.
"tuan Kino tidak keras kepala seperti mu" menjawab cepat, singkat dan datar.
"aku tidak keras kepala" melempar pandangannya kembali kedepan.
"kalau begitu ayo pulang"
"tidak mau" menjawab santai.
"benar-benar" melangkahkan satu kakinya.
"ahahaha bercanda ayo pulang" menarik pergelangan tangan zan dan berjalan.
__ADS_1
mereka berdua pergi ke taman dekat rumah yang sangat sering dijadikan tempat bermain anak-anak. mereka sangat suka pergi disaat sore hari karna tidak banyak orang yang akan datang.
"tuan rangga anda dari mana?" baru saja anak yang bernama Rangga itu melangkah masuk langsung disambut oleh seorang pria yang sangat tidak asing dengannya.
"bawakan aku cemilan dan susu" tidak mendengar pertanyaan orang itu dan langsung melangkah ketangga bersama zan.
"baik tuan muda" menunduk sedikit dan memperhatikan kedua anak itu hilang dari pandangannya.
suara ringan langkah kaki terdengar di lorong yang penuh pencahayaan ini, dan detik selanjutnya suara pintu dibuka terdengar. tentu saja yang membuka kamar itu adalah anak yang bernama rangga. dia langsung masuk diikuti zan yang menutup pintunya tanpa bersuara.
Rangga kecil sedang sibuk dengan mainan barunya, sementara zan kecil pun hanya memperhatikannya dengan sesekali memegang mainan yang diberi Rangga untuk bermain dengannya. kamarnya sudah kembali berantakan dengan mainan yang berserakan di lantai. tangan kecil yang tadinya sibuk bermain terhenti ketika dirinya mendengar suara.
"mau kemana?" yang berucap adalah zan yang menatap bingung.
yang ditanya tidak memperdulikan, dia langsung pergi keluar.
*pranggg*
suara benda pecah terdengar ditelinganya, dengan langkah yang kecil dia berlari kearah ruangan sumber suara itu. berharap tidak terjadi sesuatu.
"kau saja tidak pernah bertanya alasan mengapa aku pergi" sebuah teriakan berhasil membuat terhentak siapapun.
tak terkecuali si bocah lelaki yang berdiri diambang pintu.
suasana hening tercipta seperkian detik selanjutnya. lelaki yang berdiri dihadapan wanita itu hanya terdiam tanpa membalas teriakan itu.
"apa kau pernah perduli dengan perasaan ku? tidak!!!" teriakan wanita itu kembali menggema.
"marlin aku melakukan itu kar–" nada suaranya yang sangat tenang harus dipotong dengan teriakan.
"maaf" menurunkan pandangannya.
silahkan katakan bodoh lelaki ini, seharusnya dia melawan wanita ini tapi mengapa dia hanya terdiam dan malah meminta maaf. apa dia melupakan harga dirinya?.
"surat pengadilan akan dikirim pengacara ku besok" berbalik dan hendak melangkah.
"setidaknya untuk rangga, pertahankan pernikahan ini untuk rangga" tanpa memalingkan pandangannya dia berucap.
dan itu membuat langkah wanita itu terhenti "pernikahan ini hanya akan membuatnya membenci segalanya" menatap dengan mata berkaca-kaca sosok anak lelaki yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
"m–mama" hendak melangkah untuk memeluk mamanya dengan kaki yang gemetar.
tapi wanita itu langsung melangkah cepat meninggalkan anak laki-lakinya yang terjatuh karena tidak sengaja didorong olehnya.
"mama tunggu" langkahnya yang pincang dan pipinya yang sudah dibanjiri air matanya, dia berlari secepat mungkin untuk menyusul mamanya.
"Ranggaa" setalah mendengar suara putranya, lelaki yang tadinya hanya berbicara rendah langsung berlari.
"hiks mama" dan akhirnya dirinya terjatuh dibawah anak tangga terakhir.
"jangan" menarik tangan putranya yang akan berlari lagi.
"mamaaa" teriakan yang menggema seluruh sudut lantai satu ini.
__ADS_1
pelayan yang sedang bekerja disana berusaha untuk tidak menahan dirinya agar tidak ikut meneteskan satu tetes pun. melihat seorang anak kecil yang seperti itu rasanya sesak sekali.
"jangan" seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul dihadapan Rangga kecil. menghalangi langkahnya.
tetapi rangga tetap berlari, secepat apapun rangga berlari. anak lelaki itu juga secepat mungkin menahan dirinya.
"minggir" bentakan bocah lelaki itu dengan mata yang memerah dan tangan yang terkepal.
saat dia melihat kebelakang anak lelaki itu mobil mamanya sudah pergi tanpa mengucapkan apapun. amarahnya seketika mencapai darahnya, mendidih sudah darahnya dengan kemarahan itu.
darah mengalir dari hidungnya. seperkian detik berikutnya semua pandangnya menjadi buram. seperti disengat listrik, kepalanya membentur lantai di detik berikutnya.
epilog
Hujan turun dengan deras, membasahi bumi. hujan itu indah tapi kenapa banyak yang tidak menyukai hujan? bagi mereka hujan bisa membuat mereka sakit, nyatanya hujan bisa menyembunyikan segala rasa sakit disetiap rintik-rintiknya. siapapun bebas menangis di dalam hujan, hujan adalah penipu semesta tetapi hujan sangat disukai oleh orang-orang yang sudah tau beratnya sebuah kehidupan.
seorang wanita turun dari mobilnya dengan menggenggam payung yang dibawanya. tidak mau setetes pun airnya mengenai bajunya.
"selamat datang nyonya marlin" tertunduk singkat dan menjulurkan tangannya.
"bisa dikirim besok?" menolak tangan yang menjulur kepadanya.
"tentu bisa" duduk mengikuti wanita yang dia panggil marlin tadi.
"urus secepatnya" menatap datar kedepan.
"tidak akan bisa dikirim besok kalau anda belum menuntut hak asuh anak" menaruh selembar kertas dan satu bolpoin.
wanita itu menatap kertas. apa yang harus dia tulis? bukannya sudah bagus kalau hak asuh anak jatuh kepada suaminya? pikirnya saat diawal.
tetapi pikirannya buyar ketika dia mengingat mata anak lelakinya saat menatapnya beberapa waktu lalu.
"nyonya apa anda benar-benar akan memberikan hak asuh anak kepada suami anda?" bertanya karna sudah dari kemarin seharusnya dia menuntut hak asuh anaknya.
lagi dan lagi wanita itu terdiam, Masi menatap lurus kearah kertas dan bolpoin disana.
"nyonya marlin?" memanggil pelan.
seketika tersadar dari lamunannya. "ya" singkatnya.
"baiklah saya akan mengirimnya besok pagi, saya permisi" memasukkan kertas dan bolpoinnya lalu pergi.
wanita bernama marlin itu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"jangan mengingatnya!!" menepuk keras kepalanya.
sorot mata dan wajah putranya tadi bagaikan sebuah film yang sedang berputar di kepalanya. sepertinya keputusan tidak melihat wajah putranya diakhir adalah pilihan yang tepat.
"aku sudah memutuskan yang terbaik" menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
berjalan dengan anggun dan meninggalkan ruangannya.
**BERSAMBUNG**
__ADS_1
ps:ingatkan author jika ada typo