
Saat mereka bertiga sudah sampai didepan pintu, tiba² ada yang memanggil Rangga dari belakang. kalau dari suaranya sepertinya Rangga sedikit mengenali suara itu.
"Rangga" panggil orang itu dari belakang.
Rangga, zan dan juga rajwa langsung menengok kebelakang dan mereka melihat seseorang sedang berlari kearah mereka bertiga.
"hahh ternyata benar kau Rangga" ucap orang itu memegang pundak Rangga.
Rangga melihat tangan lelaki itu yang menempel di pundaknya, ada rasa risih tapi juga ada rasa akrab dari tangan orang ini.
"kenapa tatapan mu seperti itu?" tanya orang itu Masi memegang pundak Rangga.
Rangga Diam menatap orang yang ada didepannya mukanya terasa familiar tapi Rangga Masi asing dengan orang ini.
"jangan bilang kau lupa denganku" melepas tangannya dari pundak Rangga.
"ini tuan Rizal tuan" zan akhirnya memberi tahu Rangga siapa orang ini.
"ni serius elu?" menunjuk orang itu.
"emang kata lu siapa lagi?"
"Yoo Rizal hendramawan" Rangga langsung menarik tangan Rizal dan melakukan TOS bahu khas mereka berdua.
"Rangga adinata" Rizal pun membalas sambutan pelukan dari Rangga.
"dah 10 tahun ye" melepas pelukan dari Rangga
"gw kira lu dah jadi fosil di selama dibelanda" celetuk Rangga sambil tertawa.
"enak aja lu, gini² gw dikejar² sama cewek Belanda bro" pamer Rizal.
__ADS_1
mereka berdua tertawa tanpa mempedulikan keadaan sekitar, padahal ada satu orang disitu yang juga sama dengan Rizal.
"ada si culun kutu buku juga disini?" menatap rajwa yang berada disamping zan.
"ck" dengus rajwa membuang mukanya.
"gak berubah lu ya Masi baperan Bae" Rizal berjalan mendekat ke rajwa.
"udah lah dah 10 tahun gw gak buly lu kasi hadieh kek apa kek" asal Rizal.
"yaelah 10 tahun gak ketemu aja Masi jadi tom and Jerry lu berdua" Rangga merangkul pundak Rizal dan juga rajwa.
"ye iye dah, kutu buku nantikan kejahilan gw ya" menatap rajwa.
"bodo amat" masa bodo dengan perkataan Rizal.
"lu bawa pengawal lu lagi Rangga?" sekarang sudah beralih menatap zan.
"dia bukan pengawal gw tapi dia keluarga gw" protes Rangga.
zan diam tidak bergeming seperti tidak tertarik dengan kedatangan dan sapaan Rizal yg diberikan untuknya itu.
"males gw ngomong sama manusia batu" menjauh dari zan tapi Masi berada didepannya.
"lu kenapa pulang? ditendang negara luar?" ejek rajwa agak melekat di hati hati Rizal.
"mana mungkin, gw kangen tahan air gw lah dan gw juga dah merasa udah seharusnya gw pulang" padahal perkataan rajwa tadi munusuk hatinya.
Rangga dan rajwa langsung menatap sinis Rizal karna ada kesalahan dalam menyebutkan sesuatu didalam kata-kata Rizal barusan.
"ya sekalian udah kangen sama dua dahabat kurcel gw" langsung memeluk bahu rajwa dan Rangga yang berada di kanan kirinya.
__ADS_1
"gw b aja tuh" ucap rajwa datar.
"sensi lu sama gw" melepaskan tangannya dari bahu rajwa tapi belum melepaskan dari bahu Rangga.
"maaf mengganggu obrolan kalian, tapi tuan Rangga kita harus Dateng ke rapat penting tuan jamnya sudah mau mulai" zan memotong pembicaraan mereka bertiga yang sudah lama tidak seperti ini.
"baiklah, lu berdua akur² ye" menunjuk rajwa dan Rizal yang masi berdiri samping²an.
"gw gak lama kok disini" merangkul kembali pundak rajwa.
Rangga tidak menanggapi lagi dia sudah berjalan menuju pintu keluar bersama zan yang berjalan di sampingnya tapi letak zan berdiri ada dibelakang rangga.
"mau ngapain lu kesini?" tanya rajwa melirik Rizal.
"ayo ayo gw jelasin diruangan si kutu buku ini" membalikkan badannya otomatis rajwa juga ikut berbalik dan berjalan bersama rizal dengan posisi seperti ini.
"jalan ya jalan aja dong gak usah pake ngerankul segala" tapi rajwa Masi berjalan dengan posisi ini.
"mang Napa dah" tidak sama sekali melepas tangannya.
"malu gila diliatin orang" menatap sekitar. pasien yang sedang menunggu antrian menatap dua orang ini yang berjalan sambil merangkul pundak rajwa.
"hahahaha, udah cuek aja Napa" menyeret rajwa masuk kedalam lift.
"bagaimana gw mau cuek, gw kepala rumah sakitnya disini" teriak rajwa saat pintu lift sudah tertutup.
Rizal tertawa terbahak bahak karna tau seperti apa sifat rajwa ini yang selalu mementingkan penampilan dan pandangan orang lain kepada dirinya.
epilog
Rizal hendramawan adalah seorang atletik yang menetap di negeri Belanda sejak umurnya 21 tahun, dia adalah seorang atlit renang dan juga atlit angkat besi yang sangat berprestasi. prestasinya sudah dikenal oleh dunia. dia juga merupan sahabat kecil rangga, saat Rangga sedang dimasa dunianya hancur akibat perceraian kedua orang tuanya dan pada saat itu muncullah anak lelaki yang seumuran dengan Rangga yang dibawa oleh papa kino untuk menjadi teman Rangga. begitu pula dengan rajwa, hanya beda masa dan kondisi saat itu.
__ADS_1
mereka bertiga sudah bersahabat sangat lama, dan alasan terutama Rizal pergi ke Belanda karna bunga lah biang keroknya yang membuat persahabatan mereka berdua menjadi sedikit renggang dan jarang berkomunikasi. tapi seiring berjalannya waktu Rangga mulai paham dan menyadari bahwa arti sahabat itu Segala galanya.
Bersambung