Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Masa Lalu


__ADS_3

Wajah rasya tak berekspresi seketika. tamparan angin menyentuh pipinya, wanita didepannya ini baru saja berbicara tentang sesuatu yang baru ia ketahui.


"maaf sya kakak baru kasih tau kamu" ucapnya menunduk.


Satu kakinya melangkah mundur secara reflek, tetapi tubuhnya belum ingin pergi. dia hanya terkejut mendengar wanita ini.


"kakak gak bermaksud untuk membunyikan ini, tapi setelah zan bilang kalau kamu itu calon istrinya, kakak merasa kakak harus memberi tahu kamu" masih menunduk dengan nada suara yang terdengar pilu.


"e–enggak kak, aku cuma terkejut ternyata kak adinda adalah mantannya zan" kikuk kan dia jadinya.


Adinda terdengar tertawa samar, seperti tertawa pilu sambil mengangguk dalam menunduk.


"ma–maksud aku, aku bingung kenapa kalian putus aku gak bermaksud seperti itu kak" merasa kalau ucapannya ada yang salah. kenapa sekarang dia susah berbicara.


adinda mengangkat kepalanya, lalu tersenyum "soal itu, maaf kakak gak bisa kasih tau. kamu sekarang fokus saja sama zan, jangan memikirkan masa lalunya, terutama kakak. oke?" memegang kedua tangan rasya dan menggenggamnya.


"kak dinda ini ngomong apa, aku bukan calon istrinya zan kok kak" tersenyum yang dipaksakan untuk manis terukir di wajahnya.


"kalau zan sudah berbicara seperti itu, berarti kamu orang yang spesial dihidup zan" tambah menggenggam erat kedua tangan rasya.


Rasya tambah kikuk, dia harus jawab apa? tak mungkin kan dia jawab iya. nanti adinda akan menilainya tak enak lagi.


"kakak pulang duluan ya? ayah nungguin soalnya" melepaskan genggamannya tapi senyumnya belum hilang.


"iya kak, hati-hati ya kak dinda" kali ini rasya benar-benar tersenyum.


"dadah" melambaikan tangan terlebih dahulu lalu berbalik dan berjalan di jalanan yang lempeng ini.


Rasya memperhatikan adinda yang sedang menyusuri jalanan itu. dia bukannya tak percaya dengan apa yang di katakan adinda, hanya satu pertanyaan yang sudah melekat di pikirannya. kenapa mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan?. kalau dilihat-lihat adinda dan zan itu merupakan pasangan yang sangat cocok. mereka berdua memiliki wajah yang sama-sama menawan, apalagi adinda, seperti bidadari. apa karena zan yang kaku? sepertinya tak mungkin, karna adinda itu tipe wanita yang soft dan lembut. lelaki mana yang tidak akan terpesona dengannya?.


rasya jadi penasaran. tapi dia takut untuk mencari tahu. dirinya sudah memutuskan untuk lebih dekat dengan zan. tapi, ahh entahlah rasya pun bingung.


****


Dirumah utama awalnya hening, damai, tenang dan tak ada keributan. itu sebelum seseorang datang dan memecah keheningan yang tercipta.


"selamat datang, anggap saja rumah sendiri" ucapnya tanpa dosa saat membuka pintu sembarangan.


"tuan rizal?" pak tan langsung datang dengan ke kagetan yang ada.


"Yoo pak tan, apa kabar pak?" sapanya sok akrab.


"baik tuan" menunduk sedikit.


Rizal datang sambil merangkul seseorang, yang tentu saja pak tan pun mengenalnya.


"ada tamu ternyata" tiba-tiba suara dari tangga itu membuat ketiga orang ini mengalihkan pandangan.


"tuan kita sudah disini ternyata" melepaskan rangkulannya pada orang disebelahnya.


"kenapa lu kesini?" rangga berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


Rizal melirik orang disampingnya, lalu kembali merangkulnya saat melihat rangga sudah sampai di bawah.


"jadi gini, tadi kan gua ke rumah sakit, terus ketemu sama si kutu buku ini, eh ternyata dia mau pulang. kebetulan gua lupa letak rumah lu dimana, jadi sekalian nganterin deh" ucapnya enteng sambil merangkul akrab.


"rangga mana percaya dengan ucapan mu itu" orang yang disamping rizal sedikit keberatan dengan lengan rizal di pundaknya.


"percayalah, kan gua kawan ter the bestnya"


"lu ngapain pergi ke rumah sakit?" memperhatikan tingkah dua orang didepannya.


"kan gua baru pulang, periksa kesehatan lah" memperkuat rangkulannya.


Rangga ber oh.


"kita gak dikasi duduk ni bos?" kakinya lumayan pegel ya terus-terusan berdiri.


"duduk tinggal duduk" berjalan ke sofa ruang keluarga.


Rizal langsung melepas rangkulannya dan berjalan cepat mengikuti rangga. meninggalkan si kutu buku yang tadi dia maksud. si kutu buku ternyata ikut duduk disana.


si kutu buku yang dimaksud adalah dokter rajwa.


"sekertaris lu mana ga? biasanya ngikutin lu terus" menyenderkan punggungnya.


kalau rizal yang sudah berbicara dengan rangga, nama rangga bisa terpecah-pecah. bisa rangga, angga, dan ga.


Rangga mengangkat bahunya.


"apa tu apa tu" meneguk minuman yang dibawa pak tan.


"zan mempunyai kekasih" ikut mengambil gelas yang di taruh tadi oleh pak tan.


uhuk


Rizal terbatuk-batuk mendengarnya.


"lu gak tipu-tipu kan kutu buku?" memegang bahu rajwa dengan ekspresi bertanya-tanya.


"mangkanya jangan berkemah mulu ke negeri orang, ketinggalan info kan lu" menatap sekilas rizal lalu kembali menyeruput minumannya.


"serius ga?" beralih ke rangga.


"hm" menjawab sambil menyeruput.


"gila si om udah punya calon aja" memegangi dagunya.


"siapa siapa?" kembali bertanya pada dua manusia ini.


"hp lu gak rusak kan?"


Langsung membuka hpnya, melihat di internet tentu saja.

__ADS_1


"maksud gua liat di ruang pesan adinata bodoh" melihat sekilas kebodohan rizal.


"bilang dong" langsung menekan sesuatu di layar hpnya.


Rizal terlihat sedang membaca sesuatu dilayar hpnya, itu adalah ruang obrolan khusus untuk mereka bertiga, entah siapa yang membuatnya. yang mengirim berita zan tentu rangga, rangga tidak akan pelit kalau tentang seperti ini. sekalipun itu tentang sekertarisnya.


"dua puluh dua tahun?" rizal syok saat membaca umur wanita yang disebut-sebut kekasih zan itu.


"gua juga kaget si" rajwa membenarkan keterkejutan rajwa.


"gak ada potonya ga?" meminta lebih karna penasaran tambah merajalela.


Rangga menggeleng, untuk apa dia menyimpan foto wanita lain dihpnya? kecuali danita. dia mengkoleksi foto-foto istrinya. dari sosial media ataupun dari mana pun. bahkan tak jarang rangga memfoto diam-diam istrinya saat sedang tidur.


"eh lu kadang berfikir gak si kalau zan itu pedofil?" menaruh hpnya di meja.


rajwa langsung menengok ke samping, dan rangga masih tetap memegang cangkirnya.


"dia pacaran sama cewek yang umurnya selalu jauh dibawahnya" menatap seperti sedang ingin mengorek sesuatu.


"biasa itu mah" ucap rajwa menaruh cangkirnya.


"si dinda dinda itu waktu masih pacaran sama zan berapa umurnya?"


Rajwa mencoba mengingat masa lalu. berapa ya? ya pokoknya agak jauh lah sama zan.


"masih dua puluhan juga kan? sementara zan?" tambah menatap serius lah tu si rizal. "fiks si zan pedofil" menyilangkan tangannya.


plakk


"pedofil itu laki-laki yang mempunyai ketertarikan pada anak kecil!!" rajwa memukul kepala rizal.


Rangga memperhatikan sekaligus mencerna perkataan rizal. "istri gua seumuran loh zal sama dia" menunjuk hpnya rizal dengan dagunya.


Rizal langsung paham, yang rangga maksud wanita yang disebut-sebut kekasih zan kan? ah sial dia salah bicara.


"beda kok beda, umur lu sama zan beda tiga tahun" membela dirinya dari ekspresi tak terima rangga.


Rangga meneguk minumannya. kalau bicara dengan rizal pasti ada saja alasannya.


"asli si gua penasaran sama wajahnya" kembali membuka hpnya.


"gak usah kepo, zan itu serem loh kalo udah marah" ucap rajwa menatap rizal.


Rizal menaruh kembali hpnya, lalu dia tertawa menatap rajwa sambil memegang pipi kanannya. "bahkan rahang gua pernah hampir pindah tempat ke lambung" mengingat kejadian masa lalu.


"kali ini gua yakin bakal pindah lapak" ikut tertawa mengingatnya.


"naik ke otak nanti rahang lu" timpal rangga ikut tertawa samar.


kejadian masa lalu yang hampir membuat rizal mengorbankan rahangnya. itu juga karna ulahnya membuat sekertaris zan marah. apa yang rizal lakukan? entahlah pasti itu ada hubungannya dengan masa lalu zan dan juga rangga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2