
tok tok
Dipagi hari kamar utama diketuk oleh seseorang. danita masih menangis dan rangga yang kebingungan bagaimana menghentikan tangis danita. rangga membukakan pintunya.
"ada apa?" suaranya mengejutkan kelin yang semulanya sedang menunduk dan menatap adiknya yang matanya terlihat sembab.
"kak danita ada didalam tidak?" suaranya mindeng, karna semalaman nangis sambil memanggil-manggil papanya.
Rangga mengerti tujuan adiknya kesini, tanpa suara dia membukakan pintu sedikit lebar dan menampakkan danita yang sedang duduk diatas ranjang. sambil menangis tentunya.
"kak danita" merentangkan tangannya mendekat ke ranjang. dengan langkah yang gontai.
Danita sedikit kaget karna ada kelin, maklum dia tidak sama sekali turun. tidak bisa dia bohongi, rasa rindu kepada adik iparnya ini sangat besar. dengan segara dia memeluk kelin. yang dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke ranjang.
"huaa" teriak kelin saat sampai kedalam pelukan danita. dia juga merindukan kakak iparnya.
tunggu-tunggu tujuan kelin kesini ingin menangis bersama danita bukan melepaskan rasa rindu.
"kak danita huaaa" dan mereka sama-sama menangis disana.
Rangga menggaruk kepalanya kasar, apa-apaan kelin datang-datang langsung nangis seperti itu. dia mengerti adiknya sedih tapi danita baru saja dia tenangkan. ahh sudahlah. dia masuk ke ruang ganti baju.
"kelin kamu jangan nangis" menatap mata berair kelin dengan mata berairnya.
"kak danita juga jangan nangis" tapi dia sendiri tambah menangis.
Dan akhirnya mereka berpelukan dan menangis satu sama lain. mengadukan perasaannya satu sama lain. Rangga yang mendengarnya dari dalam kamar mandi hanya bisa mendengus. semalaman danita sudah menangis, ditambah lagi kelin yang datang tanpa permisi dan mengajak danita menangis lagi.
*****
"tuan" suara sekertaris zan saat rangga sampai dilantai bawah.
menangkap satu sosok yang sedang duduk dengan tenang di ruang tamu. permintaan papanya kembali melintas, membuang rasa itu sekali saja tidak masalah kan?. rangga duduk didepannya, dengan zan yang berdiri disampingnya.
"katakan" menatap datar dirinya. matanya terlihat lusuh. tetapi rangga tetap menatap datar.
"maaf mama kemarin tidak bisa datang" ucapnya. dari suaranya terdengar serak apa dia sedang sakit?.
Rangga mendengus pelan bahkan hanya zan yang bisa mendengarnya. dia belum tahu maksud tujuan tante marlin kesini. apa hanya untuk meminta maaf saja? oh tidak mungkin.
__ADS_1
"rangga" panggilnya terdengar ragu, sebelumnya dia melirik zan yang tak bergeming.
Zan menatap tante marlin sekilas, lalu kembali menatap kedepan.
Sementara rangga hanya menatap tanpa menyaut.
"mama ingin bertemu danita apa boleh?" ini menjadi tujuan utamanya kesini.
"aku tidak akan mengizinkannya" kejadian saat itu terlintas seketika di kepalanya. mengingat itu membuat dia kesal.
"mungkin kau masih marah karna kejadian itu, tapi mama hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang danita" tangannya mulai gemetar saat mengingat orang-orang rangga yang datang secara tiba-tiba.
"baiklah" mengangguk singkat dan bermuka normal tidak datar.
Tante marlin mengangkat alisnya terkejut. serius?.
"danita bilang aku tidak boleh berbicara dengan kasar kepada mu, kembali besok nita ku sekarang ingin bersama adik iparnya" suaranya sekarang berbeda saat mengucapkan kata danita.
Senyum sumringah langsung mengembang diwajah tante marlin. tetapi dia juga sedikit takjub dengan danita itu, dia bisa mengubah rangga.
"jangan senang dulu, kalian akan ditemani mereka" menunjuk beberapa pengawal dengan dagunya.
itu sudah pasti, tante marlin juga sudah tahu itu.
yang dimaksud rangga siapa? dirinya dan rangga?. seperti itulah kira-kira pertanyaan yang ada di kepala tante marlin setelah rangga mengucapkannya.
"ya" bisa membaca pikiran tante marlin.
Rangga itu cenayang ya?.
"apa boleh mama tahu bagaimana saat-saat terakhir papa mu?" menatap penuh arti putranya. mata sendu rangga kembali terlihat. tapi kali ini dia tidak menyembunyikannya.
"papa tersenyum" jawabnya cepat. dia sedikit tidak suka dengan tatapan tante marlin.
Tante marlin tersenyum sambil menunduk. "dia sudah tidak merasakan sakit lagi" ujarnya pelan sambil menunduk.
dia melihat rangga kecil di mata sendu itu.
"kenapa dengan tatapan mu?" tanyanya membuat kepala tante marlin kembali tegak.
__ADS_1
"mama melihat sosok rangga kecil di matamu" tersenyum tipis menyembunyikan rasa pilunya mengingat putranya disaat itu.
Rangga mengerti, yang dimaksud adalah dirinya saat menyaksikan itu kan?. dia membenci suasana ini. dia langsung memalingkan wajahnya.
"apa boleh mama mengusap kepala mu? sekali saja" mengangkat sedikit jari telunjuk bahkan mungkin hampir tak jadi. tapi dia ingin mengusap surai lembut itu, walaupun hanya sekali saja dia ingin mengusapnya.
Tidak ada jawaban, tante marlin tahu diri. tahu akan dosanya kepada putranya. kalau rangga membencinya pun akan ia terima. karna dia tahu akan dosanya kepada anak tak berdosa ini.
tetapi saat dirinya hendak berpamit, rangga berdiri dari duduknya. membuatnya memperhatikan putranya. apa rangga akan meninggalkannya?.
"lakukan sesuka mu" ternyata rangga memindahkan posisinya menjadi disamping tante marlin. kepalanya dia sodorkan.
Rasa kecewa itu hilang sudah dengan kelakuan rangga. perlahan menjulurkan tangannya pada surai hitam yang sudah sangat lama ia tak sentuh, wangi shampo yang sama seperti waktu itu. sama sekali tidak berubah, harumnya membuat pikiran meloncat kembali pada masa lalu.
tirai yang bertiup oleh angin, sinar mentari yang menyusup lewat jendela, dan harum shampo anak lelaki yang sedang ingin diusap rambutnya. ahh kenangan yang indah.
Rangga sedikit mengangkat kepalanya. membuat tangan yang sedang mengusap lembut kepalanya terhenti. dia terhanyut dalam kenangan itu.
"terima kasih" menarik kembali tangannya, seperkian detik yang berharga untuknya. dia bisa mengusap surai putranya lagi.
"kalau mama ingin bertemu danita, bilang saja ke pak tan" tidak menggeser tubuhnya.
Sementara tubuh tante marlin membeku. rangga memanggilnya apa tadi? mama? sungguh?!.
"itu juga permintaan danita" memundurkan tubuhnya.
sebenarnya itu bukan permintaan danita, kehendak dirinya sendiri sebenarnya. habisnya dia baru melepas rasa itu sekarang.
pokoknya gini, rasa itu semacam rangga sebenarnya merindukan tante marlin, tetapi dia tida bisa dengan bebas mengungkapkannya begitu saja.
Sekarang tante marlin percaya berita kalau istri rangga telah mengubah sosok rangga. walaupun itu atas permintaan danita, tapi rasanya dia ingin memeluk danita dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya ditelinga danita.
"mama akan kesini lagi" senyum yang membuat wajahnya tambah cantik itu masih mengembang.
"hem" dirinya masih duduk. menyenderkan punggungnya.
Kapan terakhir kali tante marlin menatap wajah rangga sedekat ini?.
Ini adalah hari yang tidak akan pernah dia lupakan. dia kembali merasakan surai lembut putranya, dan menatap wajah rangga sedekat itu. Tuhan memang adil, hubungan anak dan ibu itu sangat kuat. serumit apapun masalahnya, mereka akan kembali berpelukan dan bercanda tawa kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo