
Suasana setelah kedatangan ibu kandung Rangga seperti berubah, banyak yang berbalik terbalik 180° akibat kemunculan Tante marlin. ntah itu suasana rumah adinata, pemikiran Rangga maupun kondisi papa kino. zan memang mengetahui masa lalu Rangga maupun masa lalu keluarga adinata tapi zan menyadari posisinya disini hanya sebagai pengganti kedua orang tuanya yang sudah mengabdi kepada adinata grup sampai akhir hayatnya.
"zan ambilkan aku kopi" perintah Rangga dengan mata yang masih fokus ke dokumen yang ada didepannya.
"baik" zan keluar dari ruang kerja Rangga tanpa bersuara sedikitpun.
Rangga berhenti di halaman dokumen bermap biru itu dan memandangnya seperti sedang membaca buku dengan sangat serius dan dalam. sampai zan kembali.
"ini tuan" menaruh kopi diatas meja.
"zan apa papa belum mengganti nama di salah satu cabang di Jepang?" tanya Rangga Masi membaca dokumen itu sambil bersender.
"tuan besar memang belum mengganti nama cabang di Jepang tuan" beralih mengambil kertas disebelah Rangga yang sepertinya bekas coretan Rangga.
Rangga mendesah kasar menutup map biru itu dan memijat pelipisnya.
"tuan ingin mewakilkan tuan besar untuk mengganti nama cabang?" mengambil map yang ditaruh rangga.
"tidak usah, biarkan papa yang mengendalikannya" menyeruput kopinya.
zan mengangguk, merapihkan map yang ada diatas meja Rangga dan hendak menaruh kembali ke laci.
"kau sudah ke kampus nita?" menikmati kopinya tanpa melihat zan.
zan berhenti "besok saya kesana tuan, pengumumannya besok"
"aku harus menghadiahkan apa ya?" mengaduk-aduk kopinya sambil berfikir.
zan mendengarkan sambil merapihkan semua dokumen ke laci sesuai urutan dan nama.
"zan kapan anak ku diperiksa?" melirik zan.
"3 bulan sejak awal kehamilan tuan begitu kata dokter rajwa" menoleh ke Rangga.
"kehamilan nitaku sudah satu bulan, huh kenapa hamil itu lama sekali" mendengus lagi.
__ADS_1
zan hanya mendengarkan dibalik laci besar itu.
"ahh lucu sekali nanti anakku" sekarang senyum-senyum sendiri.
"zan kau hari ini tidur disini, besok pergi ke kampus danita baru kita pergi" berdiri dan melangkah ke pintu dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.
"baik" mengunci laci terakhir.
Rangga berjalan dari ruang kerjanya sambil sesekali melirik keadaan rumahnya. Masi ada beberapa pelayan yang sedang berkeliaran membawa alat pembersih dan ada audri yang sedang berbincang dengan seorang pelayan.
"audri kemari" menggerakkan tangannya dari dekat tangga.
audri yang merasa terpanggil langsung berjalan kearah rangga. "iya tuan muda"
"bagaimana berkerja di luar gedung adinata?" bertanya datar.
"semua perintah yang anda berikan akan saya terima dengan senang tuan" jawab audit sopan dengan kepala yang tegak.
"apa kau tidak merindukan ruangan mu yang dibuat khusus yang ku sebut salah satu ruangan penting itu?" Rangga sama sekali tidak berubah ekspresi.
"perintah anda lebih penting tuan muda"
"dia sepertinya senang berada disana tuan muda" tersenyum tipis.
"zan akan memberi tahu mu kapan kau akan kembali ke adinata grup" berjalan mengacuhkan audri yang masi berdiri.
"baik tuan muda" mengangguk hormat ke Rangga yang sudah melewatinya.
menaiki tangga sampai berada didepan pintu kamar utama, Rangga membukanya perlahan. lampu didalamnya Masi menyala, Rangga mengelilingi isi kamarnya dengan matanya mencari seseorang. pandangannya berhenti di atas ranjang yang luas itu.
Rangga berjalan ke arah tempat tidur, naik kesana dan menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang. sepertinya danita sudah terlelap di sana.
"aku ingin menceritakan sebuah dongeng ke anak kita" mengelus lembut rambut danita, Rangga memejamkan matanya.
"anak kita ingin sekali mendengarnya" memegang tangan Rangga.
__ADS_1
danita ternyata belum benar-benar tertidur dia hanya menutup matanya.
"kau belum tidur?" terkejut dengan danita yang tiba-tiba bangun.
"aku memang belum tidur sayang" menatap Rangga.
"tidak jadi dongeng" ikut berbaring disebelah danita menarik selimut dan meraih tubuh danita.
"kenapa?" reflek danita jatuh di dada Rangga.
Rangga diam mencium puncak kepala danita berulang kali.
"sayang ayo dongeng buat anak kita" mulai merengek.
"tidak"
"sayang ayo lah" kali ini danita menatap wajah rangga.
"kalau aku ingin bercerita tentang manusia setengah cebong anak kita Masi mau dengar?" sedikit berdecik.
"tentu saja, kau bercerita sapu setengah manusia anak kita juga pasti mau mendengarkan" antusiasme danita mulai bangkit.
Rangga pasrah, dia sadar istri kecilnya sangat kekeh kalau sudah antusias.
entah apa yang di ceritakan dalam dongeng Rangga itu berhasil membuat danita tertawa terbahak bahak ditengah rembulan. Rangga sedikit kesal karna ditertawakan, tapi Rangga Mala ikut tertawa karna tawa danita.
"HAHAHAHA" tawa danita sangat keras.
"hei kenapa kau tertawa terus?" Rangga sudah kesal dari tadi.
"ceritamu itu sangat konyol sayang" ucapnya Masi dibumbui tawa nyaring.
tapi Rangga melanjutkan dongengnya itu dengan sedikit terpaksa.
akhirnya danita mengetahui judul dari dongeng Rangga itu, Rangga sendiri yang mengatakannya kalau judul dongeng yang dia ceritakan tadi adalah si ikan. semua alur cerita itu tidak ada di buku dongeng mana pun itu hanya kalimat yang terlintas di kepala Rangga saat melihat danita tertawa.
__ADS_1
tawa danita Masi terdengar di tengah malam bahkan saat tertidur danita tertawa terbahak bahak dan itu membuat Rangga sangat kaget dan terbangun beberapa kali.
BERSAMBUNG