
Tiga orang menatap ke objek yang sama. rangga, zan dan audri. didalam ruangan presdir. tidak ada yang bersuara, hanya menatap ke depan. benar-benar hanya menatap ke depan dan sesekali bergumam kecil.
Mereka memiliki satu persamaan yang identik, akan fokus pada suatu objek jika memang harus mereka perhatikan. maka dari itu, tida orang ini hanya diam dan menatap.
"wanita? karakter jepang? surat? L?" gumam zan pelan.
"menurut saya orang ini adalah orang yang mungkin memiliki hubungan dengan salah satu anggota keluarga adinata" ucap audri masih menatap ke depan.
Rangga mengalihkan pandangannya ke audri. "hubungan?" mengkerut kan keningnya.
"setelah saya membaca isi suratnya, dia seperti ingin mendeskripsikan rasa sayangnya kepada seseorang, bahkan orang ini memuji sifat wanitanya yang lembut dan penyayang"
Rangga mengangguk, kembali menatap lukisan besar itu. dia juga penasaran siapa yang mengirim lukisan ini.
Sementara zan sedang memutar otaknya. memikirkan banyak sekali di kepalanya.
"ini aneh, kenapa lukisan ini dikirim sehari sebelum perayaan satu tahun pernikahan tuan rangga kalau memang ini untuk nona danita? seharusnya ini dikirim saat hari H kan?". isi kepal zan sambil berekspresi datar.
"apa mungkin lukisan ini sebenarnya untuk nona danita?" ucap audri.
Rangga memalingkan wajahnya lagi, bersama zan kali ini. zan pun berfikir seperti itu. tapi seperti tadi yang dia bilang, kenapa ini dikirim satu hari sebelum pesta diadakan kalau memang untuk hadiah pernikahan?.
"kenapa ini dikirim sehari sebelum perayaan kalau memang ini untuk nona danita?" tanya zan.
Audri berfikir sebentar. "agar tak di curigai mungkin tuan?"
Zan membalikkan pandangnya kembali ke lukisan ini. agar tak di curigai? itu kemungkinan terbesar. atau mungkin memang sudah direncanakan?.
"jadi ini adalah teror untuk danita?" rangga menatap serius dan penuh tekanan ke audri.
"kalau itu saya kurang yakin tuan, karna sepertinya orang ini sangat sayang kepada nona danita"
"apa? Nita ku di sayang oleh orang lain? berani sekali dia!" nada suaranya menaik. ngamuk lebih tepatnya.
Audri tertegun, mengagetkan saja. lalu dia melirik zan yang masih fokus menatap lukisan itu. seperti tak peduli dengan ucapan rangga tadi.
"cari cepat orang itu!, akan ku habisi dia kalau sampai ketemu" bermuka kesal karna nitanya di sayang orang lain sampai seperti ini. dia tak rela!.
"baik tuan" ucap audri sedikit menunduk.
tok tok
"masuk" zan yang bersuara sambil terus menatap ke depan.
"tuan ruang meeting sudah disiapkan" ucap staf sekertaris itu sambil menunduk.
"keluar" melirik sekilas.
Blam
"saya permisi tuan" ucap audri berdiri dan menunduk ke rangga.
"hm" di jawab itu sambil tetap menatap ke lukisan besar itu.
Audri pergi untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang harus dia bawa nanti. dia adalah perwakilan adinata di ruang meeting yang akan menjelaskan banyak hal saat sampai di inti meeting itu. selama meeting belum sampai inti, maka audri tidak akan berbicara.
"jangan di pikirkan terlalu keras, kita punya sesuatu yang lebih menguras otak dan tenaga" ucap rangga berdiri dan menepuk pundak zan.
Membuat zan tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"maaf tuan" ikut berdiri.
Mereka keluar dan bersamaan dengan audri masuk ke ruang meeting yang sudah ada banyak orang yang menunggunya. baru zan membuka pintu dan orang-orang didalam langsung berdiri dan menunduk hormat.
****
"danita nanti siap-siap ya rangga akan menjadi lebih pencemburu saat anak kalian lahir" ucap tante marlin sambil tertawa ringan.
Danita tertawa. "hahaha, bahkan anaknya belum lahir saja dia sudah sangat pencemburu mah" renyah danita dalam hati.
Tante marlin datang hari ini untuk memberikan hadiah dan juga selamat atas satu tahun pernikahan danita dan putarnya. sekaligus berbincang dengan danita. sebelumnya tante marlin meminta izin terlebih dahulu pada rangg, dan rangga mengizinkannya. bahkan rangga mengangkat telfonnya dan berbicara disana. walau hanya singkat tapi tante marlin sangat senang.
"danita kamu mau apa? mama akan memberikan apapun yang mama bisa"
"u–untuk apa mah?" tanya danita bingung.
"mama ingin berterima kasih karna kamu rangga mau berbicara dengan mama lagi, mama hanya ingin membalas kebaikan kamu" lembut tante marlin berucap.
"mama ngomong apa, tuan rangga berubah bukan karna danita, tuan rangga berubah karna dia merindukan mama. dia ingin melepaskan ke egoisannya dan kembali kepada mama, jadi mama jangan berterima kasih pada danita. karna danita tak pernah berbuat apa-apa, itu semua dari hati tuan rangga sendiri mah" danita pun tak kalah lembut nada suaranya.
Tante marlin tersenyum sambil mengangguk, mendengar danita berbicara selembut itu saja bisa membuatnya tenang dan tersentuh. apa lagi rangga?.
"tapi kamu lah yang telah menggerakkan hati rangga" ucapnya dalam hati sambil mendengarkan danita sedang berbicara.
"tapi terka–"
Brak
"Nita" tiba-tiba rangga datang dan langsung membuka pintu lebar-lebar.
Seperti sedang razia ya.
"rangga?" tante marlin pun terkejut.
Rangga berjalan masuk tanpa menutup kembali pintunya. dan dia duduk dengan santai di sebelah danita lalu melingkarkan tangannya di pinggang danita.
"sayang kok kamu sudah pulang?" menengok ke samping dan menemukan wajah suaminya yang tengah bermanis wajah disana.
"memangnya kenapa?" mencium pipi danita sambil menjawab disana.
Tante marlin yang duduk berseberangan sofa dengan danita hanya bisa menatap. ekspresinya tak bisa diartikan.
"lanjutkan saja aku hanya ingin memeluk mu" ucap rangga benar-benar hanya memeluk pinggang danita.
Tapi danita tetap saja risih. ini depan mertuanya loh, bagaimana dia tak malu?!.
Tante marlin tersenyum menatapnya. putranya tak ragu untuk bermanja pada istrinya di depannya. anak lelaki ini tak berubah rupanya.
"sayang udah! ada mama kamu loh didepan kita" bisik danita sedikit menyikut rangga.
Rangga memberhentikan aksinya menciumi danita dan beralih menatap tante marlin yang langsung menghilangkan senyumnya.
"lalu?" kembali menatap istrinya.
"kamu gak malu?!" menurunkan alisnya.
Rangga menggeleng lucu dengan wajah yang dibuat-buat.
"tak apa danita, mama tak terganggu kok justru mama senang melihatnya" ucap tante marlin kembali tersenyum menatap pasutri didepannya.
__ADS_1
"dengar tu" mencolek hidung danita.
"dimana urat malu mu?!". menatap kesal rangga. tapi kan dia malu.
Rangga mencium lagi pipi danita kali ini hanya kecup singkat.
"aku ingin pamer kemesraan kita pada mama, nita" ucap rangga tanpa ragu dan tak memperdulikan wajah malu danita.
Danita langsung menatap rangga. "bedah urat malu yuk?". ucap danita dalam hati sambil menatap tak menyangka.
Tante marlin tertawa mendengarnya. putranya memang tak pernah berubah, sosok yang manja itu lah rangga.
"tapi aku malu sayang" lirih danita dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"kenapa kau harus malu? mama saja tertawa melihat kemesraan kita"
"mama senang danita melihatnya" ucapnya tersenyum lebar.
"tuh dengar" merapatkan tubuhnya dengan danita.
Danita hanya bisa menghela. memangnya ada pamer kemesraan didepan mertua? hanya orang yang tak punya urat malu yang melakukannya.
Seperti rangga contohnya.
Bersambung.
epilog
"marlin" menatap sosok yang baru sampai di anak tangga terakhir.
"wulan?"
"senang bertemu dengan mu" tersenyum hangat.
ini adalah pertama kalinya tante marlin dan mama wulan bertemu. biasanya mama wulan hanya melihat dari photo pernikahan tante marlin dan juga papa kino.
"jadi kau yang telah merawat rangga selama ini" ucap tante marlin lembut.
mama wulan masih tersenyum hangat.
"terima kasih wulan telah merawat putraku dengan baik selama ini, terima kasih ya telah membuat rangga tumbuh dengan kasih sayang yang lengkap" meraih tangan mama wulan.
"aku tidak melakukan apapun, rangga adalah anak yang baik dan sangat pengertian"
Tante marlin tersenyum pedih, dia adalah wanita yang baik. tante marlin tak tahu harus berterima kasih seperti apa untuk segala kebaikan mama wulan.
"tinggal lah disini, rangga dan danita pasti sangat senang kalau kau ada disini"
Menggeleng pelan. "aku tidak pantas berada disini lagi, melihat putraku sudah bahagia itu sudah sangat cukup bagi ku, kesalahan yang ku buat sangat lah besar. dan sekarang putraku sudah menemui kebahagiannya, aku akan kembali kesana"
Mama wulan tersenyum mengerti.
"aku telah melihat senyum anakku telah kembali, hatiku pedih saat mengingat tatapan matanya saat itu, aku ingin sedikit memberi pelajaran untuk diri ku sendiri dengan pergi kembali kesana, ku titip anakku dan kebahagiannya sekali lagi ya wulan? terima kasih untuk segalanya" ucap tante marlin bermata sendu tapi tersenyum.
Mama wulan mengangguk. "kembalilah lagi, aku akan menyambut mu" membalas senyuman itu tak kalah tulus.
"terima kasih" matanya berkaca-kaca, itu adalah tatapan seorang ibu. tak seperti dirinya, seorang ibu yang tega meninggalkan suami dan putranya.
Tante marlin berjalan setelah berpelukan dengan mama wulan. walau rindu masih merauk hati dan raganya, tapi dia tak mau egois. banyak rindu yang telah terbayar hanya dengan senyuman dan panggilan mama yang dikeluarkan putranya.
__ADS_1
Putranya telah menemukan kebahagiaannya, tapi sosok rangga kecil tak pernah hilang dimatanya.