
Zan benar-benar mengantar wanita itu sampai kerumahnya, sepanjang perjalanan wanita itu selalu menangis dan berbicara ntah apa zan tidak mengerti.
"cukup, ini rumahku" bahkan sampai sekarang wanita ini Masi menangis.
"hapus air matamu dan turun cepat" menatap kesamping dimana dia Masi menangis.
"kau ini bisa sabar dikit tidak si?" menatap tajam zan dengan mata yang masi berlinang.
"kenapa aku yang kena marah?" memegang kemudi sedikit mencengkeramnya.
"semua cowok itu sama aja, gada yang bisa hargain cewek" isakannya mulai terdengar lagi.
"aku tidak perduli cepat turun" zan sudah bosan mendengar ocehannya.
"kau lagi dari tadi selalu mengusir kalau memang tidak niat mengantarku ya tidak usah" berteriak marah.
"dia ini sudah gila atau gimana?" mulai kesal. "saya me–" ucapannya terpotong.
"diam! aku akan turun kau tidak perlu mengusir" mengambil helaian tisu lagi, entah sudah berapa helaian tisu yang sudah dia gunakan.
"yasudah cepat turun sana" menggaruk kepalanya.
wanita itu membuka pintu mobil tapi dia terhenti. "aku lupa menanyakan namamu, siapa namamu?" menengok lagi kebelakang.
"kau tidak perlu tahu" menatap malas.
"cepat katakan saja" kembali menutup pintu mobil.
__ADS_1
"zan" ucap zan sedikit berteriak. "mau sampai kapan wanita ini?" melirik sinis.
"terima kasih zan" dia tersenyum dan kali ini dia benar-benar keluar dari mobil zan.
zan yang sudah hendak akan memundurkan mobilnya, dihentikan oleh si wanita itu.
"namaku Rasya, salam kenal" mengetuk kaca mobil yang membuat zan terpaksa membukanya.
"hem" menutup kembali kaca mobilnya.
wanita yang bernama rasya itu melambai-lambaikan tangannya saat zan Masi memundurkan mobilnya. yang terfikir di pikiran zan tentang Rasya adalah gila.
"hihi dia tampan sekali" rasya cekikikan sambil berjalan masuk kerumahnya.
diperjalanan pulangnya, zan memikirkan nama rasya yang sepertinya tidak terlalu asing di telinganya. seperti ada seseorang yang pernah mengucapkan namanya.
sensor rumah berbunyi saat zan menapakkan kakinya didepan pintu apartemennya. udara sejuk pun terasa saat dia memasuki kamar.
"akhirnya bisa bermain" mengeluarkan joystick dan mengambil hpnya.
lama zan menghabiskan waktu disana, dia tidak mengganti posisinya. zan sangat fokus disana, suara cicak yang mungkin lewat didinding kamarnya bisa jadi tidak didengar zan. akhirnya dia selesai, menelanjangi tubuhnya didepan kamar mandi dan melakukan segala ritual mandinya disana.
"kenapa nama rasya seperti tidak asing di telinga ku?" sudah kembali dengan baju tidurnya. "apa aku pernah bertemu dengannya?" dia berdiri lagi untuk mengambil susu coklatnya.
zan membuka hpnya, melihat beberapa pesan masuk terkait adinata grup. dia juga melihat beberapa artikel bagus yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur. saat dia sedang sibuk dengan kegiatannya, terlintas sesuatu di kepalanya.
"alice..." memutar-mutar susu coklat yang dia pegang. "aku tidak boleh lengah dengan wanita itu" menaruh gelasnya dan menaikan temperatur kamar tidurnya
__ADS_1
"seperti ada yang pernah menyebut nama rasya tapi siapa?" membalikkan badannya frustasi. "ah sudahlah tidak penting" sekali lagi dia melihat hpnya.
akhirnya zan menggulung tubuhnya dibawah selimut, ya walaupun tentang siapa yang pernah menyebut nama rasya Masi terngiang di kepalanya.
"audri" dia tidak jadi tidur dan Mala menelfon audri.
"iya tuan?" jawab audri jauh disana.
"besok kembali ke adinata, jangan sampai membuat tuan Rangga menunggu" ucapnya tegas membuat audri yang disana tercekat kaget.
"apa tuan Rangga sudah memaafkan saya tuan?" suaranya sedikit gemetar.
"temui tuan Rangga besok, jangan sampai membuat tuan Rangga menunggu" ucapnya sekali menekan semua kata-katanya yang membuat audri langsung sigap sekaligus gemetar.
"baik tuan" jawabnya tanpa ragu.
"bawa yang sudah ku suruh waktu itu" kalimat terakhir sebelum dia memutuskan sambungan sepihak.
"baik tuan" belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah dimatikan oleh zan.
zan tidak memperdulikan ucapan audri yang terakhir, zan juga sudah tau apa yang akan dikatakan audri jadi dia tidak perlu mendengarnya lagi.
"saatnya tidur dan bangun lagi besok" kata-kata yang sudah menjadi bagian dari aktivitas zan sebelum tidurnya.
dengkuran kecil terdengar dari atas ranjang, manusia yang ada disana sudah masuk kedalam mimpi indahnya. apa yang dimimpikan zan biar zan sendiri yang tau. dia selalu mengangkat tangannya dan mendekatinya ke bibir seperti sedang meneguk minuman ketika tidur. orang yang melihatnya mungkin akan mengatakan dia gila.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo