
Hari masih gelap, pukul dini hari tepatnya. rangga diganggu tidurnya dengan suara dari benda pipih yang dia taruh di dalam laci itu. beberapa kali berbunyi tetapi dia enggan untuk mengambilnya. rangga memunguti celananya yang tergelak di lantai beserta yang lainnya. lalu dia ambil benda pipih itu.
dan tertera disana nama orang yang menelponnya.
"hm" suara seraknya itu menandakan dia baru bangun.
"..."
Dalam sekejap matanya yang semula mengantuk langsung membuka lebar saat mendengar perkataan orang di sebrang sana.
"lakukan apapun, aku akan kesana segera" ucapnya dan menutup telponnya.
Matanya beralih menatap danita yang masih tertidur nyenyak dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. rangga mengambil kertas dan bolpoin yang dia simpan di dalam laci lalu menulis sesuatu untuk danita nanti kalau sudah terbangun.
tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung segera turun. beberapa lampu masih menyala dan lampu lainnya belum dinyalakan. beberapa pelayan sudah ada yang bangun ternyata. tujuannya adalah pak tan.
"apa pak tan sudah bangun?" bertanya kepada salah satu pelayan wanita.
"s–selamat pagi tuan rangga, pak tan sedang berada di dapur tuan" langsung menunduk.
Rangga langsung melangkah ke dapur mencari sosok pak tan.
"hubungin zan segera" ucapnya tiba-tiba mengejutkan para koki dan pak tan disana.
"selamat pagi tuan rangga" sapa seluruh koki disana.
"ada apa tuan?" tanya pak tan.
"apa kau tidak mendengar perintah ku tadi?" nada suaranya menaik.
"baik tuan" menunduk dan langsung merogoh saku celananya.
pak tan Masi bertanya dalam hatinya. kenapa rangga sudah terbangun sepagi ini?. dia menatap rangga yang berjalan mondar-mandir dibawah tangga. benda pipih itu sudah menempel di telinganya.
"angkatlah" menekan kembali no zan.
__ADS_1
"ada apa?" akhirnya diangkat oleh zan, suara seraknya terdengar jelas sekali.
"tuan anda di suruh tuan rangga kesini segera" ucapnya masih menatap rangga disana.
"ada apa?"
"saya tidak tahu, tuan rangga tampak gelisah sekarang" matanya sama sekali tidak beralih ke rangga.
"baik" menutup telponnya sepihak.
pak tan menatap layar hpnya, matanya membulat saat melihat satu pesan yang dikirim seseorang. dia mengerti mengapa rangga seperti itu, hatinya ikut gelisah.
*****
Sebuah mobil diparkirkan sembarangan di depan sebuah rumah sakit besar. matahari sudah mulai naik disana.
Rangga langsung masuk setelah scurity membuka pintu kaca itu, rumah sakit belum bisa dibuka di jam segini. tapi karna yang punya rumah sakit rangga jadi terserah yang punya aja.
Suara langkahnya berisik sekali.
Sudah bisa dilihat ada siapa saja disana, disana ada tante wulan dan dokter rajwa dengan tatapan yang berbeda satu sama lain.
"papah?" nafas rangga terengah-engah saat sampai disana.
"tenang dulu, tuan kino sedang ditangani" memegang pundak rangga. tujuannya ingin menuntunnya duduk tetapi rangga terlihat sangat enggan.
"rangga duduk lah" ucap tante wulan menepuk kursi sebelahnya.
Rangga masih berdiri tidak mendengar perkataan tante wulan, menatap kaca ruang ICU yang terdapat beberapa dokter memakai baju hijau dan penutup kepala berwarna senada.
"rang–" baru tante wulan ingin memanggilnya kembali.
"katakan apa yang terjadi" menatap dokter rajwa.
Dokter rajwa sekilas menatap zan terlebih dahulu. "mari ikut ke ruangan ku" ucapnya berjalan duluan.
__ADS_1
Tante wulan mengangguk ke zan, memberikan izin untuk pergi meninggalkannya.
Rangga segera menyusul rajwa dan ikut masuk ke dalam ruangan dokter itu.
"jelaskan" pintanya sambil duduk didepan meja rajwa.
"semalam kondisi tuan kino mendadak drop, sebelum para dokter membawanya ke ruang ICU tuan kino mengalami sesak yang luar biasa. detak jantungnya beberapa kali tidak stabil dan tuan kino selalu memanggil nama mu dan kelin" dokter rajwa menjelaskan.
"kenapa kau tidak langsung menelpon ku semalam?" memajukan duduknya.
dokter rajwa menghembuskan nafas pelan lalu ia melanjutkannya. "tuan kino melarang ku menelpon mu di saat-saat dirinya hendak hilang kesadaran" menyatukan jemarinya.
Rangga menghela nafas, mengingat adiknya sedang berada di luar negeri dan papahnya yang memanggil nama adiknya. membuatnya bingung.
"tuan kino kuat, pasti beliau bisa melewati masa-masa kritisnya" memberi kekuatan walaupun dirinya pun cemas.
tok tok
pintu diketuk.
"masuk" ucap si yang punya ruangan.
"dokter pasien yang bernama tuan kino selalu memanggil nama rangga dan kelin" suster wanita itu sepertinya habis dari ruang ICU.
Rangga langsung bangun dari duduknya, dan melangkah keluar. dia ingin menyingkirkan pikirannya.
suster wanita tadi terkejut saat melihat sosok rangga, dia langsung menunduk.
sementara rajwa langsung mengikuti rangga. dia pun ingin menyingkirkan kemungkinan terburuk yang dia pikirkan terhadap keadaan tuan kino.
Saat mereka sampai di depan ruang ICU, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk. rangga yang masuk dan lainnya diluar. tidak lupa dia mensterilkan diri dahulu.
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo
__ADS_1