Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Malaikat


__ADS_3

Setelah mengunjungi papa kino Rangga langsung pulang karna hari sudah larut, mungkin saja saat Rangga pulang danita sudah tidur pulas dikamarnya.


"selamat datang tuan Rangga" sambut pak Tan yang tentu saja belum tidur menunggu Rangga pulang.


Rangga mengangguk dan masuk kedalam rumah diikuti pak Tan dan juga zan.


"zan kau boleh pulang" Rangga membalikkan badannya.


"baik tuan muda" mengangguk dan menunggu sampai pintu rumah ditutup.


"apa danita sudah tidur?" tanya Rangga duduk disofa.


"nona danita sudah tidur tuan" mengambil sendal rumah dan meletakkannya di depan kaki Rangga.


"baiklah pak Tan kau boleh istirahat" bangun dari duduknya, sebentar menatap pak Tan lalu pergi menaiki tangga.


pak Tan menganngguk dan menatap Rangga yang sedang berjalan sampai sosoknya hilang dari pandangan baru pak Tan pergi dari sana.


Rangga masuk kedalam kamar pelan² karna danita sudah tidur, dan lampu juga sudah dimatikan menyisakan lampu tidur yang ada disamping ranjang. naik keatas ranjang pelan² tanpa suara dan berbaring disamping danita dengan sangat pelan.


manatap dalam wajah polos danita saat tertidur bagaikan melihat pemandangan indah bagi Rangga. seperti melihat malaikat yang dikirimkan tuhan dalam wujud danita untuk menghiasi hari-hari Rangga.


"kau pasti lelah selama ini, lelah dengan sikap ku lelah dengan segalanya" ucap rangga nyaris tak terdengar.


"terima kasih sudah mau mengurus ku, dan mau menjadi ibu dari anak-anak ku" mendekatkan kepalanya dileher danita, memeluk tubuh danita erat.


"aku menyangimu, malaikat ku" mencium sekilas leher mulus danita dan tangannya mengelus perut danita yang sepertinya sudah mulai membuncit.


Rangga sudah hampir terpulas dengan posisi memeluk danita, tanpa melepas atau membersihkan tubuhnya. Rangga sudah lelah hanya untuk membersihkan tubuhnya baginya tidak terlalu penting.


ngomong ngomong badan Rangga itu selalu wangi keringatnya saja wangi.


****


pagi sudah datang, para pelayan rumah utama sudah bangun semua mengerjakan pekerjaannya masing² begitu pula dengan pak Tan. dia bahkan bangun paling pertama diantara para pelayan.


Rangga sudah berangkat kerja saat danita Masi tertidur, menurut agenda hari ini Rangga harus menghadiri rapat para petinggi dan para CEO lainnya dari berbagai perusahaan.


"zan apa orang suruhan mu sudah mulai bekerja?" tanya Rangga Masi fokus dengan file dan leptop yang ada di depannya.


"sudah tuan, sejak kemarin" menaruh file biru diatas meja Rangga.


"apa laporan dari kerja kelompok danita kemarin?" menutup file yang habis ia tanda tangani.


"semuanya berjalan lancar tuan, nona danita dan teman temannya mengerjakan tugas dengan benar dan tidak melakukan hal yang lain" jawab zan mengumpulkan file yang sudah di baca dan di tanda tangani Rangga.


"berita kalau danita sedang hamil apa sudah menyebar di kampus?" beralih menatap zan.


"sudah tuan tapi para siswa belum tau siapa istri tuan muda" pandangan mereka berdua saling terlempar.


Rangga mengangguk lalu kembali menatap layar leptopnya, diam sejenak lalu kembali mengetik sesuatu di atas leptopnya.


"nanti malam suru orang mu itu menemuiku setalah makan malam di ruang kerja ku" perintah cepat tanpa melihat zan.


"baik tuan muda" mengambil file diatas meja Rangga lalu keluar dari ruangan.

__ADS_1


disisi lain danita yang sedang berada di dalam kelasnya sedang mendiskusikan kerja kelompok mereka yang kemarin karna hari ini ada mata pelajarannya jadi para siswa boleh mendiskusikan kerja kelompoknya.


"kayaknya kita kurang ini deh" ucap Rasya menunjuk satu gambar.


"kemaren wanginya juga gk terlalu nyenget" lanjut Vita.


"kalo wanginya terlalu nyenget pusing ntar" si luck teryata juga lumayan pinter buktinya kemarin dia mengenal segala bahan yang digunakan jadi tidak perlu repot lagi untuk menjelaskannya.


"setuju sm luck, kita bikin yang wanginya fresh tapi gak ngejreng kalem lah" hito bersuara.


"fresh tapi soft" gumam danita memperhatikan gambar yang ada ditangannya.


"eh nit parfum yang waktu itu lu pake wanginya enak" ucap Vita.


"yang mana?" danita berfikir karna setiap hari dia selalu memakai parfum dan selalu Gonta ganti parfum setiap hari.


"yang lusa kayaknya, yang wanginya fresh tapi kalem itu loh yang gw bilang beli dimana parfumnya" Rasya ikut antusias.


"ohh itu diracik sendiri" jawab danita langsung sumringah.


"berarti cuma ada satu?" Rasya kecewa.


"hooh" mengangguk cepat.


"emang siapa yang racik nit?" hito ikutan.


"orang pokoknya" menggaruk tengkuknya.


"tempat ngeraciknya dimana?" luck ikut bertanya.


"bukannya itu tempat racik parfum termahal?" luck mengetuk² meja dengan jarinya.


author:sedikit bocoran gaes luck itu anak sultan nak konglomerat tapi orang tuanya gak sekaya Rangga.


"iya cuy kita yakin nih bisa ngeracik disana?" Vita melongos ketika mengingat nama toko itu.


"konglomerat lu?" tanya luck mencondongkan dagunya kearah danita.


"kagak lah, itu gua pake uang tabungan gw buat ngeracik itu" bohong danita.


"minta aja si peracik itu buat ngeracik lagi parfumnya" usul hito.


"bener tuh ntar kita bayar, tapi siapa yang ngeracik?" menatap danita menantikan jawaban.


"kita bikin sendiri aja aelah, gk kreatif kalo gitu mah" enteng luck


"setuju sama luck" sorak danita.


"gimana lu aja dah" Rasya sudah malas dengan manusia yang bernama luck.


"kemaren gw dah ngerangkai racik parfum sih" ucap danita.


"mana mana" ucap mereka ber4 serempak.


danita mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas yang khusus untuk uji coba meracik bahan² meracik parfum.

__ADS_1


Rasya mengambil buku dari danita dan membuka, isinya sudah rapi dengan rumus² hitungan kimia dan bisa dibilang itu adalah rumus untuk menghitung..


anak kimia pasti tau lah


"nah kan kita kurang bahan ini" menunjuk sekali lagi gambar yang ada di meja.


"ntar gw cari lah bahan itu" si anak konglomerat bersuara.


"terus lu nyari sendiri gitu?" Rasya bertanya.


"enggak lah ntar gw suru orang suruhan gw nyari bahan itu" anak orang kaya mah bebas.


"nak cebol" gumam Vita mendengus.


"sya ntar lu kerumah gw aja sama Vita" hito yang dari tadi diam mulai bersuara.


"ngapain?"


"lu kan jago tu Ama yang bahan² ekstrim ntar kita bikin dirumah gw" jawab hito.


"harus gw sama Vita?" Rasya orangnya Mageran.


hito mengangguk menjawab pertanyaan Rasya.


Rasya merotasikan bola matanya malas apa lagi rumah hito itu lumayan jauh dari rumahnya tambah males aja dia.


"gw ikut dong" seru luck.


yang lain langsung menengok ke luck, karna ya luck ini orangnya pemalas juga tumben bgt dia mau ikut nanti paling cumang gbut dirumah hito.


****


danita yang baru saja pulang dan sampai di rumah rangga langsung menuju kamarnya karna dia merasa mual, sangat mual tapi saat dia memuntahkan tidak keluar apa² hanya air liurnya saja.


"kenapa aku merasa sangat mengantuk" keluar dari ruang ganti baju dengan kaos sehari hari danita.


"sudahlah tidur saja aku tidak punya kegiatan juga" naik keatas tempat tidur dan menarik selimutnya.


danita baru saja ingin memejamkan matanya tapi ada yang mengetuk pintu kamar dari luar otomatis danita langsung bangun lagi.


"nona danita ini saya audri, nona tidak makan? siang tadi nona tidak makan" ucap audri dri balik pintu.


danita bangun dari ranjang, membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.


"eh iya mba audri aku gak lapar" cengengesan.


"nona harus makan dulu habis itu minum susu nona" tersenyum hangat ke danita.


"baiklah mba aku akan segera turun" balik senyum lebih hangat dari audri.


"baik nona, maaf mengganggu anda" tersenyum lagi lalu pergi dari depan kamar Rangga.


"dia cantik sekali astaga" gumam danita dalam hati.


"ahh nona danita kenapa anda sangat manis pantes saja tuan Rangga sampai seperti itu" mereka berdua sama² memikirkan hal yang sama tapi saling tidak mengetahui.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2