
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. semua orang turut hadir ke dalam acara ini. mereka yang diundang secara langsung oleh tuan rangga merasa sangat terhormat, dan tidak mungkin akan melewatkan acara ini.
Selain untuk menghadiri undangan tuan rangga, mereka semua yang datang juga penasaran dengan istri tuan rangga yang selama ini tak pernah di publikasikan.
Di kamar utama, kedua pasangan yang akan menjadi raja dan ratunya hari ini. sedang berdiskusi tentang hal yang sangat sepele.
"tidak-tidak bibir mu terlalu merah" ucap sang suami yang sedang nangkring di sebelah istrinya.
Sang perias make up menghapus kembali warna merah di bibir danita.
"ini" menunjuk warna yang sangat soft.
Perias itu mengambilnya dan mengoleskan ke bibir danita tanpa bersuara.
"kau malah tambah cantik dengan warna itu" berwajah frustasi sambil menatap wajah danita yang sudah hampir selesai di rias.
Rangga menunjuk lagi warna lain.
"itu membuat mu terlihat sangat manis" protes lagi.
"sayang tidak ada habis-habisnya loh" akhirnya yang punya bibir protes.
Rangga tak menghiraukan, tetap menatap banyak warna didepannya.
"ini" tunjuknya lagi.
"itu tadi udah kamu pilih"
"benarkah?" menatapi warna yang tadi dia tunjuk.
"kalau begitu yang ini" menunjuk lagi.
"itu warna ungu sayang" menatap warna yang ditunjuk rangga.
"oh tidak jadi" kembali melihat yang lain.
Danita menghembus nafas kasar. lalu menatap sang perias yang sedang menatap bingung.
"aku saja yang pilih" menyingkirkan tangan rangga sedikit.
"sudah ku bilang, akan ku pilih yang menurut ku bagus bukan yang menurut mu bagus" menatap tajam istrinya.
Danita mendengus, lalu dia kembali menatap periasnya yang sedang menatap dirinya. lalu danita tersenyum kikuk. dia tahu pasti sang perias ini sudah pegal kakinya karena berdiri dua jam lebih.
"kamu tidak paham sayang, biar aku yang pilih ya?" memajukan duduknya.
"diam" ucapnya dengan mata yang tajam.
"kasian loh sayang mba periasnya ini, dia sudah pegal pasti". melirik sedikit sang perias.
"ini" menunjuk warna lagi lalu menatap danita.
Perias itu mengambilnya dan mulai mengoleskannya ke bibir danita.
"semuanya saat kau pakai terlihat sangat cocok, bagaimana ini" kembali menatap warna-warna disana.
"ini saja sayang, kan kamu sukanya yang gak terang-terang terus aku kalau pakai ini tidak terlihat cantik kok" memegang tangan rangga dan berbicara cepat.
"kau malah tambah cantik memakai itu" memperhatikan wajah danita.
"enggak sayang, enggak kan ya mba?" mendongak ke atas dan mengedipkan beberapa kali sebelah matanya.
"i–iya nona" merasa terselamatkan oleh danita.
"tuh sayang" kembali ke rangga.
"dia buta tak bisa melihat, jelas-jelas kau tambah cantik memakai itu"
Danita memukul lengan rangga. "gak boleh ngomong gitu" ucapnya pelan.
"baiklah pakai itu" akhirnya sesi merias wajah selesai.
Danita bernafas lega. ahh akhirnya, setelah dua jam lebih hanya merias wajahnya selesai juga.
"saatnya memilih baju" bangkit dari duduknya.
Danita kembali gusar, mengingat perkataan suaminya kemarin. lalu dia melihat beberapa gaun dan dress putih yang tergeletak di atas kursi empuk itu.
"tidak tidak tidak" menaruh kembali beberapa dress yang dia tak mau nitanya pakai.
__ADS_1
"semoga saja kau tak melambat-lambat kannya" ucapnya dalam hati sambil melihat beberapa dress yang ditaruh kembali.
Rangga tiba-tiba berbalik sambil memegang dua dress putih yang sangat cantik dan elegan, lalu dia terlihat mencocokkannya dengan danita.
"ini terlalu manis" melempar dress itu ke belakang.
"nah ini" berwajah sumringah tetapi kembali berwajah tak rela.
"mari nona berganti pakaian" ucap si perias tadi sambil memegang gaun pilihan rangga.
Danita tersenyum lalu mengikuti perias itu masuk kedalam tempat yang ditutupi tirai.
Sebenarnya rangga ingin ikut masuk ke dalam, tapi langsung di pelototi sama danita.
Tak butuh waktu lama, danita keluar dengan dress putih yang tadi dipilihkan rangga. cocok sekali ditubuh danita dengan perut mengembangnya.
"lihat, mana rela aku kalau istri ku secantik ini" ucap rangga tak melepas pandangan dari danita.
"tidak usah berlebihan!" menatap geli dengan senyum kikuknya.
"ganti baju sana sayang" mendekati rangga yang sedang menikmati wajah cantiknya.
Rangga tak bergeming.
"acaranya sepuluh menit lagi udah mau dimulai loh sayang" terduduk di pangkuan rangga.
"sepuluh menit itu akan ku gunakan untuk menatapi wajah mu" menatap sangat dekat.
Cup
"ganti baju ya sayang?" mengecup bibir rangga berharap akan luluh.
"kau seperti itu membuat ku ingin mengurung mu seharian didalam kamar" oh mana bisa rangga luluh dengan itu.
"tolong cepat anda ganti baju!!!". kesal memenuhi hatinya.
Dia sudah menahan malu didepan perias yang masih disana hanya untuk mengecup suaminya, tetapi yang dikecup tak tahu diri.
****
Sementara dibawah sudah banyak para tamu undangan yang datang. para sosialita sedang berbincang sambil memegang gelas minumannya. megah sekali pestanya, yang datang rata-rata para pebisnis yang menjalin hubungan baik dengan adinata.
Orang tua danita turut hadir dalam acara ini. mereka berbincang panjang dengan tante wulan, sambil menunggu sang raja dan ratu pemilik acara ini.
Sebenarnya vita pun diundang, tetapi dia ada cara mendadak yang membuatnya tak bisa datang. jadinya hanya rasya
sebagai satu-satunya teman danita yang datang.
"mereka semua sudah memiliki istri kau tahu?!" tiba-tiba suara zan masuk ke gendang telinga rasya.
Rasya langsung menengok ke samping. "tahu dari mana kau? dia terlihat masih sangat muda" kembali menatap salah satu tamu undangan yang gantengnya err.
"lalu kau mendapat info dari mana kalau dia belum mempunyai istri?" ikut menatap ke orang itu.
"wajahnya masih sangat muda tahu"
Zan mengeluarkan hpnya. "baca" menyodorkan layar hpnya ke depan wajah rasya.
"bohong banget tiga puluh sembilan tahun!!" terkejut dia.
Menutup kembali hpnya dan memasukkannya kembali kedalam saku jasnya.
"kenapa ya pengusaha itu awet muda semua" tetap kembali ke orang tadi.
Tak ada yang menjawab.
"kok kau boleh membawa masuk handphone mu kesini?" berbalik badan setengah.
"ambil saja sana kalau kau mau" menatap datar.
Rasya menatap pintu, ah sial disana ada pengawal. pasti dia sedang dibohongi.
"jangan kasih harapan palsu deh" menatap kesal.
zan tertawa samar.
"lagi pula kau ini kan sekertaris yang punya acara, pasti boleh lah" kembali menatap ke depan.
"gunakan otak mu lebih cepat lain kali" memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Rasya berbalik berniat ingin memukul si sekertaris meresahkan ini. tapi tangannya berhenti dan dia kembali berbalik saat mendengar suara.
"tuan rangga dan nona danita telah tiba" yang bersuara adalah pak tan yang berdiri di bawah tangga dengan pakaian jasnya.
Semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke tangga berkarpet merah itu. hening seketika, alunan biola yang semulanya bergesek seirama, sekarang tak terdengar seolah-olah juga ingin melihat kedua pasangan yang sedang berjalan dari atas tangga.
Yang terdengar hanya suara sepatu dan platform heel yang mengetuk lantai tangga bersamaan. mereka datang sambil bergandengan tangan, danita yang melingkarkan tangannya di lengan rangga dan rangga yang memperhatikan langkah danita dengan hati-hati sambil memegang tangan istrinya yang melingkar di lengannya.
Untuk pertama kalinya, rangga memperkenalkan istri tercintanya kepada orang banyak.
"kok danita jadi tinggi?" rasya memperhatikan danita bukan rangga. karna merasa sepertinya tinggi sahabatnya itu bertambah.
"nona danita memakai platform heel" ucap zan yang ada dibelakang rasya.
"oh iya" baru sadar dengan alas kaki yang dipakai danita.
Dua pasangan itu berjalan bersama-sama melewati para tamu undangan yang sedang menatap mereka.
Ada yang terkagum-kagum dalam hatinya menatap sosok wanita manis nan mungil yang berjalan disamping rangga. dan ada juga yang melempar tatapan tak suka pada danita.
hei kau bercanda? dia adalah istri tuan rangga? kampungan sekali, sangat berbeda bukan dengan bunga? bahkan dia sama sekali terlihat tak pantas berjalan beriringan dengan tuan rangga. memangnya apa yang bisa dilakukan wanita kecil sepertinya?. ck
kira-kira seperti itu lah isi dari tatapan para wanita yang iri pada danita.
"Nita jangan tersenyum" bisik rangga menatap istrinya disamping.
"enggak sayang" jawab danita balik berbisik, karna ini posisinya orang-orang sedang menatap mereka.
Danita merasakan beberapa tatapan yang menatapnya dengan tak suka dan sinis. tapi dia tetap fokus pada rangga.
Mereka berhenti di sebuah meja yang sudah disiapkan. danita tadinya ingin melepas tangannya, tapi rangga langsung menahannya.
"saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para tamu undangan yang telah hadir di sini" ucap rangga dengan berwibawa dan mengesankan.
Para tamu tersenyum dan menatap orang yang mereka sangat hormati ini.
"acara ini merupakan perayaan satu tahun pernikahan saya dengan wanita manis yang berdiri disamping saya yang bernama danita putri amalia" memutar kepalanya ke samping, menatap istrinya dengan senyuman terukir indah di bibirnya.
Danita ingin tersenyum, tapi dia ingat ancaman rangga. jadi dia tak memasang ekspresi.
"wanita yang telah menemani saya selama satu tahun ini, wanita yang berhasil membuka hati saya dan wanita yang mengajarkan saya arti cinta yang sesungguhnya" menatap dalam.
Rangga memutar tubuhnya ke samping, membawa danita berhadapan dengannya, sambil menggenggam tangan mungil istrinya, dia berucap "untuk mu, wanita ku, terima kasih telah bersedia menemani ku, terima kasih telah mencintai ku dengan sepenuh hati mu, terima kasih telah bersedia menjadi ibu dari anak-anakku. maaf kan aku yang belum bisa menjadi sosok suami yang baik untuk mu. terima kasih telah menerima sikap kekanak-kanakan ku, dan terima kasih untuk segalanya" menyatukan keningnya dan kening danita. tersenyum tulus sambil menatap penuh arti dunianya.
Danita diam-diam tersenyum, senyuman yang dikhususkan hanya untuk seseorang.
Para tamu undangan bertepuk tangan riuh. menyaksikan seorang tuan muda rangga sedang mengungkapkan perasaannya di depan orang banyak. hanya untuknya, istri tercintanya.
Tatapan tak suka dan sinis itu tambah tajam sambil bertepuk tangan terpaksa.
"aduh nit lu yang digituin gua yang deg-degan" rasya bertepuk tangan sambil senyum-senyum.
Rangga mengecup kening danita sayang. sambil tangannya memegang perut besar istrinya.
"jangan pernah meninggalkan ku, aku mencintaimu" ucapnya dengan bibir masih menempel di kening istrinya.
"aku juga mencintaimu, terima kasih" senyum lebar menghiasi wajah cantik danita.
Rangga melepas bibirnya lalu menatap danita yang sedang tersenyum lebar.
"nita jangan tersenyum" ucapnya menatap tak suka.
"iya iya" langsung berwajah datar.
"kan aku senyumnya hanya pada mu" tapi dia masih senyum-senyum malu.
Tiba-tiba rangga mendekatkan bibirnya ke bibir danita, mengecup lembut dan singkat. menyalurkan rasa sayangnya didepan orang banyak. hanya untuk wanitanya saja.
sayang sekali tak ada yang bisa mengabadikan momen ini. karna bawaan para tamu undangan disimpan dan diberikan pada saat hendak masuk ke rumah utama. terutama handphone dan benda lainnya.
Orang tua danita dan juga tante wulan beserta para tamu undangan bertepuk tangan semakin kencang, sambil tersenyum satu sama lain. dan juga menimbulkan rasa iri dari pada wanita yang ada disini.
Sementara tak jauh dari meja rangga dan danita. dua manusia ini sedang entah apa.
"apa si" memegang tangan zan yang menutupi matanya.
Zan tak bergeming, tetap menutup mata rasya dengan tangan besarnya.
"ngalangin orang mau berimajinasi saja!" akhirnya hanya bisa melihat warna hitam dimatanya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong sejak kapan tangan kiri zan sudah melingkar di pinggang rasya?.
Bersambung