
Matahari sudah tertidur dan bulan tengah bersinar di gelapnya malam. dipadukan dengan bintang-bintang yang bersinar melengkapi cahaya rembulan. didalam kamar yang hanya ada satu penghuni didalamnya sedang menunggu kepulangan suaminya. sudah sangat tidak sabar ia untuk mendengar sebuah cerita.
"lama sekali dia pulang" sesekali mengintip di jendela.
kembali duduk di tepi ranjang.
entah dia yang terlalu fokus dengan lamunannya atau rangga yang sangat pintar untuk main sembunyi-sembunyian.
cup
satu suara yang sangat dekat darinya berhasil membuatnya sedikit terkejut.
"sejak kapan kamu pulang?" sedikit melirik pintu yang sudah tertutup rapat.
"apa kau tidak merindukan ku?" melanjutkan aktivitasnya disana.
"kau pulang sangat larut sayang" menangkup wajah rangga dengan tangan kecilnya.
"kau merindukanku?" menaikan satu alisnya dan senyum aneh terukir disana.
"apa isi otaknya sekarang?" menatap geli dan bingung.
"padahal kalau kau bilang iya aku akan menceritakan masa kecil ku" tersenyum manis sambil memainkan rambut danita.
itu bukan senyum manis itu senyuman ancaman.
"aku sangat merindukanmu sayang, sangat sangat dan sangat" menjelaskan besar kerinduannya dengan tangannya.
besar kebohongan maksudnya.
"bohong mu kurang pandai" mencolek dagu danita dengan senyum miringnya yang membuat bulu kuduk berdiri.
"sungguh aku merindukanmu" menampakkan dua jarinya.
"kalau begitu mari melepaskan rindu mu" apa lagi ini? pikiran danita sudah sangat was-was.
__ADS_1
"aiss janjimu kan bukan ini" menatap tajam rangga sambil mencengkram tangan rangga yang sudah ada di tempatnya.
"aku akan menepati janjiku tenang saja"
dan menit berikutnya angin malam sudah siap menampar kulit mereka yang terbuka bebas disana. tanpa melupakan kelembutan dan kehati-hatian mereka menghela nafas panjang.
"sayang" panggil danita sudah bermanja di dekapan rangga.
"kenapa? kau mau lagi?" melilitkan kakinya di kaki danita seperti sedang memeluk guling.
"iss" memukul pelan dada rangga. karna energinya sudah terkuras jadinya memukul pelan saja.
"hahahaha" tentu saja dia akan tertawa.
"janjimu" ucapnya pelan karna dia sudah sedikit mengantuk.
"kau mau aku mulai dari mana?" menyisir pelan rambut danita yang sudah terburai kemana-mana.
danita membuka matanya, hilang sudah kantuknya. sekarang dia sedang berfikir.
"ayah zan adalah sekertaris papa dulu, saat dia dibawa ayahnya kesini aku belum lahir, saat aku bertemu dengannya setelah ayah dan ibunya meninggal" asik bercerita sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"lalu?" menutup mulutnya terkejut.
"dia dulu anak yang kurus, kecil, seperti kekurangan gizi" Masi menyingkirkan rambut danita.
"sayang, ayah ibu sekertaris zan meninggal karna apa?" tidak terganggu dengan tangan rangga yang ada di dahinya.
"kecelakaan" menyudahi kegiatannya dan sekarang memeluk erat tubuh danita.
mulut danita membentuk huruf O bulat. sambil mengangguk-angguk kecil.
"pertama kali aku berbincang dengannya saat dia hendak melakukan bunuh diri" sekarang kembali melanjutkan aktivitasnya.
danita membulatkan matanya, tidak menyangka itu terjadi.
__ADS_1
"setelah itu?" menempelkan telapak tangannya ke dada Rangga.
"dia tidak jadi melakukannya karna aku" Masi memposisikan tangannya di dahi danita.
"itu sangat bagus" menutup mulutnya agar tidak terkesan terlalu terkejut.
"wah kalau di ingat-ingat aku saat itu seperti super Hiro" kembali mengingat saat itu.
"itu berlebihan bukan?" cibir danita dalam hatinya.
"sayang apa sekertaris zan sudah dari dulu seperti itu?" sedikit menendang kaki rangga yang ada dibawah sana.
"memangnya dia seperti apa?" mengeratkan lilitan kakinya.
"masa kau tidak tahu, dia kan sekertaris mu" akhirnya dia menyerah kekuatan rangga tidak sebanding dengannya.
"mungkin" tambah mempererat pelukan di kaki danita.
"aku tidak akan kemana-mana iss" menendang selimut keudara.
"wah sepertinya yang tadi itu kurang untukmu ya" bangkit dari posisi awalnya.
"waktunya tidur sayang" menepuk-nepuk tempat rangga sebelumnya dengan wajah seperti sedang memohon.
"aku cemburu kau tadi menyebut nama laki-laki lain" sudah mengambil posisi bertumpu pada lututnya.
"say–" telunjuk suaminya jauh lebih cepat darinya.
"ssh sayang janji ku harus ada bayarannya" tersenyum kemenangan.
"padahal masih banyak yang ingin aku tanyakan!" memanyunkan bibirnya, disela-sela orang yang diatasnya tengah meluncurkan aksinya.
Bayaran janji diselesaikan saat waktu sudah menunjukkan dini hari. yang memulainya sudah ditinggal tidur lebih dulu. membuatnya ingin sekali mengerjai istrinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo