
Seperti biasa rumah utama selalu terlihat aktif dipagi hari, bahkan matahari terlihat baru saja memancarkan sinarnya tapi para pelayan sudah mulai sibuk mondar-mandir membersihkan sudut-sudut rumah. apalagi menurut kabar dari pak tan Rangga akan pulang hari ini. sebenarnya mau Rangga pergi atau tidak seluruh pelayan tetap sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"selamat pagi nona danita" senyum audri menyapa danita yang baru saja turun.
"selamat pagi mba" tentu saja danita membalasnya dengan sejuta keceriaan disenyum paginya.
"selamat menikmati sarapan Anda nona" menuntun danita duduk dikursi meja makan.
"mba audri belum sarapan kan?" duduk dikursi yang ditarik audri.
"sudah nona" padahal audri belum sarapan sama sekali.
"jangan berbohong mba, aku tau mba belum sarapan mari sarapan denganku" menarik audri agar duduk disampingnya.
"b baik nona" terlintas perkataan Rangga yang mengatakan lakukan semua yang diucapkan danita.
audri mengambil sehelai roti setelah danita mengambil sarapannya dahulu. rasanya tidak ada yang berbeda, hanya saja audri sedikit grogi memakan sarapan paginya duduk disamping nona mudanya.
danita mempercepat mengunyah sarapannya karna dia baru ingat Rangga akan pulang pagi ini.
"mba aku harus beli apa ya buat tuan Rangga?" ucap danita ditengah-tengah kesunyian didalam mobil yang tercipta.
"tidak usah nona" menatap sekilas danita dan kembali fokus ke jalanan.
"aku rasa aku harus membelinya sesuatu" melipat kedua tangannya seperti sedang berfikir keras.
"anda datang untuk menjemput tuan Rangga saja pasti tuan Rangga sudah akan senang nona tanpa anda membelikannya sesuatu" Masi fokus menyetir tidak berpaling menatap danita.
"ah baiklah, tapi kalau dia marah karna aku tidak membelikannya sesuatu mba harus ngejelasin ya?!" menatap audri yang sedang fokus menyetir dengan intens.
"baik nona" tersenyum kecil menatap danita. "seberapa mahalpun atau seperti apapun hadiah yang akan anda berikan pada tuan Rangga itu semua tidak ada artinya Dimata tuan rangga, cukup anda yang datang tanpa membawakan apa-apa itu sudah seperti hadiah ter spesial bagi tuan Rangga" tersenyum kecil lagi menatap jalanan yang luas itu.
****
"mba tuan Rangga belum Dateng ya?" danita mulai celingak celinguk saat sudah sampai di bandara.
"pesawat tuan Rangga akan mendarat 20 menit lagi nona" memperhatikan danita yang seperti anak kecil kehilangan orang tuanya.
"Masi lama ya?" Masi celingak celinguk memperhatikan sekitar.
__ADS_1
"nona mari ikut saya" memegang tangan danita agar tidak hilang. itu pikir audri karna danita tidak memperhatikan jalan, bisa gawat kalau danita tiba-tiba hilang.
audri menuntun danita ke ruang tunggu vip yang dimana hanya ada mereka berdua didalam ruangan itu, pemandangan didepan langsung berhadapan dengan parkiran pesawat yang akan lepas landas dan yang akan mendarat. audri mengecek hpnya beberapa kali memeriksa info dari zan dan dari pekerjaannya, sedangkan danita hanya menatap pesawat-pesawat yang sangat menakjubkan dimatanya. danita seperti anak kecil Dimata audri, tapi audri gemas dengan tingkah danita.
"pesawat tuan Rangga!, berarti kurang dari 5 menit ya? itupun kalo tidak ada kendala" menatap kedepan dimana ada satu pesawat yang baru saja mendarat.
danita Masi melihat-lihat semua pesawat yang ada disana, dia bahkan tidak tau mana pesawat pribadi suaminya.
"nona tuan Rangga akan segara datang" membuyarkan lamunan danita yang sedang asik menatap pesawat diluar sana.
"benarkah?" menyisir sedikit rambutnya dengan jarinya lalu menatap keluar lagi "kapan ya terakhir kali aku naik pesawat?" menyisir rambutnya lagi.
danita dan audri memalingkan pandangannya secara bersamaan saat terdengar pintu ruang tunggu terbuka secara perlahan. audri yang sejak tadi berdiri sudah tau siapa itu, sedangkan danita langsung berdiri dari duduknya.
dan tentu saja orang itu adalah Rangga dengan pakaian simpelnya bukan jas atau kemeja bukan juga jas hitam-hitam yang biasa Rangga pakai. Rangga terlihat bukan seperti CEO yang baru pulang berbisnis.
"sayang" danita langsung berlari kepelukan Rangga.
Rangga yang menangkap danita masuk kedalam dekapannya. mencium kepala danita, mengusap-usap rambutnya yang sudah menjadi aktivitas kesehariannya. Rangga membisikkan sesuatu ke telinga danita dan hanya danita yang bisa mendengarnya.
"wah wah lihat sedang ada drama Romeo dan Juliet yang sudah tidak berjumpa berpuluh-puluh tahun disini" ejek zan dalam hatinya menertawakan adegan romantis yang ada didepannya.
audri yang bisa membaca pikiran zan lewat ekspresinya menahan tawa dalam diam, sesekali dia ketahuan bahunya sedikit bergetar karna dia menahan tawa.
"tidak tuan" langsung berhenti.
kembali ke Romeo dan Juliet yang dibilang zan tadi. Rangga menarik danita duduk di paha kirinya seperti memangku dengan posisi sebelah. tidak berhenti Rangga menciumi pipi danita sambil memeluk pinggangnya.
"ah sudahlah tidak ada gunanya menonton kemesraan mereka" berbalik arah bersiap untuk menyiapkan mobil untuk kedua majikannya yang sedang melepas kerinduan.
"kau datang untuk menjemput ku?" menciumi tangan danita yang sudah dipegangnya dari tadi.
"iya sayang" menaruh kepalanya diatas dada Rangga.
"apa kau merindukanku hm?" memeluk pinggang danita, mengusap-usap rambut danita dan tidak pernah terlewatkan beberapa kecupan dipuncak kepala danita.
"tentu sayang, apa kau juga merindukanku?" mengusap-usap kepalanya supaya terlihat istri yang sedang manja.
"tolong keluarkan aku dari sini" audri sudah salah tingkah sendiri dibelakang Rangga dan danita dari tadi, udaranya menjadi panas disekitarnya.
__ADS_1
"apa kau kira aku sanggup untuk tidak merindukanmu?" sekarang beralih memainkan tangan danita dengan mulutnya.
"seberapa besar rasa rindumu?" mengangkat kepalanya dan menatap Rangga yang tidak berhenti mengembangkan senyumnya.
"tidak terukur" kembali menaruh kepala danita ke dadanya.
"siapapun ku mohon keluarkan aku dari sini!" audri benar-benar sudah tidak sanggup menonton kemesraan tuan dan nonanya ini.
disaat kesibukan mereka berdua yang sedang entahlah hanya mereka yang menikmati obrolan mereka berdua, zan masuk untuk memberitahu mobil sudah siap.
"tuan zan anda sangat menyelematkan saya" wajah audri langsung bersinar saat melihat zan berdiri didepan pintu.
awalnya rangga menggandeng tangan danita tapi saat dia melihat konsisi diluar sangat ramai, Rangga memberikan topi ke danita dan menutup hampir seluruh wajahnya.
"eh sayang kenapa?" mendongak keatas karna seluruh wajahnya tertutup.
"diluar banyak orang, aku tidak mau mereka melihat kecantikan dan keimutan wajahmu" Manarik topinya lagi sampai benar-benar satu wajah danita tertutup oleh topi.
"sayang tapi kalau seperti ini aku tidak bisa melihat" mengangkat topinya.
"aku akan menggandeng mu, aku tidak suka kalau mereka menatapmu" menarik lagi topinya.
danita pasrah dari pada tidak pulang itu pikirnya. lebih baik dia menurut saja.
"padahal dia sendiri yang menjadi pusat perhatian" walaupun danita hanya bisa menatap kakinya saja tapi dia masi melihat beberapa tatapan yang tertuju ke Rangga.
disaat dia fokus berjalan digandeng Rangga, tidak sengaja danita mendengar seseorang yang mengatakan. "bukankah itu tuan Rangga? siapa wanita itu? apa dia istrinya?" sontak danita melirik ke arah suara itu tapi Rangga langsung menarik kembali topinya.
Rangga juga sekilas bisa mendengarnya tapi Rangga memutuskan untuk mengabaikannya, ada waktu dimana dia akan terang-terangan memperkenalkan danita sebagai istrinya kedepan publik, Rangga selalu berfikir seperti ini saat dia mendengar perkataan seperti itu. bukan Rangga namanya kalo tidak merencanakan sesuatu yang waw.
danita melepas topinya saat sudah berada di dalam mobil. zan duduk dikursi pengemudi diikuti audri yang duduk di sebelahnya.
dibelakang sana terdengar ramai ocehan danita yang meminta Rangga untuk berhenti menciuminya karna dia sadar ini dimana.
"cih katanya kau merindukanku" berdecih keras memberhentikan aktivitasnya dengan kesal.
"iya iya sayang sini cium, terserah mau disini disini atau disini" menunjuk seluruh bagian wajahnya tanpa terkecuali.
dan aksi pun berlanjut hingga sampailah kekediaman adinata.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Ps: ingatkan author jika ada typo