
Malam ini adalah malam tak biasa untuk zan. rasa ingin menggapai itu semakin mencapai pada batasnya, dan rasa penasaran semakin menghuni kepalanya.
"aku harus mendapatkannya" sigapnya dalam hati sambil menarik jaket yang dia keluarkan dari lemarinya.
Meraih kunci mobilnya yang ia buang sembarang tempat. entah mau kemana dia dengan mobilnya.
Dia menepikan mobilnya di sebuah kafe tempat biasa dia menikmati kopi kesukaannya. dia hanya masuk dan duduk di kursi paling pojok seperti biasa. tapi kali ini dia tidak mengangkat tangannya.
Sang barista menatap heran zan yang tidak mengangkat tangannya.
"apa anda tidak ingin memesan?" akhirnya barista itu menghampiri kursinya.
"saya sedang menunggu seseorang" ucap zan datar tanpa menatap barista itu.
"baik" menundukkan kepalanya sedikit lalu berjalan pergi dari meja zan.
Suara lonceng berbunyi seirama dengan pintu yang terbuka, pelayan yang berada di meja kasir menyambut ramah dengan tangan yang masi sibuk dengan mesin tempat memesan itu.
Orang itu lah yang zan tunggu-tunggu, rasya namanya. dia mengangkat tangannya. Untung saja barista itu sedang sibuk meracik kopi pelanggan lain, kalau tidak pasti barista itu langsung merasa terpanggil.
Rasya menengok ke belakang, takut yang melambaikan tangannya bukan kearahnya. tapi detik berikutnya, dia membulatkan matanya. wajah yang sangat tidak ingin dia lihat itu, sekarang ada didepannya.
"apa kau buta?" geram zan karna rasya hanya seperti orang bodoh disana.
Rasya langsung menghampiri meja zan.
"tak disangka ketemu lagi" cengar-cengir sendiri rasya. padahal dalam hatinya dia ingin cepat-cepat pulang.
zan hanya membalas dengan tatapan. ahh mana bisa rasya mengerti bahasanya.
"kenapa kau ada disini?" mengganti pertanyaannya berharap dijawab.
"apa kau yang punya kafe ini?" balik bertanya dengan tatapan yang sulit untuk dipahami.
"coba ku tebak" menyentuh dagunya dengan tangannya, mencoba untuk membaca pikiran zan. "kau bosan sampai-sampai kau memanggilku kan?" niatnya si mau meledek zan, tapi malah dia yang dibuat merinding ditempat.
bagaimana tidak? zan langsung menatapnya seperti harimau yang sedang menatap mangsanya.
"haiss tidak bisa diajak bercanda sekali" gumamnya, menyenderkan kepala pada satu tangannya yang diletakkan di atas meja.
"apa mantan mu masih mengejar-ngejar mu?" tidak terkecoh dengan ucapan rasya barusan.
"tidak, sepertinya yang itu terakhir" kembali menegakkan kepalanya. "ahh aku masih penasaran kau belajar bela diri dimana"
Zan malas menjawabnya, sungguh. karna bukan itu tujuannya jauh-jauh datang.
"kalau diingat-ingat waktu itu sepertinya kau sudah terlatih" memperhatikan zan dengan tatapan yang aneh?.
"kenapa mantanmu banyak sekali?" memotong segera sebelum berlanjut.
"kata siapa mantanku banyak? masih bisa dihitung kok" tidak terima dengan ucapan zan.
"apa untungnya memiliki mantan banyak?"
__ADS_1
"kalau kau berfikir aku yang tidak tahu diri sehingga mantan ku banyak, kau salah" melipat kedua tangannya diatas meja.
zan menatap seolah-olah meminta kelanjutannya.
"mereka yang meninggalkanku dengan wania lain setelah mengambil uang ku" matanya terlihat sedih.
menyedihkan sekali..
"bodoh" celetuk zan.
"kau tidak akan pernah tahu cinta itu buta" menepis celetuk zan tadi.
"bukan cinta yang buta tetapi kau yang bodoh" ucapnya tanpa dosa. tapi bener si.
"sudah diam" malas sangat dia jadinya.
"apa k–" baru dia mau kasi tahu tujuannya memanggil rasya tadi.
"apa kau tidak mau memesan sesuatu? jahat sekali, atau jangan-jangan kau dipecat tuan rangga dan sekarang kau tidak punya uang? mangkanya itu kau memanggilku" ucapnya spontan.
Zan berdecih keras, lalu memanggil pelayan. sebenarnya dia tidak ada niatan untuk meminum kopi malam ini. tapi yasudahlah.
"makasi" tersenyum manis setelah memesan apa yang dia mau.
Kapan lagi ya kan ngerasain uangnya sekertaris presdir adinata.
matre:)
"kau tadi mau ngomong apa?" kembali ke topik awal.
"jangan bilang kau terkena amnesia mendadak" menatap zan yang sedang menggaruk dahinya dengan telunjuknya.
"berarti sekarang kau tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun?" baru ingat kembali.
"heeh" mengangguk singkat.
detik berikutnya rasya menutup mulutnya dan membundarkan matanya.
"kenapa kau bertanya seperti itu?" melepaskan tangannya kembali normal lagi. kan malu kalo dugaan dia salah.
"memangnya aku dilarang bertanya seperti itu?" menatap datar.
"y–ya enggak si" menggaruk kepalanya.
"Untung saja tidak geer duluan"
"aku tertarik dengan mu" ucap zan santai.
krik.. krik..
Rasya cengo seketika dan zan menatap datar ekspresi rasya. garis merah yang ada dipipi rasya terlihat.
"selamat menikmati minumannya" seorang pelayan datang diantara kebingungan yang ada.
__ADS_1
Sementara Rasya masih berbulat mata tanpa berkedip sekalipun. dengan mulut yang sedikit terbuka tentunya.
"air liur mu sudah menetes itu" ejeknya sambil menyeruput kopinya.
Rasya langsung mengusap dagunya, ya bodoh si dia percaya aja.
"gimana gimana?" melipat tangannya dan menatap serius ke zan. pipinya terasa panas sekarang
"apa?" masih menyeruput nikmat kopinya.
"kata-kata mu yang tadi" menatap zan yang sedang dengan nikmat meminum kopinya. sambil menahan rona merah di pipinya.
"hanya orang bodoh yang mengulang kata-katanya" menaruh cangkir kopinya dan balik menatap rasya.
Rasya menatap bertanya-tanya. dia selalu mengulang kata-katanya ketika bersama vita apa dia juga orang bodoh?. oh no oh no oh no
"ulangi kata-kata mu yang tadi" tetep kekeh.
"ha–"
"cepat" potong rasya dengan cepat, lumayan narik urat juga. rona merah dipipinya sudah tak terlihat lagi. digantikan dengan wajah yang kesal.
"aku tertarik dengan mu" akhirnya dia mengulang kata-katanya.
"ku kira telinga ku rusak" gumamnya mengorek telinganya.
Zan terkekeh geli dengan tingkah rasya, jelas-jelas dia sudah berbicara menggunakan bahasa manusia yang baik dan benar.
"tetapi aku sudah tidak ingin berpacaran" ucap rasya. dia memang sudah malas dengan hubungan seperti itu.
"siapa yang ingin mengajakmu berpacaran?" sedikit mengkerut kan dahinya.
"kau tadi bilang tertarik dengan ku" menunjuk zan mengingatkannya dengan kata-katanya tadi.
"apa itu artinya harus berpacaran?"
"enggak si" menggaruk belakang kepalanya. sebenarnya dia juga tidak tahu.
selama ini para lelaki yang pernah menjalin hubungan dengannya, langsung menyatakan cintanya lewat bunga atau coklat lalu diberikan kepadanya. kalo yang bilang 'aku tertarik dengan mu' baru zan.
Zan menyilangkan tangannya didepan dadanya. sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
"kalau kau ingin mengajak ku berpacaran, aku sudah tidak ingin. jadi maaf ya" ucapnya dengan kepercayaan diri yang full, meminum jusnya sambil menatap zan. merasa ucapannya sangat benar
"aku ingin mengajakmu menikah bukan berpacaran" akhirnya tujuannya kesini tersampaikan.
uhuk
rasya tersedak. mengedipkan matanya beberapa kali.
"hah?!!" ekspresi cengo pun tidak terhindarkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo
cuman mau bilang kalo disini terdapat bab yang diulang lagi, mohon maaf 🙏