Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Belajar Membaca Buku Cerita


__ADS_3

Malam hari danita terus menerus merengek pada rangga, banyak sekali yang dia rengekan. mulai dari permintaannya untuk ikut rangga menjenguk makam papa kino, mengidam sesuatu dan masih banyak lagi.


Danita juga sempat merengek meminta ikut mengantarkan kelin, tapi untung saja tante wulan mengajaknya membicarakan tentang kehamilan. jadi danita berhenti meminta ikut mengantar kelin.


"danita" panggil rangga saat keluar dari ruang ganti baju. entah apa motivasinya dia membiarkan dua kancing baju atasnya terbuka.


Danita yang tadinya ingin mendiamkan rangga malah jadi salfok. "hem" padahal matanya sudah melirik kancing baju rangga yang terbuka.


"kemari" menepuk-nepuk dadanya.


benar-benar membuat mata danita kemana-mana. hatinya tidak ingin mendekat ke rangga, tetapi tubuhnya berkata lain.


"cepat kemari" sekarang dia malah membuka satu kancing lagi.


Akhirnya danita mendekat. matanya menatapi dada rangga yang terekspos bebas didepannya. bagaimana dia bisa mempunyai tubuh sebagus itu?.


"aku menyuruh mu mendekat bukan menatap lapar dada ku" wajah-wajah penjahil ya begini. dia sengaja membuka kancing bajunya.


"apa?!" ketusnya menyembunyikan malunya.


"kau berbincang apa dengan tante wulan?" menjulurkan tangannya agar danita lebih mendekat kepadanya.


"kepo!" ucapnya tak memperdulikan tangan rangga yang masih menggantung disana.


Meraih buku cerita yang dia taruh di sebelah ranjang. cerita kancil yang cerdik. entah kenapa sejak hamil danita sangat terobsesi dengan buku cerita yang bergambar. seru saja katanya, terkadang dia tertawa membaca aksi konyol yang ada dalam cerita.


"enak sekali kau dapat seharian bersama mama mu" rangga tiduran disebelah perut danita. dua jagoan sepertinya merindukan papanya.


"lihat papa mu, bahkan cemburu dengan mu" menatap sebentar rangga lalu membuka buku ceritanya.


Suaranya sedikit ia keraskan dengan nada suara yang berubah-ubah menghayati teks ceritanya. rangga mendengarkan danita seperti sedang mendongeng, sambil tangannya memainkan perut danita.


"sang kancil pun berhasil menjebak landak diantara ranting-ranting pohon, hewan-hewan lainnya bersorak gembira karna berhasil menangkap landak yang menyusahkan warga dengan aksinya membuat takut hewan lain dengan duri-durinya yang tajam" dongeng pun selesai. dia menutup buku ceritanya dan beralih menatap rangga yang tak bergerak disana.


"dengar itu, mama mu membaca buku cerita setiap malam untuk kalian, sementara papa tidak pernah dibacakan buku cerita sama sekali" berbicara didepan perut danita.


danita terkekeh geli mendengarnya, setiap malam rangga akan memeluk perutnya dan dirinya akan membaca buku cerita. itu sama saja rangga mendengarkannya kan?.


"sayang lain kali kamu dong yang bacain buku cerita buat anak kita" menghiraukan aduan tidak jelas rangga tadi.


"aku tidak tahu cara membacanya seperti kamu" mengangkat kepalanya. suaranya itu dibuat-buat. tapi kenapa lucu tidak terkesan geli sama sekali?.

__ADS_1


"memangnya kamu tidak pernah membaca ini?" mengangkat buku cerita tadi.


"tidak pernah" bangkit sedikit dari tidurannya.


"biasanya buku cerita seperti ini sudah ada saat di taman kanak-kanak" menyenderkan kepalanya masih memegang buku cerita itu.


"apa itu taman kanak-kanak?" mengkerut kan keningnya.


Danita lupa rangga homeschooling.


"taman kanak-kanak itu tingkat sekolah paling dasar" memiringkan kepalanya dan menatap wajah rangga yang masih kebingungan.


"aku baru tahu ada yang seperti itu" kembali berbaring di sebelah danita.


"memangnya kalau homeschooling tidak ada yang membaca buku cerita sayang?" menyisir rambut rangga menggunakan jemarinya.


"kalau aku tidak ada" menikmati jemari danita.


"oh beda ya ternyata, ku kira sama metode pembelajarannya" danita masih berfikir benar-benar beda metode pembelajarannya?. kalau dia tonton drama-drama anak homeschooling gitu memang benar si agak berbeda. tapi yang dia tonton metode pembelajarannya sama hanya saja sangat keras didikannya.


"terus adanya apa sayang?" penasaran kan dia jadinya.


"bertahap, pelajaran umum seperti matematik yang harus aku kuasai lebih dahulu" mulai memainkan kembali jemarinya di perut danita.


"itu dasar yang harus aku kuasai" membelai lembut perut buncit danita. kenapa rangga melihat perut danita seperti melihat bakpao?.


"aku usia lima tahun masih bermain sepeda dengan anak tetangga" gumamnya masih tidak percaya. sekeras apa rangga didik?.


"setelah itu sayang?"


"aku diajarkan sejarah-sejarah adinata beserta leluhur adinata, lalu ekonomi, dan aku dibentuk untuk selalu bertanggung jawab dan menjadi presdir adinata" agak rumit ya.


danita menggaruk kepalanya, benar-benar berbeda metode pembelajarannya.


"pelajaran matematik itu untuk apa? hanya sebagai dasar?" mengangkat alisnya.


"itu berhubungan dengan ekonomi, matematik dasarnya. aku harus bisa mengatur keuangan perusahaan dan mengatur keuangan keluarga" menjelaskan lebih rinci.


Danita ber ohh panjang tanpa suara. mengangguk walaupun sedikit tidak sampai otaknya.


"sayang sekertaris zan begitu juga homeschoolingnya?"

__ADS_1


rangga mengangguk samar.


ohh begitu rupanya. benar-benar kehidupan yang sangat berbeda. danita sering mengeluh dulu dibangku sekolah dasar, matematik menjadi pelajaran yang sangat tidak dia sukai. sementara rangga sudah di jejeli rumus-rumus menyebalkan sejak umur lima tahun. sebuah perbedaan yang sangat terasa.


"kamu bisa mempelajari ilmu yang sangat susah masa membaca buku cerita saja tidak bisa" ucap danita tujuannya ingin rangga membaca buku cerita untuk anaknya.


"bisa dong!" ucapnya spontan langsung mengambil buku ceritanya.


Rangga membuka buku cerita bergambar itu, dia membukanya didepan perut danita. bersiap mendongeng untuk anaknya.


"pada zaman dahulu hidup lah seekor kancil kancil itu sangat cerdik dan mempunyai banyak sekali tem–"


"sayang bercerita bukan membaca laporan, ada jedanya dong" potong danita karna rangga membaca tanpa ada titik koma, lurus saja seperti kereta. mana sangat cepat membacanya.


Rangga mengulang lagi membacanya.


"sayang ada jedanya, jangan lurus kayak kereta terus jangan cepet-cepet juga" potong danita lagi.


Rangga menghembus kasar.


"aku tidak bisa" menutup buku ceritanya.


"dibilang jangan seperti sedang membaca laporan" protesnya lagi.


"cara membaca ku memang seperti itu" elaknya tak kalah protes.


"bedain dong, kan untuk anak kita" tersenyum manis dan berwajah imut.


"cerdik sekali kau" kembali membuka buku ceritanya.


"sayang aku besok ikut ngunjungin papa ya?" memegang tangan rangga.


Rangga mengira danita sudah melupakan itu, ternyata tidak.


karna malas dan jengah sekaligus lelah untuk menanggapi rengekan danita yang kembali hadir, rangga menutup bukunya sambil tersenyum manis dan mematikan lampunya. lalu dia masuk kedalam selimut.


"selamat malam" ucapnya manis memejamkan matanya.


"sayangg!!" sebenarnya ini sudah ia duga akan terjadi.


Rangga menulikan pendengarannya. sudah dipastikan rengekan istrinya akan berlanjut sampai pagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2