Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Kegelisahan


__ADS_3

Suara hentakan sepatu heels yang berlari dengan sangat cepat terdengar sampai ke koridor ruang Presdir. staf sekertaris yang berada didepan menatap lurus asal suara berisik itu, dan ya wanita yang tampak sangat menawan berlari dari sana.


"tuan zan" panggil wanita itu setelah bertemu dengan zan yang hendak masuk keruangan Rangga.


"ada apa?" menatap datar.


"maaf tuan mengganggu waktu anda, apa anda sudah melihat baritanya?" menunduk sebentar mengatur nafasnya.


"berita apa?" membalikkan badannya menatap wanita itu.


wanita itu memberikan hpnya yang sudah terpampang jelas di layarnya.


"sialan" umpat zan meremas tangannya.


"audri siapkan" melengos masuk kedalam dengan sedikit tergesa-gesa.


"baik tuan" wanita itu adalah audri.


"apa kalian tidak punya kerjaan?" menatap tajam ketiga staf sekertaris yang sedang menguping.


mereka langsung bubar kembali mengerjakan pekerjaan mereka. audri itu bisa sangat menyeramkan ketika di kantor tidak heran zan mengakuinya.


"apa lagi sekarang?" batin zan menatap Rangga yang acuh dengan kedatangan zan.


"ada apa?" mengangkat kepalanya.


zan sangat ragu dan gelisah memajukan hp audri yang masih dia pegang ke meja Rangga. ya rangga curiga dengan tingkah zan, dengan cepat dia meraih benda pipih itu yang sudah nyala.


Brakk


satu bantingan keras hp itu hancur lebur di mejanya. seolah-olah tidak perduli dengan sang pemilik hp.


"batalkan semua jadwal" bentaknya berjalan cepat melewati ketiga staf sekertaris yang gemetar.


"b–baik tu–tuan" gelagapan mereka serempak.


menunduk sangat dalam hanya menatap sepatu heels yang mereka gunakan sampai terdengar suara pintu lift tertutup.

__ADS_1


menggeleng takut sambil menatap satu sama lain.


****


"apa gunanya kalian disini?" berteriak, mungkin lebih terdengar sebuah amukan.


"jawab" hampir mau membanting vas besar jika tidak ditarik oleh zan.


"kau apa kau sudah tidak bisa melihat?" mencengkeram kerah baju pak tan.


sungguh itu seperti leher pak tan hendak dihabisi oleh Rangga. dengan akal sehat yang mungkin tinggal setengah dia melepas kasar tangannya.


jangan tanya lagi bagaimana keadaan dirumah utama sekarang, seluruh pengawal yang ada dipukul habis-habisan oleh Rangga. kecuali pak tan, kalau dengan pak tua ini dia masih bisa memakai akal sehatnya. tapi tidak dengan mereka.


"zan kau tidak bodoh kan disaat seperti ini?" matanya itu seperti harimau yang siap untuk mencabik-cabik mangsanya.


zan mengangguk sedikit menjauh dari sana. "lacak ponsel nona danita" ucapnya pelan dipojok sana.


"tapi tuan ponsel nona danita tidak aktif" gugup orang yang ada di telpon.


"sialan, kau mau melihat tuan Rangga mengamuk?" ya walaupun sekarang sudah mengamuk disana.


zan kembali menatap Rangga yang dari tadi menatap tajam dirinya.


"dimana danita?" suara beratnya menambah ketegangan.


sungguh zan tidak tahu harus menjawab apa, baru dia menyuruh orangnya untuk melacak danita bukan sudah menemukan dimana danita. suara dari hpnya menyelamatkan hidupnya.


"nona danita sedang berada di perumahan..." ucap orang di telponnya.


zan bernafas lega tidak bernasib sama dengan para pengawal


"nona danita pulang kerumahnya" membalas tatapan mata tajam Rangga dengan tatapan datar.


hawa-hawa gusar terlihat di wajah Rangga, yang tadinya seperti ingin membunuh sekarang menjadi tatapan khawatir. zan membubarkan para pengawal yang ada. pak tan Masi berdiri tegak disana.


"kenapa kau sangat lambat?" teriaknya untuk zan.

__ADS_1


"mobil mengalami kerusakan, sekarang sedang diperbaiki sebentar lagi" sudah siap menerima teriakan dari rangga.


"apa aku hanya punya satu mobil? pakai yang mana saja jangan membuatku menunggu" nada suaranya tidak tinggi tapi mampu menekan orang didepannya.


bukan itu masalahnya, ya Rangga memang punya beberapa koleksi mobil tapi untuk sekarang mobil-mobil yang hanya Rangga jadikan sebagai koleksi itu sedang di servis karna sudah lama sekali tidak dipakai.


"kau mau aku menghancurkan rumah ini sampai rubuh?" Rangga kacau disana, beberapa kali dia meneriaki zan tapi zan juga bingung.


"bawakan mobil baru untuk tuan Rangga" lagi dan lagi mobil baru menjadi jalan ninja zan.


"mobil baru lagi, mobil-mobil itu hanya menjadi pajangan di garasi kan?" menatap punggung Rangga yang berjalan cepat didepannya.


"lakukan saja demi meredakan dirinya" membuka pintu mobil baru yang langsung dikirim.


"cepat" bentak Rangga.


"aku tutup kuping saja nanti" duduk di kursi kemudi lalu menjalankan mobil baru dengan kecepatan agak tinggi.


"bagaimana dengan nitaku?" duduknya sudah tidak nyaman.


"nona danita akan b–" ucapannya terpotong.


"pasti dia sedang menangis memanggil namaku" menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "percepat sialan" menatap tajam punggung zan.


zan menaikkan kecepatan mobilnya, ini sudah seperti balap-balapan. percaya tidak percaya zan dulu pernah ikut balap liar, diluar nama keluarganya dan nama adinata dia seorang sebenarnya pria yang liar. apa Rangga tahu itu? ya Rangga tahu tapi dia membebaskan zan melakukan apa yang dia inginkan.


"batalkan kerja sama, tarik kembali saham adinata, buat perusahaan itu hancur sampai tidak ada yang tersisa dan buat hidup wanita itu menderita" ucap Rangga dengan nada bicara yang sangat rendah.


"baik tuan" selalu sigap dengan apa yang akan dilakukan Rangga, dia menekan tombol di hpnya dan mengirim suara Rangga barusan ke orang terpercayanya.


"sialan kenapa harus macet" menendang kursi depan dengan sangat kuat.


"danita... tunggu aku" menatap jalanan yang sangat padat diluar sana.


zan beberapa kali mengetuk-ngetuk kemudi dan sesekali menatap ke jok belakang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2