
Keadaan dirumah utama terlihat ada yang berbeda semenjak kepulangan Rangga, kalau waktu Rangga pergi dia menyuruh beberapa pengawal untuk menjaga rumah tapi sekarang para pengawal itu tidak pergi walaupun Rangga sudah pulang.
Rangga hanya bilang "biarkan mereka berkerja disini, mereka juga punya keluarga yang harus diberi makan" begitu katanya.
danita sudah tau itu hanya elakan dari pertanyaannya yang selama ini menghantui Rangga. apa lagi kalau bukan karna kejadian waktu Tante marlin datang tiba-tiba ke kediaman adinata.
"kau ini kenapa dari pagi?" menghampiri danita yang dari pagi cemberut ke Rangga.
"aku ngidam" masi menekuk wajahnya yang setengah ditutupi oleh selimut.
"mau apa hm?" mengelus perut danita tapi matanya menatap wajah danita.
"jus mangga buatan ibu ku" memasang wajah memohon tapi bibirnya Masi cemberut.
"yasudah nanti zan akan kerumah mu"
"tidak!!, aku maunya kau yang datang kerumah dan kau yang mengambil mangga itu" memeluk lengan Rangga memohon.
"aku tidak punya waktu" memalingkan wajahnya.
"sayang yang minta ini anakmu loh kalau tidak dituruti nanti dia akan ileran" sebuah mitos yang membuat Rangga langsung membelalakkan matanya.
"baiklah baiklah dari pada nanti ileran" mengusap wajahnya dan membayangkan apa yang seharusnya tidak dia bayangkan.
"kapan?"
"nanti sore" mengusap perut danita lagi tapi ini sangat lembut.
"baiklah tidak apa-apa aku akan kekantor mu nanti sore" menghentikan tangan Rangga.
__ADS_1
"kau ingin bertemu dengan ku?" sekarang mencium perut danita
"aku ingin ikut" menatap Rangga yang sedang menciumi perutnya
"siapa yang mengizinkan mu?" berhenti menciumi perut danita dan sekarang menatap danita.
"ah sayang aku mau ketemu rio" menyatukan tangannya didepan dada, memohon.
"kalau begitu kau saja sana yang kerumah ibumu" bangun dari duduknya.
"tidak tidak sayang, aku tidak jadi ketemu rio, kau kan yang akan kesana aku tidak ikut ya" menarik kembali tangan Rangga.
"hmm" mengambil jasnya yang ditaruh danita disamping tempat tidur.
****
"selamat datang tuan Rangga" sapa ibu saat melihat Rangga dan zan sudah berdiri didepan pintu.
"dimana kebunnya?" tanyanya mengikuti ibu dan zan yang berada didepannya.
"dibelakang tuan" mempersilahkan Rangga masuk kekebun belakang rumahnya.
"ini seperti taman" terpesona dengan hamparan berbagai tanaman didepan matanya.
ada banyak tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran disana, terlihat Masi sangat segar dan matang. itu sangat indah saat terkena paparan sinar matahari.
"tuan itu pohon mangganya" zan menunjuk pohon yang besar dan tinggi dipinggir sana.
"bagaimana cara aku mengambilnya?" menatap pohon yang tinggi itu.
__ADS_1
"anda harus memanjat" jawab zan juga tidak yakin Rangga akan bisa.
"tinggi sekali" Masi menatap pohon itu Dari atas sampai bawah.
"tuan Rangga saya bisa panggilkan rio untuk mengambil mangganya" saran ibu yang dari tadi berdiri di belakang rangga.
"tidak usah aku bisa" langsung sensi saat nama rio disebutkan.
"tuan biar saya saja yang memanjatnya" zanpun ikut menawarkan diri.
"danita meminta aku yang mengambilnya bukan kau" melepas jasnya dan diberikan dengar sarkas ke zan.
"maaf tuan" memegang jas yang diberikan Rangga.
"gini doang aku pasti bisa" mulai memanjat pohon itu.
tapi baru beberapa detik Rangga berusaha naik keatas sana, dia kembali jatuh lagi ketanah terus seperti itu sampai bajunya sendiri mulai kotor.
"tuan anda baik-baik saja?" meneriaki Rangga yang masi berusaha bangun lagi walau sudah jatuh berkali-kali.
"aku pasti bisa" teriaknya sebelum dia jatuh lagi ke tanah.
"tuan sudah biar saya saja yang memanjat" menghampiri Rangga yang mulai berdiri lagi dengan pakainya yang sudah kotor apa lagi celananya dibagian belakang.
"hei sudah berapa kali aku bilang? danita mintanya aku bukan kau" menepis tangan zan yang hendak membantunya berdiri.
"tuan anda tidak akan bisa" menatap Rangga yang mulai memanjat lagi walaupun belum sampai ditengah dia sudah jatuh lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo