Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Sakitnya Rangga


__ADS_3

Di malam-malam berikutnya dimana semua makhluk bumi sudah masuk kedalam tidurnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal Rangga yang membuatnya tidak bisa menutup matanya dikala orang-orang sudah masuk semua kedalam mimpinya.


ketika dia melihat jendela hari masi sangat gelap, dan sinar rembulan Masi menyelimuti bumi gelapnya malam.


"bagaimana caraku bangun tanpa membangunkannya?" menatap danita yang memeluknya seperti sedang memeluk guling.


saat rangga mengangkat tangan danita, danita bergumam sedikit dan mala menempelkan pipinya di dada Rangga.


"apa pak tan sudah bangun?" mulai mencari cara.


akhirnya Rangga melepas paksa tangan danita tapi saat danita mulai bergumam rangga langsung mengusap pipi danita dan memeluknya.


"ini Masi terlalu pagi" mendekati tirai yang masi tertutup rapat.


masuk kedalam kamar mandi dan melaksanakan apa yang dia tahan dari tadi.


Rangga terlihat bingung setelah keluar dari kamar mandi, duduk disofa dan meraih hpnya. rangga berniat menelfon zan tapi sepertinya zan juga sudah ada didalam mimpinya. dan akhirnya dia kembali lagi keatas ranjang tapi dia tidak merebahkan tubuhnya melainkan duduk dipinggir kasur.


"aku merasa panas" tapi dia membaringkan tubuhnya dan mendekap kembali tubuh mungil danita.


mengabaikan suhu tubuhnya yang naik, rangga lebih memilih untuk kembali tidur saat melihat kembali kearah jendela.


"aku tidak bisa tidur lagi" menatap keatas. "kenapa rasanya tubuhku memanas?" membulak balikan tubuhnya kekanan dan kekiri.


Rangga hanya berguling ke kanan dan ke kiri sesekali dia menatap wajah danita yang sudah terpulas didalam tidurnya.


"menggemaskan sekali bukan?, bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadanya" itu adalah kata-kata yang Rangga ulangi saat kembali menatap wajah danita lagi.


matahari sepertinya sudah mulai muncul dan saat itu juga lah Rangga baru bisa memejamkan matanya kembali.


***


danita terbangun dari tidurnya menatap matahari yang sudah muncul disana. tapi danita merasa ada yang aneh kamarnya menjadi sangat panas sepertinya bukan kamarnya tapi sekelilingnya.


"kenapa disini terasa sangat panas?" mengubah posisinya menjadi duduk.


danita memegang dahi dan lehernya, mungkin saja dia demam? tapi dia tidak merasa panas di tubuhnya.


"apa dia demam?" beralih memegang dahi Rangga. "panas sekali" pindah ke leher rangga.


"sayang bangun" menggoyangkan sedikit lengan Rangga.

__ADS_1


hanya dijawab gumam pelan yang nyaris tak terdengar.


"dia benar-benar demam" menyingkirkan selimutnya dan beranjak dari sana.


"kau mau kemana?" menahan tangan danita.


"aku mau panggil pak tan sebentar" melepaskan tangan Rangga.


"kenapa?" Masi berusaha menahan tangan danita.


"sayang kamu demam, aku mau minta tolong pak tan bawain air hangat" menatap mata sayu rangga yang sedikit memerah.


"aku tidak demam" dia langsung bersin.


"sudah diam" tanpa memperdulikan ucapan Rangga, danita langsung berjalan begitu saja.


rangga terdiam disana, merasakan tubuhnya yang memanas yang membuatnya sedikit susah untuk bergerak dan membuka matanya.


"bagaimana dia bisa demam seperti ini?" kembali ke tempat tidurnya.


danita memeriksa beberapa kali suhu tubuh Rangga, dia tidak tahu dimana letak termometer dikamarnya. sampai pak tan datang.


"nona danita ini air kompresannya" menaruh sebuah mangkuk besar dan lebar dan memberikan handuk kecil.


"diam sayang" meletakkan handuk kecil yang sudah diperas kedahi Rangga.


"dimana zan?" menatap pak tan yang berdiri diam menatap rangga.


"tuan zan sedang dalam perjalanan tuan" menunduk sedikit.


rangga berhenti berbicara, menatap samar wajah danita yang sedang mengompresnya. walau sedikit sulit untuk membuka matanya.


"tuan rangga benar-benar sakit? apa makanan yang kami sediakan ada yang salah dengan gizinya?, aku harus memeriksa ulang!" isi kepala pak tan semuanya tentang Rangga yang sedang sakit. terlihat sedikit pucat wajahnya.


datangnya zan dibarengi dengan datangnya dokter rajwa, yang memanggil dokter rajwa tentu saja zan dan yang memberi tahu zan tentu saja pak tan. zan langsung tancap gas saat mendengar rangga terkena demam dan dengan secepat mungkin dia menghubungi dokter rajwa.


"hei apa benar tuan mudanya itu demam?" menatap zan yang memberhentikan langkahnya.


"selamat pagi dokter rajwa" menatap rajwa balik dan melanjutkan langkahnya bersama rajwa.


enam orang ada didalam kamar rangga, sari ikut masuk karna disuruh pak tan membawakan bubur untuk rangga. dan akhirnya dia hanya berdiri menatap orang-orang yang ada disini.

__ADS_1


"waw ternyata benar-benar sakit" menempelkan dua jarinya ke leher rangga.


"aku bisa membaca pikiran mu" menatap dengan tajam.


"bagaimana aku tidak bingung, ternyata kau bisa sakit" dia sedikit merasa terancam dengan tatapan tajam rangga.


"kau pikir aku ini apa? batu?" tambah menatap sinis.


"sejenis hahaha" tertawa meledek.


jika sekarang Rangga bisa menendang rajwa, akan dia lakukan sekarang juga.


"kapan lagi bisa meledek kau" Masi terdengar tawa ringan dari mulut dokter satu ini.


orang-orang disana hanya menatap dan mendengarkan percakapan yang terdengar kekanak-kanakan ini. tapi menurut danita ini lumayan lucu karna jarang sekali dia melihat rajwa yang bercanda dengan rangga.


"perbanyak istirahat tuan muda" tersenyum yang menurut rangga menggelikan.


"dokter rajwa mari saya antar" ucap pak tan.


rajwa mengikuti pak tan dan diekori sari yang berjalan sambil menjaga jarak dibelakang.


"zan bawa dokumen yang harus ku tanda tangani kesini" perintah sang tuan muda kepada sekertarisnya.


"baik tuan" menunduk lalu keluar dari sana tanpa menimbulkan suara lagi.


"sayang kau harus istirahat kenapa kau Masi bekerja?" akhirnya danita bisa berbicara.


"itu penting bukan?" balik bertanya.


"tapi kesehatan mu lebih penting" menatap Rangga yang menyenderkan tubuhnya.


"aku hanya akan menandatangani beberapa dokumen, sisanya zan yang akan mengurusnya" menatap dengan mata yang sayu.


"aku tidak mengerti tentang itu, tapi aku mengkhawatirkan mu" gusar sendiri hatinya melihat rangga.


danita menyuapi rangga yang sedang sibuk dengan kertas-kertas didepannya. walaupun Rangga tidak sibuk dengan dokumennya, danita tetap harus menyuapi rangga kalau tidak akan ada sebuah drama yang akan terjadi.


jangan lupakan zan yang berdiri disamping rangga, melakukan pekerjaannya disana dan dia tidak terganggu dengan danita yang sibuk menyuapi rangga, dan percakapan kecil diantara Rangga dan danita juga dia dengarkan. dia sudah terbiasa dengan apapun yang akan dilakukan kedua majikannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2