
Berita yang menyangkut perceraian Presdir adinata sudah menyebar luar dikalangan masyarakat, walaupun sudah ditutupi tetap saja ada orang yang bertanya. tidak dapat di elak lagi, jaman sekarang berita bisa cepat menyebar.
Di gedung ini pun juga sangat banyak reporter stasiun televisi yang sudah berdiri didepan pintu. kamera-kamera yang sudah sangat siap mereka pegang masing-masing. tetapi presdirnya tak kunjung muncul.
"itu dia Presdir adinata" teriak salah satu reporter.
Benar saja sosok yang sudah ditunggu-tunggu itu akhirnya menampakkan batang hidungnya.
sangat enggan untuk melayani pertanyaan-pertanyaan itu, akhirnya dia hanya melewati segerombolan orang-orang.
"apa benar berita perceraian itu pak?" reporter wanita itu sedikit berteriak.
"bagaimana dengan hak asuh anak yang akan dijatuhkan kepada anda?" salah satu reporter pria setelahnya.
"apa benar nona marlin tidak menuntut hak asuh anaknya?" reporter lainnya mengikuti.
terus seperti itu sampai tuan kino berada didalam mobil, dia tidak mau menjawabnya.
"tuan?" panggil supir pribadinya.
"ke rumah" suara khasnya yang halus itu.
sang supir pun mengangguk, menjalankan mobilnya sampai ke tujuan.
terhanyut dalam pikirannya, memikirkan segalanya yang ada dihadapannya. pikirannya tidak jernih akhir-akhir ini. bahkan dia melupakan hari terpenting untuk anaknya.
mobil sampai didepan gerbang rumah megah ini.
"tunggu disini" keluar setelah menginstruksikan agar sang supir tidak ikut turun.
membuka gerbang besar itu sendiri dan masuk seenaknya.
"selamat datang tuan Kino" sambut pak tan dengan tergesa-gesa.
"dimana rangga?" wajahnya tidak terlihat seperti biasanya.
"ada dikamar tuan" mengarahkan tangannya ke tangga.
Langsung melangkah menaiki tangga diikuti pak tan yang masi bertanya-tanya kenapa tuannya ada di rumah jam segini?. bukankah hari ini adalah harinya?.
sudah memposisikan telunjuknya didepan pintu itu, siap untuk mengetuk. disaat tangannya sudah hendak melayang mengetuk pintu itu, tangannya terhenti. suara tawa ceria dan seseorang yang sepertinya alasan suara tawa itu tercipta.
dia membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"ada dokter anggara didalam tuan" ucap pak tan sudah mengerti maksudnya.
ketika mendengar nama itu, tatapan matanya berubah. khawatir, itulah arti tatapannya.
ceklek
suasana hening seketika.
tawa itu yang tadinya masih terdengar langsung hilang begitu dia menampakkan dirinya diambang pintu.
"berikan salam kepada tuan kino" dokter anggara menyentuh puncak kepala seorang anak lelaki yang sepantaran dengan rangga.
"selamat siang tuan kino" langsung berdiri dari duduknya.
Tuan Kino hanya tersenyum singkat ke anak lelaki itu. matanya beralih mencari sosok kecil yang menjadi tujuannya kesini.
"rangga" berjalan mendekat dengan hati-hati, karna lantai sudah dipenuhi dengan mainan.
Rangga kecil menjauh darinya, setiap tuan kino mendekat dia langsung memundurkan dirinya. menatap datar orang didepannya, enggan untuk mendekatinya.
Sebagai seorang ayah tentu saja dirinya terkejut dengan tingkah putranya. biasanya putranya akan berlari memeluknya sambil membawa mainannya. tetapi sekarang, bahkan dia tidak mengenali mata anaknya.
"rangga, ayo samperin papah" seorang wanita yang memakai jubah dokternya mengelus rambut rangga dan tersenyum lembut.
tetapi tetap saja selangkah pun dia tidak mengambil.
yang ditanya hanya menatap.
"maaf ya papa ganggu, papa pergi sebentar ya" bangkit dari posisi jongkoknya.
tidak sama sekali mendapat jawaban dari ucapannya.
dia berbalik badan dengan berberat hati. melemparkan senyum hangat ke putranya sebelum dia menghilang dan pintu tertutup
itu bukan tatapan benci atau marah, itu seperti tatapan tidak mengenali.
setelah pintu tertutup, rangga kembali bermain.
Sementara dokter anggara melangkah menyusul tuan kino sambil menggandeng anak lelaki tadi.
"Kino" panggilnya.
"kenapa kau keluar?" pandangan mereka bertemu.
__ADS_1
"rangga membutuhkan waktu" ucapnya sambil menggenggam tangan mungil itu.
"aku tahu" mengangguk kecil sambil tersenyum samar.
"mungkin rangga akan menjauhi mu jadi maklumi saat itu terjadi" menatap wajah yang terlihat lelah dan sedang berusaha tersenyum.
"aku sudah siap jika sesuatu lebih parah dari itu terjadi, aku siap kalau rangga akan membenciku" matanya sudah berbeda dari semulanya.
"bicara apa kau ini" memberikan tatapan sinis agar tidak tuan kino tidak memasang wajah seperti itu.
dokter anggara merasa iba dengan kawannya ini. dia tahu orang yang ada dihadapannya ini ingin sekali mengeluarkan air dari matanya. tetapi dia juga tahu, orang yang ada dihadapannya ini tidak mau mengeluarkannya jika ada yang melihatnya.
"ini anakmu?" mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang sedari tadi berada disebelah dokter anggara.
"berikan salam untuk tuan kino"
"selamat siang tuan kino" melepaskan tangannya dari ayahnya. lalu menunduk.
"siapa namamu?" berjongkok didepan anak itu.
dia menatap keatas, ke ayahnya. sang ayah mengangguk sambil tersenyum tipis. "rajwa" ucapnya.
"rajwa mau kah kamu menjadi teman rangga?" mengusap pelan rambut hitam pekat si anak kecil itu.
dia kembali menatap ayahnya. ayahnya pun lagi-lagi mengangguk. kembali menatap tuan kino didepannya, lalu ia mengangguk.
"jadi teman yang baik untuk Rangga ya?" tersenyum hangat dengan tangan yang belum berhenti mengusap.
anak kecil bernama rajwa itu mengangguk.
"hei" tiba-tiba suara membuat ketika orang ini mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
rajwa pun berlari meninggalkan dua orang yang masi berada disana.
"jangan khawatirkan rangga, selesaikan itu secepatnya" memegang pundak lebar milik tuan kino.
"jaga rangga untukku" menatap yakin.
"laksanakan tuan kino yang terhormat" berdiri sigap seperti menghormat bendera.
senyum tipis itu terukir disana. walaupun terkesan hambar senyumnya. tetapi matanya sudah mulai membaik.
siap untuk mengahadapi meja panjang yang akan berada didepannya nanti. tiga orang memakai jubah yang akan mengambil keputusan sesuai dengan perundang-undangan negara. sekeras apapun dia berharap dan sekeras apapun dia mencoba, semuanya sudah ada jawaban didepan matanya. mendapat hak asuh penuh untuknya sudah membuatnya sangat senang dan bersyukur. hasil akhirnya akan ia terima dengan lapang dada, sampai suara ketukan palu itu terdengar.
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo