Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Membully zan


__ADS_3

"sayang kamu beneran mau berangkat kerja?" menatap rangga yang sedang memakai kemejanya.


"aku udah gak sakit" menatap danita yang terkena sinar matahari di bawah sana.


"tapi kamu harus istirahat" menatap rangga yang tiba-tiba berjongkok di depannya.


"aku sudah sehat kan yang merawat ku istriku" gula insecure pasti melihat senyum rangga.


"kau kemarin hanya menempel denganku dan aku hanya menyuapi mu" terpana dengan senyum rangga.


"itu obat terbaikku" mendekatkan wajahnya.


"yaudah sana berangkat" menjauhkan wajahnya.


"morning kiss nya belum" menahan punggung danita.


kecupan manis mendarat di bibir rangga, dengan senyum jahilnya dia menatap danita sambil memakai dasinya sendiri.


"padahal dia bisa memakai dasi sendiri tapi kenapa dia selalu memintaku?" menatap sinis.


"gak usah pelototi aku seperti itu, kan jadi takut" ledeknya Masi tersenyum menjengkelkan.


"sayang aku ikut kebawah ya" merubah tatapannya, memelas.


"ngapain?" menatap danita yang mulai menempel di lengannya.


"mau mengantarmu" sekarang gula insecure dengan senyum danita.


"tidak usah" menekan danita dengan tatapannya.


"abis itu aku langsung naik lagi, janji" menampilkan jari kelingkingnya.


"kau turun aku tidak jadi berangkat kerja" ucapnya santai padahal semua harap danita pupus.


"yasudah sana berangkat" cemberut melepaskan tangannya.


"gak usah ngambek" mencolek Idung danita.


"bodo! sana berangkat" memunggungi rangga.


"cepat balik badanmu" duduk kembali dipinggiran.


"tidak mau sana berangkat" di balik sana danita berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya.


"danita" dia sendiri memutar tubuh danita sampai menghadapnya. "kau kenapa menangis?" seketika hatinya sesak melihat mata danita yang berkaca-kaca.


"sudah sana berangkat" mengucek matanya.


"apa perkataan ku terlalu kasar? maaf" menjatuhkan kepala danita kedadanya.


"tidak, sudah sana berangkat" menjauh dari sana.


"lalu kenapa kau menangis?" nada bicaranya sangat lembut.


"aku tidak tahu" menggelengkan kepalanya.


"bagaimana kau tidak tahu?" berdebat dengan otaknya.


"aku tidak tahu kenapa aku menangis" dan suara danita pecah, tangisnya tambah deras.


"aku minta maaf perkataan ku kasar tadi" danita saja tidak tahu kenapa dia menangis apa lagi rangga, tapi dia tetap meminta maaf.


"huaaa" teriak kecil danita dibarengi dengan suara tangisannya didalam dekapan rangga.


Rangga mengelus lembut perut danita dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menahan tubuh danita. rangga benar-benar dibuat bingung dengan danita.

__ADS_1


"pak tan apa tuan rangga sudah turun?" dibawah sana zan sudah datang sejak tadi.


"tuan rangga belum turun tuan" menjawab sambil menulis sesuatu di kertas.


"ini sudah siang mereka sedang apa si?" mengetuk-ngetuk meja dapur tapi pandangannya mengarah ke tangga.


"tuan rangga akan kembali kerja hari ini tuan?" memasukkan kertas dan penanya kedalam sakunya.


"apa kau pernah liat tuan rangga akan bolos lagi setelah sehari sakit?" balik bertanya.


pak tan mengangguk mengerti, hendak pergi dari sana tapi zan kembali berbicara.


"apa mereka tidak ingin sarapan?" sebenarnya dia berbicara sendiri tapi reflek pak tan mengehentikan langkahnya.


"aku berbicara sendiri" menatap pak tan, dan pak Tan langsung pergi dari sana.


"aih dasar dua manusia ini" mengusap mukanya kasar dan menatap lurus.


****


"aku lebih memilih diam seperti patung dari pada memainkan game mu itu" tegas Rangga didalam rapatnya.


semua orang disana diam menunduk takut mendengar sepatah kalimat yang keluar dari sana. kecuali zan.


"perbaiki produk mu ralat ganti produk yang akan kau promosikan depan ku dengan yang lebih berfaedah di mataku" kata-kata terakhirnya sebelum dia meninggalkan ruang rapatnya.


"baik" serentak menjawab.


suara hentakan sepatu berjalan dari sana membuat ketiga staf sekertaris itu berdiri dan memberikan hormat kepada rangga.


"apa-apaan tadi itu" duduk disofa ruangannya.


"jaman sekarang banyak anak muda yang sangat gemar bermain game tuan" duduk di kursi depan rangga.


"jaman sekarang sudah gila" gumamnya tapi dapat didengar rangga.


"dengan kapasitas baterai yang penuh itu tidak menutup kemungkinan yang memainkannya menjadi lupa waktu kan?" mengomel sendiri nanti dia menjawab sendiri.


zan mendengarkan dan menjawab bila memang ada yang harus dia jawab. mendengar ocehan Rangga saat keluar dari ruang meeting sudah menjadi makanan zan kalau rangga tidak suka dengan apa yang ada di rapat.


"sudah sangat canggih teknologi sekarang" terus mengoceh.


"semakin canggih semakin tidak terkendali anak jaman sekarang" melipat kakinya menjadi menumpuk.


"zan bikinkan aku kopi" sekarang sudah menurunkan kakinya.


"baik tuan" meninggalkan Rangga sendiri dengan pikirannya.


kopi buatan zan sangat enak, kalau ada zan rangga selalu memintanya membuatkan kopi.


"silahkan diminum tuan" menaruh kopi untuk rangga dan kopi untuk dirinya sendiri.


"apa kau tahu wanita hamil itu sangat mudah menangis?" menghiraukan kopinya.


"maksudnya tuan?" menatap Rangga bingung tidak hanya sedikit bingung.


"ternyata kau tidak tahu, kau harus belajar dari ku kalau wanita hamil itu sangat mudah menangis" dengan bangganya di berbicara seperti itu.


"maksud anda sensitif?" padahal dalam hatinya dia tertawa geli.


"iya, aku sudah tau lebih tau dari kau" mengambil kopinya sambil tersenyum bangga.


"iyakan saja sudah" mengaduk-aduk kopinya sambil melamun.


"kemarin aku senang sekali seharian bersama danita" ya dia sedang menceritakan kemesraannya kemarin.

__ADS_1


"baru pertama kali aku melihat orang sakit merasa senang" menatap aneh Rangga.


"cepat cari pasangan sana zan" apa lagi yang kali ini.


"saya belum berminat mencari pasangan" menjawab datar, sebenarnya dia malas menjawab.


"siapa ya yang cocok denganmu" terlihat berfikir keras.


"tuan jangan mengada-ada" sudah menduga apa yang akan terjadi berikutnya.


"salah satu staf sekertaris didepan ada yang cocok denganmu" menggerak-gerakkan tangannya.


"tuan" ingin memberhentikan mulut rangga.


"kenapa kau tidak mendekati salah satu dari mereka saja? atau jangan-jangan" menggantungkan kata-katanya.


"jangan berbicara yang tidak jelas" menatap datar rangga yang menahan senyum jahilnya.


"ohh aku pikir kau belum bisa melupakan mantan mu itu" dia meneguk kopinya untuk menyembunyikan tawanya.


"tidak jelas" gumamnya sangat pelan.


"apa tadi aku mendengar kau bilang itu memang benar? hahaha" gelak tawanya sudah tidak bisa ia tahan.


"saya tidak merasa mengatakan itu" mukanya sangat-sangat datar.


"begitu kah? sayang sekali ternyata aku salah" Masi tertawa ringan.


"jahilnya tidak pernah hilang" meminum tetes terakhir kopinya.


"kalau jahilku hilang tidak ada lagi yang berani menjahili mu" mengangkat satu kakinya dan mengambil cangkir kopinya.


"nantikan balasanku" menatap tajam rangga.


"astaga aku gemetar" meledek kembali zan dengan gumam-gumam tawanya Masi terdengar.


cih


decih zan membuat rangga sangat ingin melanjutkan kejahilannya, sebenarnya banyak kelemahan zan yang bisa membungkam mulutnya tapi hanya rangga seorang yang tahu.


"setengah jam lagi anda akan menghadiri rapat berikutnya" kembali berbicara seperti biasa.


"hm" kembali diam seperti biasa.


"sana cepat dekati salah satu dari mereka" kembali menunjuk keluar.


"Rangga" geram zan menatap tajam orang yang selalu dia panggil tuan.


"hahahaha, aku harus membuatmu kesal dulu ya baru kau memanggil namaku" tertawa senang berhasil menjahili zan kedua kalinya.


"Yaya lakukan tingkah konyol mu sampai kau puas" bersender di sofanya.


"sudahlah aku tau jiwa jomblo tuamu tersakiti dengan kata-kata ku , aku minta maaf" berhenti tertawa.


zan menghembuskan nafas kasar mendengar tingkah jahil Rangga lagi.


Rangga yang sengaja mengejek zan lagi kembali tertawa terbahak-bahak mendengar helaan kasar nafas zan.


"suka-suka kau je lah" kata-kata yang tidak formal dilemparkan zan.


Rangga tidak terkejut sama sekali, menurutnya nyamanan berbicara seperti ini dengan zan dari pada berbicara dengan kata-kata 'tuan muda' 'tuan rangga' 'saya' 'anda' dan lain-lainnya.


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2