
Kepulangan rangga membuat danita senang, dia ingin bertanya sesuatu pada rangga. tak heran kalau dia langsung menyeret rangga saat keluar dari ruang ganti baju.
"sayang" menusuk-nusuk lengan kekar rangga yang belum memakai baju.
"hm?" sibuk mengibaskan rambutnya.
"sekertaris zan punya mantan ya?" memeluk lengan rangga dari samping.
Rangga diam sejenak. "hm"
"orangnya seperti apa?" menatap rangga yang sedang mengibas-ngibaskan rambut.
"tak tahu" mengangkat bahunya.
"boong banget kamu gak tahu, kan kamu sama sekertaris zan dekat banget"
"memangnya aku harus mengetahui segalanya tentang zan?" menengok ke samping.
sebenarnya rangga tahu, tapi dia malas untuk memberi tahu. untuk apa juga nitanya bertanya tentang sekertarisnya.
"enggak si" berwajah kecewa dan cemberut. suaminya ini sangat pelit kalau tentang informasi.
"udah makan?" tanya rangga memutar tubuhnya ke samping.
"udah" bibirnya mengerucut. masih ngambek ceritanya.
"mama kalian tambah cantik kalau seperti itu nak" tiduran di paha danita dan menghadap perut danita.
"papa kalian pelit nak sama mama" mengelus perutnya dengan bibir yang mengerucut.
Rangga menengadah ke atas, menatap wajah cemberut istrinya. lalu dia menghela nafas.
"dia itu tipe wanita yang tenang dan kalem" akhirnya bersuara juga.
__ADS_1
"terus terus sayang?" wajah cemberutnya sudah hilang sekarang.
"tidak tahu, kan dia pacaran sama zan bukan sama aku" menenggelamkan wajahnya di perut danita.
"iya juga ya". mengangguk paham.
"sayang, sekertaris zan tahu tidak tentang keluarga rasya?" mengelus rambut rangga yang berada dibawahnya.
Rangga mengangkat bahunya sambil menciumi perut danita.
"sayang janji ya jangan kasih tau ini ke siapa-siapa"
"hm" padahal dia tidak tahu apa maksud danita.
"ayah rasya itu seorang hiper sex, ibu rasya mengalami gangguan jiwa karna ayahnya. dan rasya itu hasil dari kebejatan ayahnya, rasya bilang dia ingin menolak sekertaris zan karna sekertaris zan sudah mengetahui semuanya. dia takut kalau nanti sekertaris zan hanya akan mempermainkannya" bercerita sambil mengusap-usap kepala rangga.
Rangga terdiam sebentar, ayahnya itu bukannya seorang pengusaha? dia bahkan tak pernah mendengar tentang hal itu dikalangan pebisnis lainnya.
Rangga bangun dan menatap danita. "kenapa kamu sangat memikirkannya?" tanyanya.
"tentu saja karna rasya itu sahabat aku, karna aku sudah pernah melihat rasya dititik terendahnya, aku gak mau melihat sahabat ku seperti itu lagi, mangkanya itu aku takut kalau sekertaris zan hanya akan mempermainkannya"
Rangga bisa merasakan rasa sayang danita untuk sahabatnya dari cara istrinya berbicara dan tatapan matanya, itu bukan tatapan yang dibuat-buat untuk terlihat sedih atau khawatir. itu lebih dari kata khawatir dan cemas.
lalu rangga menghela nafas.
"biarkan lah itu urusan mereka, mau bagaimana akhirnya itu sudah menjadi keputusan masing-masing" ujarnya bersandar di pundak ranjang.
"tapi rasya sudah mulai membuka hati, apa kamu tega sama rasya yang udah membuka hatinya untuk sekertaris zan dan nanti hanya akan dibuat main-main oleh sekertaris zan" mulai mengomel pada ucapan rangga.
Rangga berdecak, dia tidak ada hubungannya sama rasya rasya itu jadi mana dia tahu dia tega atau tidak.
"biar ku jelaskan" menarik kepala danita ke dada bidangnya. "zan tidak akan pernah bermain-main kalau sudah menyangkut perasaannya, kalau dia sudah bilang seperti itu bahkan dia tanpa ragu mengucapkan nama risya pada ku, itu artinya dia sudah membulatkan dan menetapkan hatinya kepada si risya itu" mengelus kepala danita.
__ADS_1
"soal latar belakang keluarga sahabat mu itu, aku yakin zan sudah mengetahuinya" sambungnya lagi.
"kamu tahu dari mana?" menempelkan pipinya disana dan mencari posisi ternyaman.
"saat kita dijodohkan, zan langsung mencari tahu tentang mu sampai ke akar-akarnya, silsilah keluarga mu pun berhasil zan temukan, mustahil bukan kalau zan tidak mencari tahu segalanya tentang wanita pilihannya?"
Masuk akal juga, pikir danita seperti itu. ahh tapi dia masih takut dan cemas.
"seharusnya tidak ada yang harus kamu takutkan, karna zan bukan orang yang seperti itu, kau tidak tahu seperti apa masa lalu adinda mantan kekasihnya zan. tapi zan tak memperdulikannya dan tetap mau memperjuangkannya bahkan dia hendak mengejar adinda ke luar negeri saat orang tuanya tak merestui mereka, tapi sayangnya dia lebih memilih tetap di samping ku" ucap rangga mencoba menjelaskan seperti apa sosok zan yang sebenarnya.
Danita terkejut, orang tua adinda tidak merestui? kira-kira kenapa ya?. ah penasaran danita jadinya.
"itu adalah urusan mereka, biarkan mereka urus dan selesaikan bersama-sama, apapun nanti yang akan terjadi biar kita yang menyaksikan dan mereka yang menyelesaikan, kalaupun sahabat mu itu tetap menolaknya, zan punya seribu satu cara untuk kembali meluluhkannya"
Oke danita paham, suaminya ini telah tumbuh bersama zan tentu orang yang paling tahu tentang zan adalah rangga.
"zan tidak akan memandang latar belakang seseorang kalau memang dia sudah memilihnya" sepatah kalimat yang menjadi jawaban di segala ke khawatiran danita.
Artinya, zan tidak perduli mau seberapa buruknya latar belakang rasya, mau seberapa bejatnya ayah rasya yang nanti akan menjadi ayah mertuanya, kalau dia sudah bilang seperti itu, mau seberapa besar pun ombak di laut, zan akan tetap memperjuangkan dan memilih rasya sebagai pendamping hidupnya.
Memang benar, seharusnya tak ada yang danita takutkan.
Danita tiba-tiba tersadar akan sesuatu. "ngomong-ngomong namanya rasya bukan risya" mengangkat kepalanya.
Rangga tak perduli, lagian punya nama ribet amat. pikir rangga.
"Nita aku cemburu loh, kamu dari kemarin bertanya tentang zan terus" balik menatap danita dengan muka cemberut dan sekarang dia berada diatas danita.
"baru mau dipuji, udah cemburu-cemburu aja" ucap danita dalam hati.
Tadi dia kagum karna kata-kata rangga sangatlah indah, tapi dia tarik kembali pujiannya itu. seorang pencemburu tetaplah pencemburu.
Bersambung
__ADS_1