Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Mama


__ADS_3

Matahari Masi terik diluar sana, semua orang mempunyai kegiatan masing-masing dirumah besar ini, kecuali si nona mudanya ini.danita hanya memperhatikan beberapa pelayan Yangs sedang sibuk mondar mandir mengerjakan pekerjaan mereka. tidak ada yang berhenti mereka tetap bekerja walaupun terbakar panas matahari.


terdengar sedikit ada keributan di luar, danita menoleh kearah ruang tamu yang langsung berhadapan dengan pintu masuk utama.


"nyonya anda tidak boleh masuk" audripun juga ada disini.


wanita yang dipanggil nyonya itu masuk seenaknya saja tidak memperdulikan audri yang sudah mulai kesal.


"memangnya kenapa? aku masi berstatus nyonya besar kan?" duduk di sofa ruang keluarga yang besar itu.


"tuan Rangga tidak ada disini" ucap audri dingin.


"aku sudah tau audri, aku kesini ingin menemui menantu ku" duduk dengan anggun dan cantik.


cih , geram audri melihat wanita yang ada didepannya ini. audri bisa saja menarik wanita ini keluar tapi dia harus menghormatinya karna bagaimanapun dia adalah wanita yang melahirkan tuan muda yang sangat dua hormati itu.


danita diam-diam berjalan mendekat, niatnya tadi ingin mendengar apa yang mereka obrolkan tapi saat dia mendengar kata menantu yang dipikirkannya, apa dia ibu kandung suaminya?. tanpa basa-basi danita mendekat ke sofa.


"selamat siang mama" sapa danita penuh ramah duduk di sofa depan wanita tadi.


"siapa wanita ini?" melihat danita dari atas sampai bawah.


"dia adalah–"


"aku istri tuan Rangga" kata-kata audri dipotong oleh danita dengan cepat.


wanita anggun itu membentuk huruf o di mulutnya memang samar tapi danita maupun audri bisa melihatnya.


"ternyata yang dipilih anakku hanya bocah ingusan ya?" sedikit melekat dihati danita kata-katanya itu.


danita diam menatap wanita itu.

__ADS_1


pak Tan sudah tau akan terjadi sesuatu, dia mencari-cari kesibukan disekitar danita untuk memantau apa yang terjadi. sedangkan audri dia berdiri disamping danita.


"kau cukup percaya diri sekali ya? kau sudah memanggil ku mama" itu seperti kata sindiran untuk danita, tapi danita Masi berekspresi sama. "apa cinta dari anakku yang membuatmu mempunyai sejuta keberanian?" matanya itu seperti sangat tidak suka dengan danita. "tidak usah canggung seperti itu, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu" tertawa renyah tetapi terdengar seperti merencanakan sesuatu.


danita ikut tertawa samar menghilangkan kecanggungan.


"putraku sangat mencintaimu bukan?" Masi tersenyum, tapi senyumannya itu membuat danita ketakutan. "tapi kenapa putraku tidak mengenalkan mu kedepan publik sebagai istrinya?" itu kata-kata meledek.


"aku sudah tau inti dari pertanyaan yang akan dilontarkannya" berusaha untuk tidak gemetar.


"waktu itu Rangga mengenalkan bunga kedepan publik sebagai kekasihnya, tapi kenapa kau tidak ya?" menyenderkan tubuhnya ke sofa dengan santai.


"katakan sesuatu nona" melirik danita yang tangannya sudah mencengkeram sofa.


"tuan Rangga memang belum mengenalkan ku ke depan publik, mungkin tidak akan pernah karna tuan Rangga pernah berbicara seperti ini, aku tidak akan pernah menampilkan wajah cantik istriku didepan publik karna aku tidak rela kalau orang lain melihat wajah istriku kurang lebih seperti itu" danita mengucapkannya dengan nada yang datar, Tante marlin seperti tercekat mendengarnya.


"sudah ku duga dia pintar berbicara" sedemikan detik wajah Tante marlin terlihat pias tapi sedemikian detik juga kembali keawal. "bagaimana dengn ini?" memikirkan kata-kata berikutnya. "Rangga sangat mencintaimu, kau pasti sudah tau tapi apa kau mencintai anakku sebesar cinta yang anakku berikan?" Tante marlin melihat sedikit celah dihati danita, dia mendengar dari orang-orang kalau sebelum menikah Rangga melemparkan surat perjanjian kedepan danita, dan banyak rumor yang mengatakan kalau pernikahan mereka berdua tidak ada cinta didalamnya.


danita diam seribu bahasa, awalnya memang dia tidak pernah mengharapkan cinta dari Rangga, bahkan saat pertama kali bertemu Rangga dia sudah berniat untuk kabur dari Rangga tapi siapa sangka takdir yang merubah semua.


"aku memang tidak pernah mengharapkan cinta dari tuan Rangga, tapi tuan Rangga memberikan sejuta cinta dan kasih sayang kepadaku, aku bersyukur mendapatkan itu. tidak perduli orang lain merasakan cintaku atau tidak tapi yang terpenting tuan Rangga bisa merasakan ketulusan cintaku, itu sudah jauh lebih cukup" gemetar sendiri danita mengatakannya.


"maafkan aku mama, mulutku reflek mengatakan itu" ingin sekali dia menampar mulutnya sendiri.


"apa kau sudah yakin anakku merasakan cintamu?" tidak pantang mundur untuk mencari celah dihati danita.


"walaupun tuan Rangga tidak merasakannya tapi aku yakin tuan Rangga tidak mungkin tidak merasakannya karna tuan Rangga sendiri sudah tau apa arti cinta, kami sama-sama merasakan cinta dan kasih sayang yang ditunjukkan dengan cara kami sendiri, kalau memang tuan Rangga tidak merasakannya tuan Rangga pasti bisa melihatnya mah" kali ini danita bernada halus tidak datar seperti sebelumnya.


"astaga astaga berani sekali kau danita" mencengkeram sofa lebih kuat.


satu kata pun Tante marlin tidak bisa menepis kata-kata danita, itu semua memang benar semua yang dikatakan danita semua benar. tidak mungkin Rangga tidak merasakan cinta dan kasih sayang setiap harinya dari danita. tapi Tante marlin belum puas dengan jawaban danita.

__ADS_1


"minumlah ini" memberikan sebuah obat yang danita tau sekali itu obat apa.


danita menatap obat itu diatas meja, kakinya gemetar. serendah itu kah dia Dimata ibu mertuanya? sampai ibu mertuanya sendiri memberikan obat untuk menggugurkan kandungan.


"kau Masi sangat muda untuk menjadi seorang ibu, kau harusnya sadar bayi yang sedang kau kandung adalah anak yang nanti akan menggantikan posisi Rangga kelak" menatap danita yang sedang menahan ketakutannya.


"dia menggunakan kelemahan ku" danita merasa matanya ingin mengeluarkan air sambil menatap obat yang diberikan ibu mertuanya.


"nyonya anda sudah sangat keterlaluan" audri sudah sangat kesal, membuang obat itu dengan cara memecahkan botol obatnya.


"tidak seharusnya anda berbicara seperti itu dengan nona danita" menginjak tablet obat yang sudah berceceran dimana-mana.


"saya sudah menahan rasa kesal saya, tapi tuan Rangga pernah bilang ke saya kalau ada yang menyakiti nona danita saya tidak boleh diam saja" menginjak-injak obat yang sudah tercecer dilantai dengan ekspresi seperti menyimpan dendam pribadi.


"mba audri" serak danita berusaha untuk menenangkan audri.


disaat audri Masi sangat kesal dan menghancurkan obat-obat itu danita mulai buka suara dengan penuh keberanian.


"mama" panggil danita serak sekaligus lirih "jika mama membandingkan ku dengan bunga aku memang tidak sebanding dengannya dalam segi apapun, tapi akulah wanita yang sedang mengandung darah daging tuan Rangga, ya memang lebih pantas bunga dari pada aku tapi kalau tuan Rangga menginginkan aku yang menjadi ibu dari anak-anaknya mama mau apa? aku tidak akan terpengaruh oleh kata-kata mama dan aku juga tidak akan terpengaruh oleh obat itu, selama tuan Rangga menaruh kepercayaan kepadaku akan ku genggam erat kepercayaan itu walaupun ibu kandungnya sendiri menjadi musuhku" berteriak sangat kencang di bagian akhir membuat audri tidak bergerak tercengang dengan danita.


Tante marlin menatap danita dengan tatapan yang merendahkan, tapi danita menatapnya balik dengan tatapan datar seperti menyimpan dendam.


"aku permisi" mengambil tasnya dan pergi dari sana setelah melemparkan tatapan tajam kearah pak Tan dan danita.


danita menatap kepergian Tante marlin, tapi beberapa detik kemudian dia langsung berlangsung ketangga sambil berteriak.


"nona danita tunggu" mengejar danita sampai ketangga dan berlari menuju kamar.


para penjaga menatap heran, penjaga memang mendengar semuanya tapi di saat seperti ini mereka lebih milih pura-pura tidak mendengar saja.


dan pak Tan diam-diam merekam semua perkataan yang dilontarkan oleh para wanita tadi, baik Tante marlin , danita maupun audri pak Tan rekam semuanya untuk melaporkan ke Rangga. yayaya ini perintah khusus dari Rangga.

__ADS_1


BERSAMBUNG


PS: ingatkan author jika ada typo.


__ADS_2