
Danita terbangun dari tidur siangnya, saat dia melihat jam ternyata sudah sangat sore. suara percikan air dari kamar mandi menarik perhatian danita. seingatnya rangga akan pulang malam.
"sayang kapan kau pulang?" memperhatikan rangga yang berjalan dengan santainya hanya memakai jubah mandinya dengan rambut yang basah.
"sejak kau tidur" membanting tubuhnya diatas ranjang.
"terus ngapain disini?" menoleh ke belakang.
"apanya?" mengibas rambut basahnya kebelakang.
"kamu kenapa dah pulang? katanya mau pulang malam" matanya tidak berhenti menatap kagum wajah rangga.
"pekerjaan ku sudah selesai semua" menarik-narik lengan danita agar mendekat.
"pekerjaan mu sudah selesai atau kau ingin cepat-cepat pulang?" menggeser tubuhnya ke rangga.
"cepat-cepat pulang" dia malah cengengesan.
"jangan gitu sayang, nanti kalau pekerjaan mu menumpuk gimana?" membiarkan rangga yang mulai aktif diperutnya.
"aku sudah bilang kan semuanya sudah selesai" menurunkan tubuhnya dan memeluk pinggang danita.
danita diam tidak tau harus bicara apa lagi, dia lebih memilih menyisir rambut Rangga dengan jari-jari mungilnya. rambut rangga benar-benar masih basah dahinya sampai basah juga karna rambutnya.
"keringkan dulu sana rambutmu" berhenti menyisir rambut Rangga.
"sisir saja rambutku seperti tadi nanti juga kering" matanya terpejam menikmati sentuhan jari mungil danita dirambutnya.
Rangga merasa keenakan dengan itu, dengan pijitan kecil danita di kepalanya, kecupan singkat yang danita berikan itu semua membuat Rangga ingin tertidur dipaha danita.
"ganti baju sana jangan tidur" mencolek beberapa kali hidung rangga.
"aku ingin tidur" memegang tangan danita.
"nanti kamu masuk angin" mencolek lagi hidung rangga dengan tangan kanannya.
"nantikan yang rawat kamu, gapapa kalo kamu yang rawat" memegang kedua tangan danita dan tersenyum manis dengan mata yang terpejam.
"apa-apaan itu" menggoyang-goyangkan kakinya.
"diam" memeluk erat kaki danita.
"ganti baju sayang" kembali menggoyangkan kakinya sekarang lebih keras.
rangga bangun berjalan masuk keruang ganti baju dan kembali lagi dengan pakaian santainya. danita menatap heran kenapa Rangga tidak mengganti bajunya disana?. dengan tiba-tiba Rangga membuka jubah mandinya didepan danita tidak bukan didepan tapi didepan matanya.
"kenapa buka disini?" berteriak menutup matanya.
"disana panas" dengan santainya dia memakai baju disini.
"tidak tahu malu" umpatnya dibawah selimut.
"untuk apa aku malu? kau sudah sering melihat kan" membuat wajah danita memerah.
"cepat ganti baju jangan mengoceh yang tidak-tidak" mengomel sekaligus menyembunyikan wajah merahnya.
"buka" menarik selimut tapi tidak mencapainya.
"tidak mau ganti baju sana cepat" menendang-nendang dibawah selimut.
__ADS_1
rangga tetap menarik selimutnya dan akhirnya berhasil membuka seluruh selimut yang menutupi wajah danita.
"bwahahaha kenapa dengan wajah mu itu" tergelak dengan tawanya sendiri.
"isss" bermuka masam karna telah dikerjain rangga yang dia kira Rangga belum selesai mengganti bajunya.
"mangkanya jangan berfikiran mesum" mengusap puncak kepala danita.
"siapa yang seperti itu?" wajahnya memerah sampai ke kuping.
"tentu saja kau, siapa lagi" menahan tawa.
"terus aja terus" jutek danita menatap Rangga.
"hahahaha" tertawa sampai terjungkal kebelakang.
"senang kan senang mengerjai ku" menatap cemberut rangga yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"nanti malam aku mau ketemu klain ku" berhenti tertawa walaupun sangat lama Rangga memberhentikan tawanya.
"yasudah sana" acuhnya.
"marah?" terduduk dari tidurnya.
"tidak" menjawab singkat dan jutek.
"kalau marah bilang marah" menarik tangan danita agar menatapnya.
"kalau sudah tau ngapain nanya" melototi rangga yang jaraknya hanya beberapa senti.
"clint ku wanita" mencoba menarik perhatian danita.
"aku sedang berbicara denganmu" melempar botolnya ketempat tidur.
"ya aku tahu" menatap sinis dan jutek.
"jawab" melempar lagi botol yang baru saja diambil danita.
"jawab apa? kau hanya bilang clain ku wanita itu saja" kali ini dia memutar setengah tubuhnya menghadap Rangga.
Rangga membanting tubuhnya kebelakang. padahal niatnya ingin membuat danita cemburu tapi tidak berhasil.
****
"sana berangkat" ucap danita setelah mencium pipi kanan rangga.
"hm" danita membaca arti ucapan Rangga. bisa dipastikan dia sedang ngambek.
danita hanya menatap kepergian Rangga yang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. menutup pintu dengan sedikit keras sudah sangat bisa dibaca oleh danita.
"yah dia ngambek, padahal yang dijahili aku kenapa dia yang ngambek, memangnya ada orang ngambek tetap minta cium?" bergumam sendiri sambil menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
dibawah sana zan sudah menunggu rangga dan akhirnya Rangga muncul dengan muka yang tidak enak, ingin membaca pikiran Rangga tapi dia malas tidak menduga-duga dia juga sudah tau apa yang mungkin terjadi.
"siapa yang datang?" tanyanya datar saat sudah dalam perjalanan.
"nona Alice tuan" memfokuskan pandangannya ke depan.
cih
__ADS_1
ya tentu saja Rangga akan berdecih.
mobil diparkirkan di sebuah restoran mewah yang bisa memesan ruangan privat yang harganya jauh dibanding gaji para pelayan disini. dengan muka tidak enaknya Rangga melangkah bersama zan masuk kedalam ruang yang sudah disiapkan.
"selamat malam tuan Rangga" sambut Alice dengan pakaian mininya.
Rangga acuh berjalan begitu saja didepan Alice, sekedar melirik Rangga tidak melakukannya.
"saya sudah memesan hidangan jadi tinggal tunggu saja tuan" menatap lekat wajah rangga.
Rangga tidak memperdulikannya, dia duduk dengan angkuh depan Alice dan menatap jiji.
"ada urusan apa lagi kau?" bertanya datar dan tanpa ekspresi.
"hanya ingin mempererat hubungan kerja sama" tentu saja itu bohong.
Rangga menuruti keinginan Alice, saat makanan datang Rangga memakannya tanpa melirik Alice sedikit pun. sedangkan Alice, dia selalu curi pandang dari Rangga.
"tanya kepada ayah anda bagaimana cara mempererat hubungan kerja sama yang benar" ucapnya sebelum dia meninggalkan tempatnya dan melempar sapu tangannya.
Alice ciut mendengar perkataan Rangga, walaupun dia tidak melihat celah untuknya tapi dia benar-benar wanita licik.
"benar-benar jalang" menatap lurus kejalanan.
"dia benar-benar berbeda dengan ayahnya" zan pun satu pemikiran dengan rangga.
siapa yang tidak mengenal ayah Alice, seorang CEO yang sudah lama menjalin kerja sama yang baik dengan adinata grup. bahkan papa kino sudah menganggap ayah Alice sebagai sahabat bisnisnya.
Rangga langsung turun dan melangkah kekamar tanpa memperdulikan pak tan yang menyambutnya.
"danita" panggil Rangga membuka pintu.
"apa?" jawab sang empunya nama.
dengan tiba-tiba Rangga memeluk danita sampai mereka terjatuh telentang.
"eh kenapa?" menatap bingung Rangga yang menyembunyikan wajahnya dileher danita.
"kenapa sayang?" memegang tangan Rangga yang melingkar di perutnya.
"kangen" memejamkan matanya disana.
"apa aku tidak salah dengar? dia meninggalkan rumah baru satu jam yang lalu, apa dia sedang berbohong?" terkejut dengan apa yang rangga katakan barusan.
"sayang kau pasti lelah ya?" mengusap rambut rangga.
"aku tidak berbohong" mengecup sekilas leher danita.
"hahaha aku tertawa" geli sendiri dia batinnya. "kenapa cepat sekali kangennya?" mencoba mengetes apakah benar.
"aku maunya dipeluk terus" suaranya yang dibuat-buat membuat danita merinding.
"hahaha, ganti baju dulu ya? abis itu tidur" menepuk-nepuk kepala rangga.
Rangga bangun dengan rambut yang sudah tidak tertata rapi, dengan malas dia pergi mengganti bajunya dengan baju tidur.
"wangi parfum wanita lagi" mengendus idungnya yang masi terasa wanginya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo