
Satu anak membuka salah satu mainan yang terlihat masih sangat baru. dipojok sana terdapat banyak sekali mainan. sebagiannya sudah di ambil oleh anak-anak lain.
"dor!" suara di samping pintu sambil menyodorkan pistol mainannya.
"ayam ayam" rasya yang kagetan langsung latah kan.
"jangan kagetin kak rasya, ayo minta maaf" ibu memegang lembut kepala anak lelaki itu.
"maaf kak" cengengesan menampilkan gigi ompongnya.
"iya gapapa" memegangi dadanya.
"anjirt kaget" mulut dan hatinya berkata lain.
"kakak cantik siapa namanya?" salah satu anak perempuan menghampirinya.
"nama kakak rasya" berjongkok didepan anak perempuan itu.
"kak rasya cantik banget" anak perempuan lainnya mengikuti.
Rasya hanya bisa senyum. anak kecil itu memang sangat jujur ya. malu kan rasya jadinya.
"mau main salon-salonan bareng kakak gak?" sekarang dia terduduk disamping mainan yang masih utuh didalam kardusnya.
"mau mau mau" anak-anak lainnya bersemangat.
Rasya membuka mainan salon-salonan diikuti anak-anak lain yang mengambil mainan lainnya.
"siapa yang mau jadi pelayan salonnya?" ucap rasya memegang sisirnya.
"aku kak aku" tiga anak bersorak mau.
"oke, yang lain jadi pelanggan ya" mulai menyusun mainannya.
Permainan dimulai, tiga anak satu rasya menjadi pelayan salon. anak-anak perempuan lainnya menjadi pelanggannya. rasya menghayati sekali permainannya. dia bahkan memakaikan parfum dan minyak telon ke tubuh anak-anak yang sudah selesai di salonkan. segerombolan disana menjadi wangi minyak bayi sekaligus menjadi yang paling ramai suaranya.
Zan memperhatikan segerombolan yang ada disana. wangi bayi itu lah yang membuatnya memalingkan wajah. ramai sekali disana. walaupun sangat ramai dan berisik, wajah rasya sama sekali tidak kewalahan.
"kak fauzan kesana yuk" dua anak lelaki sudah memegangi tangan zan.
Zan ingin menolak tapi sudah ditarik duluan.
"kak rasya kita mendapat pelanggan baru" ucapnya setengah berteriak menunjuk ke zan.
Rasya langsung mendongak melihat siapa yang dimaksud. oh zan ternyata. asik ni.
"wahh pelanggan kita kali ini sangat besar ya tubuhnya?" menatap anak-anak lain dengan tangan yang memijit-mijit kepala anak yang ada didepannya.
"pasti susah ni kak rasya kita saloninnya" anak perempuan tadi menambahkan.
"benar itu benar, bawa pelanggannya kesini ya" dia menahan tawanya sungguh.
Anak-anak lain langsung menarik zan masuk kedalam gerombolan. duduk disebelah rasya.
"mau diapakan kakak?" tanya rasya dengan nada suaranya sedikit mengejek.
"jangan macam-macam" ancam zan dengan sorot mata yang menyeramkan.
"ohh minta di dandanin" sengaja rasya menutup mulutnya sok terkejut.
"kak rasya ayo kita dandanin kak fauzan" diikui sorak setuju oleh anak-anak lain.
"dengan senang hati ayo" mengeluarkan pouch dari dalam tasnya.
"saatnya balas dendam" memegang brushnya dengan senyum kemenangan.
zan mendengus kasar menatap tajam rasya. licik sekali wanita ini.
"kak rasya ini apa?" memegang maskara yang dikeluarkan dari pouch rasya.
"itu namanya maskara buat bulu mata" memalingkan wajahnya ke anak itu dan tangannya masih mengoles-oles bedak di wajah zan.
__ADS_1
"buat panjangin bulu mata ya kak?" anak-anak lain ikut mengamati.
Rasya mengangguk sambil tersenyum.
"kau mau mati?" suara zan yang sedang didandani rasya terdengar kesal.
Rasya spontan langsung melepaskan brush dari tangannya.
"kak fauzan tambah ganteng" menunjuk wajah datar zan yang sudah sangat putih itu.
"pfft" rasya menutup mulutnya menahan tawa.
"kak rasya pakein ini dong di wajah kak fauzan" memberikan benda pink itu.
"oke" rasya mah udah semangat 45.
"apa itu" memundurkan wajahnya.
"ini blus on biar tambah ganteng katanya" mengambil kembali brushnya.
zan menatap benda pink itu, lalu dia menatap anak-anak ini. sudah lah asal anak-anak ini pada senang zan rela membiarkan wajahnya.
"wajah kak fauzan lucu" menunjuk wajah zan dengan tertawa lepas.
"kayak badut" timpal anak lainnya.
"teruskan nak teruskan tertawa terus, tertawakan manusia batu ini" wajahnya menatap binar anak-anak yang sedang tertawa. berhasil balas dendamnya.
"senang kau?" menatap tajam dan sinis rasya.
"kan yang tertawa mereka, bukan aku" dalam hatinya mah yes yes.
"ya ampun nak zan" ibu yang baru balik menunaikan kewajibannya terkejut melihat kondisi wajah zan.
Zan melirik rasya sedikit. lalu menatap ibu.
"ibu wajah kak fauzan lucu" tawa mereka belum selesai.
"ah ibu mah seru tau, ini kan aku lagi balas dendam" menatap kecewa si ibu.
"nak zan kamu cuci muka sana habis itu makan malam bersama ya?" ucapnya lembut.
"iya" singkatnya mengangguk.
Rasya melirik jam tangan zan, sudah lumayan lama juga dia disini. perutnya juga lumayan lapar.
Zan berdiri meninggalkan rasya yang berwajah kecewa karna belum puas.
"bu aku permisi sebentar ya?" berdiri.
"iya nak rasya" mengangguk sambil tersenyum tipis.
Rasya celingak-celinguk mencari sosok zan. tangannya membawa kapas dan pembersih wajah. kemana perginya zan?.
"itu dia" langsung berlari ke sebuah wastafel.
disana ada zan yang sedang mencuci wajahnya. "kenapa ini tidak bisa hilang?" menengok ke samping.
"i–itu make up waterproof" dia lupa memberi tahu.
Zan membuang nafas kasar, menyusahkan.
****
Rasya memperhatikan wajah zan yang sedang mengunyah. make upnya sudah bersih, tapi wajah kesalnya itu tidak hilang.
"kak rasya" anak yang duduk di depan rasya memanggil.
"iya?" langsung memalingkan wajahnya.
"kak rasya suka ya sama kak fauzan?" tanyanya sambil memegang garpu bersisi sosis.
__ADS_1
"h–hah?" menyatukan alisnya dan memicingkan matanya.
"dari tadi kak rasya ngeliatin kak fauzan terus" anak yang duduk didepan zan ikut menimpali.
"itu kakak lagi liat batu bernyawa" mengelak perkataan anak-anak. suka? mana ada.
"batu?" zan yang terasa terlibat dalam percakapan ini tak terima dirinya dikata batu.
"ya itu kau, batu dikasi nyawa" mengangguk tak berdosa menatap zan tanpa takut.
"aku batu lalu kau apa?" sekarang menatap sinis.
"ya jelas princess lah" mengibaskan rambutnya ke belakang.
"princessnya kak fauzan ya?" anak itu kembali bersuara.
"kau diam bisa tidak bocah?" melototi anak itu. kesal juga ya rasya lama-lama.
"wahh ternyata kak rasya princessnya kak fauzan" dia malah kegirangan bertepuk tangan.
Rasya ingin menutup rapat-rapat mulut anak itu rasanya sekarang.
zan memperhatikan rasya dari samping. menatap muka kesal rasya. tanpa sadar dia tertawa samar.
"apa lihat-lihat" sinisnya.
Zan melempar pandangannya ke arah lain. dia punya mata memangnya tak boleh melihat?.
Yang lain tentu mendengar perkataan yang tadi. mereka tertawa melihatnya, sementara ibu tersenyum melihatnya.
Saatnya untuk pulang. hari sudah malam soalnya. beberapa anak sudah tidur karna kelelahan bermain. memang ya bermain dengan anak kecil itu sangat seru.
"terima kasih ya nak sudah berkunjung kesini" ucap ibu di depan pagar.
Zan mengangguk tanpa suara. berwajah datar.
"rasya nanti kalau ada waktu bakal kesini lagi ya bu" tersenyum manis menatap si ibu.
"boleh nak rasya, anak-anak sepertinya sangat senang bermain dengan kamu" mengangguk sambil tersenyum hangat.
"rasya pamit ya bu" mencium tangan ibu.
"hati-hati ya" mengusap lembut kepala rasya.
Zan berjalan duluan ke mobil.
"hais tidak sabaran sekali, dadah ibu" melambaikan tangan.
ibu senyum membalas lambaian tangan rasya.
blam
pintu mobil tertutup.
"dadah" rasya membuka jendela dan melambai ke anak lelaki yang ada disamping ibu.
Tercipta keheningan. rasya yang sedikit mengantuk tidak berselera untuk membuka obrolan.
"tidur saja kalau kau mengantuk" ucap zan tak mengalihkan pandangannya.
"ah tumben peka" mulai memejamkan matanya.
Wangi mobil zan membuatnya nyaman, membuatnya mudah masuk kedalam alam mimpinya.
Zan tertawa ringan sesekali melirik rasya yang sedang pulas tertidur.
"princess apa yang tidurnya seperti ini?" memperhatikan wajah rasya yang berantakan. rambutnya telah kembali menjadi singa, mulutnya yang terbuka sambil mendengkur halus. rasya itu kalau tidur tidak bisa diam.
Nama yang cocok untuk rasya mungkin princess berambut singa?. ahh nama yang bagus kata zan.
BERSAMBUNG
__ADS_1