
Semua berlalu sangat cepat, bahkan sangat tidak terasa sudah berapa hari danita terkurung didalam kamar. tidak boleh kemana-mana. berbeda dengan rangga, dia keluar rumah setiap hari bertemu dengan banyak orang dan kembali lagi bertemu istrinya. begitulah hari berlalu dengan sangat cepat.
diluar sana hari sudah gelap, disaat waktu orang-orang akan kembali ke kediamannya masing-masing. salah satu pengusaha sedang bertemu dengan rekan bisnisnya.
"selamat malam tuan Rangga" wanita yang berparas cantik, anggun dan wajahnya diselimuti keindahan itu memberikan sapaan kepada rangga yang baru saja datang bersama zan.
yang disapa hanya duduk dan menatapnya.
zan langsung menyodorkan sebuah amplop coklat yang sudah diisi dengan lembaran-lembaran surat perjanjian kerja sama.
"sesuai dengan yang sudah dibicarakan sebelumnya, saya mewakilkan ayah saya menerima perjanjian yang anda buat untuk kerja sama kita kali ini" tersenyum elegan. tapi rangga sama sekali tidak tertarik dengannya.
"terima kasih atas waktunya" sudah hendak berdiri tapi langsung terduduk lagi.
"apa anda mau makan malam dengan saya? sebagai rekan bisnis?" dengan tidak tahu malu dia duduk di pangkuan rangga.
"nona alice anda mau berdiri sendiri atau saya yang akan menyeret anda?" zan menatap alice dengan tatapan menjijikkan.
"tuan rangga apa anda mau?" masi duduk nyaman dipangkuan Rangga.
"berdiri! , aku mempunyai wanita yang lebih indah dibanding sikapmu yang seperti jalang" menatap tajam membuat alice merinding ditempat.
alice sontak berdiri dari sana, dan tertunduk malu sekaligus kesal dengan jawaban rangga.
"aku menyetujui kerja sama ini karna ayah mu sudah berteman baik dengan papaku" menatap alice dengan tatapan dingin.
"cih ! , siapa sih wanita itu" mencengkeram lututnya yang terbuka bebas disana.
Rangga keluar dari sana dengan tatapan datar dan terlihat lelah, orang-orang disana yang memang sudah sering melihat rangga melakukan pertemuan rekan bisnis disini, menunduk hormat saat rangga berjalan melewati mereka semua. sementara itu zan selalu setia berada dibelakangnya. saat pintu mobil tertutup mobilpun dijalankan membuka jalanan yang masi ramai walaupun ini sudah malam.
"kenapa tidak ayahnya saja yang datang" menyenderkan kepalanya kekursi.
"ayah nona alice sedang menjalani perawatan kesehatannya tuan" melirik sedikit kaca spion.
"kapan audri kembali?" melipat kedua tangannya menatap datar kursi zan.
"besok tuan?" sedikit melihat kebelakang.
"secepatnya, aku ingin melihat hasil kerjanya" Masi menatap datar kursi zan.
"baik tuan" kembali menatap kedepan.
__ADS_1
"padahal ayahnya sangat dermawan tapi kenapa anaknya seperti itu" kembali mengeluh tentang Alice sambil menatap keluar jendela dimana lalu lalang mobil dan motor berlalu disana.
"mana saya tahu tuan" menatap kedepan dengan muka yang sangat malas mendengar pertanyaan Rangga.
****
"selamat datang tuan Rangga" sambut pak Tan seperti biasa.
"apa danita sudah tidur?" melepaskan jasnya dan menaruh ditangan pak Tan.
"nona danita sedang menunggu anda pulang" menerima jas rangga dengan sangat hati-hati.
rangga berjalan sampai naik ke tangga, pak tan menatap Rangga sampai hilang dari sana.
"sayang" teriak danita dengan senyum yang mengembang hampir membuat Rangga terloncat kaget.
tapi rangga sudah tidak heran lagi saat dia pulang langsung disambut dengan teriakan panggilan danita.
"kau kenapa belum tidur?" rangga naik keatas ranjang dan langsung mencium dan memeluk danita.
"aku menunggumu" senyumnya Masi mengembang sampai rangga memberhentikan aksinya.
"aku lapar" berakhir di bibir danita seperti biasa.
"suapi" Masi disana dengan muka dan suara yang dia buat-buat sendiri.
"iya sayang sana mandi" danita sudah sangat terbiasa dengan sikap rangga.
akhirnya Rangga pergi masuk ke ruang ganti baju dan langsung kekamar mandi.
"tadi itu idung ku yang salah atau apa?, wangi parfum perempuan?" menatap Rangga yang sudah hilang dari sana.
danita memikirkan itu sendiri diatas sana sambil menunggu rangga keluar dari ruang ganti baju, tentang wangi parfum itu Masi terngiang-ngiang dalam pikirannya.
"Nita" teriak rangga yang sudah dari tadi disisi ranjang tapi danita mengacuhkannya.
"apaaa" danita juga berteriak karna kaget.
"kau sedang melamun apa?" menyibakkan selimut yang menutupi kaki danita sampai terbuang kemana-mana.
"enggak" menggelengkan kepalanya sambil menarik selimutnya lagi.
__ADS_1
rangga menggeser tubuhnya sampai dia berada di sebelah perut danita.
"sayang geli" mengusap rambut rangga yang menempel di baju tidurnya.
"nyaman sekali disini" bukannya minggir dia malah memeluk perut danita dan menempelkan pipinya disana. "apa kakimu masi dingin?" aktivitasnya mulai aktif diperut danita.
"iya, tapi tidak sedingin waktu itu" membiarkan Rangga bermain-main dengan anaknya disana.
"sepertinya aku sudah kenyang bermain disini saja" mulai memainkan bibirnya dan tangannya disana.
"pak tan sebentar lagi datang" menepuk-nepuk pipi rangga agar dia tidak terlelap disana.
"hmm" aktivitasnya mulai melambat dan rangga tampak menaruh tangannya diatas perut danita.
dan ya benar saja tidak lama kemudian pintu diketuk oleh pak Tan dengan suara izin masuk.
"sayang itu pak tan" menggoyangkan bahu Rangga beberapa kali sampai rangga bangun.
rangga berdiri, berjalan kearah pintu dia membukanya tapi saat menutupnya dia hanya membawa satu gelas telur setengah matang.
"sayang apa itu?" menatap gelas yang dipegang rangga.
"telur setengah matang" Rangga meneguk gelas yang berisi telur setengah matang itu tanpa merasa enek.
huek
tapi danita langsung mual melihatnya, hati-hati berlari kekamar mandi.
"danita" secepat kilat rangga menyusul lari danita.
"minum air putih sana" mendorong-dorong rangga menjauh darinya.
Rangga sudah tau apa yang harus dia lakukan disaat seperti ini, cukup turuti perkataan danita.
"jangan minum itu lagi didepan ku" keluar dari kamar mandi sambil digendong rangga.
sebenarnya ini tidak harus juga, danita Masi bisa berdiri tapi rangga yang selalu melakukannya dan dia tidak menerima penolakan.
"iya" menaruh danita dengan hati-hati.
rangga mematikan lampu tidurnya dan menarik selimut yang dia buang tadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo