
Rangga membuka pintu kaca itu perlahan, menatap papahnya yang sedang terbaring lemah dengan alat-alat menyeramkan disampingnya. berjalan mendekat.
Rangga diam menatap wajah yang setengah tertutupi oleh oxygen mask, dua tabung besar yang berdiri dibelakang tempat tidur, dan selang-selang yang menyambung dibalik selimut.
"ra–rangga" suara lirih dan jemari yang berusaha menangkup wajah putranya.
Rangga tak bersuara, dia hanya menempelkan tangan itu ke pipinya.
"di–dimana a–adik mu?" matanya sendu dan suaranya sedikit terhalang oleh oxygen mask itu.
"kelin ada di luar negeri pah" jawab rangga menahan tangan papahnya agar tak jatuh dari pipinya.
"ap–apa kamu s–sudah bertemu ma–mamah kamu?" mengusap gemetar pipi rangga.
Rangga mengangguk.
"berj–anji pada pa–pah, kam–kamu harus berkumpul la–gi dengan ma–mamah kamu" menjatuhkannya tangannya dari pipi rangga.
Rangga membuang nafas pelan namun berat. lalu dia mengangguk.
"rangga" suaranya tertahan, dan sesak di dadanya kembali.
"iya pah?" menggenggam erat tangan papahnya.
"a–pa boleh pa–papah menyerah?" memiringkan sedikit kepalanya agar bisa menatap keseluruhan wajah putranya.
__ADS_1
"papah mau menyerah?" menggenggam semakin erat jemari itu, senyum tipis yang dipaksakan tergambar di wajahnya "aku terlalu egois memaksa papah untuk bertahan selama ini, rangga tidak mau melihat papah sakit-sakitan lagi. kalau papah ingin menyerah, rangga akan mengizinkannya. maaf rangga sudah egois selama ini" mengusap lembut dahi papa kino.
Papah kino mengukir senyum indah didalam oxygen masknya. "kamu melakukan itu untuk kelin bukan? papah yang terlalu lemah, kamu enggak pernah egois rangga" menggeleng lemah, mengusap Surai hitam putranya. saat itu papa kino merasa mudah untuk berbicara. tidak seperti sebelumnya.
Rangga tahu mengapa papahnya mendadak bisa dengan mudah berbicara.
"maafkan papa yang telah menghancurkan mu dengan egois dahulu" mengusap ujung mata putranya.
"papah gak perlu meminta maaf, karna kejadian itu lah yang membentuk rangga seperti sekarang, terima kasih ya pah" tersenyum pedih.
papa kino menitikkan air matanya, merasa sangat egois kepada rangga. "maafkan papa" hadir lah penyesalan itu.
"papa gak salah apa-apa" mengusap air mata papa kino yang jatuh.
"papa sudah bisa tidur tenang sepertinya" mata mereka saling pandang, dan mata mereka juga berkaca-kaca.
pandangan papa kino teralihkan pada sosok yang berdiri di depan pintu kaca yang sedang menitikkan air matanya. enam kalimat ia ucapkan tanpa suara ditunjukkan untuk sosok yang ada disana. lalu sosok itu tersenyum dengan air mata yang masih menetes.
tidak lupa ia menatap zan yang berdiri disamping sosok itu, dia menunduk. masa lalu mulai terlintas di benak papa kino, anak kecil yang ia bawa untuk menemani putranya sekaligus menghilangkan rasa kehilangan anak itu kepada orang tuanya.
"maafkan rangga yang tidak selalu bisa berada di samping papa" lirihnya hampir tak terdengar. tetapi papa kino mampu mendengarnya.
Dan beliau tersenyum. seolah-olah mengatakan 'tidak apa'.
"l–lucu" suaranya gemetar, menengadah keatas. senyum didalam oxygen mask itu kembali terukir.
__ADS_1
Tarikan nafas panjang selanjutnya yang terdengar membuat rangga menggenggam erat tangan papa kino, dia berusaha untuk senyum hangat menemani langkah berikutnya yang akan diambil papa kino.
Tut....
Mata sayu itu, mata yang mampu membuat siapapun luluh tertutup dengan perlahan. mengistirahatkan segala sakitnya.
Tante wulan langsung terjatuh dilantai. suara benturan tubuhnya yang merosot bisa didengar rangga yang ada didalam sana. tangis tante wulan mengalir saat itu juga.
Sementara rangga, masih tersenyum hangat walaupun air matanya telah menetes tanpa seizinnya. genggamannya pun belum ia lepas. menemani langkah papanya yang akan melepas rasa sakitnya.
suara pintu terbuka. para dokter masuk untuk mencabut alat-alat itu.
Rangga tak kuasa menahan dirinya, bagaimana pun juga dia tetaplah manusia biasa. para dokter belum melangkah untuk melepaskan alat-alat itu. menunggu rangga melepaskan dirinya dari tubuh yang sudah tak bernyawa ini.
"rangga" panggil rajwa pelan, tangannya menyentuh bahu rangga dengan perlahan.
"kelin.., masih membutuhkan sosok papah" lirihnya menunduk "dan aku belum bisa menjadi seperti papa untuk kelin" genggamannya mengerat, merasakan dingin pada tangan itu. ruang dihatinya terasa sangat sempit sekarang.
Rangga terisak tertahan, sambil menunduk disamping tubuh yang sudah mulai memucat. mencoba untuk mengikhlaskan.
Dokter rajwa mengusap pelan punggung rangga, merasakan rasa kehilangan itu lagi di orang yang berbeda. sejenak dia berfikir dunia sudah tidak adil. tapi papa kino sudah cukup menderita selama ini. dia yang menyaksikan sendiri seberapa tangguhnya papa kino untuk bisa sembuh dari kecelakaan itu. walaupun papa kino sendiri tahu kemungkinannya sangat kecil untuk dirinya kembali sehat seperti semula. apa lagi saat mendengar danita hamil, wahh wajah sumringah itu langsung hadir. mungkin benar, papa kino sudah mencapai batasannya untuk tetap bertahan.
Dan semua pun berduka.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo.
maaf kalo cerita ini kesannya tidak sampa ke kalian. hehe, beri masukan ya^^