
Kata-kata bunga terngiang ngiang di kepala Rangga, dia takut kehilangan wanita yang dia cintai lagi tapi dia harus berbuat apa.
zan melihat kegelisahan yang terpancar dari wajah rangga, zan sedikit kesal dengan tingkah bunga yang membuat tuannya ini menjadi gusar.
"tuan jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh nona bunga" duduk disebelah Rangga.
"zan kau lihat kan bagaimana kedua orang tua ku bercerai?" Masi menatap lurus.
"iya tuan" ikut menatap kedapan.
"pemandangan yang tidak seharusnya anak yang berumur 5 tahun lihat" berkata datar.
"saya paham tuan, tapi nona danita pasti memaklumi sikap tuan"
"aku harus bagaimana?" menyenderkan kepalanya ke belakang sofa. ini lah sikap rangga yang jarang orang lihat yaitu suka kehilangan arah.
zan terdiam tidak tau harus bilang apa, akhirnya dia hanya menunggu perintah dari Rangga. zan sudah menduga duga apa perintah yang dikeluarkan Rangga selanjutnya.
"atur ulang jadwal ku, malam.nanti aku ingin bertemu dengan papa" berjalan kekursi kebanggaannya.
"baik tuan, tapi tentang pengintaian nona danita?" ikut berdiri.
"batalkan saja" ucap Rangga duduk dikursi kebanggaannya.
"baik" Zan keluar ruangan msi sedikit kesal dengan tingkah bunga itu.
Rangga tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, pikirannya kemana mana mengingat perkataan bunga. dia juga memikirkan danita yang selama ini bisa tahan dengan tingkah Rangga. sampai hari sudah menjelang malam, zan harus membuat ulang agenda Rangga 2 kali karna Rangga minta dipercepat terus.
didalam mobil tidak ada yang bicara, zan fokus dengan jalanan dan Rangga fokus dengan pikirannya. sampai zan memecah keheningan yang tercipta ini.
"tuan nona danita sudah pulang dari kerja kelompoknya" lapor zan Masi fokus mengendarai.
"hmm" menatap jalanan yang berlarian diluar jendela.
"semoga saja dengan mendatangi tuan besar, anda bisa merasa baikan tuan" mencekram kemudi menahan kesal dengan tingkah bunga siang tadi.
mereka berdua sampai dirumah sakit, Rangga langsung turun dari mobil begitu pula dengan zan. rajwa melihat bos besarnya datang bersama ajudan kesayangannya itu langsung menghampiri Rangga.
__ADS_1
"ada apa Rangga kau kesini?" berjalan berdampingan dengan zan.
"tuan Rangga ingin menemui tuan besar" seperti biasa yg jawab zan bukan Rangga.
"ohh baiklah" mengikuti langkah mereka berdua.
"kau tidak usah ikut, atur saja rumah sakit ini dengan benar" ucap Rangga msi berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit.
"baiklah" langsung memisahkan diri dari Rangga dan zan.
Rangga dan zan menaiki lift dan sampai pada ruang inap VVIP khusus keluarga adinata. saat rangga membuka pintu dia melihat papa kino yang sedang duduk dan mama Wulan yang sedang melipatkan pakaian.
"Rangga? ada apa nak kau kesini?" tanya papa kino menatap Rangga.
"pah aku ingin bertanya sesuatu" ucap Rangga mendekat ke papa kino.
"katakanlah" ujar papa kino.
"pah mama keluar dulu bentar yah mau beli cemilan dibawah" ucap mama Wulan sudah tau kondisinya.
"apa yang mau kau tanyakan nak?" tanya sekali lagi papa kino.
"ini tentang perceraian papa sama Mama dimasa lalu" menatap papanya.
"apa yang mau kau tanyakan?" memegang tangan Rangga agar duduk.
Rangga duduk dikursi samping ranjang tempat tidur papa kino.
"apa benar mama pergi karna alasan papa?" akhirnya pertanyaan itu keluar.
papa kino terdiam sejenak menyiapkan jawaban yang bisa menjawab pertanyaan anaknya ini.
"benar, mama kamu pergi meninggalkan papa dan juga kamu waktu itu karna papa sering mengaturnya, papa bukan tanpa alasan melakukan itu. papa lakukan itu semua karna papa sangat mencintai mama kamu, papa tidak mau wanita yang papa cintai diambil oleh orang lain, dilirik oleh lelaki lain saja papa sudah tidak senang. dan karna mama kamu berfikir hanya dijadikan boneka oleh papa, akhirnya mama kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan papa dan juga kamu" ucap papa kino sangat lembut dan pelan² semua kata² dapat dicerna dengan baik oleh Rangga.
"apa setiap wanita seperti itu? tidak suka diatur?" tanya lanjut Rangga.
"tidak nak, buktinya Tante Wulan masih bersama papa sampai sekarang, sampai Kelin besar dan sebentar lagi menjadi sarjana"
__ADS_1
Rangga menunduk, tapi bibir melukis sebuah senyum samar mengingat betapa sayangnya Tante Wulan dengannya dan juga dengan papanya.
"papa tau sikap cemburu papa ini dilanjutkan oleh mu" ucap papa kino membuat Rangga menaikkan kepalanya.
"pah apa menurut papa danita akan melakukan hal yang sama dengan mama?" matanya sudah tersimpan rasa gusar.
"papa tidak mungkin asal memilih pendamping hidup untukmu, walaupun kau sangat pencemburu dengan danita tapi percayalah danitamu juga sangat mencintaimu. sama seperti mu tidak akan meninggalkan orang yang kau cintai apapun kesalahan yang telah orang itu buat. jadikanlah masa lalumu bersama bunga menjadi pelajaran didalam hidupmu, danita bukan seperti bunga" memegang pundak Rangga, dan kata² papa kino berhasil menghilangkan gusar dan cemas yang sudah Rangga pikirkan.
"Rangga takut danita akan meninggalkan aku lagi sama seperti bunga pah" tapi rasa cemasnya belum semuanya menghilang.
"Rangga papa sangat paham dengan sikap anak-anak papah, kamu adalah anak laki-laki yang kuat, tapi kau gampang hilang arah jika mengalami masalah yang menurutmu akan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu. percayalah kepada danita bahwa danita mau bergandengan tangan denganmu melewati segala rintangan hidup bersama sama denganmu, dan tetaplah bersama istrimu apapun rintangannya. itu lah arti sebuah pernikahan" lagi² papa kino berhasil menenangkan pikiran Rangga. seorang ayah pasti bisa melakukan ini.
"terima kasih pah" Rangga tersenyum dan dibalas dengan senyum dari papanya.
"sekarang kau pulanglah nak, pasti istrimu sedang menunggu mu" mengusap kepala Rangga dengan lembut.
Rangga merasa sangat nyaman dengan elusan tangan papa kino yang hangat ini, sudah sangat lama sekali sejak papa kino kecelakaan, Rangga kembali diperlakukan seperti bocah Dimata papa kino. tapi Rangga juga sangat merindukan elusan tangan papanya dikepalanya yang sangat menenangkan itu.
"baik pah, papah cepatlah sembuh cucu papa sudah menanti papa" ucap Rangga tersenyum lebar.
"baiklah baiklah" ikut tersenyum bersama anaknya.
"Rangga pulang dulu ya pah" pamit Rangga.
saat Rangga hendak keluar, mama Wulan sudah kembali membawa satu kantong berisi makanan untuk stok dirumah sakit bersama papa kino.
"Tan aku pamit pulang" pamit Rangga ke Tante wulan.
"hati-hati ya Rangga" tersenyum kerangga.
Rangga mengangguk lalu keluar dari ruangan bersama zan, awan hitam diatas kepala Rangga sepertinya sudah menghilang. dan papa kinolah yang berhasil menghilangkan awan hitam diatas kepala Rangga.
"yang bisa menjawab semua kekhawatiran anda memang hanya tuan besar yang bisa melakukannya" zan ikut tersenyum samar didalam lift.
Rangga dan zan sedang diperjalanan menuju rumah utama, hari sudah malam. dan kegelisahan Rangga sudah hilang semua , sekarang waktunya menemui danita wanita yang paling dicintai Rangga.
BERSAMBUNG
__ADS_1