
Sore hari dokter rajwa datang atas panggilan rangga. kalau dirinya dipanggil, berarti ini tentang nona muda. tanpa di instruksikan dia datang membawa dokter pribadi danita.
"selamat datang dokter rajwa" sambut pak tan depan pintu.
"apa yang terjadi pak tan?" memasukkan tangannya ke dalam kantung jubah putihnya.
"nona danita melupakan makan malamnya" tak menatap dokter rajwa.
"ahh" apa yang harus dia lakukan nanti sudah tergambar dalam otaknya. paling nanti dia hanya perlu mengiyakan perkataan rangga.
"silahkan dokter" mengarahkan tangannya ke anak tangga.
Rajwa berjalan bersama dokter wanita itu. pikirannya keliling, memikirkan apa yang akan terjadi dengan danita nanti.
"waw" tercengang dalam hati setelah pintu kamar terbuka.
Disana sudah ada sangat banyak makanan. dan danita sedang mengunyah diatas tempat tidur, dengan rangga yang menyuapinya. bagaimana dokter rajwa tidak tercengang melihatnya?.
"masuk" perintah rangga masih memegang piring berisi buah-buahan.
Dua dokter itu masuk bersamaan. dokter rajwa mengintruksikan kepada dokter wanita itu untuk mendekat ke danita.
"selamat sore nona danita" sapa si dokter wanita.
"selawmwat swore dwokter" mulutnya penuh dengan makanan.
Rangga menyodorkan garpu bersisi buah stroberi ke mulut danita. tadi dia potong dahulu agar pas didalam mulut danita. dia akan melotot saat danita menolak sodoran garpunya.
"sayang sudah, ada dokter loh" sebenarnya dia sudah sangat kenyang.
"dia tidak melihat ku nita" tetap menyodorkan garpunya.
"bagaimana tidak melihat? dokternya ada disamping loh, yang benar saja kau" cibirnya dalam hati. dia memang kenyang tapi kenapa mulutnya tetap mengap-mangap saja?.
"kemarin sore nona danita sempat mengonsumsi makanan apa saja?" mengambil bolpoin dan catatan kecil dari dalam saku jas putihnya.
"emm" mengunyah terlebih dahulu. "aku memakan makanan yang diantarkan pak tan, lalu aku sempat memakan es krim beberapa suap dok"
"es krimnya rasa apa nona?" kembali menatap danita setelah menulis disana.
"cokelat"
Dokter wanita itu mengangguk sambil menulis. tidak ada yang aneh dari makanan yang dikonsumsi danita sebelum dia melewatkan makan malamnya.
"jangan melewatkan makan malamnya lagi ya nona" melirik rangga terlebih dahulu.
"dengar itu" ucap rangga memasukkan lagi sepotong stroberi.
"lagi pula aku kan hanya melewatkan makan malam saja, kau yang terlalu berlebih-lebihan" mengunyah sambil menatap kesal rangga.
__ADS_1
"tidak boleh menyisakan porsi makannya juga kan?" menatap penuh tuntutan ke dokter wanita itu.
"iya tuan" sudah iyakan saja apapun yang rangga tanyakan.
"hiks aku kan sudah kenyang" menangis dalam hati. licik sekali suaminya.
Rangga melirik pak tan. pak tan mengerti.
"dokter mari saya antar" mendekat pada si dokter wanita itu.
Pintu tertutup dibarengi dengan hilangnya dokter wanita dan pak tan, dokter rajwa juga pergi setelah mendapat lirikan mengusir dari rangga.
"sayang sudah, aku sudah kenyang" menjauhkan tangan rangga darinya.
"apa kamu tidak mendengar perkataan dokter itu tadi?" tetap menyodorkan garpunya.
"tapi aku sudah sangat kenyang sungguh" berwajah memohon. dia tak sanggup mengunyah lagi.
Rangga memasukkan buah itu ke mulutnya sambil menatap danita. tatapannya tak bisa artikan. rangga tidak kesal kan karna danita tidak mau menghabiskannya?.
"sayang sayang panggil sekertaris zan dong kesini" menoel-noel lengan rangga.
Rangga menghentikan kunyahannya. dia masih kesal karna kejadian tadi pagi, sekarang nitanya malah menyuruhnya untuk memanggil sekertarisnya. wahh pelet apa yang digunakan zan?. pikir rangga dalam hatinya.
"ya sayang? panggil sekertaris zan" sekarang memainkan tangan rangga. membujuk lebih tepatnya.
"kenapa tidak sekalian kau berada disampingnya saja?" menatap kesal dan tak terima.
Rangga menatap tajam danita. dia meragukan alasan danita yang katanya keinginan anaknya.
"baterai hp ku sedang habis sayang, jadi tolong telponin sekertaris zan ya?"
Rangga tambah menajamkan lirikannya. "aku akan menelponnya untuk mengirim surat pengunduran diri besok" nada suaranya mendeskripsikan kekesalannya.
"loh kok?" danita spontan langsung bangkit dari posisi senderannya.
"nita apa ini benar-benar keinginan anak kita?" memeluk pinggang danita dengan sorot mata yang tak mengenakan.
"ya tentu" merasa risih dan merinding saat tangan rangga melingkar sempurna di pinggangnya.
"kau mau selingkuh dengan sekertaris ku hm?" mengangkat satu alisnya. horor sekali ya tuhan.
"ohh ternyata dia sedang cemburu, kenapa aku tidak menyadarinya" menahan senyumnya didepan rangga.
"apa senyum mu ini sebagai jawabannya?" memegang dagu danita. jarak antara bibirnya sangat tipis.
"apa suami ku ini sedang cemburu?" tersenyum manis menjauhkan sedikit wajahnya dari rangga karna tangan rangga masih memegang dagunya.
"tentu saja, bahkan kau tanpa ragu mengucapkan namanya" menatap tajam danita yang ada didepannya.
__ADS_1
"astaga suami ku ini sangat pencemburu" mencubit pipi rangga gemas.
tangan rangga lepas dari dagu danita, beralih memegangi tangan danita dipipinya. ingin melepaskannya.
"lihat lihat presdir adinata sedang cemburu disini" tambah memperkuat cubitannya, sambil menggoyang-goyangkan kepala rangga ke kanan dan kekiri.
"kau mau mati ya?" pipinya nyeri sekarang.
"bunuhlah aku tuan rangga" tambah menggoyangkan kepala rangga. "bunuh aku dengan api cemburu mu" nada suaranya mengejek.
"lepas sakit" berteriak mengamuk. tapi dalam hatinya berkata senang. terserah kau saja lah.
"benarkah sakit? katakan sekali lagi sayang" menaiki tubuh rangga dengan tangan yang masih menempel dipipi rangga.
"dalam hitungan ke tiga kau tidak melepas cubitan mu– akhh" berteriak kesakitan, saat danita memperkuat cubitannya.
"sudah ku bilang sayang, bunuh aku dengan api cemburu mu" memberhentikan cubitannya dan menatap lekat wajah rangga.
"tidak, aku akan membunuhmu dengan cinta ku" wajah-wajah kesal belum menghilang. tetapi mengapa ucapannya tak sesuai.
"oh tidak senjata yang tuan rangga gunakan sangat berbahaya" menutup mulutnya sok terkejut.
"berbahaya?" menatap danita yang sedang berada diatasnya dengan rambut yang berantakan.
"aku bukannya hanya akan mati, hati ku akan bergetar tak normal saat tuan rangga menembakkan peluru cintanya" memegangi dadanya dengan ekspresi wajah yang dibuat.
Rangga memicingkan matanya melihat aksi danita yang sedang bermain drama diatasnya. tapi dia menikmatinya. sudah dibilang terserah kau saja.
"aku akan menembakkannya sekarang" membuat bentuk seperti pistol di jari telunjuk dan jempolnya. lalu menodongkannya ke danita. "dor" membuat suara dari mulutnya.
"ohh tidak tuan" terjatuh di atas dada rangga.
Rangga sedikit panik karna yang tadi itu seperti sungguhan. dia memegangi tubuh danita dan sesekali mencoba melihat wajah danita yang tertutup oleh rambutnya.
"dor" tiba-tiba telunjuk danita menempel di dada kanan rangga.
Rangga menatap bingung plus kaget.
"peluru cinta sudah dibalas" tersenyum manis menunjukkan pistol jarinya.
Rangga tertawa setelah danita mengatakan itu. entahlah apa yang sedang dia buat dengan danita. intinya selama dia melakukannya bersama danita, serandom apapun itu, rangga akan menikmatinya.
"menggemaskan". mengusap lembut pipi danita yang masih tersenyum dengan cengengesan menyertai.
"saatnya menyerang dengan api cemburu" membalikkan posisinya, menjadi dirinya yang diatas danita.
"ahh tidak aku akan dibakar oleh api cemburu tuan rangga" kembali memainkan dramanya.
Danita selalu mempunyai obat pereda kecemburuan rangga. dan lebih parahnya, si pencemburu ini menikmatinya dan tak jarang menantikan aksi gemas istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG