
Apa yang di minta istri saat hamil harus di kabulkan, seperti itu katanya kalau tidak nanti anaknya ileran. itu hanya mitos orang jaman dahulu, tapi sampai sekarang masih di lakukan. rangga contohnya. setelah mengingat ucapan danita yang entah kapan itu, dia langsung turun ke bawah dengan segala kecepatan yang ada. si sekertaris kesayangan yang membeli tidak mungkin dirinya.
Dan berkahir duduk dengan menopang dagunya dan memperhatikan kuah bakso yang merah itu dengan tatapan ngeri. membayangkan kuah itu masuk ke dalam perut dan akan mengobrak-abrik lambungnya dengan kepedesan yang tak normal.
Bagaimana seorang ibu hamil bisa ngidam makanan yang seperti ini?.
"ini tuan bakso pesanan nona danita, mau saya yang membawakannya tuan?" pak tan yang menyiapkan nampan dan mangkuk itu.
"tidak usah!, sediakan buah juga" menatap lamat-lamat mangkuk berkuah merah dengan bola-bola bakso sebagai isinya.
"baik tuan" menunduk lalu kembali ke dapur.
"apa tidak apa-apa kalau nita makan ini?" bergumam sendiri dan mengkerut kan keningnya ngeri.
Berapa menit kemudian pak tan datang membawakan piring beserta garpu dan sudah ada beberapa iris buah yang tertata rapih.
"siapkan obat kalau nita tiba-tiba sakit perut" titahnya membawa nampan dan berjalan ke arah tangga.
"baik tuan" lagi-lagi pak tan menunduk dan memperhatikan rangga sampai hilang.
Balik kesini, rangga menutup pintunya menggunakan kaki karna tangannya penuh dengan nampan, berjalan pelan-pelan ke kasur dan menaruh nampan itu di nakas.
Dilihatnya sang istri dengan tenang sudah menutup matanya dan terdengar dengkuran halus.
Nitanya tidur?!
Rangga langsung mengintip wajah danita yang membelakanginya, dan benar. danita sudah tidur dengan memeluk gulingnya erat.
"nita bangun bakso mu sudah ku belikan" menggoyangkan lembut pundak danita.
hanya dibalas erangan halus dari bibir mungilnya, lalu kembali tenang di alam mimpinya.
"jangan bilang aku yang harus menghabiskannya" gusarnya menatap kuah merah itu.
"hng~" membalikkan sedikit ke belakang, menatap bingung suaminya yang sedang menatap objek lain.
"Nita?" mengalihkan pandangannya.
Danita sedikit bangun dari posisinya lalu melirik nampan yang ada di atas nakas, lalu dia kembali tiduran. "kamu aja yang makan, aku udah gak mood makannya" se enteng itu danita berbicara, padahal rangga sudah menggeram kesal.
"kan kamu yang minta ini kenapa aku yang makan?"
"udah gak mood sayang" rengek danita menyelimuti mukanya. seluruh tubuhnya.
Rangga menghembuskan nafasnya kasar. lalu membiarkan danita kembali tidur lagi. dia baru ingat ada sesuatu yang harus ia kerjakan. diciumnya mesra bibir mungil kesukaannya itu, berpindah ke kening dan terakhir ke perut buncit istrinya. disana ada anaknya yang sedang tumbuh untuk lahir ke dunia. sedikit mengernyit saat dirasa ada gerakan di dalam perut danita, dengan bodohnya dia memeriksa perut sang istri. getaran apa tadi? seperti ada sebuah kaki yang menendangnya. tidak mungkin anaknya akan lahir sekarang kan?!.
"sayang kamu ngapain?" suara danita membuat rangga mendongakkan kepalanya.
"nita tadi aku merasa ada suatu tendangan di dalam perut mu, apa anak kita akan lahir sekarang? sungguh?!!" menatap nanar seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang menarik.
Danita terkekeh lalu dia mengulas senyumnya. "itu artinya anak kita merasakan interaksi mu, seperti membalas apa yang kau lakukan dengan cara menendang kakinya di dalam perut ku untuk memberi tahu mu kalau mereka sedang membalas interaksi mu" danita menjawabnya dengan sangat lembut, membuat rangga membulatkan matanya takjub.
Mendekatkan kembali ke perut istrinya, di elus, di usap dan di cium. itu yang rangga lakukan. dan semua sentuhan yang dia berikan itu membuat sebuah tendangan kembali dirasakannya. senyum cerah pun terpancar.
"ini kaki anak kita?" mengelus bagian perut yang tadi terasa tendangannya.
Danita mengangguk dengan senyum yang masih menempel di wajah ngantuknya.
"kenapa kakinya ada banyak?" pertanyaan bodoh yang di lontar kan sang ayah dengan muka polosnya.
Danita mendengus samar "jangan lupakan kalau anak mu itu kembar" mencubit gemas hidung tinggi rangga.
"anak kita! harus pakai anak kita!"
"iya iya" pasrah sudah lakukan apapun yang rangga bilang.
Kembali mengobrol dengan anak yang masih berada di dalam perut danita. mereka sangat aktif, sangat. setiap rangga bersuara pasti mereka memberi respon, setiap rangga memberikan sentuhan lembut mereka akan seperti berlomba-lomba untuk bisa merasakan sentuhan sang ayah. membuat sedikit linu bagi ibu yang yang sedang mengandung.
"akh!" ringis danita memegang perutnya yang di mana ada tangga rangga disana.
__ADS_1
Anak mereka membalasnya berlebihan! menendang cukup keras perutnya.
"sutt clam down sayang, mama jadi kesakitan karna kalian terlalu keras menendang" mengelus lembut sangat lembut perut danita.
AJAIB! SUNGGUH AJAIB!. mereka patuh kepada sang ayah dan berhenti menendang-nendang.
"Nita apa anak kita sering menendang seperti ini?" mendongakkan kepalanya sesekali mengecup perut istrinya.
Danita mengangguk "apa lagi kalau mendengar suaramu"
Rangga terkejut mendengarnya, sehari dia bisa bicara dengan danita berapa kali? bahkan setiap hari rangga selalu menelfon danita walau sedang berada di kantor, hanya sekedar bertanya apa danita sudah makan, sudah meminum susu hamil, sudah minum vitamin yang diberikan dokter atau hanya mengatakan aku merindukan, aku mencintaimu atau bahkan menelfon hanya untuk meminta penyemangat yang keluar dari mulut istrinya sendiri.
Danita harus menahan setiap tendangan anak mereka yang sangat aktif ini setiap rangga berbicara? bisa tidak bayinya di keluarkan sebentar lalu rangga akan menjewer satu persatu anak mereka sampai kapok dan meminta maaf kepada sang ibu, habis itu di masukin lagi. bisa tidak?
G.
"apa selalu sakit ketika mereka menendang?" pancaran khawatir dan juga perasaan bersalah datang tiba-tiba.
Danita menggeleng "justru mereka menemaniku kalau bosan dirumah terus, mereka juga suka memberikan respon ketika aku mengajaknya berkomunikasi tapi tidak seaktif saat mendengar suara mu"
Rangga linu seketika, perut danita sudah sangat besar, mungkin bukan buncit lagi. seperti telur raksasa bentuknya, begitu kata rangga. pasti berat bukan? lalu bagaimana rasanya saat perutnya di tendang dari dalam oleh dua makhluk yang sangat aktif?. kuat sekali istri kecilnya ini.
"kalian tidak boleh seperti itu lagi, kalian boleh menendang perut mama kalian, tapi jangan terlalu keras! saat mendengar suara papa jangan menendang terlalu keras, kalian boleh melakukannya kalau papa berada di dekat mama, kalau papa jauh seperti di telpon jangan!, ingat itu?!" mengomeli anak-anaknya yang masih berada di dalam perut danita dengan menekan seluruh kata-katanya.
Danita terkekeh geli sedikit tertawa, lucu sungguh! "iya papa, maafin kami ya" suara yang di buat-buat keluar dari mulut danita.
Rangga tersenyum lebar menampilkan eyes smilenya.
"aduduh jangan gitu sayang, jantung aku mau turun ke kaki rasanya ni" menahan gemas dengan ketampanan suaminya.
"aku tau aku tampan, tidak usah berlebihan gitu" membaringkan tubuhnya lalu memeluk danita dari samping, sesekali mengelus perut dan mencium pipi istrinya.
Danita hanya senyam-senyum mendengarnya, dia membayangkan seperti apa bentukan kedua putranya nanti. pasti sangat tampan bukan? perawakan ayahnya aja seperti ini. atau nanti ada kombinasi dari dirinya? entah itu wajah atau mungkin sifat? atau bisa juga postur tubuhnya.
"sayang nanti kira-kira anak kita setampan apa ya?" menatap langit-langit kamar dan mulai membayangkan.
"gak ada yang salah si, tapi jangan kepedean gitu dong, hmm terus yang mirip akunya apa? masa mirip kamu doang!" cemberut masih menatap langit-langit.
"Nita kan anak kita dua-duanya akan laki-laki, mana mungkin mirip kamu" merapatkan tubuhnya dengan danita, sampai tak ada jarak di antaranya.
"ih kan ada cowok cantik" keceplosan!.
"hah?" menatap penuh tanya.
"e–enggak sayang maksud aku, kan ada anak cowok yang mirip ibunya gitu" berusaha tidak gugup untuk menjawab.
"jadinya cantik gitu?" tidak mengubah sama sekali tatapannya.
"i–iya mungkin?" mencoba meyakinkan tatapannya.
"baru tahu" kembali berbaring dan menyenderkan kepalanya di bahu danita.
Sementara danita? dia menghela nafas lega, hampir saja jiwa fujosnya ketahuan!.
"sayang nanti nama anak kita siapa?" mengubah topiknya walaupun yang di bicarakan tentang si kembar Mulu.
"tentunya bukan budi dan ani" tangannya mengeratkan pelukan sementara bibirnya sibuk mengecupi leher mulus danita. "sudah memikirkannya" menatap yakin padahal bukan wajah istrinya yang di tatap.
"karna anak kita keduanya laki-laki, jadi namanya David akananta Mahardika dan Devan akananta Mahardika" ucapnya seperti bangga dengan nama yang dia pilih.
"wah bagus banget, tapi kenapa gak ada nama keluarga kamu di belakangnya?"
"jujur aku tidak punya nama keluarga, adinata itu hanya sebagai identitas. kelin saja yang mempunyai nama adinata di belakangnya menutupinya dan nama belakangnya tidak di pakai saat dia sekolah"
"kok gitu? padahal bagus loh kalo ada nama belakangnya, apa lagi namanya adinata wahh pasti yang punya nama itu di segani"
Sebagai info saja, mereka sudah mengganti posisi menjadi danita yang bersandar di dada suaminya.
"itu hanya sebagai status, bahwa dia termaksud anggota keluarga adinata. justru karna itu Kelin tidak mau melengkapi namanya, katanya dia tak mau orang-orang melihatnya hanya karna nama belakangnya"
__ADS_1
Kenapa danita tidak berfikir seperti itu!
"anaknya papa kino dewasa semua ya pemikirannya" minder kan danita jadi yang paling kecil disini.
Paling kecil tapi memiliki status yang paling tinggi diantara yang lain.
Rangga mengangkat bahunya, dia juga tak tahu. menurutnya papa kino mendidik anaknya sama seperti pada umumnya. tanda kutip kepada 'putrinya'. kalau dia sendiri, rangga akui itu didikan yang sangat keras.
"tapi sayang kadang dokter juga bisa keliru loh, bisa saja bayi kita tidak laki-laki semua, bisa saja yang satu perempuan dan yang satu lagi laki-laki, bisa juga keduanya perempuan, karna alat kelamin mereka bisa ketutup dengan tali pusarnya jadinya gak keliatan" jelas danita sedikit ragu dengan apa yang di katakan dokter beberapa bulan yang lalu.
"kalau seperti itu berarti kita harus ada cadangan nama" memijat pelipisnya. sok-sok mikir.
"kalau cowok cewek, yang cowok namanya tetap yang tadi nanti tinggal pilih, kalau yang perempuan..."
Ternyata lumayan susah mencari nama untuk bayi.
"kok kamu semua yang nentuin namanya, aku kan juga mau!" melengkungkan bibirnya ke bawah.
"ok yang perempuan kamu yang nentuin"
"kalo cowok cewek... bagaimana kalau airin?!" jerit danita kegirangan.
"Airin?"
"huum.. jadi david dan airin, bagus tau"
Rangga berfikir sebentar, Airin tidak buruk bahkan itu terdengar sangat bagus. sekarang mari pikirkan nama lengkapnya.
"Airin akananta sanjaya dan David akananta putra Sanjaya?"
"kenapa yang Airin gak ada putrinya?"
"bagusan ada atau tidak?"
hayo yang mana? hwhw
"bagusan ada putrinya kayaknya deh sayang, jadi nanti namanya Airin akananta putri sanjaya wahh bagus banget" lagi-lagi berteriak heboh. seseru ini ternyata memilih nama!.
Rangga mengangguk setuju. "nama sanjaya dan putra diambil dari nama ku, kalau putri di ambil dari namamu"
Danita mengangguk cepat, kalau begini rasanya adil. potongan nama lengkap papa dan mamanya ikut ambil. seru sekali.
"kalau dua-duanya perempuan?" mengangkat sedikit kepalanya.
Rangga kembali berfikir lagi, sebelum suara teriakan istrinya menggema di kamar.
"KOK BAKSONYA DI DIEMIN?! BUKANNYA DI MAKAN!!" mencubit lengan suaminya lalu beranjak duduk.
Rangga terkejut akan teriakan dan cubitan danita sontak dia ikut duduk dan melihat mangkuk yang semulanya mengeluarkan asap tapi sekarang sudah menjadi dingin.
"kan kamu yang tadi bilang udah gak mau" aksi bela diri pun di lakukan.
"KAN AKU NYURUH KAMU YANG MAKAN BUKANNYA DI DIEMIN SAMPAI DINGIN SAYANGGG" beranjak turun kasur dengan cara melengkahi suaminya. tapi tentu ditahan rangga.
"iya iya ini aku yang makan" mengambil mangkuk itu dengan mengernyit beberapa kali. menegup ludah saat melihat betapa merahnya di kuah bakso.
"GAK USAH! AKU AJA YANG MAKAN! DISURUH MAKAN GINI DOANG AJA ENGGAK MAU!" mengambil alih mangkuk itu dengan mulut yang mendumel terus menerus.
"bukannya gak mau ta–"
"UDAH DIEM, JANGAN ILANGIN MOOD MAKAN BAKSO YANG UDAH DINGIN INI LAGI!!"
Habis sudah kau rangga, baru tadi merasakan bahagia sekarang diamuk sang istri.
Tahan banting rangga mah, belum aja keluar keselnya. kalau udah keluar, danita juga pasti langsung diem.
Siapa yang tidak takut melihat seorang rangga marah?
Bersama
__ADS_1