
Pagi sudah datang sinarnya sudah masuk kedalam kamar walaupun tirai kamar belum dibuka. Rangga bangun lebih dulu dari danita, seperti biasa tidak lupa Rangga memberi morning kiss kepada danita walaupun tidak minta dan walaupun Masi tidur Rangga tetap memberinya.
"dia belum bangun ternyata" Rangga keluar dari ruang ganti baju sudah memakai jasnya.
"cantiknya kalau sedang tidur" gumam pelan Rangga sambil mengelus rambut danita.
"baiklah kau boleh tidur sepuasmu, sepertinya hamil memang terlalu menguras tenaga tapi aku akan selalu menjagamu" mencium kening danita yang punya kening Masi tertidur pulas.
Rangga berjalan kearah pintu, tapi saat hendak membuka pintu danita berbicara pelan sepertinya danita sedang mengigau.
"sayang aku mencintaimu aku ingin selalu dimanja sama kamu" ngigau danita membuat Rangga berdiam didepan pintu.
"dia sedang mengigau?" Rangga kembali mendekati danita.
"tapi kamu selalu gak punya waktu untuk aku, kamu pergi pagi dan pulang sore aku selalu ingin berada di dekatmu dan anak kita menginginkan belaian kamu" lanjut danita Masi mengigau.
Rangga terdiam sejenak mencerna perkataan danita yang memang benar. Rangga terlalu terobsesi dengan pekerjaannya.
"maafkan aku yang selalu mengabaikanmu dan juga anak kita" mencium jidat danita sambil tangannya mengelus perut danita.
danita terbangun karna merasa perutnya sedang dielus elus, tangannya sangat hangat dan juga sangat lembut. danita membuka matanya dan langsung melihat wajah rangga dari dekat.
plakkk
refleks danita menampar pipi Rangga sampai Rangga terjatuh diatas kasur lebih tepatnya jatuh diatas kaki danita.
"heh knp kau menamparku?" Rangga meraba pipinya yang habis ditampar danita.
"sayang maaf kenapa kamu menatapku dengan sangat dekat seperti itu?" mati aku mati aku.
"kau tidak ingat apa yang kau katakan tadi?" teriak Rangga kesal Masi memegang pipinya.
"apa yang aku katakan tadi?" gumam danita pelan sambil berfikir.
"tega sekali kau danita, emang apa salah ku sampai kau menamparku?" mengubah suaranya menjadi seperti orang yang habis terkena serangan alias kesakitan.
"sayang aku refleks mana mungkin aku berani menamparmu" mendekat kerangga lalu meraih pipinya.
"lalu ini apa?" menunjuk pipinya yang sudah dipegang danita.
"itu kan refleks sayang" ayo luluh lah bisa² kau melakukannya dipagi hari seperti ini apalagi ini Masi diatas ranjang. mengelus pipi Rangga dengan wajah polosnya.
"kau kira ini tidak sakit?" protes Rangga tapi matanya itu loh seperti ingin mengerjai orang.
"sini sini aku cium spy gak sakit lagi" ck padahal aku tidak kencang memukulnya. danita tetap mencium pipi Rangga walaupun dalam hatinya menggeram kesal.
"dah" melepas tangannya dari pipi Rangga.
"sana cepet mandi kau bisa telat kuliah" duduk disebelah danita.
__ADS_1
"iya iya, oh iya sayang kok kamu tumben jam segini belum berangkat?" tanya danita sambil memainkan dagu Rangga yang sudah seperti kegiatan favoritnya.
"kau yang bilang kau mau selalu berada di dekatku, kau mau aku selalu ada waktu untuk mu jadi mulai sekarang aku akan selalu berada disampingmu" menyelipkan rambut danita kebelakang telinganya.
"hei kpn aku bilang seperti itu?" protes danita.
"tadi saat aku hendak keluar dari kamar" mencolek dagu danita.
"pasti aku mengigau arghh mimpi apa aku tadi" teriak kesal danita dalam hatinya.
"itu pasti aku mengigau sayang" tertawa garing seperti ingin menarik kata²nya kembali.
"walaupun itu hanya mengigau tapi itu keluar dari mulutmu" menyentuh bibir danita dengan ibu jarinya.
"mulut sialan, kenapa kau mengatakan itu?"
"sudah sana mandi aku akan menunggunu disini" merebahkan tubuhnya tanpa melepas sepatunya. biasa orang kaya mah bebas.
danita langsung bangun berjalan kekamar mandi setengah berlari kecil, Rangga melihat danita sampai masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.
"sayang ayo turun" danita sudah keluar dari kamar mandi setelah mandi 15 menit dan keluar sudah rapi dengan pakaian dan tampilannya, tidak lupa danita mengambil tas ranselnya.
"cantik sekali" memperhatikan danita dari bawah keatas.
"sayang kamu ngapain ngelamun?" menarik tangan Rangga sampai Rangga berdiri.
"iya jangan ditarik" mengikuti langkah kaki danita tangannya Masi diseret danita.
"selamat pagi juga pak Tan" balas danita dengan senyuman sejuta ceria seperti biasa.
Rangga hanya menanggapi dengan kata² legendnya sambil tangan yang masi digandeng danita.
"pak Tan dimana zan?" tanya Rangga saat duduk di bangkunya.
"sekertaris zan sedang menunggu didepan tuan" jawab pak Tan Masi dibelakang rangga.
"suru dia kesini" suru Rangga seenaknya seperti biasa.
"kenapa dia tiba² memanggil sekertarisnya itu?" danita memasukan sarapannya kemulutnya tentu saja setelah menyuapi terlebih dahulu Bayi besarnya itu.
"ada apa tuan anda memanggil saya?" zan sudah sampai disamping Rangga.
"siapkan mobil untuk danita pergi ke kekampusnya" jawab Rangga menatap lurus kedepan.
danita tentu saja langsung menatap Rangga dengan mulut yang masi mengunyah dan tatapan penuh tanda tanya.
"eh kenapa?" zan pun ikut terkejut karna tuan mudanya ini tidak pernah mau jauh² dari istrinya itu.
"baik tuan" tapi tetap zan harus bilang iya dan melaksanakan apa yang diucapkan Rangga.
__ADS_1
zan balik badan lalu keluar rumah utama menyiapkan supir yang biasa mengantar danita dan mobil yang juga danita sudah sering pakai.
danita menghabiskan sarapannya Masi bertanya² dalam hatinya tapi dia lebih memilih untuk menghabiskan sarapannya dari pada bertanya pada Rangga yang juga sedang memakan sarapannya.
"dadah sayang" lambaian tangan danita dari dalam mobil.
Rangga melambaikan tangannya juga kearah danita, danita pergi lebih dulu dari Rangga entah karna apa tapi itu perintah Rangga.
zan membukakan pintu mobil untuk Rangga masuk dan melajukan mobilnya ke gedung adinata grup tapi itu bukan tempat tujuan Rangga.
"tuan kenapa anda memisahkan mobil dengan nona danita?" akhirnya zan bertanya.
"aku ingin pergi menemui rajwa dulu" jawab Rangga memperhatikan jalan raya yang sudah mulai ramai.
"kenapa tuan?" melirik spion untuk melihat Rangga.
"aku ingin bertanya sesuatu kepadanya" Masi memperhatikan jalanan.
zan diem sudah mengerti kenapa Rangga tidak berangkat bersama danita hari ini dan kembali fokus mengemudi.
mobil Rangga sudah sampai dirumah sakit terbesar dan terbaik dinegeri ini. para penjaga yang melihat mobil Rangga langsung berdiri sigap dan membukakan pintu untuk Rangga masuk.
suara sapatu Rangga berbunyi saat Rangga melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit miliknya sendiri. rajwa yang melihat bos besarnya ini langsung menghampiri Rangga dengan muka penuh tanda tanya.
"Rangga kenapa kau tiba² datang kesini?" tanya rajwa mengikuti langkah Rangga dari belakang bersama zan.
"memangnya aku tidak boleh datang ke rumah sakitku sendiri?" Masi berjalan.
rajwa diam tidak mau bertanya lagi dengan Rangga karna kalau amarah Rangga sudah terpancing bisa abis dia nanti.
"zan kenapa tuan mudamu ini datang kesini?" beralih bertanya ke zan.
"katanya tuan muda Rangga ingin bertanya sesuatu kepadamu" menjawab sambil tidak menatap rajwa.
"soal apa?" rajwa sudah mulai khawatir dengan keadaannya.
zan mengangkat bahunya pertanda dia tidak tahu dan liat saja nanti apa yang akan terjadi.
mereka bertiga berjalan munuju ruang tunggu VVIP, Rangga langsung masuk dan duduk disofa yang didepannya sudah ada tv besar biasanya digunakan untuk memberi informasi/penyerahan hasil kerja para suster dan dokter dirumah sakit ini.
"suru dokter yang mengetahui seputar kandungan kesini" suru Rangga tiba² dan seenaknya.
"tunggu sebentar" rajwa keluar dari ruangan dan menemui semua dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini.
"apa ini?" rajwa Masi belum paham arah tujuan Rangga datang kesini dan menyuruhnya memanggil dokter kandunga.
"Rangga" panggil rajwa saat sudah kembali kedalam ruangan diikuti 5 dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini, salah satunya adalah dokter yang memeriksa danita saat datang kesini untuk mengecek apa dia hamil atau tidak.
"jelaskan seputar kandungan kepada ku tanpa terkecuali" ini lah perintah yang bisa mejawab pertanyaan rajwa yang sudah memenuhi otaknya itu.
__ADS_1
kelima dokter itu tidak mengerti apa yg dikatan Rangga karna perintahnya sangat tiba² dan mereka berlima juga manusia biasa yang perlu menyiapkan segalanya tidak bisa langsung menjalaskan.
Bersambung