Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Kampus


__ADS_3

Menatap suasana rumah yang tenang dipagi hari itu sangat nikmat, apa lagi kalau tidak ada drama dipagi hari itu sangat enak dipandang. tanpa ada drama pagi sepertinya ada yang kurang bagi Rangga.


"aku bertanya boleh tidak ya?" memperhatikan Rangga yang sedang merapikan rambutnya didepan lemari kaca besar itu. "tapi aku ingin tahu" mengalihkan pandangannya ke depan kaca.


"sayang" akhirnya danita memberanikan diri.


"hm?" Masi berkaca pinggang disana.


"apa kemarin kamu suru adik aku" danita tidak melanjutkan kata-katanya, Rangga sudah berbalik badan lebih dulu menatap danita.


"kau lupa apa yang aku katakan kemarin?" berkokok didepan danita dan memegang dagunya seperti memperingati.


"hahaha gak sayang aku hanya keceplosan" menurunkan tangan Rangga dengan hati-hati dan perlahan.


"memang aku ingin mengundang adikmu kesini tapi karna ku pikir-pikir namanya itu sangat menjengkelkan ditelinga ku ya tidak jadi" menggoyangkan kepalanya meledek.


"padahal aku ingin bertemu dengannya" tanpa sadar dia menekuk bibirnya.


"apa kau tidak suka?" mengusap bibir danita, tapi itu bagaikan sebuah ancaman bagi danita.


"tidak sayang tidak aku akan disini" tersenyum manis tapi dalam hatinya dia mengutuk Rangga.


"pintar" mengecup pipi danita dan yang dicium Masi tersenyum manis. "berikan aku morning kiss" memajukan wajahnya, danita spontan memundurkan kepalanya.


"sayang kau nanti akan telat" menahan tubuh Rangga agar tidak nyosor.


"tidak akan ada yang memarahiku" semakin memajukan wajahnya.


dan akhirnya satu kecupan berhenti di bibir Rangga, Rangga pun juga diam saat sudah mendapatkan apa yang dia mau.


"ayo sarapan" bangun dan menarik tangan Rangga keluar dari ruang ganti baju.


tapi saat dia membuka pintu Rangga menutupnya kembali, mendorongnya dengan satu jari telunjuk.


"siapa yang bilang kita akan sarapan dibawah?" mendudukkan danita diatas ranjang.


"kita sarapan disini?" menatap bingung Rangga yang mengambil telepon rumah yang ada di kamarnya.


Rangga tidak menjawab danita, dia berbicara di telfon dan tidak lama kemudian pak Tan datang membawa sarapan mereka. danita tidak suka ini, ini sangat membosankan dan tidak seru dibanding sarapan dibawah.


"sayang aku hari ini ke kampus ya" menutup jarak diantara mereka.


"mau ngapain kesana?" memainkan ujung rambut danita yang dikuncir kuda keatas.


"mengambil buku semester dua" tatapannya bertemu dengan wajah tampan Rangga.


"tidak usah nanti akan diantar kesini" Masi asik memainkan jarinya disurai hitam rambut danita.


"sebentar aja" menyatukan tangannya didepan wajahnya.


"tidak" sekarang menggerai rambut danita sampai jatuh di bahunya. "rambutnya indah sekali" menatap rambut yang baru saja dia lepas tanpa permisi.


"aku ingin bertemu sahabat ku" mengibaskan rambutnya baru dia menatap Rangga dengan wajah yang sangat amat memohon.

__ADS_1


"tidak" pengulangan kata ke dua kalinya dari Rangga.


danita diam tidak berbicara lagi.


"sayang" lanjut merengek dan melepaskan tangan Rangga dari rambutnya.


"baiklah baiklah, berangkat bersamaku, harus selalu disamping audri dan pulang tepat waktu" sudah dibilang rangga tidak bisa apa-apa kalau danita sudah seperti ini.


"iya sayang" tersenyum manis dan menaruh tangan Rangga dirambutnya lagi.


****


"ingat jangan sampai jauh dari audri" tegas Rangga sebelum danita keluar dari mobil.


"iya sayang iya" menurut danita iyakan saja apapun yang diucap Rangga biar cepat selesai.


"jaga danita" menatap audri yang sudah menunggu danita diluar mobil.


yang ditunjuk hanya mengangguk mengerti dan menutup pintu mobil.


"dadah sayang" melambai tangan ke Rangga yang masi membuka jendela pintu.


mobilpun melaju dengan kecepatan sedang dan hilang dari pandangan audri dan danita. walau sekilas terlihat Rangga yang membalikkan tubuhnya ke belakang melihat danita yang sudah akan hilang dari pandangan.


"mba audri disamping aku aja jangan dibelakang" menarik tangan audri sampai sejajar denganya.


"baik nona" padahal dalam hatinya ingin menolak.


"danita" tiba-tiba dua wanita yang meneriaki nama danita berlari kearah danita, berniat untuk memeluk danita tapi audri sudah menghadangnya duluan.


"kita gak jadi peluk deh" cap rasya melihat audri yang sudah bermuka masam.


akhirnya mereka bertiga duduk di kursi aula, tertawa, bercanda, mengobrol kan apa saja, bahkan mereka bergibah orang-orang yang ada di kampus ini.


"vita" seorang lelaki kemeja hitam rambut tersisir rapi datang mendekati mereka bertiga.


"ekhem ekhem" rasya memberikan sinyal kode ke danita, dan danita menangkapnya dengan sangat peka.


"ekhem ekhem, aduh batuk gue" danita langsung ikut-ikutan rasya batuk disengaja.


Rasya dan danita memisahkan diri dari Vita dan luck yang sedang mengobrol disampingnya, karna tidak mau jadi nyamuk. hubungan mereka sepertinya berjalan dengan lancar terlihat dari keakraban mereka berdua saat mengobrol, layaknya seorang sepasang kekasih.


"aduh panas" mereka membuat ulah aneh lagi, sekarang mereka bertingkah seakan-akan panas dengan adegan luck yang menyisir rambut vita kebelakang.


"kesetanan lu berdua?" akhirnya luck salfok dengan ulah dua manusia yang bagaikan nyamuk disini.


"hawanya panas ya nit" mengibaskan rambutnya kebelakang.


"tadi keknya adem-adem aja deh sya" juga ikut ekting seperti Rasya.


"kok bisa ya nit" tambah mengibaskan rambutnya.


"gue dah lama gak liat lu disini danita" beralih ke danita yang berhenti mengipas lehernya.

__ADS_1


"gue? biasa lah tugas negara" mengibaskan tangannya.


"nona danita jang–" audri yang ingin berbicara mengingatkan danita dipotong oleh danita.


"iya mba, tadi aku cuma jawab pertanyaan dia doang kok" melirik luck yang menatap bingung audri "dia gila!!, memberi perintah aku tidak boleh berbicara dengan lelaki manapun" tentu saja dia tidak lupa dengan ucapan terakhir Rangga sebelum keluar dari rumah.


tak lama kemudian kelas danita menjadi giliran untuk mengambil buku di perpustakaan, luck sepanjang jalan terus disamping vita. sementara dua orang sebelah Vita hanya bisik-bisik gibah disampingnya. setelah kelasnya selesai mengambil buku mereka disuruh berkumpul di aula untuk tanda tangan penerimaan buku.


"hai vita" laki-laki yang tidak asing bagi danita muncul tanpa diduga.


"hai, siapa ya?" tanya vita menatap wajah lelaki itu.


"david!!" danita melebarkan matanya tidak menyangka David yang sudah tidak ada kabar sejak hari itu muncul lagi dengan mengejutkan.


"gue david jurusan sebelah jurusan lu" tersenyum lebar.


"ohh" vita yang merasa canggung dengan david tidak bisa menatap wajah david.


"pulang dari sini lu free?" Masi melanjutkan omongannya.


"e–" ucapnya terpotong karna luck merangkul pundaknya.


"gak, dia jalan ma gue abis ini" ucapnya menatap david tajam.


"oh lu luck kan? bolehlah gue pinjem temen lu bentar?" berkata santai menampilkan senyumnya.


bugh


satu pukulan mendarat di pipi david, yang membuatnya mengeluarkan darah dari idungnya.


suasana disana seketika hening, semua terkejut kaget melihat yang terjadi disana. david yang sudah tersungkur di lantai menatap luck yang memerah wajahnya karna kesal.


danita yang hampir terkejut lebih dikejutkan lagi dengan audri yang sudah tiba-tiba berdiri di depannya.


"lu ngerti kata jalan sama gue gak?" teriaknya membuat datu ruangan aula hening dan mencekam.


"luck udah" Vita yang berada dibelakangnya juga kaget.


"oh atau lu mau cari pengganti karna lu ditolak sama danita dengan cara ngincer cewe gue iya?" nafasnya sangat memburu, mukanya juga sudah sangat merah.


audri mendengar danita diucapkan langsung merentangkan tangannya kebelakang seperti membuat penjagaan disamping danita.


David tiba-tiba bangun dan menghajar wajah luck, mereka saling memukul disana ntah apa yang membuat mereka seperti kesetanan. keadaan semakin rumit, Vita yang ditarik Rasya agar menjauh dari sana tercengang kaget. mereka berdua benar-benar seperti kesetanan.


"hey ada apa ini" hito datang dari kerumunan mahasiswa lain dan langsung menarik luck lepas dari david.


"apa yang kalian lakukan? apa kalian tidak tau ini dimana?" bentak hito yang berdiri ditengah-tengah orang yang sedang kesetanan ini. "kalian semua bubar" teriaknya berhasil membuat para mahasiswa bubar dari sana.


danita yang mundur-mundur kebelakang tidak sengaja kepentok kursi, dan dia duduk dengan tiba-tiba itu seperti kehentak. sedikit nyeri diperutnya terasa saat dia jatuh duduk.


"nona mari kita pulang" ucap audri membawa banyak buku ditangannya.


danita mengangguk dan berjalan bersama audri menuju parkiran.

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2