Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Panggilan Mendadak


__ADS_3

Setelah sekian lama danita membujuk rangga agar memanggil sekertarisnya itu ke sini, masuk ke dalam kamar utama. akhirnya sekarang rangga kabulkan. setelah melewati berbagai macam kecemburuan suaminya, akhirnya danita bisa meluluhkan rangga.


Ngidam bertemu dengan sekertaris zan. memangnya ada ngidam seperti itu? entah lah, rangga pun sangat meragukannya.


Sekertaris zan yang baru setengah perjalanan itu harus memutar kemudinya saat menerima perintah kembali ke rumah utama. dia tak diberi tahu ada apa gerangan dia dipanggil kembali. dia memiliki firasat ini ulah nona mudanya. akhir-akhir ini ngidamnya nona danita sangatlah berhubungan dengannya, tidak lebih tepatnya ngidam yang menyusahkannya.


Tok tok


"masuk" setelah mendengar suara rangga, zan langsung membukanya.


Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah rangga yang sedang memeluk danita. dia sudah menebak dari raut wajah girang nona mudanya, pasti ini akan menyusahkannya.


"ada apa tuan anda memanggil saya?" menghiraukan danita yang ingin berbicara duluan.


"kata nitaku tunggu sebentar lagi" mengecupi puncak kepala danita.


Zan menatap danita yang sedang bersandar pada dada rangga, berdiri disamping ranjang tempat dua majikannya yang sedang entah apa disana. sebenarnya untuk apa dia dipanggil kesini?.


tok tok


zan melirik pintu yang diketuk.


"masuk" kali ini danita yang bersuara.


Pintu terbuka menampakkan sosok wanita yang masuk dengan cara takut-takut ke dalam.


Zan ber oh dalam hatinya. jadi ini alasannya dipanggil kembali.


"hai rasya" senyumnya mengembang sambil bersapa ria pada rasya.


sementara rasya? dia sedang gelisah dalam hatinya. dia fikir danita memanggilnya untuk menemaninya seperti waktu itu, tapi saat dia masuk. tubuh besar zan yang dia lihat dari belakang.


"sayang sepertinya ngidam ku sudah terkabul" menatap rangga dengan muka cerianya.


"Nita apa benar ngidam mu itu sudah terkabul?" mengusap perut danita sambil tersenyum.


Oh sial, ternyata rangga ikut dalam rencana danita kali ini.


"sepertinya belum sayang" balik tersenyum manis sambil menempelkan hidungnya ke hidung rangga.


"lalu untuk apa aku dipanggil ke sini? untuk melihat adegan romantis didepan ku? oh tuhan!". memalingkan wajahnya, geli.


"apa ini bagian tipu daya anda untuk menyusahkan saya nona?". berbeda dengan rasya, zan malah memperhatikan adegan manja danita.


"sayang tau gak? masa rasya enggak kasih tau aku kalau dia pacaran sama sekertaris zan" ceritanya sekarang sedang mengadu.

__ADS_1


Rasya langsung memalingkan wajahnya cepat. "boleh gak si bicara asal disini?". dia ingin menyambar kata-kata danita dengan umpatannya.


"benarkah?" memutar kepalanya menatap rasya yang sudah ingin menyambar kata-kata danita.


"tidak tuan, bahkan saya tak merasa kalau saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang" tak memperdulikan manusia disampingnya. memang benar kok, rasya tak merasa dia sedang pacaran.


"ahh iya, yang benar itu calon istri sayang" menepuk pundak rangga.


"ohhh" lebih tepatnya si mereka sedang mengerjai dua manusia yang ada didepannya.


"tidak!" rasya langsung mengelak.


"aku tidak menerima penolakan mu waktu itu" ucap zan menatap rasya yang sedang mengelak.


"siapa yang bertanya pada mu kau menerima atau tidak? yang penting aku sudah menolak" cibir rasya menengok ke samping.


"tidak ada juga yang memberi mu pilihan terima atau tidak" ucap zan lagi.


"kalau begitu aku pilih atau" rasya tak mau kalah.


"pilihan mu hanya terima atau mau" zan menekan rasya dengan perkataannya.


Rasya yang hendak mau berkata lagi langsung diam saat mendengar pilihannya. mana ada pilihan seperti itu, dasar batu bernyawa. cibir rasya dalam hati.


"apa?" tanya rasya dan zan bersamaan.


"kau tidak bodoh zan, tentu saja undangannya" rangga berucap. mendukung istrinya.


Rasya membelalakkan matanya. benar-benar ya sahabatnya itu. mentang-mentang sudah menjadi istri tuan rangga, sekarang apa-apa didukung tuan rangga. rasya ingin pulang sekarang.


Zan melirik rasya yang sedang bermuka kesal dan gusar. ide cemerlang nyangkut di otaknya secara tiba-tiba. "mungkin Minggu depan tuan" tanpa ragu dan tanpa memikirkan manusia disampingnya.


"tidak mauuu!!". menangis rasya dalam hati. menikah dengan batu dikasi nyawa? rasya tak mau.


"wahh" danita malah bertepuk tangan.


Rangga terkekeh tak percaya. ini sekertarisnya berbicara seperti itu memang benar atau gimana? soalnya ekspresi rasya itu tak mendukung sama sekali.


"tuan anda tak percaya kan? memang itu tak benar tuan, jangan percaya pada batu bernyawa ini" rasya mendapat secercah cahaya saat melihat ekspresi rangga.


"tidak, aku percaya"


Duarr ekspetasi rasya akan diselamatkan oleh rangga tak sesuai dengan realita. tidak ada kah tanda-tanda tuhan akan menyelamatkannya?.


"sayang sepertinya kita harus memberikan hadiah pernikahan yang spesial"

__ADS_1


"aku akan memikirkannya" mengangguk setuju.


"tuhan tolong lah aku". menunduk pasrah dan menangis tersedu-sedu dalam hati.


Zan tersenyum puas dalam hatinya. "tidak tuan, saya tidak akan terburu-buru karna dia sepantaran dengan nona danita" melirik sekilas ke rasya.


Rasya mengkerut kan keningnya. memangnya kenapa kalau dia sepantaran dengan danita? apa ada masalah?.


"kekanak-kanakan" menjawab ekspresi bingung rasya.


bukk


"hahaha" danita tertawa melihat rasya yang memukul lengan sekertaris zan. sekaligus membenarkan perkataan zan.


"tidak zan, walaupun mereka sepantaran tapi Nita ku berbeda" memeluk pinggang danita.


"kenapa aku yang terbully?" hanya bisa protes dalam hati.


"silahkan bawa pulang wanita mu zan" ucap rangga masih merapat ke tubuh danita.


"anda pikir saya ini nasi padang yang bisa dibawa pulang?". rasya kembali protes dalam hati.


Zan mengangguk sekilas "selamat beristirahat tuan" ucapnya setelah mengangkat kepalanya.


Zan berbalik sambil menarik lengan rasya. terkadang tuannya itu bisa diajak kerja sama dengan baik.


"dadah nona zan" danita melambaikan tangannya.


"sialan kau danita, awas saja kau". menatap tajam sampai pintu tertutup.


Bersambung


epilog


"apa panggilan khusus mu untuk ku?" memberhentikan mobilnya di lampu merah.


"batu bernyawa" menatap keluar jendela.


"ganti" meraih dagu rasya agar rasya menatapnya.


"itu yang paling pas untuk mu" menyingkirkan tangan zan dari dagunya. lalu melirik tajam.


Andai zan bisa membuat panggilan khususnya sendiri, seperti tuan rangga yang menentukan panggilan khusus nona danita untuknya.


tapi tentu saja princess berambut singanya akan menolak dengan mentah-mentah.

__ADS_1


__ADS_2