
Hari ini merupakan hari yang sangat sibuk. rumah utama sedang didekorasi secantik mungkin untuk pesta yang akan digelar besok. banyak yang berlalu lalang masuk ke rumah utama sambil membawa kardus-kardus besar lalu mengeluarkannya lagi.
"taruh disana"
"tempelkan hati-hati jangan sampai jatuh"
"hei jangan taruh disitu, itu menghalangi foto mendiang tuan kino, geser!"
"hati-hati hati-hati"
Kira-kira seperti itu lah percakapan yang sangat riuh di ruang tengah yang sedang di rombak ini.
Zan mengeluarkan hpnya dan membaca beberapa email yang masuk.
"tuan foto pernikahannya sudah datang" ucap salah satu staf lelaki.
Zan mengangguk dan berjalan ke pintu. sebuah bingkai besar yang masih tertutupi kertas putih itu menarik perhatiannya.
Foto dengan bingkai khusus yang di ukir secara manual dan fotonya pun bukan hanya sekedar foto, di foto oleh fotografi terkenal dan membutuhkan kurang lebih satu tahun untuk menyempurnakan jepretannya sekaligus menyelesaikan ukiran bingkainya yang terbuat dari mas dan logam.
"taruh di sana dengan hati-hati" menunjuk pojok ruangan dengan matanya.
"baik tuan" ucap ke empat orang itu sambil membawa bingkai besarnya.
Zan membuka hpnya lagi, mencoret tulisan yang sudah selesai dia urus. tiga paling bawah membuatnya mengedarkan pandangannya ke barang-barang yang masih di tata.
"gaun nona danita mau yang seperti apa?" gumamnya sambil menggeser-geser layar hpnya.
"apa aku harus kesana?" mengalihkan pandangannya ke arah tangga.
"bawakan saja nanti beberapa" memasukkan hpnya ke dalam saku jasnya.
Tapi dia berhenti lagi dan mengeluarkan hpnya kembali. dia melupakan sesuatu, perintah tuan rangga yang dia tulis sendiri tadi. memasukkan kembali hpnya dan berjalan menuju ruang kerja rangga.
****
Sementara di dalam kamar utama. orang yang punya acara besok, sedang bertengkar kecil. dengan hal sepele.
"sebentar saja sayang" yang ini sedang memohon.
"tidak" yang satu ini sedang kekeh.
"aku hanya ingin melihat, sebentar saja sayangg" merapatkan kedua tangannya.
__ADS_1
"dibawah sedang ramai, nanti kalau kau jatuh, tersandung dan sebagainya gimana?"
Danita cemberut, dia hanya ingin melihat. tapi suaminya ini mana mau mendengar. ya sudahlah dari pada nanti jadi panjang.
"sayang nanti aku pakai apa?" mendekatkan wajahnya ke rangga.
Mereka sekarang sedang di sofa, rangga yang sedang mengangkat kakinya ke meja dan danita yang sedang duduk disebelahnya.
"baju" jawabnya sambil menatap bibir danita.
"maksud ku gaun atau pakaian yang lainnya gitu" menahan sedikit kesalnya karna rangga.
"ya iyalah baju, masa aku telanjang!". protesnya hanya berani dalam hati saja.
Rangga mengangkat bahunya. dan menarik pinggul danita sampai sangat rapat dengannya.
"aku tidak rela besok kau akan dilihat banyak orang" memegang dagu danita. dan berbicara seperti sendu.
"memangnya kenapa?" melupakan satu hal.
"pasti besok kamu akan didandani dan besok akan ada banyak orang, pasti mereka akan melihat mu" berdecak kesal.
Danita menatap malas, kapan sifat suaminya ini tidak pernah hilang si?!.
"heh?!" dia tak salah dengar kan?.
"kenapa? kau mau tebar pesona besok dengan wajah cantik mu?" mendekatkan wajahnya ke danita. sangat dekat.
"enggak gitu, tapi jangan dong sayang" menjauh sedikit.
"kau benar-benar ingin tebar pesona ya? kalau begitu ku batalkan saja acaranya"
"tolong gunakan akal sehat anda sekarang!". geram tapi takut berbicara.
"baiklah baiklah, pilihkan pakaian yang paling jelek untukku biar ku digunjing orang-orang besok" mengubah nada suaranya menjadi kesal.
"siapa yang berani menggunjing mu?"
"tentu saja orang-orang besok kalau kau memilihkan ku pakaian paling jelek"
"kenapa mereka harus bergunjing?" tingkat menyebalkannya naik.
"besok adalah perayaan hari pernikahan kita yang ke satu tahun. kau akan memakai jas dan berpenampilan tampan bak pangeran di film-film, sementara aku, nanti yang akan berjalan disamping mu menggunakan pakaian terjelek" menjeda sebentar. menghirup oksigen.
__ADS_1
"jadi Upik abu aku sayang nanti disamping kamu" sambungnya dengan raut wajah yang sedih dan sendu.
Rangga terlihat seperti sedang berfikir. "oke aku akan memilih yang menurut ku bagus" deal dengan pikirannya sendiri.
"oke" tersenyum manis sambil membuat ok di jarinya.
"kenapa kau sangat menggemaskan, aku semakin tak rela kau akan dilihat banyak orang besok" berwajah frustasi.
"aku akan berwajah datar saja nanti" langsung berekspresi datar.
"ahh kau berwajah datar semakin cantik"
"lalu aku harus apa!!!". benar-benar frustasi dalam hati.
"aku akan tetap memilihkan mu pakaian terjelek" perkataannya membuat danita berwajah kecewa.
"gapapa kalo kamu mau aku digunjing orang-orang besok" kembali berwajah kesal dan sinis.
"salahkan dirimu karna memiliki wajah yang sangat cantik, dilirik saja sudah membuat ku kesal"
"kadar kecemburuan mu saja yang tak wajar!!"
"ya itu karna kau sangat menggemaskan dan membuat ku tak mau berbagi" memeluk pinggang danita membuat perut buncit istrinya bersentuhan dengan perut ratanya.
"kau saja yang tak waras!!". menatap tajam suaminya.
"Nita besok jangan pasang wajah manis mu ke orang-orang ya?" mengelus lembut kepala danita yang sudah ditaruh di dadanya.
"kenapa?"
"karna kalau sampai satu orang saja menatap mu lebih dari tiga detik, akan ku buat acara besok menjadi tempat terpanas" suaranya terdengar sangat lembut, tapi bulu kuduk danita merinding mendengarnya.
"ya tuhan". hanya bisa mendesah dalam hatinya.
"ingat itu, jangan tersenyum pada siapapun kecuali pada ku" sekarang menciumi pipi istrinya dengan gemas.
Danita mengeluh dalam hati. memangnya secantik apa si dirinya. dia saja tak pernah merasa sangat cantik seperti rangga menatapnya.
"wajah ku ini tidak cantik-cantik amat tau! jadi hentikan omong kosong mu". pasrah sudah saat rangga mengecup seluruh pipinya.
Tidak lebih tepatnya memakan seluruh pipi gembulnya.
Bersambung
__ADS_1