Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Nasihat papa kino


__ADS_3

Suara alat rumah sakit terdengar jelas ditelinga Rangga, dia tidak terkejut lagi ketika menemui papanya terbaring dengan selang infus yang menjalar dibalik baju papanya. khawatir tidak pernah lepas dari benaknya seharipun tanpa memikirkan papanya dirumah sakit. walaupun semua pengobatan papa kino sudah sangat terjamin tapi tetap saja rasa khawatir itu tidak pernah lepas dari pikirannya.


Tante Wulan yang duduk disamping ranjang sambil mengelus tangan yang sudah mulai banyak kerutan itu sangat setia menemaninya, setiap saat, setiap detik dan setiap waktunya dihabiskan untuk menemani pria yang selalu terbaring di ranjang ini.


"Rangga" menyadari kedatangan 3 pria itu.


"dari tadi?" tanya Rangga sedikit berbisik.


Tante Wulan mengangguk.


Rangga menoleh ke belakang dimana ada rajwa yang menatapnya juga.


"jangan menatap ku seperti itu" bisik rajwa.


rangga mengangkat bahunya, seperti tidak perduli dengan bisikan rajwa. dia hanya menatap tidak ada yang salah kan?.


"Rangga kamu tumben gak pake baju kerja kamu" mata sendu dan berkerut tapi Masi tampak sangat cantik.


"gak ke kantor hari ini, temenin danita" berjalan mendekat.


"danita baik-baik saja kan Rangga?" bersuara dengan sangat lembut.


"hanya memeriksa tadi" tidak memalingkan matanya sama sekali menatap wajah papa kino sambil mengelus lembut telapak tangan papanya.


"Rangga kamu disini" suara halus terdengar.


"iya pah Rangga disini" lembutnya menyingkirkan beberapa helai rambut.


"dimana danita?" tatapannya bertemu manik-manik hitam lekat didepannya.


"ada dibawa pah" senyum tipis terukir.


"apa danita sakit?"


Rangga menggeleng "memeriksa anak Rangga pah" entah kenapa rasanya sejuk ketika menatap mata sendu papa kino.


"papah ingin bertemu danita" semuanya yang ada di papa kino menyejukkan hati Rangga.


"jangan pah, papah kan belum selesai"


"yasudah nanti setelah selesai" memejamkan matanya.


keras kepala ku sama dengan mu~~


****


Diruangan yang luas dan wangi rumah sakit yang sangat dikenal banyak orang. danita dan audri masih berbincang banyak hal.


obrolan mereka terhenti ketika pintu ruangan terbuka.


"papah" tersenyum lebar menatap kursi roda yang dibawa Rangga.


"selamat siang tuan Kino" sementara audri langsung berdiri tegap dan menunduk hormat.

__ADS_1


"papah kangen sama kamu" memegang tangan danita.


"danita juga kangen papah" menurunkan tubuhnya dan memeluk hangat papa kino.


"danita punya kejutan papah sama mama" menatap bergantian.


"apa itu sayang?" mama Wulan mendekati danita.


danita mengeluarkan foto USG tadi. awalnya Tante Wulan sedikit bingung dengan gambar putih hitam disana. tapi Rangga langsung bersuara sambil memeluk sayang pundak danita.


"kembar" begitu katanya.


papa dan mama langsung menutup mulutnya, terkejut sekaligus senang itu lah yang mereka rasakan sekarang.


"kembar?"


"Rangga ini serius? papa dapet cucu kembar?"


ucap mama dan papa bergantian, tapi sama-sama membulatkan matanya.


danita mengangguk cepat sedangkan Rangga mengangguk singkat.


"pah kita dapet cucu kembar" girang mama wulan.


"rumah tambah rame ni" goda papa kino melirik dua manusia yang salah satunya sedang memeluk.


"papa harus cepet sehat biar bisa lihat cucu kembar papa nanti" Rangga melepaskan tangannya. sadar dia


"papa jadi gak sabar" tersenyum lebar.


"saya belum berminat menikah tuan besar" menundukkan kepalanya sedikit.


"kalau nunggu kamu minat mau sampai audri duluan ke pelaminan?" melirik audri yang sedang pura-pura menjadi patung.


"susah zan mah pah" bisik Rangga.


oh tentu saja zan mendengarnya. hahaha


mereka berbincang panjang dan sangat seru, zan sesekali ikut meramaikan obralan. begitu juga dengan audri menjawab jika ditanya. kalau tidak kembali menjadi patung lagi.


suasananya mulai sepi, karna Rangga yang mengangkat telfon ditemani zan. Tante Wulan yang kembali ke ruang inap papa kino karna melupakan sesuatu. jadi inilah suasana ruangan danita. hanya ada dirinya, papa kino dan audri yang masi menjelma menjadi patung disana.


"danita" tangan lembut menyentuh punggung tangan danita.


"iya pah?" memegang balik tangan itu.


"apa melelahkan menjadi dirimu yang sekarang?" mengusap lembut punggung tangan danita.


danita menggeleng sambil tersenyum tipis "danita tidak banyak melakukan apa-apa pah, walaupun terkadang jengah tapi danita tetap mau menerimanya" menatap lekat mata yang sudah sendu.


"walaupun juga terkadang rasa gelisah menyelimuti hati danita" membuang nafasnya pelan.


"apa yang membuat hati mu gelisah?" mengusap lembut puncak kepala danita.

__ADS_1


"tentang tuan Rangga, kehidupannya diluar sana. danita memang wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan tuan Rangga sebagai suami danita, tapi apa tuan Rangga juga berfikir sedemikian?" membiarkan tangan papa kino menyingkirkan rambut-rambut kecilnya.


papa kini tertawa ringan "danita.., papa sangat tau sifat Rangga. walaupun bukan papa yang selalu berada disampingnya" menyelipkan rambut ke belakang telinga danita.


"Rangga adalah anak lelaki yang dipaksa menelan kenyataannya pahit sejak kecil, anak lelaki yang dipaksa dewasa sebelum waktunya oleh keadaan, dan dia adalah anak laki-laki yang harus menanggung bebannya sendiri dan beban orang-orang disekitarnya" senyum tipis dan sendu mewarnai nada bicaranya yang lembut.


audri berusaha untuk menulikan pendengarannya. karna menurutnya ini percakapan yang tidak seharusnya dia dengar. karna ini percakapan menyangkut keluarga adinata dari keluarga adinatanya sendiri. ini sangat sensitif baginya.


"danita merasa hanya menjadi beban untuknya" cairan bening hampir jatuh ke pipinya.


belum jatuh tepatnya.


"jika kamu mendengar hal yang tidak enak tentang Rangga, jangan pernah percaya itu karna Rangga yang papa kenal adalah Rangga yang tidak akan pernah menyakiti seseorang yang dicintainya" menepuk sekali dengan lembut punggung tangan danita.


"danita takut cinta yang diucapkan Rangga hanya sebuah ucapan baginya" oke dia sangat cengeng.


"danita apa kamu melihat sebuah keraguan di mata Rangga saat dia menatap mu?" menyingkirkan rambut danita yang menghalangi wajahnya.


danita menggeleng dengan hidung yang manis terisak.


"Rangga menatapmu seperti sedang menatap dunia, indah itu yang terukir dimatanya" menyingkirkan lagi rambut danita dengan lembut.


"pah bisakah papah menceritakan masa kecil Rangga?" mengangkat kepalanya.


"kenapa kamu tidak meminta langsung kepada Rangga?" menghapus jejak air mata danita.


"danita takut" mengelap sendiri pipi sebelah kirinya.


"Rangga akan memberikan apapun untuk yang dicintanya, papa sangat yakin dengan itu" menyudahkan tangannya di pipi danita.


"terima kasih pah" tersenyum.


mendengar nasihat papa kino itu sangat menenangkan hati. danita merasa hatinya lega dengan nasihat papa kino. satu kata baginya yang sangat melambangkan papa kino adalah. 'angin. ya papa kino seperti angin. bisa menyejukkan siapapun dengan ucapan halusnya.


Untung saja hidung danita tidak memerah kalau Rangga pasti bakal panjang ceritanya.


"pah Rangga pamit ya" tiada angin tiada hujan Rangga tiba-tiba datang.


"kamu langsung pulang?" menatap lembut putranya.


"ada orang ribet" sinisnya dengan tatapan yang tidak enak.


"yasudah sana" sudah tau maksudnya.


"jangan banyak pikiran ya danita, itu gak baik buat anak yang ada diperut kamu" ucap mama Wulan mengelus rambut danita.


"iya mah" mencium tangan mama Wulan.


"hati-hati ya zan" mengangkat tangan ke zan.


"baik tuan besar" kaku sekali ya dia.


Rangga mulai kembali posesif disepanjang perjalanan sampai ke parkiran. yayaya dia memeluk pinggang danita dan menatap tajam siapapun yang melirik kearah danita. kenapa dia lupa membawa topi tadi. isi otaknya seperti itu. POSESIF!!!

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2