
Suasana kelas yang tadinya adem, tenang tentram hancur sudah ketika rasya datang.
"vitaaaaa" suara itu yang melengking di telinga.
"berisik sya berisik" protes vita karna merasa terganggu membaca bukunya.
"vit vit gua mau cerita" menaruh hasil pertualangannya di kantin. tentu saja makanan.
"apa?" menatap rasya.
"jadi gini" menelan makanannya.
"heem" mengangguk sambil menyelipkan tangannya di antara makanan itu.
"gitu" ucapnya seolah-olah telah menceritakan sesuatu yang waw.
"ohh gitu ya sya? parah si parah" dan bodohnya ditanggapi oleh vita.
"gua mah cukup tau aja vit, sakitnya tuh disini vit" menunjuk dadanya dengan ekspresi yang err.
"bodo amat" mengakhiri kebodohan yang terjadi.
"serius ni serius" memasang wajah meyakinkan.
"awas aja kalo gak bener" ancam vita.
"enggak!"
"apa?" kembali mengambil makanan hasil pertualangan rasya dikantin.
"gimana kalo lu tiba-tiba diajak nikah sama orang?" menatap serius sambil mengunyah.
"emm" berfikir sebentar sambil mengunyah "bingung si pasti, apa lagi kalo baru kenal" sepertinya dia mulai paham kemana topik rasya.
Rasya mengangguk dengan tangan tak ada hentinya memasukkan makanan ke mulutnya.
"lu diajak nikah sama siapa?" tanya vita.
Rasya memperhatikan sekitar, hanya ada beberapa orang yang ada dikelas. sedang gibah tentunya.
"zan" gumamnya.
"siapa tu? kok gak pernah denger namanya" meminum air dari botol minumannya.
"itu loh sekertarisnya tuan rangga" ucapnya pelan. karna tidak mau kalau sampai ada yang mendengar.
"bangun sya bangun dah siang" menepuk-nepuk pipi rasya.
"apa si" menyingkirkan tangan vita. kesal sekali dia dianggap halu.
"gua kan cuma mau bangunin lu doang" kembali memasukkan makanan itu.
"serius vit, gua gak halu kayak gua haluin jaehyun" ucap rasya sedikit geram.
"oh oke oke" mengangguk paham.
sebenarnya dia percaya dan tidak percaya.
"jadi gimana vit gua terima apa jangan" tangannya berhenti memasukkan makanan ke mulutnya.
"lu suka gak sama dia?" vita mah masih setia mengunyah.
"gimana mau suka anjirt, kalo ngomong suka nyelekit terus nyebelin stadium akhir lagi" ketusnya.
vita kembali mengunyah.
"tapi dia tajir gimana dong" memegang lengan vita.
"matre ew" memutar bola matanya malas.
"tapi dia tua" menyedot jus yang tadi dia beli.
__ADS_1
"umur mah gak penting" enteng sekali dia.
"pala mu"
"heh sadar, mantan situ pada muda semua tapi mata duitan, sekarang lu dikasi yang umurnya sedikit jauh sama lu tapi gak mata duitan, justru Lo yang mata duitan" ucapnya mengingatkan masa lalu rasya yang kelam.
"masa lalu biarlah masa lalu" dia malah nyanyi.
"tapi walaupun dia dah tau mukanya gak kek tua" spontan vita mengatakannya.
"heem banget, mantan-mantan gue lewat kalo sama dia" setuju pake banget.
"jauh sya perbandingannya" ucapnya antusias dan penuh semangat.
"jadi gimana gue terima atau gak?"
"mending lu pdkt dulu, ya kali langsung nikah"
"tapi danita bisa langsung nikah" menatap penuh harap dari vita.
"ini beda jalur, danita di jodohin kalo lu langsung diajak nikah sama orangnya" menjelaskan dengan tangannya seberapa jauh perbedaannya.
"oh iya" menatap ke depan.
"ikut gak?" menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"kemana?" menatap vita.
"kemana aja lah, masih lama dosennya" memakaikan tasnya di pundaknya.
"ayo lah" memunguti bekas makanan yang tadi dia makan. dan meraih tasnya.
"emang lu tau berapa umur zan?" tanya rasya melangkah berdua bersama vita.
"enggak" jawabnya polos.
"bukan temen gue" memutar matanya tak menyangka sambil membuang sisa-sisa makanan tadi.
"btw story lu kemarin rame bener ye" sindirnya menatap makhluk yang ada di sampingnya.
"sutttt" menempelkan telunjuknya di bibir merahnya sambil senyam-senyum malu.
"geli" berjalan cepat setelah melempar lirikan jiji ke vita.
sementara vita tertawa senang, menyusul rasya.
****
Sementara itu di gedung yang menjulang tinggi ini. masih sangat sibuk dengan segala aktivitas yang ada didalamnya. bolak-balik kesana kemari, naik turun lantai yang sangat tinggi ini. cukup menguras tenaga tenyata.
"sepertinya aku meletakkan disini" zan sedang sibuk berkutat dengan lemari besar tempat menyimpan file-file penting.
sementara presdirnya sedang senyam-senyum sendiri di sofa dengan santai. sesekali dia melirik zan yang sudah seperti orang entah apa disana.
"ini tuan" akhirnya setelah lama dia mengorek-ngorek lemari itu.
"aku kira itu sudah hilang" ucapnya santai.
gila kali dokumen sepenting itu dihilangkan.
"masih 30 menit lagi" ucap rangga memberikan kode agar zan duduk.
zan duduk di sofa depan tempat rangga sekarang sedang duduk. masalahnya itu lemari sangat berantakan, kalau nanti ada file yang tercampur bagaimana?. pikir zan.
"ahh sepertinya suasana hatimu sangat baik" menatap zan yang menaruh file itu dimeja.
Ya tentu saja baik.
"kau sudah memiliki kekasih?" ayo main tebak-tebakan.
zan diam, hmm sepertinya dia ingin main sembunyi-sembunyian dengan rangga.
__ADS_1
"tidak ada berita yang menyangkut adinata hari ini, atau mereka yang lelet mencari informasi?" menatap layar hpnya.
"ayo lah selihai apapun kau bermain sembunyi-sembunyian dengan ku, pasti nanti aku akan tahu" bujuknya.
zan tetap tak bergeming menatap lurus wajah rangga.
cih
berdecih memalingkan wajahnya.
Rangga bukan mata-mata yang akan mengikuti zan setiap saat, tetapi satu hal yang tak bisa di elak oleh zan. rangga sudah mengenalnya lebih dari siapapun. tentu rangga sudah paham setiap mimik wajah zan, dan zan pun membenarkan itu.
tok tok
"masuk" yang bersuara zan.
"tuan ruang meeting sudah disiapkan" ucap staf sekertarisnya.
"keluar" mengangguk singkat.
staf sekertaris pun keluar tanpa menimbulkan suara.
"aku tidak akan membiarkan mu seperti dulu yang berpacaran diam-diam" ucap rangga mengubah nada suaranya.
zan tetap berwajah datar.
Meeting itu selesai cukup lama, rangga dan zan keluar setelah berjabat tangan dengan para klien yang ada disana. sebagai bentuk menghormati saja. gitu katanya.
mereka masuk ke ruangan rangga seperti semula. kali ini zan tidak mendapat komentar dari rangga. ya pasti karna manusia itu masih penasaran.
"saya habis melamar seseorang" akhirnya membuka suara juga. inilah yang rangga tunggu-tunggu.
Rangga langsung membalikkan tubuhnya yang hendak menuju mejanya. dari tadi tinggal bilang apa susahnya.
"waw" antara senang karna zan buka suara dan terkejut dengan apa yang di beri tahu zan.
"semalam saya melamarnya" lanjutnya.
Rangga langsung mengambil posisi duduk disofa
"dia yang telah membuat saya tidak bisa fokus seharian itu" dia masih berdiri disamping sofa.
"apa yang dia lakukan memangnya?" mengangkat alisnya menatap zan yang berdiri tegak disana.
"mengecup pipi saya" ucapnya tanpa ragu.
Rangga terkekeh mendengarnya. "kau tidak reflek membantingnya kan?" dia ingin tertawa sebenarnya, bayangkan saja orang yang kaku ini dikecup pipinya oleh seorang wanita dan dia langsung melamarnya.
"saya masih memiliki akal sehat tuan" ucapnya datar.
"kirain reflek" menyenderkan punggungnya.
Ini yang membuat zan malas, pasti rangga akan mengatakan yang tidak-tidak.
"siapa dia zan?" ini intinya, siapa wanita yang dilamar olehnya?.
"dia temen nona danita, rasya" nada suaranya terdengar seperti sedang menandai miliknya.
tunggu-tunggu rangga tidak salah dengar kan? dia wanita yang telah membawa nitanya pergi waktu itu kan? sepertinya saat itu zan mengatakan dia tidak mau mencari pasangan. ahh benar, tetapi zan langsung mencari yang langsung diajak nikah.
"wahahahaha" tawanya lepas membayangkan bagaimana zan melamarnya.
Rangga berdiri dari duduknya, menghampiri zan. "siapkan hati mu karna wanita yang kau pilih sepantaran dengan nitaku" memegang bahu zan dengan tawa ringan yang masih terdengar.
Itu sebuah peringatan, zan tahu maksudnya. tapi dia sudah jatuh pada rasya, benar ya cinta itu buta.
bukan cinta yang buta tetapi kau yang bodoh -zan
BERSAMBUNG
ps: ingatkan author jika ada typo
__ADS_1