
Dirumah utama sekarang sedang berselimut duka. karangan bunga dengan ucapan berduka cita berjajar didepan, bahkan sampai keluar pagar. segitu banyaknya orang-orang yang merasa kehilangan. tangisan masih terdengar walaupun yang di tangiskan sudah dikebumikan.
Begitu pula di dalam kamar utama. terdengar tangisan dari dalamnya.
"sudah" ucap rangga sambil menepuk-nepuk lembut puncak kepala danita.
"pa papa" sesenggukan danita didalam dekapan rangga.
Dia tidak bisa mengikuti pemakannya. karna saat mendengar kabar itu, kepalanya terasa pusing dan perutnya pun kram. alhasil rangga tidak mengizinkannya.
"papa~~" masih sesenggukan. air matanya tidak mau berhenti keluar.
"sudah jangan nangis terus, nanti anak kita ikutan sedih kalau mamanya menangis" mengangkat kepala danita dan menghapus air mata yang membanjiri pipi danita.
"pa papa be belum ngeliat a anak k kita" tangis tambah deras.
menggelengkan kepalanya singkat "papa pasti akan melihat dari sana" menghapus seluruh air mata jatuh terus menerus.
"pa papa" tapi dia malah tambah kejer.
"matamu sudah membengkak, hidungmu sudah memerah jangan menangis terus" nada suaranya terdengar sedikit jengah. menatap wajah danita yang sudah entah bagaimana bentuknya.
mata yang membengkak, pipi yang sangat basah, hidung yang sudah seperti tomat dan bibir yang sesenggukan. itu semua membuat rangga frustasi.
"kenapa papa perginya cepet banget" dan sekarang dia bernafas lewat mulutnya.
"papa sudah tidak kuat menahan sakitnya, biarkan papa istirahat. yang papa butuhkan sekarang bukan tangisan tetapi doa" menghapus lagi dan lagi air mata yang terus mengalir.
danita terdiam walaupun sesenggukan masih terdengar. benar yang dikatakan rangga, papa kino tidak membutuhkan tangisan. itu hanya akan membuatnya berat kan?.
"udah jangan nangis terus, papa udah gak ngerasain sakit lagi. doakan papa sekarang" mengusap rambut-rambut danita yang sedikit basah karna keringatnya.
Danita mengangguk kecil sambil mengusap hidungnya. ahh sekarang dia kesulitan bernafas.
"bagaimana papa disaat terakhirnya?" menatap rangga yang tiba-tiba bermata sendu. bisa dilihat dengan jelas, rangga berusaha menyembunyikannya.
"papa tersenyum" tersenyum tipis.
"benarkah?"
Rangga mengangguk, "papa mengucapkan kata lucu, aku rasa papa melihat anak kita" menyembunyikan mata sendunya dengan senyum tipisnya.
danita merasa senang sekaligus sedih, papa kino sudah melihat cucunya sebelum dia menutup matanya.
__ADS_1
"aku turun dulu ya" mendekatkan dahi danita ke bibirnya.
"jangan menangis lagi" ucapnya pelan.
danita mengangguk. ya dia tidak janji.
Rangga turun dari ranjang, bajunya sedikit basah akibat air mata danita. dia tidak menghiraukannya. dan langsung berjalan keluar.
Dari atas dia bisa melihat seseorang baru datang sepertinya. dia menghembuskan nafas pelan, dia akan mempersilahkan orang itu menangis di dalam dekapannya.
zan dengan jas setelan hitamnya menunduk saat rangga turun.
ngomong-ngomong rangga juga memakai jas hitam-hitam.
Orang itu langsung menghampiri rangga dan memeluk menyembunyikan tangisnya di dada rangga.
"kak rangga" itu terdengar seperti dia sedang mengadu. mengadukan tangisnya.
"hm?" mengusap kepala orang yang tingginya lebih rendah darinya.
"papa" dan dia menangis.
"papa akan marah kalau anak kesayangannya menangis" menatap pilu adiknya itu.
Orang itu adalah kelin.
"air mata hanya akan membuatnya berat" mengeluarkan wajah kelin yang sudah dibanjiri air mata sama seperti danita tadi.
"ingat yang papa bilang? kalau orang meninggal yang mereka butuhkan doa bukan air mata" menatap dalam manik-manik adiknya dan mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
"papa gak bilang kita gak boleh nangis kalau ada orang meninggal" elaknya.
"tetapi jangan larut dalam kesedihan itu" sambungnya cepat. mengingatkan kelin apa yang papanya pernah katakan.
kelin meremas ujung jas rangga, dia pernah berjanji tidak akan bersedih berlebihan apa pun yang terjadi. tetapi mana bisa kalau dia kehilangan papanya.
"papa akan marah kalau kau menangis" mengusap pipi kelin yang air matanya masih menetes.
mereka terdiam bersama. kelin masih meremas ujung jas rangga sampai kusut ujung jasnya. dia ingin bertanya bagaimana saat-saat terakhir papanya. tetapi dia takut rangga akan memarahinya.
"papa menanyakan keberadaan mu" jeng jeng apa kah rangga seorang cenayang?.
Dan akhirnya kelin memeluk tubuh rangga, meluapkan segala tangisnya disana. memang hanya rangga yang selalu bisa mengerti dirinya.
__ADS_1
Kali ini rangga tidak menyuruh kelin untuk berhenti menangis, membiarkan adiknya menumpahkan air matanya di jas hitamnya. memang benar, siapapun bebas menangis ketika merasakan kehilangan.
Tante wulan yang memperhatikan sepasang adik kakak, yang satu sedang menumpahkan dan yang satu lagi sedang menjadi tempat menumpahkannya. tanpa sadar dia ikut meneteskan air matanya, saat dirinya menatap rangga.
*****
Saat hari sudah mulai petang, rangga mengasingkan dirinya ke belakang rumah. tepatnya di kolam renang yang baru pertama kali dia menginjakkan kakinya kesini. tujuannya hanya ingin berbincang bersama angin.
Rangga duduk di sebuah kursi ayunan yang langsung menghadap ke kolam renang. sejuk sekali disini. karna ada pohon besar di samping kursi ayunan itu.
Rangga tidak melakukan apapun, dia hanya diam menatap lurus dan sesekali menengadah ke langit.
Dalam hatinya dia mengumpat untuk dirinya sendiri, sungguh dia pun ingin menangis seperti orang pada umumnya ketika ditinggalkan orang yang ia sayang. tapi sepertinya dia tidak diperbolehkan, tidak mungkin dia akan mengeluarkan air matanya didepan orang yang sedang menangis juga. itu hanya akan membuatnya terlihat cengeng, dan akan memperburuk suasana.
Dia tidak mau menangis hanya untuk dilihat lemah.
Hatinya tambah sesak saat melihat danita dan adiknya menangis di dalam dekapannya. tapi di sisi lain dia lega ketika adiknya dan juga danita sudah bisa mengatur emosinya masing-masing.
dia juga membenci dirinya karna tidak pernah bisa berlama-lama berada disamping papanya. tidak dia tidak marah kepada adinata yang telah mengambil sebagian besar waktunya, dia hanya membenci dirinya sendiri. dia belum bisa membuat papanya senang, hanya dirinya yang akan merasa menyesal diakhir.
Rangga merasa gagal menjadi putra seorang kino adiputra.
Dia membuka matanya saat mengingat permintaan papanya, kembali berkumpul dengan mamanya.
"mama ya?" menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
Dia tidak pernah membenci mamanya, tante marlin. memang awalnya dia membenci mamanya itu, tetapi seiring berjalannya waktu, dirinya semakin besar. dia malah membenci dirinya sendiri. dia merasa manusia paling egois, dia egois kepada papanya, dia egois kepada kelin dan dia juga egois pada dirinya sendiri. dia merasa egois kepada siapapun.
Menyembunyikan perasaan sesungguhnya untuk rasa marah yang hanya sebentar tetapi ia sesali selama-lamanya. nyatanya, dia merindukan segalanya yang ada di masa kecilnya. segalanya.
Hanya ego dan tekanan yang selalu menghalanginya.
Sementara di tempat lain yang masi satu lokasi, dirumah utama. zan yang sedang terduduk dibawah pohon besar. itu adalah pohon dimana dia dahulu bermain pedang-pedangan bersama rangga. bukan itu tujuannya kesini. dia juga ingin melepaskan dukanya sebentar.
Sambil melipat kakinya dan membenamkan kepalanya, dia mulai terhanyut dalam pikirannya.
Zan melirik jam tangannya. dan dia terdengar membuang nafasnya berat. seharusnya saat ini dia sedang menjemput restu dari sepasang orang tua wanita pilihannya sekarang.
Dia seharusnya berada di rumah rasya, menepati janjinya dan membuktikan keseriusannya.
Adinata tetaplah yang terutamakan, bukannya dia ingin mempermainkan rasya. tetapi ini untuk sumpah pengabdian kedua orang tuanya kepada tuan kino dan adinata yang akan terselesaikan.
Jadi harus bagaimana zan sekarang?
__ADS_1
BERSAMBUNG
ps:ingatkan author jika ada typo