
Sinar matahari sebentar lagi akan diganti dengan terangnya bulan yang akan menyinari bumi dimalam hari. diluar sana matahari sudah mulai tidur dan akan kembali lagi besok. danita menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam itu sudah menjadi aktivitasnya.
"matahari sudah mau hilang" menatap senja yang akan hilang sebentar lagi.
danita menatap matahari sampai benar-benar terbenam dan senja pun akan hilang saat rembulan sudah datang.
"nona danita apa saya boleh masuk?" sari mengetuk pintu membuat danita memalingkan pandangannya.
"masuk saja sari" teriaknya dari dalam kamar.
"ini nona makan malam anda" menaruh nampan diatas meja yang tadi siang dengan menu yang berbeda.
"hahh makan lagi" eluh danita menatap piring-piring itu.
"nona harus banyak makan agar nona dan dede bayinya sehat" menunjukkan lengannya yang dibalut seragam kerjanya.
"iya iya aku akan makan" mengambil susu yang diberikan sari.
danita mengunyah semua makanannya ditemani sari, beberapa kali sari berbicara rendom agar danita semangat makannya. meminum beberapa vitamin dan obat yang diberikannya sehabis makan sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
"nona saya turun dulu ya" mengambil piring-piring yang sudah tidak ada isinya.
"makasi ya sari" tersenyum lembut menatap sari yang membungkukkan badannya.
"astaga badan ku sudah seperti sapi" memegang pipinya dan beberapa bagian tubuhnya yang menggemuk. "hiks badan mudaku yang dulu sekarang sudah seperti sapi" menyandarkan kepalanya sambil menekuk wajahnya.
****
percikan-percikan air yang terdengar didalam kamar mandi membuat danita hanya terdiam diatas ranjang. Rangga pulang dan langsung menciuminya, danita sudah tidak kaget lagi dengan hal itu, toh itu juga sudah menjadi bagian kesukaannya.
saat dia sedang asik memainkan hpnya, ada sebuah pesan masuk yang datang bukan dari hpnya. Rangga menaruh hpnya disamping danita, ternyata ada pesan masuk. danita awalnya tidak mau melihatnya tapi karna hp Rangga terus berbunyi akhirnya danita kepo.
"siapa sih" mengambil hp Rangga dan melihat notif yang tertera dilayar kunci.
"siapa itu Alice?" membuka hp Rangga yang memang tidak pernah dikunci.
wanita yang bernama Alice itu mengirim pesan yang cukup informal bahasanya. mereka sudah seperti sangat akrab.
"terima kasih atas makan malamnya tadi Rangga" pesan terkahir yang dikirim wanita yang bernama Alice itu.
"mereka makan malam?" Masi menatap pesan-pesan yang dikirim Alice.
danita Masi berfikir positif kalau mereka hanya rekan bisnis mungkin yang makan malam untuk membicarakan kerja sama mereka.
"tidak tidak jangan pikirkan macam-macam aku harus percaya dengan suamiku" menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"kau sedang ngapain?" tiba-tiba Rangga keluar dari ruang ganti baju.
"tidak sedang apa-apa sayang" mematikan hp Rangga dan menaruhnya ditempat semula.
"nita keringkan rambutku" menjatuhkan tubuhnya keranjang dan menatap danita dengan wajah yang dibuat-buat.
__ADS_1
"tidak mau" menjauhkan tubuhnya dari Rangga.
"mual lagi mencium aroma tubuhku?" menatap danita yang memojokkan dirinya.
"bukan, aku tidak mau karna kau jelek" menjulurkan lidahnya kesamping.
"berani ya kau" mengejar danita yang ingin kabur dan langsung menggelitiknya.
"hahaha, tidak-tidak sayang kau tampan sangat tampan" terus menggeliat geli.
"lihat mamamu sekarang sudah sangat nakal" tangannya berhenti di perut danita.
"memang kau doang yang bisa iseng?" kembali menjulurkan lidahnya meledek lagi.
"kau ingin aku isengi hm?" menatap wajah danita dan tangannya sudah kemana-mana.
"kau tadi ingin aku mengeringkan rambut mu kan?" langsung mendorong Rangga dan duduk.
"pintar ya sekarang" memberikan handuk kecil, duduk dengan tenang dan damai.
danita fokus mengeringkan rambut Rangga sesekali dia mencium wangi sampo yang dipakai Rangga. danita suka heran kenapa rambut Rangga lebih harum darinya padahal sampo yang dia gunakan sama saja.
"sayang kamu lihat mba audri gak?" Masi mengeringkan rambut Rangga dengan lembut.
"dia sedang dalam masa hukumannya" mengikuti arah kepalanya yang digerakkan danita.
"hukuman apa?" menatap jidat Rangga yang sedikit basah karna rambut depannya belum kering.
"tapi kan itu bukan salah mba audri" memberhentikan tangannya dan menatap Rangga dari belakang.
"tetap saja" kembali menaruh tangan danita keatas kepalanya.
"sayang itu bukan salah mba audri" melanjutkan tangannya tapi menatap wajah rangga.
"terus salah siapa?" menengok kebelakang.
"tentu saja itu salah aku" sekarang hampir selesai mengeringkannya.
"yasudah" jawaban macam apa itu.
"sayang jangan hukum mba audri" mengehentikan lagi tangannya.
"hmm" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"janji ya, bebasin mba audri dari hukumannya" memegang wajah Rangga.
"bilang saja ke zan sana" membalikkan tubuhnya dan sekarang tiduran di paha danita.
"emang aku boleh bicara sama zan?" menatap Rangga yang ntah apa dia lakukan diperut danita.
"tidak, awas saja kau sampai bicara dengan zan" menatap tajam.
__ADS_1
"yasudah jangan hukum mba audri" menekuk bibirnya.
"hmm" malas untuk menjawab akhirnya dia bermain diperut danita.
"sayang kasian tahu mba audri dia kan gak salah masa dihukum" mengelus-elus dahi Rangga yang terbuka bebas didepannya.
"iya" akhirnya kata-kata yang diinginkan danita keluar juga. toh dia juga sudah tidak marah dengan audri.
sebagai ucapan terima kasihnya kepada tuan muda terhormat, danita mencium Rangga dari atas. yayaya Rangga sangat merona senang.
"tapi audri akan kembali ke adinata" menatap wajah danita yang sangat polos tanpa ada apapun diwajahnya.
"tidak apa-apa tempat mba audri kan memang di adinata, bukan untuk menjadi bodyguard ku" balik menatap Rangga.
Rangga kembali bermain dengan perut danita, tangannya saja yang main. tidak tahu letak asiknya dimana tapi Rangga sangat sering melakukan ini.
"sayang kamu udah makan malam?" menatap Surai hitam lebat Rangga yang menempel di pahanya.
"sudah tadi dengan rekan ku" sekarang menciumi perut danita.
"oh ternyata benar" tersenyum lega karna pikirannya tidak benar.
"apa aku harus berhenti kuliah ya?" berbicara sendiri sambil bergumam pelan.
"kenapa?" ternyata Rangga mendengarnya.
"tidak sayang tidak" menggeleng cepat.
"kau ingin berhenti kuliah?" Rangga terduduk didepan danita.
"aku pikir aku harus melakukannya, membagi waktu nanti antara mengurus anak kita dan kuliah itu sangat sulit, sekarang saja aku sudah ketinggalan materi" terlihat membayangkan apa yang dia katakan tadi.
"kenapa harus berhenti, nanti aku bisa memanggil baby sitter" Rangga sangat enteng mengatakannya.
"tapi aku ingin mengurus anak kita tanpa baby sitter" bicaranya itu sudah sangat bersemangat.
"tapi tidak harus berhenti kuliah kan?" masih kekeh untuk menolak perkataan danita.
"sekolah itu memang sangat penting, tapi menjadi seorang ibu yang baik itu adalah pekerjaan yang sangat mulia dan paling penting" dia Masi sangat muda untuk memikirkannya bukan?.
"dia mau merelakan pendidikannya demi mengurus anak ku nanti? bagaimana mungkin aku tidak mencintainya" menatap danita yang masi berangan-angan menjadi seorang ibu.
Rangga membaringkan tubuhnya disebelah danita dan memejamkan matanya, danita mengira Rangga akan tidur sebentar lagi. karna Rangga sangat mudah terlelap.
"kau pasti lelah ya" menarik selimutnya dan ikut berbaring di sebelah Rangga.
rangga menarik sendiri selimut yang belum menutupi seluruh tubuhnya, membawa danita kedalam dekapannya dan menyelimuti tubuh mereka berdua. dia juga menyilang kan kakinya diatas kaki danita, dan menyembunyikan wajahnya di perbatasan leher dan tengkuk danita.
hembusan nafas yang teratur sudah bercampur dengan dinginnya malam, cahaya rembulan yang memancar dari sana berhasil masuk kedalam sela-sela tirai yang tertutup. menyejukkan manusia yang ada diatasnya dan membantunya masuk kedalam mimpinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
ps: ingatkan author jika ada typo