Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Kode darurat


__ADS_3

Audri membukakan pintu mobil dahulu untuk danita, lalu dia membuka pintu belakang untuk menaruh buku-buku kuliah danita.


"mba audri" panggil danita lirih saat dipertengahan jalan.


"iya nona?" menatap sekilas danita yang menyenderkan kepalanya.


"mba perut aku sakit" lirih danita membuat seketika audri langsung panik.


"nona anda anda baik-baik saja?" Masi berusaha fokus ke jalanan.


"perut aku sakit banget" menggenggam erat tangan audri yang ada disamping.


"nona bertahanlah rumah sakit tidak jauh dari ini" menaikan kecepatan mobil.


danita Masi bisa menahan rasa sakitnya, keringat sudah mengucur didahinya. genggamannya pada tangan audri semakin erat.


"tenang audri kau harus tenang, jangan panik kalau kau panik kau akan membahayakan nona danita" mengambil nafas dalam dan kembali fokus ke jalanan.


sangat sulit untuk tidak panik melihat danita seperti itu, keringat audri sudah membasahi dahinya, tangannya pun sudah berkeringat, sedikit gemetar saat tangan kirinya digenggam semakin erat oleh danita.


audri berapa kali mengatur nafasnya agar tidak panik dan tetap fokus menyetir, dia berbisik doa didalam hatinya agar danita tidak apa-apa. "nona danita bertahan lah" pelannya mengatur nafasnya lagi dan lagi.


"dokter rajwa" dengan perjuangan akhirnya audri sampai dirumah sakit milik adinata.


entah itu takdir atau tidak saat dia membuka pintu rumah sakit langsung bertemu dengan dokter rajwa didepannya.

__ADS_1


"audri ada apa? danita kenapa?" mendekati audri yang sudah pucat wajahnya membawa danita dirangkulnya.


"cepat periksa nona danita" ucapnya seperti habis bertemu dengan hantu.


"aku baik-baik saja Tidak usah panik" lirih danita menatap rajwa yang juga mulai pias wajahnya.


tapi danita tumbang, lepas dari rangkulan audri. detik itu juga baik rajwa maupun audri histeris menatap danita yang sudah jatuh pingsan. rajwa langsung memberikan kode darurat yang akan menggemparkan seisi rumah sakit sebentar lagi.


***


cemas, gelisah, takut, dan merasa ada diujung kematian itu, lah yang dirasakan audri. menggigiti jari tanda orang sedang gelisah, kakinya gemetar terus berdiri didepan ruangan ini.


"bodoh!! bagaiman aku tidak menyadari lebih awal nona danita kesakitan" memukul kepalanya dengan cukup keras.


beberapa waktu yang lalu, dokter Masi bulak balik masuk keruangan yang sedang dipandangi. mereka belum memberi tahu apa yang terjadi kepada audri. tapi baru 5 menit yang lalu para dokter keluar tanpa berkata sepatah kata pun untuk audri.


"danita" tentu saja orang itu Rangga yang langsung masuk sembarangan kedalam ruangan.


"sayang" lirih danita menatap Rangga yang berjalan mendekat dengan nafas yang ngos-ngosan. "maaf..." menunduk bersalah.


terdengar sedikit suara tangis Rangga yang menggenggam erat pegangan tempat tidur. "tolong jangan membuatku gila dengan tiba-tiba" bahunya yang bergetar menandakan dia Masi terisak.


"maaf" hanya itu yang bisa danita katakan sekarang, mendengar Rangga yang sangat jarang menangis membuatnya juga ingin menangis.


"aku hampir gila saat mendengar kau pendarahan" memeluk kepala danita, tangisnya semakin menjadi-jadi disana.

__ADS_1


"maaf" membenamkan kepalanya didada Rangga. dia juga syok saat itu terjadi.


"kau dan anak kita sangat berharga bagiku melebihi apapun yang ada didunia ini" menatap wajah danita yang sudah banjir dengan air mata.


begitu juga dengan danita menatap pipi rangga yang basah karna air matanya. "maafkan aku" suaranya gemetar, untuk pertama kalinya dia melihat Rangga menangis separah ini didepannya.


"tolong jangan bantah perkataan ku lagi" menyatukan jidat mereka, seolah-olah Rangga ingin menyalurkan rasa khawatirnya yang sudah mencapai batasnya agar danita paham apa yang dia katakan bukan semata-mata melarang.


"maaf" dia benar-benar tidak berani menatap mata Rangga yang masi berlinang air matanya.


mereka masi meluapkan rasa khawatir masing-masing, danita juga Masi sangat terkejut dengan apa yang dibilang dokter. dia membayangkan Rangga yang akan marah dan sekarang dia malah melihat sisi lain dari Rangga.


mari kita kembali ke yang didepan sana, hanya ada audri dan zan. audri yang menunduk dalam tau akan kesalahannya dan juga sudah tau apa yang akan dilakukan zan.


"apa kau sekarang tuli?" bentaknya tiba-tiba "aku mendengar tuan Rangga menyuruhmu untuk menjaga nona danita apa kau tidak mendengar perintah tuan Rangga?" memukul tembok yang ada disamping kepala audri. "apa yang membuatmu menurun kinerja mu seperti ini?" memelankan sedikit suaranya karna dia Masi mempunyai akan sehatnya "apa kau tidak bisa menyadari lebih awal kalau nona danita kesakitan?" menatap tajam audri yang menundukkan kepalanya.


"maafkan saya tuan" kembali tegak dengan muka yang pucat.


plak


tamparan perih tapi tak bersuara dari zan membuat audri meringis. "siapkan dirimu untuk menerima hukuman mu" berjalan pergi dari sana.


"baik tuan" mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2