
danita yang sedang tiduran sambil memainkan hpnya dikejutkan dengan kedatangan ibunya yang datang tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"danita turun kebawah ganti bajumu, dibawah ada tuan rangga." ibu langsung masuk.
"apa Bu ada tuan Rangga?,ibu kenapa ga bilang kalo tuan Rangga mau Dateng?" danita langsung bangun dari posisinya.
"ibu juga kaget, ganti baju kamu cepat" menatap danita yang kalang kabut didepan lemari.
"celana danita kan di cuci semua Bu" danita mencari pakaian didalam lemarinya.
"pake celana pendek aja tapi jangan terlalu pendek, cepet jgn lama2 tuan Rangga sudah menunggumu" ibu langsung pergi dari kamar danita.
"haiss pake baju apa, baju formal ku kan pada di cuci semua" danita menggerutu sambil mencari baju.
akhirnya danita memakai celana hotpants yang tidak terlalu pendek dan jaket crop top berwarna putih yang ada hudinya. dan langsung turun.
danita melihat Rangga yang sedang duduk.
"tenang danita kalau dia ngapa-ngapain kamu kamu tinggal teriak" danita memberanikan diri untuk mendekat ke Rangga.
Rangga melihat danita dan memperhatikannya .danita duduk menjauh dari Rangga mencari posisi aman.
"mendekat lah, ngapain kau jauh2 seperti itu?" Rangga menggerakkan tangannya untuk danita mendekat.
dengan tubuh yang sudah gemetar danita mendekat ke rangga. kini mereka hanya berjarak beberapa senti.
"tuan anda kenapa datang kemari?" danita memberanikan diri untuk bertanya dan menatap Rangga.
"memangnya aku dilarang untuk kesini?" menatap danita yang sudah mulai tidak nyaman.
"ahh bener juga, tapi tuan anda membuat kaget saya" danita menatap kagum wajah rangga yang hanya berjarak beberapa senti.
"memangnya kau sedang apa tadi?" memegang rambut danita yang terkuncir kuda dan gelombang yang cantik.
"tidak sedang apa-apa tuan hanya bersantai saja" danita menjawab dengan senyuman. memang pada dasarnya danita adalah wanita yang lembut dia selalu berusaha untuk berbicara dengan lembut dengan siapapun.
pandangan Rangga beralih kepada zan yang duduk tidak jauh dibelakang rangga.
zan yang sudah sangat paham dengan tuannya itu langsung pergi meninggalkan Rangga dan danita hanya dengan tatapan rangga.
danita kaget ketika zan keluar dia menatap zan dengan mata yang berbinar-binar"jangan tinggalkan aku, aku tidak mau hanya berdua dengannya sekertaris zan" seperti itulah arti tatapan danita kepada zan.
"saya tidak perduli nona, silahkan tanggung jawab karna sudah membuat tuan muda Rangga tidak mau lepas dengan anda" zan berjalan cuek melewati dua insan yang seperti sedang dimabuk cinta. walaupun hanya Rangga yang sedang dimabuk cinta.
"tuan ini minuman dan cemilannya silahkan dinikmati" ibu menaruh nakas di atas meja.
Rangga seperti tidak tertarik dengan makan dan minuman itu diliriknya saja tidak dia lebih tertarik dengan manusia yang disebelahnya.
"kau mempunyai sahabat?" seperti biasa Rangga bertanya dengan datar.
"punya tuan, 2 sahabat namanya Vita dan Rasya kami bertiga sudah bersahabat sejak Masi di sekolah dasar". jawab danita antusias jika sudah membahas dua sahabatnya itu.
"apa sekarang kalian masih bersehabat?" nada suara Rangga lebih bersahabat walaupun Masi ada nada datarnya.
"masih tuan, bahkan kami satu kuliah satu jurusan pula" sangking antusiasnya danita mengangkat kakinya dan duduk bersila dan mengambil bantal untuk menutupi paha putih mulusnya.
"kau punya sahabat cowok?" Rangga sudah kembali bertanya datar.
"cowok?, temen-temen cowok saya selama saya sekolah saya hanya menganggapnya teman". mengambil gelas "tuan mau yang mana?" menyerahkan pilihan kepada Rangga.
"apa ini?" memegang jus yang yang berwarna kuning sedikit oranye.
"ini jus jeruk, manis loh tuan" menyerahkan gelasnya ke Rangga
"aman kan gada pengawetnya? dan udah diolah dengan baik kan?" Rangga memastikan karna dia selalu makan makanan yang diolah bukn siap saji.
"haha tenang saja tuan ini buatan ibuku, dibelakang ada taman itu tempat tumbuhan ibu, ibu kalau mau bikin sesuatu ibu selalu memetiknya langsung dan dibersihkan dengan benar dan higeanis" danita menjawab mantap untuk meyakinkan Rangga.
"emm manis" Rangga Masi menyedot jus jeruk itu.
__ADS_1
"benarkan tuan itu tanpa gula loh" menatap Rangga.
Rangga hanya mengangguk "lalu ini apa?" mengambil gelas satunya lagi.
"itu jus mangga kesukaan saya". Rangga mengambil sendok lalu mencicipi jus mangga itu "enak sekali tidak begitu asam tapi manis" Rangga meminum tanpa berekspresi.
"hei tuan itu minuman ku tau" danita sedikit kesal karna minumannya di minum rangga.
"kenapa kau gak minum? katanya ini kesukaanmu" Rangga kembali meraih gelasnya dan bersandar di sofa. danita langsung mengambil gelasnya dan menyedot jus mangganya. "makanan apa ini?" rangga menunjuk pempek yang ada didepannya.
"ini pempek" danita mengambil pempek itu berniat ingin mengasih ke Rangga.
"ini makanan yang dia tadi beli di samping pinggir jalan kan?" Rangga memperhatikan pempek yang sedang dibuka danita.
"ini tuan, makanlah ini enak bgt tau" danita memberi pempeknya ke Rangga tapi Rangga seperti tidak tertarik.
zan yang sudah memperhatikan tuan mudanya dan danita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rangga. "suapi tuan muda nona itu yang dia mau" zan melihat tuannya yang sedang asik dengan wanitanya.
"apa tuan Rangga tidak suka pempek?" danita tetap memegang mangkok yang berisi pempek itu. "tuan anda tidak suka pempek?" akhirnya danita bertanya. Rangga tetap tidak bergeming. "apa dia mau ini?" danita langsung mengambil sendok dan mengarahkan ke mulut Rangga.
hup
tidak dipercaya Rangga memakan pempek itu.
"dasar!" seperti sudah paham apa yang di mau Rangga danita menyuapi lagi pempek itu . Rangga tentu saja melahapnya dengan semangat seperti bocah laki-laki yang disuapi ibunya.
"apa kau pernah membawa teman lelakimu kerumah?" bertanya di sela-sela suapan danita.
"tidak, saya tidak pernah membawa teman lelaki saya" danita mengambil tisu disamping sofa.
"kenapa?" Rangga mengambil jusnya yg msi ada di atas meja.
"bapak selalu ngamuk kalau aku bawa seorang lelaki, walaupun temanku hanya mengantar ku pulang, dan tuan apa tuan tau? Anda adalah lelaki pertama yg berhasil masuk kerumh ini dengan tujuan menemui saya" menjawab sambil menyuapi Rangga.
"benarkah?" Rangga Masi memakan pempek yang disuapi danita. "hmm dan tuan anda adalah orang pertama berani yang memacari saya" menatap Rangga.
"anda terkejut kan?" danita tetap setia menyuapi bayi besarnya itu. sementara yang disuapi sedang menahan rasa senangnya.
"jadi dia udah anggep kita ini sedang pacaran?" dihati Rangga sudah mekar bunga-bunga yang indah mewakilkan mood rangga. "Nita" rangga memberhentikan tangan danita yang mau menyuapinya lagi.
"iya tuan, kenapa?" danita menaruh mangkoknya. Rangga mengambil jusnya yang tinggal setengah
"tadi kau bilang apa?" beralih memegang rambut danita yang gelombang itu.
"tadi aku bilng apa?,benerkan?, atau jangan-jangan" danita sudah mulai tahu apa yang di maksud Rangga "yang mana tuan" pura-pura polos aja
"yang kau berkata aku yang pertama berani memcarimu?" Rangga Masi menahan rona senangnya
"ahh itu, iya tuan anda yang pertama" mengangguk-angguk kecil.
"tadi kau bilang pacar?" Rangga masih memainkan rambut danita bahkan dia sekarang mencium rambut danita.
"kenapa aku merinding begini si, tuan anda ini knp?" danita sebenarnya tau apa maksud yang dibicarakan Rangga, tapi dia tidak mau bilang karna dimana-mana cowok yang bilang ini.
"kenapa kau diam?" Rangga sudah tidak sabar mendengarnya. "b–bukannya ini kita sedang menjalin hubungan?"malu! akhirnya danita mengatakan hal yang membuat rangga tambah berbunga2.
"emang iya?" sok polos! Rangga berusaha untuk menyembunyikan rasa senangnya tapi nihil buktinya dia mengucapkan itu sambil cengar cengir.
"senangnya bukan main kan anda tuan?, ck dasar cinta" zan selalu memperhatikan Rangga sesekali dia melihat danita.
"menurut anda?" sebenarnya takut untuk bertanya tapi kalau tidak mengganjal di hati.
"kalo menurutmu seperti itu yaudah" menjawab dengan so dingin padahal hatinya sudah sangat berbunga-bunga.
"ck apa-apaan si dia, aku tu sampai mengubur rasa Maluku untuk mengucapkan ini tau" tentu saja danita kesal dengan jawaban Rangga.
"hei kenapa diam?" banyak bunga bunga, bunga-bunga. itu adalah kata-kata yang menggambarkan hati Rangga saat ini. jadi kita sedang menjalin hubungan sekarang?" tambah berbunga2 lagi.
"hubungan apa tuan?" tak kalah so polosnya "ck memangnya anda doank yang bisa so polos dan membuat orang kesal" menatap dengan penuh kemenangan berhasil membuat Rangga terlihat kesal.
__ADS_1
"tuan kenapa?" Masi so polos
"ck" Rangga berdecak kesal
"haha tuan aku hanya bercanda" ketawa garing. yang didepannya tidak bergeming.
danita tambah takut dengan tatap kesal rangga. "aku menyesal sudah membuat dia kesal, sekarang aku harus bagaimana untuk melunakkan dia?" . "aku harus gimn hiks" menangis didalam hati.
akhirnya danita memutuskan untuk mendekat lagi ke rangga. "tuan Rangga" sudah dekat dan menatap wajah rangga.
"apa?" ketus Rangga.
"Anda marah?" seharusnya ini dilakukan oleh lelaki untuk pcrnya. begitulah pemikiran danita.
Rangga tidak menggubris. bukan danita namanya kalau menyerah begitu saja. danita mengutuki idenya untuk membuat Rangga kesal.
"iya saya tau Anda marah, iya benar kita sekarang sedang menjalin hubungan" kembali berbicara itu lagi.
"hubungan apa?" benar-benar menguji kesabaran.
"Anda maunya hubungan apa?" tanya danita memancarkan senyumnya.
"yang sekarang sedang kita jalani" air muka Rangga sedikit demi sidikit sudah berubah.
"baiklah hubungan tanpa nama tapi dua insan yang menjalankan sudah mengerti hubungn apa itu, resmi dimulai" dengan senyum yang terpancar danita menatap Rangga.
"ck apa kau kira ini pembukaan grandmall?" tetap so dingin pdhl hatinya sudah sangat berbunga2.
"aku mencintaimu mu danita" Rangga Masi bisa menyembunyikan rona senangnya.
"tapi menurut saya ini pembukaan grandmall yang paling saya impikan" jawab danita Masi dengan nada lembut.
"maksudmu?" mengerutkan keningnya.
"ini pertama kalinya saya menjalin suatu hubungn dengan pria, dan hari ini saya mendapatkan apa yang sudah selama ini saya impikan"
"jadi benar kata zan dia belum pernah pacaran"
"seperti ini saja kau sudah sangat bahagia, bahkan aku tidak mempersiapkan apa-apa" Rangga baru ingt kalau dia tidak ada rencana untuk membahas hal ini.
"bahagia itu simpel, tanpa anda mempersiapkan apa-apa pun saya tetap merasa bahagia" kata-kata singkat tapi jelas yang menggambarkan perasaan danita ke rangga itu membuat Rangga tidak bisa lagi untuk menahan rasa senangnya. Rangga berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. tapi telat sudah dilihat duluan oleh danita.
"tertawa saja tuan jangan di tahan" goda danita membuat Rangga melepas senyumnya.
"ini suda sore aku mau pulang" Rangga mengalihkan pembicaraan.
"baiklah aku panggilkan ibu dulu" langsung pergi meninggalkan Rangga.
setelah danita pergi Rangga tidak bisa menahan senyumnya. dia senyam senyum mengingat apa yang diucapkan danita.
"Anda sepertinya sangat senang sekali menjalin hubungan dengan nona danita. bahkan saat anda pacaran dengan bunga saja anda tidak sampai sebahagia ini" menatap raut wajah rangga yang sudah dihiasi bunga-bunga.
"Bu tuan Rangga mau pulang" danita masuk kekamar ibunya.
"sudah mau pulang tuan Rangga?"
danita hanya mengangguk.
*****
"terima kasih tuan atas kunjungan anda kesini" ucap ibu danita ramah. yang dibales dengan anggukan kepala rangga.
sebelum Rangga keluar dari pintu Rangga melihat danita dan tatapan mereka bertemu. Rangga tersenyum kearah danita dan tentu saja dibales dengan senyuman oleh danita. danita melihat mobil Rangga sudah hilang dari pandangan.
"ini mimpi bukan sih? tadi tuan rangga tersenyum?" muka danita sudah merah antara senang bercampur malu. "arrgggg tuan Rangga" danita membanting tubuhnya di kasur dan berguling.
sepertinya hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi dua insan ini.
Bersambung
__ADS_1