
sinar mentari sudah masuk kedalam kamar, menghangatkan ranjang dan juga menghangatkan tubuh manusia yang ada diatasnya. pagi ini Rangga membuka matanya lebih dulu dari pada danita, Rangga melihat lagi wajah bayi yang sedang terlelap dipagi hari. sebelum beranjak ke kamar mandi Rangga mencium pipi dan kening danita, itu sudah kebiasaan Rangga.
"menggemaskan sekali kalau sedang tidur, memang seperti bayi yah" ucap Rangga gemas didalam hatinya.
Rangga berjalan kekamar mandi meninggalkan danita yang masih terlelap diatas tempat tidur.
"jam berapa ini?" suara khas bangun tidur.
"dia kemana?, apa dia sudah bangun?" bertanya sendiri sambil melihat sekitar.
tidak berapa lama kemudian Rangga keluar dari ruang ganti baju sudah memakai kemeja dan celana kerjanya, Rangga belum memakai dasi dan jasnya hingga nampaklah dada bidang Rangga yang seperti seorang atletik.
pemandangan yang sayang untuk dilewatkan tapi danita tidak sanggup memandangnya terlalu lama hatinya tidak akan kuat.
"ini masih pagi tuan Rangga, jangan membuat hatiku menjadi tidak normal dipagi hari" gerutu danita memalingkan wajah kearah lain.
"ohh kau sudah bangun?" ucap Rangga mendekat kekasur.
"iya sayang, kau kenapa tidak bangunkan aku?" tanya danita menatap wajah rangga yang sangat dekat.
"kau tidurnya seperti bayi, aku isengin aja kau tidak bangun" jawab Rangga tambah mendekatkan wajahnya ke wajah danita. dan cupp, Rangga mencium danita lagi tapi kali ini dibibirnya.
"kamu tunggu sini yah, aku mau mandi dulu" danita sudah tidak kaget dengan aksi Rangga yang duka menciumnya secara mendadak.
danita pergi ke kamar mandi, sementara Rangga diam diatas kasur melihat danita sampai masuk kedalam ruang ganti baju. terukir sebuah senyuman dibibir Rangga.
Rangga benar² menunggu danita sampai keluar dari kamar mandi, Rangga belum memakai dasi dan jasnya. menunggu sambil duduk disofa dan membuka hpnya.
tak lama kemudian danita keluar dari ruang ganti baju sudah rapi memakai baju untuk kuliah dan rambutnya sudah terkuncir kuda dengan cantik. danita keluar sambil membawa dasi dan jas Rangga ditangannya.
"sayang nih pake jasmu" ucap danita sudah sampai didepan Rangga.
Rangga mengambil jas ditangan danita lalu memakainya. danita memakaikan dasi keleher Rangga, sementara Rangga memeluk pinggang danita dan memperhatikan wajah danita yang sedang memasang dasi untuknya.
akhirnya Rangga dan danita turun kebawah, dibawah sudah pasti ada Kelin yang sedang menunggu kedua kakaknya turun sambil duduk dimeja makan dan membuka hpnya.
"selamat pagi kakak ipar, kak Rangga" sapa Kelin tersenyum ceria.
"hmm" Jawab Rangga, sementara danita menjawab dengan senyuman yang lebih cerah dari Kelin.
setelah selesai sarapan danita merasa ada yang aneh dengan perutnya. "perutku kok gak enak yah?" tanya danita dalam hati seraya masuk kedalam mobil bersama Rangga dan zan.
danita hari ini berangkat menggunakan mobil Rangga, tentu saja atas perintah yang mulia raja sultan danita hanya bisa mengikuti kemauan Rangga kalau tidak urusannya akan panjang.
danita sudah sampai ditempat kuliahnya, sebelumnya harus terjadi drama lagi saat danita hendak keluar dari mobil.
"danita cium" pinta Rangga menunjuk bibirnya.
"sayang ada sekertaris zan" ucap danita lembut matanya melirik sekertaris zan.
"biarkan saja, zan tidak papa kan kalau danita menciumku disini?" tanya Rangga menatap zan yang ada dibelakang kemudi.
"tentu saja tuan, nona silahkan anggap saya sedang keluar atau saya sedang tidak ada" jawab zan memalingkan wajahnya kejendela.
supaya cepat danita langsung mencium Rangga durasinya dia lamain dari pada Rangga yang lamain durasinya. begitu pikir danita.
akhirnya drama selesai, danita keluar dari mobil dengan wajah malu didepan zan. danita tidak menunggu mobil Rangga sampai hilang dari pandangannya, danita langsung masuk dan menuju kelasnya.
"hallo nit" sapa Vita saat melihat danita masuk.
danita hanya menjawab dengan lambaian tangan ke Vita karna dia merasa perutnya sedang tidak bersahabat dengannya.
"kenapa lu nit?" tanya Rasya merasa ada yang aneh.
"perut gw gak enak" jawab danita memegang perutnya yang sudah sakit.
"mau Dateng bulan kali lu" ucap Vita ikut nimbrung.
"kemaren udah dapet masa dapet lagi" balas danita masih memegang perutnya.
"aduh gak kuat gw" ucap danita langsung pergi keluar kelas.
Vita dan Rasya saling pandang satu sama lain.
"jangan² danita hamil vit" ucap Rasya spontan.
"magnya kambuh itu" ucap Vita santai menepis racauan Rasya.
__ADS_1
flashback danita
danita memuntahkan semua makanan yang ia makan tadi pagi, perutnya terasa sangat sakit dan badannya juga lemas.
danita melihat pantulan dirinya dicermin.
"sakit banget" eluh danita memegang perutnya.
dengan kaki yang lemes danita keluar kamar mandi kembali menuju kelasnya. saat dia masuk dosen sudah datang jadinya danita kembali duduk ditempatnya.
danita end
"nit lu serius gak apa²?" tanya Rasya khawatir melihat wajah danita yang mulai pucat.
"iya, cumang sedikit lemes doang" jawab danita.
"pergi ke ruang kesehatan aja yuk" ajak Rasya.
"gak usah, pelajarannya sudah dimulai" tolak danita mengeluarkan buku dan pulpennya.
Rasya kembali melihat kedepan sedang danita berusaha menahan sakit diperutnya, kepalanya juga pusing tapi danita masih bisa menahan dan memperhatikan materi yang dosen berikan.
jam pertama sudah selesai, dosen sudah meninggalkan ruangan. pada saat danita hendak pergi kekamar mandi tiba² pandangannya mulai buram dan danita terjatuh pingsan. kedua sahabat dan teman²nya melihat danita pingsan langsung pada panik, penanggung jawab ruang langsung pergi ke ruang kesehatan.
"astaga Nita" histeris Rasya menatap wajah pucat danita.
"Rasya jangan panik, danita akan dibawa kerumah sakit jadi tenang" ucap si penanggung jawab ruang.
"iya to" jawab Rasya.
nama sipenanggung jawab kelas adalah hito kurniawan. lelaki yang menjadi pusat perhatian dikelas terumata rasya, danita tidak tertarik dengan hito bukan karna sudah menikah pada saat mengenal hito danita sudah biasa saja tidak seperti Rasya yang kegirangan.
danita digendong hito ke ruang kesehatan dan diikuti oleh dua sahabatnya. orang² yang melihat kejadian itu pada berbisik dan menatap kearah hito dan danita. hampir semua siswa mengetahui danita adalah orang yang namanya terletak paling atas saat pengumuman penerimaan di kuliahnya.
sesampainya di ruang kesehatan, senior² yang bertugas langsung memeriksa keadaan danita sebelum dibawa kerumah sakit menggunakan ambulan. para senior bilang kalau mag danita kambuh dan mag yang diderita danita sudah cukup parah kalau telat sedikit saja nyawalah yang akan jadi taruhannya.
mobil ambulan sudah sampai, danita ditaruh diatas ranjang tempat tidur khas rumah sakit lalu dimasukkan ke ambulan, diikuti kedua sahabatnya dan satu senior yang memeriksanya. mobil ambulan melaju cepat menuku kerumah sakit karna mungkin saja hal yang ditakutkan akan terjadi pada danita.
Rangga POV
"tuan muda" ucap zan langsung masuk kedalam ruangan.
"ada apa?" tanya Rangga melihat kekhawatiran diwajah zan.
"nona danita dilarikan kerumah sakit karna pingsan tuan" jawab zan cepat.
rangga langsung berdiri dari duduknya sangking kagetnya. kecemasan dan kekhawatiran terlihat jelas di wajah rangga saat mendengar istrinya dilarikan kerumah sakit.
"batalkan semua jadwal" ucap Rangga langsung berlari keluar dari ruangannya diikuti zan dibelakangnya. sebelum memasuki lift zan memberi tahu staff sekertaris untuk batalkan semua janji yang sudh dibuat.
Rangga POV end
mobil ambulan sudah sampai di rumah sakit, dan tidak lain rumah sakit itu adalah milik suaminya sendiri. para suster langsung mendorong tempat tidur danita menuju ruang UGD diikuti dokter rajwa.
"bisa jelaskan kronologi kejadiannya seperti apa sampai danita bisa pingsan seperti ini?" tanya dokter rajwa kedua sahabat danita.
Rasya dan Vita menceritakan semua rangkaian peristawa sampai danita jatuh pingsan dikelas.
"baiklah terima kasih" ucap rajwa langsung pergi keruangan danita.
dokter rajwa sedang mengecek keadaan danita, dia bersumpah dalam hatinya kalau orang² tau pasien ini adalah istri dari seorang Rangga adinata ini akan menjadi kode darurat yang akan menggemparkan seisi rumah sakit.
"kalau Rangga melihat mu seperti ini pasti dia akan menjadi gila, jadi penasaran ekspresinya seperti apa" ucap dokter rajwa dalam hati sambil memeriksa ulu hati danita. danita sedikit meringis saat ulu hatinya ditekan itu tandanya magnya sedang kambuh, tapi mag danita sudah kronis sama seperti yang dibilng seniornya kalau telat sedikit saja mendapatkan perawatan entahlah apa yang terjadi.
dokter rajwa menyuruh suster untuk memasangkan infusan di tangan danita, karna danita saat ini perlu asupan dari selang infus. setelah memeriksa pasien darurat baginya, dr.rajwa langsung keluar sapa tau Rangga sudah datang dan langsung masuk keruangan danita, menangis histeris.
tidak berapa lama dokter rajwa keluar dari ruangan danita terdengar suara langkah laki² yang sedang berlari, tentu saja orang itu adalah Rangga.
"rajwa bagaimana keadaan danita?" dari nada suaranya sudah sangat cemas.
"istrimu baik² saja" jawab rajwa memegang pundak Rangga.
"apanya yang baik² saja kalau danita baik² saja tidak mungkin dia pingsan" ucap Rangga kesal sekaligus khawatir.
"istrimu itu punya penyakit mag, dan sekarang magnya kambuh" jelas rajwa.
"apa itu penyakit mag? aku baru mendengarnya" tanya Rangga bingung.
__ADS_1
rajwa menepuk jidatnya mendengar kebodohan dari sahabatnya ini.
"penyakit mag itu ketika didalam lambung kita terdapat banyak gas dan jika kita telat makan atau tidak makan gas itu akan lebih besar dan lebih banyak, istrimu telat makan jadi magnya kambuh" jelas rajwa panjang lebar.
"apakah penyakit itu mematikan?" tanya Rangga bermuka cemas.
"penyakit mag ada berapa tingkatan, penyakit mag danita kecilmu ini sudah sedikit kronis dan mungkin saja jika telat mendapatkan perawatan kau akan kehilangan danita kecil mu ini" jawab rajwa menakut nakuti Rangga, malah dirinya yang takut saat mendapatkan tatapan membunuh dari zan.
"jangan menakuti nakutiku sialan" dengus Rangga kesal.
"sekarang dimana danitaku?" mencari² keberadaan danita.
"didalam, sedang dipasang infusan" menunjuk ruangan danita.
"infus?" tanya Rangga tambah cemas.
"danita harus rawat inap berapa hari kedepan" ucap dokter zan.
"dia pasti kesakitan tangannya ditusuk jarum seperti itu" ucap Rangga melihat pintu ruangan yang ditunjuk rajwa.
"danita itu bukan anak kecil Rangga" mencari Mala petaka disiang bolong.
"kau mau ku tendang? tau apa kau tentang istriku?" dengus Rangga kesal sambil memukul lengan rajwa.
"lama sekali sih susternya" gerutu Rangga melihat kedalam melalui kaca pintu. ada danita yang sudah sadar dan sedang memperhatikan suster yang sedang memasang infus ditangannya.
tidak berapa lama kemudia suster keluar, Rangga langsung masuk bersama zan dan dokter rajwa.
"sayang" ucap danita lemas. dia kaget saat melihat Rangga sudah ada dirumah sakit.
"Nita apa ini sakit?" tanya Rangga dengan muka cemas sambil memegang tangan yang diinfus.
"enggak kok sayang" jawab danita lembut.
Rangga mencium kening danita, mengusap kepala danita lembut dan mengelus perut danita yang sangat sakit tadi. adegan romantis ini membuat kedua jiwa jomblo yang sedang menyaksikan bagaikan disambar petir. kalau zan sudah terbiasa dengan adegan seperti ini berbeda dengan dokter rajwa, dia memalingkan wajahnya menatap pintu.
"ehem, maaf bukan maksud mengganggu. Rangga aku ingin memeriksa keadaan danita dulu bentar" izin rajwa dan mendapat tatapan sinis dari Rangga.
tanpa persetujuan dari Rangga, dokter rajwa maju untuk memeriksa danita. saat ia ingin menyentuh perut danita sang suami menepis keras tangan rajwa dari perut danita.
"ngapain kau pegang² perut istriku?" bertanya dengan tatapan membunuh.
"aku ingin memeriksa istrimu"
"gak usah pake megang perut bisa kan?"
"gak bisa lah istrimu itu sakit lambung, dan lambung berada didalam perut"
"sayang sudahlah, dokter rajwa hanya ingin memeriksa ku" ucap danita melerai pentengkaran yang tak ada guna sambil mengusap pipi Rangga lembut.
"awas kau berani macam²" ancam Rangga
rajwa langsung memegang perut danita, menekannya perlahan, dan menekan ulu hati danita membuat danita sedikir meringis.
"yang mana yang sakit?" tanya Rangga memegang tangan danita.
"apa yang kau lakukan kepada istriku?" bertanya kepada dokter rajwa dengan tatapan yang anti menstrim.
"itu sudah menjadi hal wajar bagi orang yang mempunyai riwayat penyakit mag, ketika magnya sedang kumat cenderung ulu hatinya akan sakit" ucap rajwa tidak takut dengan tatapan mematikan dari Rangga.
"apa sangat sakit?" kalau dengan danita dengan nada halus dan tatapan menuj cemas.
danita menggelengkan kepalanya pertanda tidak sakit.
"baiklah aku akan menyuruh suster untuk membawakan makanan untuk danita" ucap rajwa langsung keluar tanpa memperdulikan pasangan yang sedang bermesraan.
diruangan tinggal danita dan Rangga berdua, sekertaris zan keluar saat ada panggilan telfon masuk dihpnya.
"apa perutmu masih sakit?" masih setia memegang tangan danita dan menggenggamnya.
"sedikit" jawab danita lemas. Rangga mengelus elus perut danita dan ulu hati yang diperiksa Rajwa tadi, Rangga juga mencium perut danita yang masih berbalut baju rumah sakit.
"rasanya nyaman, jadi seperti ini rasanya dikhawatirkan oleh orang yang kita cintai" danita tersenyum melihat Rangga khawatir dan mau merawat danita.
Rangga masih mengelus elus perut danita dengan lembut dan juga mencium perut dan tangan danita yang terdapat infusan, Rangga yang kemarin sangat manja kepada danita sekarang berubah menjadi suami siaga yang peduli kepada istri yang ia cintai.
Bersambung
__ADS_1