Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Tidak Di Duga


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang sangat tak biasa untuk zan. ketika hasratnya sudah mencapai batasannya, penasaran dan ingin menggapai sudah sampai di dasar hatinya.


"aku harus mendapatkannya" sigapnya dalam hati meraih jaket yang ia ambil di lemarinya.


diraihnya kunci mobil yang ia letakkan sembarangan di atas meja. entah mau kemana dia dengan mobilnya.


Mobil yang dia bawa melaju membelah jalanan yang ramai itu, dilirik jam tangannya menunjukkan baru memasuki jam 8 malam. tentu jam segini sudah ramai dengan orang-orang yang mempunyai urusan sendiri.


Mobil dipinggirkan di samping sebuah kafe.


dia hanya masuk dan duduk dipojokan seperti biasa. sang barista yang menatap heran zan, kenapa dia tidak mengangkat tangannya seperti biasa?.


"apa anda tidak mau memesan?" akhirnya barista itu menghampirinya.


"saya sedang menunggu seseorang" ucapnya sedikit tersenyum tipis. sangat tipis.


"baik" menundukkan kepalanya dan kembali kemeja tempatnya bekerja.


sedikit bingung tetapi memilih meracik kopi-kopi milik pelanggannya.


pintu terdengar terbuka, karna suara lonceng itu yang akan bersuara ketika pintu terbuka. pelayan kafe yang ada di meja kasir langsung menyambutnya dengan ramah. sambil terus menekan tangannya di tempat memesan itu.


orang itu lah yang zan tunggu-tunggu. iya si rasya itu. tanpa ragu dia langsung mengangkat tangannya kepada rasya. untung saja si barista itu sedang sibuk, kalau tidak dia akan mengira zan mengangkat tangannya untuknya.


"dia memanggilku?" menatap ke belakang. takut kalo dia salah mengira.


tapi dia langsung membulatkan matanya saat wajah yang sangat tidak ingin dia temui itu ada didepannya. ah sungguh kejadian itu masih membuatnya malu.


"kau buta?" ucap zan geram karna rasya tidak berjalan mendatanginya dan malahan celingak-celinguk seperti orang bodoh.


rasya langsung berjalan mendekat.


"kenapa kau disini?" sudah duduk di depan zan.


"memangnya kau yang mempunyai kafe ini?" sinisnya tanpa dosa.


oke rasya lupa kalau lawan bicaranya kulkas 60 pintu.


"apa kau kesepian sampai-sampai kau memanggil ku?" tujuannya si mau ngeledek tapi dia sendiri yang dibuat merinding seketika.


bagaimana tidak? zan langsung memelototinya.


"haiss tidak bisa diajak bercanda sekali" gumamnya, menahan kepalanya dengan satu tangan menempel di meja.


"apa mantan-mantan mu masih mengejarmu?" ucapnya dengan nada bicara seperti orang normal.

__ADS_1


tapi siapapun yang berbincang dengannya akan merasakan tekanan disekitarnya.


"tidak" menggeleng pelan.


"kenapa mantan mu banyak sekali?"


"kalau kau berfikir aku yang tidak tahu diri sehingga mantan ku banyak, kau salah" menatap serius dan lekat.


zan hanya menatapnya, menunggu kelanjutannya lebih tepatnya


"mereka yang tidak tahu diri, setelah mengambil uang ku mereka pergi dengan wanita lain" mata sedihnya terlihat.


menyedihkan sekali...


"kau saja yang bodoh" celetuk zan.


"kau tidak akan tahu cinta itu buta"


"bukan cinta yang buta kau yang bodoh" celetuk zan lagi. bener si


"sudahlah diam" membuang pandangannya ke arah lain. kesel juga walaupun tampan. pikirnya gitu.


"jadi–" baru juga dia mau bilang tujuan dia manggil rasya.


"apa kau tidak mau memesan minuman? jahat sekali, atau jangan-jangan kau dipecat oleh tuan rangga dan sekarang kau tidak punya uang?" meletakkan kedua tangannya diatas meja.


"hehe makasih" tersenyum manis setelah memesan apa yang dia mau.


kapan lagi ya kan merasakan uangnya sekertaris presdir adinata.


matre:)


"jadi apa yang tadi?" melipat kedua tangannya diatas meja dengan rapih.


zan jadi bingung mau ngomong apa.


"jangan bilang kau terkena amnesia mendadak" menatap zan yang sedang menggaruk keningnya.


"kau tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain kan?" tanpa basa-basi langsung bertanya.


"hooh" angguknya.


"bagus" melipat tangannya didepan dadanya.


detik berikutnya rasya menutup mulutnya. "jangan bilang kau ingin memacari ku?, siapkan hati mu karna aku sangat tidak mau menjalin hubungan lagi" ucapnya sedikit terkesan jual mahal. tapi bener si dia udah males pacar-pacaran lagi.

__ADS_1


"terus?" terkesan acuh dan tidak perduli. padahal ya gitu.


"aku tidak akan menerima mu kalau kau mengajak ku berpacaran" ucapnya santai. walaupun dia takut akan dibanting zan.


"menikah?" memesan wajah senormal-normalnya. tidak datar seperti biasa.


"ha?" ya tentu dia bingung.


"aku tidak mengajakmu berpacaran tetapi aku mengajakmu menikah"


krik... krik...


Rasya membelalakkan matanya tanpa berkedip. dan mulut yang terbuka.


sampai salah satu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"gimana gimana? ahh sepertinya kuping ku rusak" mengorek-ngorek lubang telinganya.


"aku mengajakmu menikah" ulangnya menaikkan suaranya sedikit. membuat orang yang ada dibelakangnya menatapnya.


"hahaha, bercanda lu lucu juga" mengubahnya jadi lu gua. ntah kenapa rasya risih sekali dengan ucapan seperti itu.


zan sedikit kesal rasya menganggapnya bercanda, apa lagi setelah mendengar gaya bicaranya yang diubah. "saya tidak bercanda" nada suaranya ikut berubah jadi dingin.


"kenapa lu mau ngajak gua nikah?" tatapan rasya berubah tidak seperti tadi.


zan berdecih kasar, sambil memalingkan wajahnya sekilas. "apa anda menanyakan itu juga kepada semua lelaki brengsek itu sebelum anda menerima ajakan pacaran mereka?" mengangkat satu alisnya sambil tangannya yang dia lipat.


Rasya terdiam. tidak sama sekali dia tanyakan itu.


"apa anda lebih suka hubungan bercanda dari pada hubungan serius?" melanjutkan pertanyaannya.


Rasya hanya diam, dia hanya tidak tahu harus menjawab apa.


"kalau kau serius dengan perkataan mu itu, datang kerumah ku besok jam 10 pagi tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang" ucap rasya setelah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.


"baik" diterima dengan enteng oleh zan.


hei sialan rasya mengharapkan ekspresi zan yang kikuk setelah ucapannya. tetapi mengapa sangat meyakinkan begitu wajahnya. ah sudahlah.


dia tidak mau buang-buang uang, dengan wajah yang kikuk dia menyedot jusnya. risih sekali dilihatin seperti itu.


setalah sudah habis setengah, rasya berdiri dari kursinya. berbalik saat mendengar kursi didepannya ikut digeser. "tidak!! diam disana, tidak usah mengantar ku, diam disana" menahan zan dengan tangannya dan kakinya dengan cepat berlari keluar kafe.


mengkerut kan dahinya, menatap bingung. padahal niatnya berdiri ingin membayar pesanannya. tapi lucu juga pikirnya Rasya bermuka merah seperti itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2