Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Mencintai Orang Yang Tepat


__ADS_3

Di sebuah taman yang sempat menjadi saksi bisu terjawabnya sebuah keraguan di hati seseorang tentang cinta atau hanya sekedar penasaran.


Dua insan yang sedang duduk di sebuah kursi yang berjajar dengan pemandangan lapangan bola basket dan tak jauh dari sana adalah taman yang biasanya ramai dikala hari sabtu atau malam-malam yang lain.


"zan" suara lembut mengalihkan atensi orang yang di sampingnya.


"hm?"


Rasya terdiam lagi, dia ingin bertanya sesuatu tapi takut melanda hatinya.


"ada apa?" suara dinginnya menyelimuti ketakutan rasya.


"emm" menggigit bibir merah cherynya, memainkan jari-jarinya mencoba menghilangkan gugup beserta takutnya.


"jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja"


Zan adalah orang terpeka yang pernah rasya temui.


"apa tidak ada hal yang ingin kau beri tahu pada ku?" berbicara cepat lalu menggigit bibirnya kembali merasa takut akan tatapan zan.


Bukan tatapan yang membuat seseorang gemetar, hanya saja tatapan datarnya itu cukup membuat rasya ingin memukul mulutnya sendiri. entah seperti apapun tatapan yang di layangkan zan, di mata rasya itu tetap menyeramkan.


"jadi kau sudah tahu?" beralih menatap ke depan dan sedikit melirik rasya yang sedang gemetar takut. padahal dia tak melakukan apa-apa.


Rasya mengangguk, menatap sepatunya dengan perasaan yang campur aduk. ada gelisah, sedih, kecewa dan juga perasaan senang zan mau mengungkap segalanya. tapi rasa kecewa bahwa zan tak pernah mengungkit masalah ini, seolah-olah rasya tak berhak tahu.


"adin yang memberi tahu mu?" tangannya ingin sekali menyelipkan rambut yang menghalangi wajah rasya ke telinga sang gadis. tapi dia urungkan setelah melihat rasya yang berwajah bingung.


"adinda" itu bukan sebuah panggilan, itu adalah penjelasan.


ohh panggilan sayang ya..


Seperti itu hati sedih rasya berucap. kenapa dia seperti terlihat cemburu? hei! itu hanya sebuah nama panggilan.


"dulu aku memang pernah menjalin hubungan dengannya"


"aku sudah tahu!" teriak hati rasya.


"tapi itu sudah berjalan lima tahun yang lalu" akhirnya tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga rasya.


Rasya masih mau mendengar yang lebih detail! bukan hanya itu. lalu apa itu tadi? menyelipkan rambutnya? hatinya berdetak tak karuan sial!.


"lalu?" membiarkan tangan zan yang satunya kembali menyelipkan rambutnya.


"kau tidak perlu tahu dengan sangat detail"


"kenapa!"


Sial!


"maksudku kenapa aku tidak boleh mendengar kisah mu dengan kak adinda?" tolong lain kali ingatkan rasya untuk meresap lebih dulu kata-katanya.


Zan melepaskan tangannya dari rambut rasya, lalu dia tertawa pelan dengan tanpa dosanya. "karna aku tak mau kisah indah ku didengar dan di ketahui"


Perasaan sedih datang lagi, apa maunya zan ini. jangan bilang kalau zan belum sepenuhnya melupakan kak adinda? lalu untuk apa mereka berpacaran?.


Zan memperhatikan setiap mimik wajah rasya, apa mungkin rasya ini sedang datang bulan? kenapa mimik wajahnya cepat sekali berubah? atau memang perkataannya yang tak bisa di kondisikan.


"sepertinya kau sangat penasaran ya?"


Rasya mengangguk dengan polosnya. dia sangat amat penasaran! sekali lagi . RASYA SANGAT AMAT PENASARAN.


zan tolong dengar itu.


"ayo pulang" berdiri lalu menatap rasya yang masih menatap tak paham.


"EHHH?" berteriak terkejut.


"IH ZAN KOK MALAH PULANG? KAN BELUM DI JAWAB!!" berusaha mengejar langkah zan yang jelas tak mudah ia kejar dengan kaki pendeknya.


"ZAN TUNGGUIN NAPA ELAH, PUNYA KAKI PANJANG BANGET SI!!" berlari tunggang langgang mengejar zan yang sudah membuka pintu mobil.


Setelah menutup pintunya dia menampilkan senyum tipisnya, menatap rasya yang masih berlarian keluar dari taman dengan muka kesal dan terus ngedumel.


Ayo taruhan pasti rasya sedang mengucapkan sumpah serapah untuknya.


Tak percaya? lihat saja nanti.


****


"sana pulang" usir rasya menggenggam pagar hitamnya dengan tatapan yang tajam.


"bukan kah kau sedang di landa penasaran?" menatap seperti biasanya.


Rasya melepas tangannya, ternyata zan ingat. langsung melebarkan pagar selebar-lebarnya dan mempersilahkan zan masuk dengan senyuman manis.


cih


Zan berdecih pelan. sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja, bisa di bilang ini hari liburnya yang sangat amat jarang ia lakukan. walaupun bisa dipastikan nanti di apartemen mewahnya akan kembali berkutat dengan segala jenis dokumen dan layar komputernya.


Ayo lah, tidak masalah kalau kau ingin berlama-lama dengan kekasih mu.


"untung ayah belum pulang" bergumam dalam hati, menapakkan kakinya yang masih beralas sepatu ke lantai rumahnya.


Hening...


Itu yang di rasakan.


"duduk aja dulu, aku mau ke kamar ibu dulu" dengan cepat berbalik ingin berlari ke anak tangga tapi suara zan menghentikannya.


"boleh aku ikut?" suara beratnya sangat amat mendominasi gendang telinga rasya saat ini.


Rasya mengganggu kikuk "tutup dulu pintunya"


Zan menutup pintunya sesuai yang rasya bilang. bukan untuk apa-apa, hanya untuk melindungi rumahnya. jadi jangan berpikiran macam-macam.


Setelah mendengar pintu rumahnya tertutup rapat. rasya mulai menaiki tangga, entah kenapa jantungnya seperti ada sengatan. sungguh, dia sangat gugup. dahulu semua pacarnya tak ada yang berani kerumahnya, bukan tidak mau tapi memang rasya melarang. ada ibunya yang perlu istirahat dan dia tak mau pacarnya yang dulu menghina ibunya. jadi zan adalah yang pertama masuk kerumahnya, ralat orang pertama yang rasya izinkan untuk bertemu ibunya.


Dibelakangnya ada zan yang berjalan pelan mengikuti rasya. saat sampai di anak tangga terakhir, dia jadi mengingat saat rasya ditampar oleh ayahnya dan dihina, di caci maki, di bilang anak haram oleh ayahnya sendiri. zan mengernyit saat mengingatnya.


"ibu rasya pulang!" suara riang kesukaan zan menggema di lantai dua.


Rasya memeluk ibunya yang sedang duduk sambil di suapi bubur oleh pengurus yang di sewa rasya.


Seperti hari-hari dimana rasya pulang dan memeluk ibunya. selalu tak ada respon, ibunya hanya menatap dengan tatapan kosong tapi rasya tau itu adalah tatapan yang mengisyaratkan suara yang tak bisa di ucap lagi.


"non saya izin pamit ya? ibu sudah saya gantikan baju dan saya juga sudah memasak untuk non, nanti tinggal di hangatkan saja ya non" wanita yang terlihat sudah tak muda lagi itu berdiri sambil memegang nampan.


"iya bi terima kasih!, hati-hati ya bi pulangnya" senyum ramah di berikan oleh rasya.


Bibi buru-buru keluar saat melihat zan berdiri di depan pintu. agak menyeramkan, bibi berani bersumpah.


"ibu tadi makan apa aja? seneng gak di urus bi rini?" tanya rasya menempelkan tangan sang ibu ke pipi halusnya.


Ibu sama sekali tak menjawab, karna kinerja otaknya untuk menangkap pertanyaan sudah sangat melemah. ibu malah mengalihkan matanya ke zan yang sudah berdiri di belakang-samping rasya.


"ah! ibu ini namanya zan, dia yang waktu itu kesini, ibu ingat tidak?" menarik-narik tangan zan agar berjongkok sepertinya.


Sebenarnya bukan jongkok juga, rasya duduk dengan tumpuan lututnya di bawah kasur ibunya. rasya menyuruh zan untuk duduk sepertinya.


"jangan ketipu sama tampang dia Bu!, zan itu orangnya kaku banget bu datar pake banget lagi!" seru rasya sesekali melirik sinis ke zan.


Dan dibalas lirikan sinis juga dari zan.


"za an" zan bertanya dengan tatapannya.


itu adalah kebiasannya! tolong kondisikan.


"iya?" kaku zan menjawab.

__ADS_1


Zan memang lumayan susah untuk berkomunikasi dengan orang baru, kecuali dalam hal bisnis. dia bisa menguasai segala topik. tapi kalau seperti ini, dia sangat sulit.


"maklumin ya bu, zan emang kaku orangnya" bisik rasya kepada ibunya.


Ibu tetap menatap teduh zan, dibalas dengan tatapan penuh arti dari zan. seperti sedang telepati tatapan. mereka seakan mengerti dengan tatapan satu sama lain.


Dan tak lama dari itu, rasya bingung sendiri dengan mereka berdua. sunyi sekali disini. rasya tersentak saat ibu dan zan mengakhiri tatap-tatapannya. ibu berbaring dan memejamkan matanya. tanpa mengeluarkan suara zan sudah mengerti.


"selamat tidur ibu mimpi indah, rasya sayang ibu" mengecup lembut dahi yang sudah mulai ada kerutan sang ibu.


Tidak ada suara lagi, hanya ada suara pintu yang tertutup.


Rasya berjalan ke kamar yang terletak tak jauh dari sana, membukanya dengan perlahan dan terkejut saat hendak menutup pintu. ada zan dengan wajah datarnya.


"tunggu di luar!" menutup sedikit keras pintunya.


Seolah tak perduli dengan hal itu, zan membuka hpnya mengecek sesuatu yang sepertinya ada kiriman dari orang suruhannya.


"zan"


Yang dipanggil langsung menutup hpnya dan menoleh. hampir terkejut saat yang dilihat hanya kepala rasya yang menyembul.


"apa?"


Rasya cengar-cengir melihat ekspresi zan. "cie kaget" tersenyum jenaka membuat zan tak bergeming.


"bercanda om!, silahkan masuk" membuka pintu kamarnya.


Zan mengernyit heran, kenapa ada orang tipe rasya di dunia ini?.


Yang pertama kali zan tangkap dari pandangannya adalah ranjang rasya yang tak besar ataupun tak kecil. sebenarnya ranjang itu cukup untuk dua orang, tapi rasya disini menggunakannya sendiri. ya karna dia tidur sendiri.


"gak usah lihat-lihat!, udah tau berantakan" mencoba membereskan sedikit hal-hal yang ada disekitar kasurnya. ada novel, bungkus makanan, kaca mata, lampu yang ntah masih menyala atau tidak, dan ada sebuah gelang diatas buku novel itu.


"zan jangan lihat meja belajar ku!" pekik rasya membuat zan tak jadi memutar tubuhnya untuk melihat sekitarnya.


Buru-buru rasya menyingkirkan filenya yang bermap merah dan juga buku hariannya beserta jurnal yang juga berwarna merah. dia tak akan bodoh lagi, dia tak lupa kalau zan sangat sensitif dengan hal yang berwarna merah.


"tidak usah disingkirkan seperti itu" duduk di atas kasur rasya dan memperhatikan rasya disana.


"pasti kamu akan kumat saat melihat benda merah ini" menaruh semua bendanya yang bernuansa merah ke bawah mejanya.


"kalau hanya satu atau dua barang itu tak masalah"


Rasya bernafas lega, syukur lah. tapi dia sudah capek-capek membereskannya. ah tak apa! nanti mudah dia kembalikan lagi. kalau ingat.


Rasya duduk disebelah zan, menggoyang-goyangkan kakinya yang terasa pegal.


"jadi bagaimana kisah mu dengan kak adinda?" kembali ke topik awal, alias janji zan.


Zan pikir rasya sudah lupa, padahal dirinya ingin membahas hal lain. tapi yasudahlah dia sudah janji.


"bisakah kau mendengarnya sambil memijat bahu ku?" menggerakkan salah satu lengannya ke belakang. memberikan kode kepada rasya.


Rasya mengerjap. apa-apaan itu!. tapi dia beranjak dari duduknya pindah ke belakang zan.


"ayo cepat cerita" mulai menyentuh bahu yang rasya rasa itu adalah bahu terkeras yang pernah dia pegang. memulai dengan pijitan halus. tapi rasya tak yakin zan akan merasakan pijitannya.


"awal bertemu dengannya saat dia melamar menjadi anak magang di adinata, sangat sulit hanya untuk menjadi anak magang di sana, tapi ternyata dugaan ku salah, dia berhasil lolos dan menjadi anak magang selama satu tahun" zan mulai berbicara sementara rasya sibuk memijat sambil mendengarkan.


Mulutnya membentuk huruf o bulat.


"lalu mengapa kalian putus? padahal terlihat sangat cocok loh kalian"


Zan tak menjawab, dia bukannya ingin menutup-nutupi sesuatu dari rasya. tapi dia rasa itu bukan hal yang harus ia ceritakan kepada rasya. itu hanya cerita masa lalunya dengan gadis bernama adinda, itu hanya masa lalunya.


"bikin orang penasaran itu dosa loh om" menekan jempolnya ke leher zan, berharap zan akan kelojotan.


Nihil, zan malah menundukkan lehernya meminta rasya kembali memijat lehernya. lelah sekali rasanya "orang tuanya yang membawanya pergi"


Rasya mengernyit bingung, bawa pergi? maksudnya orang tua kak adinda membawa kabur anaknya dari zan? kenapa bisa begitu?.


"kaki mu terluka bukan?" memutar badannya membuat tangan rasya lepas dari pundaknya.


"ha? enggak" otak rasya masih memproses segalanya.


Zan mencari dimana pergelangan kaki kiri rasya yang sedang diumpetin oleh rasya. lalu dia mendorong membuatnya sempurna duduk di belakang zan, lalu menarik kaki kirinya.


"ah ssh" menahan tangan zan yang dengan sengaja memencet pergelangan kakinya yang luka.


"dimana obat merah?" masih memegang pergelangan kaki rasya dan tatapannya susah untuk diartikan.


"tidak usah, biar aku saja nanti yang mengobatinya" berusaha menarik kembali kakinya yang terus dipegang oleh zan.


"dimana?" nada suaranya sudah berbeda, seperti menekan kata-katanya.


"di–di bawah" gugup, takut, menyeramkan. itu yang rasya rasakan.


Tanpa ba-bi-bu, zan mengangkat badan rasya dan menggendongnya seperti layaknya pengantin. menghiraukan wajah terkejut rasya.


"aku masih bisa jalan sendiri!" menggoyangkan kakinya meminta untuk di turunkan.


Zan menulikan pendengarannya. padahal yang di gendong sedang bertarung melawan degup jantungnya yang tak normal. rasya bisa melihat dengan jelas pahatan yang sangat menawan dari bawah, rahang yang terpahat dengan tegas, wajah datarnya yang selalu menjadi ciri khasnya, itu semua terpampang dengan jelas di depan rasya. itu semua membuat jantungnya tak bisa berdetak normal.


"hei jantung bekerja sama lah!!" menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang prianya. wangi maskulin merebak di indra penciumannya.


Itu membuat rasya nyaman.


"mau sampai kapan kau mau ileran di dada ku?"


Rasya terperanjat dan langsung turun dari gendongan zan, ternyata mereka sudah ada di lantai satu. arghh rasya malu sekali!.


"siapa suru gak bilang kalau udah nyampe di bawah" berlari ke belakang, mengambil kotak putih yang ada lambang plus di depannya. bahkan jantungnya sekarang masih berdetak tak normal.


"duduk" mengambil alih kotak yang rasya ambil dan menekan pundak mungil rasya agar duduk di kursi meja makan.


Dengan telaten dan hati-hati zan mengobati pergelangan kaki rasya yang lecet karna terinjak-injak tadi di mall. bukan hanya satu luka goresnya, ada sekitar tiga sampai empat luka gores di pergelangan kaki dan telapak kaki yang sangat mungil di tangannya itu.


Rasya menghela nafasnya, sepertinya dia mulai mencintai pria yang ada di depannya ini. bagaimana tidak? walaupun sangatlah kaku dan lebih terkesan dingin dan datar tentunya tapi zan punya cara sendiri untuk menyalurkan sayangnya. dengan kepekaan rasya sangat mudah ia tanggap dengan segala aksi tak terduga zan. tapi yang menjadi pertanyaannya, apakah zan benar-benar serius dengannya?.


"zan" panggil rasya teduh memecah keheningan.


"hm?" masih fokus dengan kapas dan obat merah di luka itu.


Seperti Dejavu...


"kenapa kau menyukai ku?" pertanyaan yang membuat zan seketika menghentikan tangannya sebentar.


Antara terkejut dan spontan.


"kenapa kau menanyakan itu?" kembali mengoleskan salep yang dia raih sebelumnya.


"aku tidak ingin jatuh cinta dengan orang yang salah" katanya lirih dengan menunduk, memperhatikan zan diam-diam.


Zan menegakkan tubuhnya, membuat rasya ikut menegakkan kepalanya. dan tatapan mereka bertemu. memajukan tubuhnya menjadi berdekatan dengan dengkul rasya dan bertumpu dengan satu lututnya.


"mencintai seseorang itu bukan sesuatu yang salah, semua orang berhak untuk mendapatkan cinta" menaruh kedua tangannya di samping kanan kiri sisi rasya. tak tahu untuk apa.


"aku tidak memaksa mu agar jatuh cinta pada ku, kalau pun aku mencintai secara sepihak itu bukan masalah"


Rasya mengkerut kan keningnya, tidak masalah dari mana?! bukankah itu akan menyakitkan?!.


"kenapa? ragu?" menyentuh lembut kening rasya, memudarkan kerutan bingung yang ia buat.


Rasya sedang mengumpulkan segala keberanian. "iya! nikahi aku sekarang" ucapnya menantang padahal dalam hatinya sudah takut-takut.


Zan diam.


"kenapa? kau tak bisa? bukannya kau yang mengajak ku menikah tanpa adegan romantis sama sekali?" senyum kemenangan tampil disana.

__ADS_1


"ok hari ini? tentu bisa, atau kau ingin ku sulap rumah mu beserta halaman mu menjadi tempat pernikahan kita dalam sekejap mata?" kali ini zan benar-benar serius dengan ucapannya.


"tidak usah mengada-ada, mana ada acara pernikahan di lakukan malam-malam begini, lagi pula kantor yang mencatat pernikahan sudah tutup!" menatap tajam zan yang sudah berpindah posisi menjadi duduk di kursi tengah-tengah meja.


"aku bisa saja buat kantor itu buka malam-malam begini hanya untuk mencatat pernikahan kita" mengetuk-ngetuk meja makan dengan santai dan satu tangan yang bertengger di kursi.


Rasya merasa malu dengan ucapan zan 'pernikahan kita' arghh rasanya seperti benar-benar akan dilakukan besok. semoga saja tidak!.


"apa kata para tetangga-tetangga ku kalau aku menikah dengan cepat dan kau–" langsung memotong ucapannya sendiri, dia tak mau menyakiti zan dengan ucapannya.


Zan tertawa membuat rasya merinding. agaknya apapun yang di lakukan zan semua menyeramkan.


"bukan kah menikah dengan seseorang yang umurnya jauh itu sedang trend?"


Rasya hampir tergelak kalau saja dia tak menahannya. jangan bilang kalau zan selama ini main sosmed? HAHA rasya akan tertawa terbahak-bahak kalau memang itu benar.


"yang bilang umurnya jauh bukan aku ya" menahan tawanya sebisa mungkin.


Zan sedikit kesal dengan perkataannya sendiri, dia tidak perduli tentang umur, apa lagi ucapan orang-orang yang menjengkelkan. terlalu buang-buang waktu untuk memperdulikannya.


"ah iya" bangun dari duduknya berjalan ke kitchen bar, membuka satu-satu lemari makan yang ada isinya. masakan bi rini.


"ini sudah lumayan malam, mau makan malam di sini?" memutar badannya menghadap kembali ke meja makan.


Zan juga memutar kepalanya dari handphonenya. lalu dia mengangguk.


"pasti dia tidak akan makan malam habis pulang dari sini" gumamnya mulai menghangatkan makanan yang dibuat bi rini yang sudah dingin.


Setelah beberapa menit menunggu di depan kompor yang membuat hawanya panas, rasya membawa piring di meja makan yang mana masih ada zan yang sedang memperhatikan layar handphonenya. rasya jadi penasaran apa yang sedang zan lihat, ekspresinya itu loh, serius sekali.


"cuci tangan sana" kembali duduk dan langsung menyendok nasi yang akan dia makan.


Halah tak perlu makan sok cantik yang sedikit-sedikit, kalau lapar ya makan saja!. jangan sok cantik.


Tak sengaja ia melirik benda pipih milih zan yang tak tertutup. kening rasya mengernyit, yang dia lihat sama seperti yang dia liat waktu jalan-jalan berdua dengan zan waktu itu. selembar kertas yang bertuliskan kanji jepang. bertanya-tanya di dalam hatinya, dia seperti mengenal tulisannya.


Zan kembali dengan tangan basah, uh zan seperti itu seperti tambah menawan. sungguh!.


"zan itu apa?" menunjuk dengan ragu.


Zan menatap hpnya yang lupa ia matikan. "sebuah foto" jawabnya singkat.


Memang benar si tidak ada yang salah.


"kok kayak tulisan Rio" bergumam pelan sambil memperhatikan hp yang sudah dimatikan oleh zan.


Zan mendengarnya, Rio? adiknya nona danita? tapi rasa lapar telah menghasutnya untuk segera makan.


Setelahnya hanya suara sendok beradu dengan piring saja yang terdengar. porsi makan rasya bahkan lebih banyak dari zan. atau mungkin sama?, karna zan meminta nasi tambahan, RASYA TAK BOHONG, ZAN NAMBAH SAMPAI DUA PIRING DAN HAMPIR MENGHABISKAN SELURUH LAUK PAUK YANG ADA DI MEJA.


Zan rindu dengan suasana seperti ini, makan di meja makan, dengan makanan yang hangat dan nasi putih yang terasa hangat saat di dalam mulut. mungkin setiap hari zan melakukan itu, tapi dia selalu sendiri, hanyut dalam makanannya lalu membereskannya dan pergi tidur atau tidak ke ruang kerjanya. hanya itu hari-hari zan di apartemen mewahnya. untuk hari ini, dia merasa lebih hidup, makan di siapkan, di ambilkan nasi, di tanya ingin makan pakai lauk apa dan yang paling penting, di temani.


Sudah seperti pasangan suami istri bukan?.


yu bisa yu, nikah yu.


"terima kasih makanannya" zan berucap setelah memakai sepatunya kembali.


Yups benar, zan dan rasya telanjang kaki sedari tadi.


"hah? ah iya maaf ya kalau makanannya gak selera" tersenyum kikuk karna dia sudah lumayan mengantuk.


"mana ada orang yang nambah dua piring kalau tidak selera" begitu katanya, membuat rasya tambah kikuk.


Duh maaf saja, otaknya sedang loading karna mengantuk. dia hanya bisa mengangguk-angguk.


Tanpa rasya sadari, zan mendekat dan meraih rambutnya yang terkuncir kuda dengan rapih. di ciumnya rambut coklat alami itu membuat sang empunya terkejut karna tak menyadari zan yang sudah ada di dekatnya.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, zan melepaskan kunciran yang mengikat rambut singa kesukaannya. dan terbuka lah helaian rambut tebal rasya yang menjuntai ke bawah.


"kenapa di lepas!" menatap kesal orang yang telah menarik ikat rambutnya. rambutnya tuh tebal! lumayan susah untuk di tata rapih! hih.


"lebih cantik tidak di kuncir" memberikan kunciran bertelinga kelinci kecil itu ke empunya.


Wajah rasya mendadak menjadi panas, oh jadi zan lebih suka kalau dia menggerai rambutnya. tapi itu sangat gerah, karna rambutnya sangat tebal.


"hm" menutupi wajah malunya.


Zan tertawa ringan lalu mengusak rambut rasya, membuat rambutnya berantakan, dan kembali menjadi rambut singa! ini kan yang zan senangi? rambut singanya.


"IHHH" melepaskan tangan zan dari atas kepalanya, tangan ini lah yang membuat rambutnya berantakan.


Cup


Rasya terdiam di tempatnya, zan menempelkan bibirnya di kening rasya.


jedag jedug


Apa kau mendengarnya? jantung rasya kembali tak normal!. kenapa zan ini sangat suka membuat hati orang bergetar tak normal. arghhh rasya tak sanggup kalau seperti ini ya tuhannn!!.


"aku pamit pulang" tersenyum mengejek karna muka rasya sudah sangat merah, sepeti tomat yang sudah matang.


Zan membuka sendiri pagar rumah dan menutupnya sendiri juga, dilihatnya rasya hanya menatapnya dengan wajah yang masih memerah tomat sebelum menutup rapat pagar. setelah tertutup rapat, dia tersenyum tak henti-hentinya, mengingat lagi apa yang barusan ia lakukan. ia tak menyesal, memang itu yang ingin dia lakukan. tak masalah kan melakukannya dengan pacar?.


uhuk pacar, barusan mereka membicarakan tentang pernikahan.


Rasya buru-buru masuk ke dalam rumah, menguncinya dan berlari ke kamarnya seperti setan. menutupnya dengan keras dan menjatuhkan dirinya ke kasur, menutupi wajah merah dengan bantal dan berteriak seperti orang kesetanan.


"ZAN SIALAN! BERANI-BERANINYA DIA MEMBUAT JANTUNGKU BERDETAK TAK NORMAL! ARGHHH" dan berakhir dia guling-gulingan menahan malu sekaligus bahagia. sepertinya ada banyak kupu-kupu di dalam perutnya sekarang.


Ternyata sebahagia ini mencintai orang yang tepat.


****


Berjalan linglung menuruni tangga dengan mata yang setengah terpejam. panggilan alamnya sangat menggangu tidurnya, sungguh.


"kau berhubungan dengan sekertaris zan?"


Rasya yang baru saja sedang menguap setelah menyelesaikan panggilan alamnya, sontak menoleh.


Dia melihat ke jam dinding ruang tamu. jam dua dini hari, dan ayahnya baru pulang?.


"jawab pertanyaan ku!!" bentaknya dibawah pengaruh alkohol.


"i–iya" mencengkram ujung bajunya, antara marah, sedih dan kecewa.


Lelaki yang masih berpakaian jas itu duduk dengan sembarang di sofa.


"berapa harga yang kau tawarkan ke sekertaris zan?" menyesap rokoknya dengan mata yang teler, bahkan suaranya terdengar tak jelas.


Rasya menggigit kuat bibir bawahnya, hatinya terasa sakit dengan perkataan ayahnya barusan.


"100 jt permalam? wah memangnya apa yang bisa di nikmati dengan tubuh tak suci mu itu"


"rasya bukan jalang!" tekannya dengan suara gemetar.


"tapi ibu mu jalang!, jalang akan melahirkan anak jalang lainnya, cih!" meludah sembarang ke lantai, seperti jiji dengan darah dagingnya sendiri.


Rasya meringis mendengarnya, semua caci maki ayahnya sudah ia terima sejak kecil. sekarang? kenapa ayahnya membuka kembali luka lamanya? hatinya tambah sakit.


"bahkan kau sudah tak suci sejak kecil, apa bedanya kau dengan ibu mu!" berteriak dan membentak.


"itu karna kecelakaan! aku di culik, di sekap dan di perkosa bahkan aku hampir mati karna meminum air mani bedebah itu! rasya juga tak mau mengalaminya!!!" balas meneriaki ayahnya, dan berlalu begitu saja menaiki tangga.


Kapan caci makian ayahnya akan berkahir?.


Bersambung


Aku mau fokus lurusin hubungan zan sama rasya dulu yaa, nanti untuk chapter ke depan aku bakal fokusin dulu ke mereka. hehe

__ADS_1


Jangan lupa komen yaa 💕💕


__ADS_2