
setelah bubar dibawah dan rajwa dan Rizal sudah pulang ke tempat masing-masing, Rangga hanya duduk menatap danita yang dari tadi hanya menutupi wajahnya dengan selimut.
"danita" panggil Rangga mengelus rambut danita.
"mual banget ya kalo Deket aku?" ucapnya sangat lembut dengan tangan yang masi mengelus lembut rambut danita.
danita diam saja menutupi wajahnya dengan selimut dan membelakangi Rangga.
"kata rajwa aku harus menjaga jarak denganmu selama sebulan" ucapannya terhenti. "tapi aku tidak bisa" ujarnya terdengar sendu.
danita membuka selimutnya bangun dari tidurnya dan menatap wajah rangga yang sudah seperti serba salah. karna tidak tega melihat wajah suaminya seperti itu akhirnya danita memeluk tubuh Rangga dari samping dan menjatuhkan kepalanya ke dada Rangga.
"maaf" ucap danita pelan.
"kenapa kau meminta maaf hm?" mengelus lembut rambut danita yang ada dibawahnya.
"aku tidak tau kenapa tadi aku sangat mual saat mencium aroma tubuhmu" nada suaranya gemetar seperti ingin menangis.
"bahkan tubuhmu menjadi kotor lagi karna ku" kali ini danita benar-benar sudah menangis didada Rangga.
"tidak apa-apa aku tidak marah kok"
"tapi tadi kamu teriak-teriak dibawah" mengangkat kepalanya dan menatap Rangga.
"itu karna Rizal terlalu menjengkelkan" mengusap jejak air mata di pipi danita.
"Rizal?" bingung danita karna belum pernah bertemu dengan Rizal.
"sahabat kecilku yang paling ku benci" ceplosnya tanpa ragu.
"eh?" kebingungan dengan kata benci.
"sudah jangan memikirkan Rizal, tidak ada guna memikirkan dia" menyelipkan rambut danita ke belakang telinganya.
"katamu dia sahabat kecilmu tapi kenapa kau membencinya?" Masi membahas.
"aku tidak mengizinkan mu menyebut nama laki-laki lain" langsung menyambar kata-kata danita.
"gila kali" desis danita.
"kau hanya boleh menyebut nama ku" lagi-lagi seenaknya.
"kalo Rio" sepertinya danita menantang Rangga.
"sekalipun itu adikmu tetap tidak boleh" sarkasnya.
"papa kino?" melanjutkannya lagi.
"tidak boleh"
__ADS_1
"Rangga adinata?" tersenyum lebar.
"ini baru boleh" ikut tersenyum senang.
"Rangga jelek sejagat raya?" wah wah danita sudah tidak ada takutnya dengan Rangga.
"katakan sekali lgi" mendekatkan dirinya ke danita dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"tidak-tidak sayang, tuan Rangga adinata tentu saja tampan sejagat raya" melebarkan tangannya seperti mendeskripsikan lebar ketampanan Rangga.
karna ekspresi Rangga Masi tetap sama sampai danita jadi kembali berbaring karna Rangga yang ada diatasnya menindihnya. akhirnya danita menggunakan cara pamungkasnya untuk meluluhkan hati Rangga. yup tentu saja dengan cara mencium Rangga.
Rangga tentu saja membalas ciuman danita itu, hampir saja Rangga keblabasan karna bibir danita itu tapi untungnya itu semua tidak terjadi karna tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"tuan saya boleh masuk?" izin orang yang diluar kamar.
Rangga melepas pautan mereka berdua, kembali duduk dan membenarkan rambutnya yang agak berantakan itu.
"masuklah" suara Rangga terdengar.
berbeda dengan Rangga, danita langsung menutupi wajahnya dengan selimut saat handle pintu terbuka. kenapa? karna Rangga membuat beberapa tanda kepemilikan di lehernya tadi.
"ini tuan susu hamil nona danita" pak Tan meletakkan gelas yang berisi susu itu ke atas nakas.
"ada apa zan?" Masi menyisir rambutnya.
"dibawah anda kedatangan tamu tuan" jawab zan sambil sedikit melirik kearah danita.
"nyonya marlin " sambung zan membuat Rangga tepatung seketika.
"aku akan segara turun" tatapan Rangga sudah tidak seperti tadi.
"baik" membalikkan badannya dan keluar kamar bersama pak Tan.
Rangga beralih ke danita yang masi menutupi wajahnya itu didalam selimut,
"buka wajahmu" ucapnya.
danita membuka selimutnya dan menatap sekitar.
"aku akan turun sebentar" sudah berdiri tapi tangannya ditahan danita.
"sayang panggilkan audri untuk menemaniku ya" senyumnya.
"hmm" melepaskan tangan danita dan berlalu pergi keluar kamar.
"siapa tamunya? aku jadi penasaran" gumam danita menatap Rangga yang baru saja menutup pintu.
"zan panggil audri temani danita didalam" ucapnya saat sudah ditangga.
__ADS_1
zan berjalan cepat turun kebawah dan berjalan kearah taman belakang tempat audri berada.
"mau apa kau kesini?" gumamnya memperhatikan seorang wanita paru baya tapi rambutnya Masi hitam lebat itu sedang duduk dengan elegan di sofa ruang tamu.
"Rangga" panggil wanita itu saat melihat Rangga mendekatinya.
"mau apa kau kesini?" tudep Rangga.
"apakah seperti ini papamu mendidik mu?" ucap lagi wanita itu.
"jangan menyebut nama papa dari mulutmu itu" tidak memperdulikan siapa wanita yang ada dihadapannya sekarang.
"Rangga mama kesini ingin menemui mu, mama merindukanmu" ternyata wanita itu adalah ibu kandung Rangga, seorang ibu yang sudah meninggalkan Rangga dan papa kino di masa lalu.
"sudah berapa tahun kau meninggalkanku dan juga papa? apa Masi pantas kau ku sebut mama?" desis Rangga terdengar sangat sarkas.
"Rangga apa kau tidak merindukan mama?" ucap wanita itu.
"untuk apa aku merindukan mu" ekspresinya sama sekali menunjukkan terkejut atau apa Rangga hanya bermuka datar menatap ibu kandungnya itu.
"sepertinya wanita bernama Wulan itu sudah mencuci otak mu dan papa mu ya?" wanita itu Masi bernada datar dan tenang sambil duduk dan menatap Rangga yang berdiri di depannya.
"jangan menjelekkan nama Tante Wulan" Rangga mulai emosi.
sebenarnya jauh di lubuk hati terdalam Rangga dia sangat merindukan pelukan ibunya, usapan lembut di kepalanya dan cara bicara ibunya yang dari dulu selalu lembut itu. tapi apa lah daya Rangga dia sangat membenci dan marah kepada ibunya karna pergi meninggalkan dirinya dan juga papanya.
"atau istri kecilmu itu sudah mencuci otak mu?" memiringkan kepalanya.
"nitaku tidak ada hubungannya" Rangga mengepal tangannya menahan emosi saat melihat ibunya itu.
"ah jadi namanya Nita, aku jadi ingin bertemu nitamu" "lagi pula dia kan juga menantu ku" sambung wanita itu seperti mengejek dan menantang Rangga.
"siapa yang kau sebut menantu?"
"danita bukan menantu mu" sarkas Rangga setengah berteriak.
"kau memang tidak berubah ya nak, kau Masi tetap Rangga yang mama kenal" tersenyum sarkas yang membuat Rangga jijik.
Rangga diam saja menatap mamanya yang sangat membuat Rangga kesal saat melihat wajahnya. wajah Rangga dan Tante marlinitu hampir sama hanya Idung Rangga yang mirip dengan papa kino. dia membenci wajah cantik dan elok mamanya itu karna wajah mamanya itu membuat papa kino tergila-gila dengannya dan akhirnya Tante marlin pergi meninggalkan mereka berdua.
"zan kau sudah besar ya" menatap zan yang berdiri dibelakang Rangga.
zan diam tidak menjawab maupun melirik Tante laras, baginya apa yang dibenci Rangga itu juga hal yang dibenci dirinya. apa lagi dimasa lalu Tante marlin menyakiti hati papa kino, papa kino dulu orang yang sangat dihormati zan sampai sekarang.
"tidak usah terbang seperti itu nak, mama akan pulang sekarang" berdiri dari duduknya dan menatap putranya itu.
"cepat pulang sana" usir Rangga dengan muka yang datar.
Tante marlin hanya tersenyum menatap Rangga, lalu berjalan keluar rumah utama tanpa diantar. bahkan tamu pun tetap diantar oleh pak Tan, karna Rangga membenci tamu yang satu ini jadi pak Tan tidak mengantarnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG
PS*: ingatkan author jika ada typo:b