Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Zan (1)


__ADS_3

Terlepas dari segala hal yang menyangkut rangga dan adinata, zan juga mempunyai kehidupan pribadinya sendiri. dia sudah bisa mendapatkan apapun yang dia ingin dengan mudah. tapi dia selalu rendah hati dan tidak mau berbangga hati dengan dirinya.


sebuah mobil melintas terparkir disebuah kafe yang berisi anak muda yang sedang bersantai disana.


"biasa" mengangkat tangannya ke barista kafe yang sudah sering menyajikan kopinya.


zan duduk sendiri dipojok jendela tempat biasa dia merenung sambil menatap keluar jendela. suasana disana agak ramai karna hari ini adalah malamnya anak muda, banyak juga anak muda yang datang dengan temannya.


"mereka pasti jomblo" menatap dua orang wanita bersama temannya masuk kedalam kafe. "kasihan sekali" tidak sadar diri dengan dirinya sendiri.


"kopi hitam seperti biasa" menaruh secangkir gelas bening yang sudah diisi dengan kopi hitamnya.


"terima kasih" menatap uap yang keluar dari kopinya.


mulai menyeruput kopinya dengan sangat tenang dan damai, zan terlihat tersenyum samar saat kopinya sudah mengalir di tenggorokannya. kopi itu tidak memakai gula sama sekali, tapi zan sangat menyukai rasa pahitnya.


"nona danita apa benar anda ingin berhenti kuliah?" menatap kembali keluar jendela. "aku tidak yakin tuan rangga akan menerimanya dengan mudah, kalau memang iya pasti sudah benar-benar tuan Rangga pikirkan" menyeruput kembali kopinya.


suasana dingin didalam kafe menambah kesan nyaman sambil meneguk minuman masing-masing.


"kamu kenapa si sekarang?" didalam ketenangan berlangsung ada dua pasangan yang sepertinya sedang bertengkar.


"bukan urusan lu" si cowo itu pergi meninggalkan wanita yang sedang menahan butiran air matanya.


"aku kurang apa si Dimata kamu?" teriak si wanita itu membuat seisi kafe menengok kerahnya. kecuali zan.


"apaan si lu, ikut sini" menarik tangan si cewe dengan sangat kasar.


zan tidak perduli dengan pertengkaran kedua pasangan itu. dia memilih menikmati gelas kopi keduanya sekarang.


"lu tu bisa gak si gak bikin gw malu?" bentak si cowok itu sambil melepaskan tangan si cewe dengan sangat kasar.


"aku kurang apa Dimata kamu?" memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


"lu itu cewek nyusahin, bisa gak sehari aja jangan minta anterin gue beli benda-benda lu?" lagi-lagi si cowok membentak.


"ya ok aku minta maaf, udah kan?" menatap dengan mata sayu.


"terserah lu, gue mau putus" meninggalkan ceweknya begitu saja.


"sayang aku gak ma–" si cewek terjatuh karna tersandung aspal.


"hiks" dia sudah tidak bisa menahan air mata dan rasa sakit hatinya lagi.


orang-orang disana menatap heran kearah wanita itu, mereka sebenarnya sudah menatap sejak pertengkaran diluar berlangsung. sepertinya langitpun mendukung kesedihan wanita ini. titisan air hujan turun lumayan deras membasahi baju si wanita itu yang manis terduduk di aspal.


"mau sampai kapan kau disana?" zan datang membawa payung ditangannya.


"pergi saja jika kau hanya ingin bertanya" Masi menangis.


"baiklah niat saya ingin membantu anda tapi sudah ditolak mentah-mentah" berjalan melewati wanita itu, tapi baru berapa langkah dia dihentikan.


"kau mau membantuku? sungguh?" menaikkan kepalanya dengan pipi yang bercampur air mata dan air hujan.


"antar aku pulang, ku mohon aku lupa membawa dompet" memegang tangan zan memohon dengan sungguh-sungguh.


zan menarik wanita itu sampai ke parkiran kafe, dia membuka pintu mobil tapi si wanita tidak mau masuk dan malah memberontak.


"kau mau menculik ku ya? kenapa aku dimasukkan ke mobil?" memukul-mukul lengan zan dengan tangan kecilnya.


"anda ini bisa diam tidak? anda yang tadi memohon minta tumpangan kan?" menatap tajam wanita yang didepannya.


"ya tapi jangan masukkan aku kedalam mobil seperti ini dong" terdiam seketika saat wajah tampan didepannya bersinar dimatanya.


"anda mau naik apa? jalan kaki? yasudah sana" menarik keluar wanita itu dan membasahi bagian belakang bajunya.


"tidak tidak!" langsung masuk secara paksa dan duduk diam disana.

__ADS_1


zan menutup pintu dengan sedikit keras karna jengkel dengan sikap wanita ini. niatnya hanya ingin membantu tapi kenapa dia harus menggunakan urat lehernya tadi?.


"dimana rumahmu?" menyalakan mesin mobilnya dan meluluhkannya dengan kecepatan sedang.


wanita yang disebelahnya mencari-cari hpnya dicelanya dan kantungnya. "aku meninggalkan hp ku dirumah" menepuk jidatnya tapi matanya itu terus melirik zan.


"beri tahu saja dimana rumahmu" tetap menatap kedepan sana tanpa melirik sedikitpun.


akhirnya wanita itu menuntun zan kerumahnya, selama perjalanan hanya wanita itu yang mengoceh arah-arah kerumahnya.


"kau ini bodoh atau apa? melupakan hp mu dan membawa uang hanya demi pacar mu?" bicara dingin tanpa melepaskan pandangannya.


"hei jangan sebut dia pacar ku dia sudah menjadi mantanku" menatap tajam zan yang tidak terusik dengannya.


"aku tidak perduli" ya zan memang tidak perduli dia hanya berniat membantu.


"hmm dia ini dingin-dingin gitu ya, tapi dia sangat tampan" tersenyum dalam hati menatap wajah tampan zan. "aku langsung bergegas kesana saat dia bilang ingin bertemu" memainkan sabuk pengamannya.


"ceroboh sekali" kali ini zan sempat meliriknya sedikit saat dia berbicara.


"diam aku sedang patah hati" menyenderkan kepalanya ke jendela.


"aku tidak per–"


"sutttt, diam saja bisa kan?" omel wanita itu menempelkan telunjuknya ke bibir zan.


"apa-apaan wanita ini?" menatap tajam telunjuk wanita itu yang masi menempel dibibirnya.


"aku bagi tisunya" langsung mengambil satu pack tisu. "oh iya aku izin menangis disini ya" padahal dia sudah mulai menangis disana.


"Hem" zan mendengarkan Isak tangis wanita itu, bahkan ocehan Omelan wanita itu kepada mantan pacarnya tadi zan dengarkan. dari pada sunyi didalam sana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2