Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Hadiah Dari Tuhan


__ADS_3

Ingin sekali rasanya satu detik saja dunia terhenti untuknya. menutup rapat-rapat telinganya, seolah-olah tidak mau mendengar suara yang sangat dia kenal sedang saling meneriaki satu sama lain. menutup rapat-rapat pintu yang menjadi penghalang suara itu tidak bisa ia dengar dengan sangat jelas, dan lampu yang sudah ia matikan untuk menyembunyikan tubuh kecilnya yang sedang meringkuk di ujung ruangan.


seperti dunia yang sedang menghantam tubuhnya dengan ribuan anak panah yang seperti tidak ada kata ampun untuknya.


sementara diluar pintu itu tepat didepan pintu itu, suara ketukan sudah beribu kali mencoba untuk membujuknya untuk membukakan pintunya. tetapi satu langkah pun dia tidak berani untuk melangkah.


"pergi pergi" lirihnya gemetar dengan air matanya yang menggambarkan rasa takutnya.


setelah itu tidak ada suara ketukan lagi yang terdengar, digantikan dengan suara lemparan kaca disertai dengan teriakan yang tak kunjung mereda.


ceklek ceklek


dia melupakan kunci cadangan.


"pergi" suara pintu itu seperti membuat hatinya bergetar begitu hebat.


samar-samar dia mendengar deru nafas yang semakin mendekat ke dirinya, semakin jelas di telinganya semakin rapat juga tubuh mungilnya dengan dinding yang suhunya sudah sangat dingin.


"hei" berhasil menemukannya. lalu berjongkok bertumpu pada satu kaki.


suara itu semakin membuatnya gemetar.


"pergi" tubuhnya bergetar hebat. tangannya semakin merapat pada daun telinganya.


"kendalikan dirimu" tangannya menjulur perlahan ke bahu yang sudah bergetar sedari tadi.


"pergi" teriaknya menjauhkan dirinya.


"kendalikan dirimu" membalas teriakannya dan berhasil memegang bahu yang semulanya bergetar.

__ADS_1


nafas yang menggebu-gebu, bibir yang sudah memucat dan mata yang sudah bukan seperti seorang anak yang masih belia.


"kendalikan dirimu" ucapnya berulang-ulang.


dirinya sendiri tidak kuasa untuk menatap mata sendu yang membengkak didalam kegelapan. lampu sengaja dia tidak nyalakan dan hanya lampu tidur yang remang-remang menjadi secercah cahaya dia menemukan tubuh kecil yang merapat ke dinding.


"pergi pergi" suara seraknya yang hampir tak terdengar disertai dengan isak tangisnya.


"kau ingat janji yang kau ucapkan setelah kau melihat ku hendak mengakhiri hidup?" menangkup wajah yang sangat takut hanya untuk mengangkat pandangannya.


sambil sesenggukan dia menggeleng gemetar.


"baiklah akan ku buat kau mengingatnya" dengan perlahan dia menyentuh tangan yang menutup rapat-rapat telinganya.


pranggg


"jangan katakan apa-apa jangan katakan apa-apa" meringkuk kembali dan suaranya semakin terdengar lebih gemetar sehingga suaranya tidak jelas.


"tatap mata ku" memegang bahu yang kesekian kalinya, tangannya ikut gemetar mengikuti getaran bahunya.


Tetap menutup telinganya rapat-rapat dan menggeleng ketakutan. kakinya menendang-nendang walaupun itu sama sekali tak mencapai jangkauannya.


"semuanya akan pergi semuanya akan pergi semuanya akan pergi semuanya akan pergi" mengulang-ulang kalimatnya. bahkan sekarang air mata sudah tidak mau menjadi saksi bisunya.


"apa aku pernah meninggalkan mu?" akhirnya dia berteriak mengehentikan kalimat yang diulang-ulang bocah lelaki itu.


Kalimat itu akhirnya terhenti, tanpa sadar dia melepaskan telapak tangannya dari daun telinga yang sudah memerah. mengangkat kepalanya, dan terlihatlah seluruh jejak air mata yang sudah mengering di pipinya.


"aku tidak akan pernah meninggalkan mu" berusaha untuk tidak membuat suaranya terbata-bata setelah melihat seluruh jejak air mata yang bagaikan hiasan yang menempel di wajah.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya bocah laki-laki itu bisa mendengar hanya satu suara, entah memang teriakan itu sudah selesai atau tuhan yang sedang mengabulkan doanya.


"seperti janji yang kau ucapkan saat itu untukku" menatap penuh arti manik-manik hitam itu.


yah, bocah laki-laki itu hanya mendengar satu suara. yaitu suara yang sedang menggema didepannya. dan angin yang terasa menampar pipinya yang sangat dingin.


"sekalipun dunia pergi meninggalkan mu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu" sebuah kalimat yang beberapa tahun lalu bocah itu katakan, sekarang dia yang mengatakannya.


Sekeras apapun suara diluar sana, sudah tidak bisa dia dengar. dia hanya bisa mendengar suara anak laki-laki yang selalu dia ajak bermain setiap saatnya.


"genggam tangan ku, jangan pernah berfikir aku akan pergi meninggalkan mu" mata yang selalu menatap dingin, kini untuk pertama kalinya mata itu mencurahkan kehangatan.


only for her, that warmth is there only for him.


Seperti seorang kakak yang sedang mengehentikan tangisan adiknya. begitu pula dengannya, meraih tubuh yang lebih kecil darinya lalu memasukkannya kedalam dekapannya. mencoba agar teriakan terakhir yang menyaring dari ruangan lain itu tidak menembus gendang telinga yang sedari tadi ditutupi.


Bagaikan sebuah peringatan dari Tuhan, jam yang diletakkan diatas meja berbunyi. setelah menatap angkanya anak lelaki itu mengusap lembut rambut belakang yang sedang ia peluk, menempatkan bibirnya di daun telinga yang memerah, lalu ia berucap.


"selamat ulang tahun...rangga" bisiknya dengan cairan bening yang menetes diujung matanya.


Bisikan itu kembali menyadarkannya. ketika ia tersadar dan sudah dapat dia dengar suara rintikan air hujan yang tidak tahu kapan menetesnya. teriakan itu sudah tidak ia dengar lagi, hanya suara isakan yang terdengar tertahan seirama dengan rintikan hujan diluar sana.


semesta mulai kembali berputar disekelilingnya.


Semula-mula dia membayangkan kue besar didepannya dengan lilin yang akan ditiup bersama-sama dengan kedua orang tuanya. tetapi itu semua hanya akan menjadi keinginan semata yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi. dia anggap ini sebagai hadiah dari Tuhan langsung untuknya, karna dia percaya apapun yang terjadi atas kehendak tuhan pasti ada hikmahnya. walaupun hikmah itu datang dibarengi dengan hilangnya sesuatu yang awalnya indah dimatanya.


BERSAMBUNG


ps: ingatkan author jika ada typo

__ADS_1


__ADS_2