Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Membuka Kado


__ADS_3

Pagi hari baru tiba, rumah utama mulai kembali normal setelah semalam mengadakan pesta besar. di kamar utama, sudah ada tanda-tanda kehidupan.


Danita membungkus tubuhnya di bawah selimut sambil membuka hp rangga. hpnya sedang diisi daya, jadinya dia meminjam sebentar handphone suaminya. hanya ingin menonton di aplikasi berwarna merah.


Sementara yang punya hp sedang berada di kamar mandi. katanya si ada rapat penting, jadinya pagi-pagi dia sudah bangun. padahal dirinya ingin bersama istrinya, kalau bisa setiap saat dia tak mau lepas.


"kapan dia mengambil gambar ku?" menatap layar kuncinya.


Foto dirinya kemarin yang memakai dress putih dengan perut buncitnya.


cup


tiba-tiba selimutnya dibuka dan satu kecupan mendarat di dahinya.


"sayang kapan kamu mengambil gambar ku?" menunjukkan layar hp ke rangga.


Rangga mengangkat bahu.


"kok gak tahu?" mengkerut kan keningnya.


Rangga tak menjawab dan malah mencium sekaligus menghirup aroma tubuh danita yang belum mandi itu.


"jangan dicium-cium, aku belum mandi" memegang kepala rangga berusaha menjauhkannya.


"geli" bergerak-gerak tak nyaman karna ulah rangga.


"Nita cium" memberhentikan aktivitasnya.


Danita mendekatkan wajah rangga dan menciumnya. sebenarnya dia tak mau, tapi muka murung suaminya membuatnya tak berani membantah.


"sayang aku boleh membuka kado-kado itu gak?" menunjuk tumpukan kado yang ditaruh disamping sofa.


"hm" gumamnya menciumi tangan mungil danita.


"ini apa si cium-cium mulu" menatap geli dan aneh.


"sayang ini udah jam setengah tujuh loh"


"biarkan saja" masih asik memainkan tangan danita.


"katanya meetingnya jam tujuh, nanti kamu bisa telat sayang" dia ingin menarik tangannya dari mulut rangga.


"tidak ada yang akan memarahiku kalau telat"


"Presdir apa ini yang seenaknya!". omel danita dalam hati.


"kamu kan harus mencotohkan yang baik untuk karyawan-karyawan kamu"


"karyawan-karyawan ku sudah tahu aturan" menempelkan tangan danita di pipinya.


"tapi masa pemimpinnya telat, bagaimana karyawannya mau menaati aturan kalau pemimpinnya saja bertingkah seenaknya?" menatap geli tingkah rangga disana.


Rangga berhenti memainkan tangan danita, ahh pintar sekali istrinya ini berbicara. gemas rangga jadinya.


"nita kalau nanti kamu sedang membuka-buka kado itu lalu kamu melihat ada yang bentuknya aneh, jangan dibuka ya?" ucapnya sambil menyingkirkan rambut-rambut danita dari leher yang ada banyak bercak karyanya semalam.


"kenapa?"


"jangan dibuka saja, biar aku yang membukanya nanti" mengecup lembut leher jenjang danita yang sudah ada banyak karyanya.


"ohh oke" masih belum terganggu dengan rangga disana.


Rangga mengigit kecil kulit mulus danita.

__ADS_1


"sayang jangan di tambah lagi!!" teriak danita kesal karna rangga menambah karyanya lagi di lehernya.


Dia saja tak tahu bisa hilang atau tidak karya suaminya itu, malah ditambah lagi. benar-benar!.


****


tok tok


"masuk saja sari" setengah berteriak dari dalam kamar.


Sari masuk dan menutup pintu tanpa menimbulkan suara. berjalan mendekat ke tempat nonanya. dan duduk dengan tenang.


"kamu sedang sibuk?" menatap penuh ceria dan senang ke sari.


"tidak nona" jawab sari sopan sambil tersenyum.


"kalau begitu ayo kita buka kado-kado ini bersama" mengangkat satu kotak berpita merah sambil tersenyum gembira.


Sari mengangguk semangat dan mulai mengambil kotak hadiahnya. setelah danita mengambil tentunya.


"wahh apa ini?" danita membuka kotak berpita merah itu.


"wahh" sari menatap binar dengan kado yang berada di pangkuannya.


"lucu sekali" mengeluarkan topi untuk bayi berwarna putih dan hitam.


Ada suratnya ternyata, danita mengambilnya dan menyentuh kertas itu. dia seperti memegang kapas, lembut sekali kertas ini. dibukanya dan melihat tulisan indah di dalamnya.


Isinya ucapan hormat kepada tuan rangga dan ucapan selamat atas perayaan pernikahan mereka dan juga ucapan selamat atas kehamilan danita yang tak disebut namanya disana.


Kata-katanya baku semua.


"kira-kira ini harganya berapa ya sari?" memegang dua topi kecil itu dan menatap nama merek yang tertera sebagai desainnya.


Danita mengangguk setuju. lalu dia membuka hpnya.


"wahh sari sari lihat" menunjuk heboh layar hpnya.


"satu pasang itu nona?" menatap tak percaya dengan harga yang tercantum.


"enggak satu doang sari" menatap nanar harga yang ditunjukkan.


Mereka menatap nanar layar hp danita, satu topi saja sudah setara dengan harga satu buah handphone, dan ini ada dua. wahh. jiwa misquen danita terguncang.


Danita tahu itu tak sopan tapi dia penasaran. jadi dia menutup kembali hpnya. dan membuang nafas bersama-sama sari.


"nona ini apa?" ucap sari mengeluarkan botol besar yang terlihat sangat mewah.


"ini bir sari" matanya berbinar melihat botol besar yang baru pertama kali dia lihat.


"minuman beralkohol nona?" menatap danita yang sedang matanya berbinar-binar.


Danita mengangguk dengan mata yang membulat. jadi ini minuman yang hampir sama dengan minuman yang dia lihat di film-film drama korea. oke dia baru pertama kali melihat dan menyentuh botol itu.


Harganya berapa ya? ahh danita jadi penasaran. tapi dia tak mau memeriksa, takut syok dengan harganya nanti.


Mereka melanjutkan buka-buka kado, dengan berwah-wah setiap kotak yang dibuka. mengagumi dan tak jarang mereka akan membulatkan mata ketika melihat barang yang tak pernah mereka lihat. atau sambil menebak-nebak harganya berapa.


"nona kok ini bentuknya aneh?" tanya sari memegang hadiah yang berbentuk ntah apa itu.


Danita mengambilnya dan mengingat perkataan rangga tadi pagi. bentuknya aneh berarti jangan di buka.


"ini jangan dibuka sari" menaruh di atas ranjang.

__ADS_1


Sari meraih kado lain, memperhatikannya dahulu lalu menatap kado yang di pegang danita.


"ya tuhan kado apa ini?". menatap nanar isinya.


Benda mengkilau itu sedikit menyilaukan mata. danita menatap tak menyangka, orang apa yang memberi kado sebuah berlian semewah ini? apa ini kado nyasar?.


"cantik sekali" ucap sari menatap benda kotak yang sedang di buka nonanya.


"sari apa ini benar-benar sebuah kado?"


Sari dan danita berwah-wah sambil menatapnya. berlian itu sangat indah dan sangat mewah.


"oke sari kita cari kado yang paling kecil" menutup benda kotak itu.


Sari mengangguk spontan dan setuju. mulai mencari kado yang paling kecil, berharap isinya tidak mencengangkan.


"astaga apa ini?" syok danita membuka kotak kecil ditangannya.


Yang paling kecil malah tambah mencengangkan isinya. isinya cincin yang bermata permata biru yang sangat indah. oh tuhan hadiah apa ini?.


"permata biru" ucap sari tak kalah terkejut.


"cantik sekali ya sari?" menatap lekat cincin bermata itu.


Sari mengangguk menatap nanar cincin itu. sungguh indah sekali.


Danita menutupnya lagi. "sari bagaimana kalau kita mencari yang paling normal hadiahnya?" menatap sari antusias.


"sepertinya susah nona, karna kemarin yang datang itu banyak sekali para pebisnis nona"


Danita baru tersadar, jangan heran kalau hadiahnya tak normal begini. ingat yang punya acara adalah presdir adinata, tidak mungkin kalau para tamu undangan tidak membawakan hadiah yang mencengangkan dengan nilai yang fantastik. bagi mereka itu belum lah terbilang mahal, seperti topi bayi itu yang satu topinya senilai dengan satu handphone. oh tuhan jiwa misquen danita terguncang.


Bagi mereka, tidak ada benda yang terbilang mahal untuk membalas Budi tuan rangga yang telah membantu mereka.


Lalu danita mengangguk sambil berwajah sendu tapi sadar diri.


Mereka kembali mengambil kado yang lainnya, sesekali danita membuka hpnya. dia sedang melihat-lihat perlengkapan bayi yang ingin dia beli. semuanya lucu, tapi hadiah-hadiah ini juga ada untuk dua jagoannya. jadi pikir-pikir lagi. untuk membelinya.


"rio kasih kado ya? ibu bapak tadi udah, kok rio gak ada? apa ke lewat?". gumamnya mencari-cari di tumpukan kado yang banyak itu.


"sari sari ini lucu tidak?" ucap danita menunjukkan layar hpnya.


Sari mengangguk. "lucu nona" ucap sari tersenyum karna gemas dengan baju bayi yang tertera di layar hp danita.


"aku bingung"


"bingung kenapa nona?" menaruh kado yang sudah selesai dia buka.


"aku ingin membeli perlengkapan bayi, tapi aku bingung kado-kado ini sangat banyak untuk bayi ku. aku beli lagi tidak ya?" curhat danita ceritanya.


"beli saja nona, kan hadiah-hadiah ini belum semuanya untuk kedua bayi nona. beli saja yang memang menurut nona sangat penting" saran sari.


Danita mengangguk paham. apa ya yang belum. dorongan bayi? tadi dia membuka kado yang isinya dorongan bayi. mainan? setengah dari kado yang danita buka isinya mainan semua.


Lalu dia membuka hpnya lagi, dia tahu apa yang harus dia beli sekarang. tanpa ragu setelah melihat-lihat yang mana yang menurutnya bagus dan bertanya kepada sari. akhirnya dia menekan setuju untuk membeli.


Tentang uang? kartu tanpa batas sudah rangga kasih ke danita sejak awal pernikahan mereka. hanya saja danita tak tahu harus memakainya untuk membeli apa. akhirnya dia setiap bulan mengirim setengah dari jumlah yang rangga masukkan ke beberapa panti asuhan dan tempat-tempat penanggalan dana. kalau memang dia merasa ingin membeli sesuatu dia akan membelinya, itu pun setelah dia merasa sangat membutuhkannya.


"wahh nona lihat, lucu sekali perlengkapan makan ini" ucap sari terkagum-kagum.


Danita ikut terkagum-kagum. perlengkapan makan yang terbuat dari kaca dengan desain yang lucu nan imut. tapi tetap saja mahal. danita berharap ada satu saja kado yang nilainya masih masuk akal untuk disebut sebagai kado. tapi nyatanya tak ada.


Ingat, yang mempunyai acara kemarin adalah presdir adinata. dan tamu yang di undang adalah para sosialita. jadi jangan berharap kalau kado-kado yang diberikan memiliki harga yang masuk akal untuk sesuatu yang disebut kado.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2