
Tidak ada yang bicara, hening. hanya ada suara dari orang-orang sekitar yang ramai di mall ini. sejak kejadian tadi, zan jadi bermuka masam dan menjawab singkat jika rasya bertanya. dan lebih lagi tadi ada seorang pria yang sok akrab dengan rasya dan ternyata dia juga merupakan mantan kekasih rasya.
Ahh ini membuat zan prustasi, dua mantan kekasih bertemu diwaktu ya sama. apa itu masuk akal?.
"serius ini mah mau sampe kapan diem-dieman doang" mengaduk-aduk minumannya sambil menatap zan yang sedang mengotak-atik hpnya.
"om udah napa cemberutnya" mendesah pelan.
Zan tak bergeming tetap mengetik pesan di hpnya. entah dengan siapa dia mengirim pesan, tapi sepertinya fokus sekali.
"batu bisa cemburu juga ya" bergumam sendiri sambil menyedot minumannya.
Zan mendengarnya, dia menaruh kasar hpnya di atas meja dan menatap datar rasya.
"ga–gak om gak ngomong apa-apa sungguh" menelan dengan cepat minumannya.
"kau masih bisa berbohong? mantan mu yang mana lagi habis ini akan muncul?" sinis zan dengan tatapan dinginnya.
Rasya terkekeh geli mendengarnya. mungkin ini sudah satu jam lebih zan mendiamkannya karna perihal masalah mantan. ya mana dia tahu akan ada mantannya disini, zan pikir dia mau apa ketemu mantan.
"jangan-jangan kau mengajak ku kesini karna sudah tahu mantan-mantan mu juga akan ada di sini" memicingkan matanya.
"aku tidak tahu kalau mereka akan ada disini juga, rajin kali nemuin mantan dengan sengaja" membuat wajah yang meyakinkan.
Zan tetap memicingkan matanya, ahh apa si manusia ini.
"kok kau kalo seperti itu seperti orang yang waktu itu ya?" menopang dagunya.
"sekarang kau membandingkan ku dengan mantan mu?" wajah kesal dan masam tambah menempel di mukanya.
"mantan mulu heran" berdecak.
Wajah masam sedikit berkurang.
"waktu aku umur 10 tahun kalau tidak salah, ada seorang pria yang tidak sengaja menabrak ku saat aku pulang dari les" mengingat-ingat waktu itu.
"dia keren banget, turun dari mobil hitamnya memakai jas putih terus dengan muka dinginnya dia bilang 'kau tidak apa-apa?' " meniru suara berat dan dingin orang yang sedang diomongin rasya.
Zan mengkerut kan keningnya, saat rasya umur 10 tahun itu berapa tahun yang lalu? kenapa dia tidak asing dengan kata-kata itu.
"tapi parah si dia cuma nanya gak bantu bangun atau apapun, setelah aku bilang 'gapapa kak' dia langsung masuk lagi ke mobil" lanjut rasya sangat asik menceritakan.
Tatapan zan berubah seperti paham dengan cerita rasya.
"seperti kau sekali pokoknya, dinginnya, datarnya, kejamnya. tapi tampan kayak pangeran bermobil hitam" berwajah prustasi bingung dengan perkataannya.
"itu memang aku" sahut zan membuat rasya langsung membuka mulutnya, terkejut.
"ahaha bercanda mana mungkin"
"kuncir dua berpita merah, itu kau kan?" matanya tak lepas dari rasya yang sedang terkejut.
"se–serius?" mengedipkan matanya beberapa kali.
__ADS_1
Dia tak bersuara, hanya menatap datar sebagai jawaban.
"tatapan apa itu? tatapan itu milik pangeran bermobil hitam ku" celetuk rasya karna ya masih tak menyangka kalau itu adalah zan.
"ceroboh sejak kecil" tersenyum miring, lebih tepatnya tertawa meremehkan.
"ih om serius?" memajukan duduknya.
Zan menyilangkan tangannya, susah sekali rasya percaya kalau pria itu memanglah zan.
"coba buktiin kalau memang itu kau" masih tak mau menerima kalau pria itu adalah zan.
"kau tidak apa-apa?" tatapan dinginnya yang di ceritakan rasya tadi dia keluarkan dengan nada suara yang tak kalah dingin dan datar.
"wahh beneran? wahh" menutup mulutnya terkejut sekaligus kagum.
$ungguh rasya selalu memuji tatapan dingin pria yang menabraknya karna itu sangat tampan dimatanya. dan ternyata orang itu adalah zan.
"dunia benar-benar sempit ya?" masih menutup mulutnya tak menyangka.
Tatapan zan sudah berubah lagi menjadi datar dan tak berekspresi.
"waktu itu kau umur berapa?" menatap binar seperti anak kecil yang penasaran.
Zan berfikir sebentar, ada sesuatu yang membuatnya tak melupakan hari itu dan segalanya yang terjadi. maka dari itu dia mengingat rasya yang berumur 10 tahun.
"dua puluh lima" sahutnya setelah mengingat.
Rasya kembali menutup mulutnya, dia menghitung jarak umurnya saat itu. oke lima belas tahun, tidak dia tidak akan mengucapkannya didepan zan.
Tidak ada yang berubah si, tetap tampan sampai sekarang. berapa ya sekarang umur zan? nanti rasya hitung.
"kok bisa awet muda si om?" menyedot kembali minumannya.
"semua orang itu menua, tidak ada yang awet muda"
"tapi kau tidak ada bedanya sama yang pas kau dua puluh lima tahun itu"
Zan tak menjawab, bukan sesuatu yang harus dia jawab juga. tentang visual seseorang itu tidak ada yang tau kan? kalau tuhan maunya wajah orang itu seperti itu terus bagaimana? tapi zan tak pernah bilang didepan cermin 'wahh tampannya diriku' menggelikan sekali.
"kok om masih inget si detailnya?"
"harus ku jawab?" mengetuk-ngetuk meja.
Tidak jadi ah, seram tatapan zan. lebih baik diam.
Bagaimana zan melupakannya? itu adalah hari ulang tahunnya, dia habis menemui makan orang tuanya saat itu. menceritakan seperti apa hidupnya setiap satu tahun berlalu, walaupun hanya dua nisan yang ada didepannya. tapi itu sudah membuatnya senang dan nyaman karna bisa menceritakan kehidupannya kepada orang tuanya. walaupun hanya dua nisan yang seolah-olah menemaninya.
Dan itu masih berlaku sampai sekarang.
"dari pada ngelamun mending om bayar, ini dah malem" menunjuk kasir yang agak ramai orang memesan.
Dengan wajah datarnya dia berdiri, kenapa dia sekarang merasa senang saat membayar ke kasir semua makanan yang dia makan bersama rasya?. tadi yang memesan rasya yang membayar zan. harmonis sekali.
__ADS_1
drrt
Rasya memalingkan pandangannya dari zan ke hp yang tergeletak disana. kepo dia sedikit melirik layarnya. dan malah tambah penasaran pas liat pesanannya.
"kenapa tidak dikunci? bahaya sekali" niatnya ingin menutup kembali hp zan. tapi tak sengaja membaca isi pesannya.
Matanya tambah penasaran saat sebuah foto surat terpampang tidak sengaja dia pencet tombol back. lalu keningnya berkerut.
"ayo pergi" tiba-tiba suara zan langsung membuat rasya reflek menutup layar hp zan.
"a–ayo" meraih tasnya dan segara berdiri. apa tadi? sepertinya dia mengenali itu.
Hari memang sudah malam tapi mall ini sepertinya belum tutup, setahu rasya mall ini open 24/7. tapi mau sampai kapan zan membawanya berkeliling terus?.
"tadi ada pesan masuk di hp mu" memecah keheningan di setiap langkahnya.
Zan langsung merogoh kantung jasnya dan mengeluarkan benda pipih itu. langkahnya berhenti saat membaca pesan.
"kenapa?" menengok ke belakang.
"kosong kan jadwal mu besok" kembali memasukkan hpnya.
"eh? kenapa?" memperhatikan langkah besar zan yang membuatnya harus berlari kecil untuk mengejarnya.
"nona danita mengajak mu besok" berhenti secara tiba-tiba dan membuat rasya menabrak punggungnya.
"aduh!" memegang jidatnya.
"ceroboh" tanpa dosa melanjutkan kembali jalannya.
Gak ada nanya gitu?. aihh batu bernyawa ini.
"danita mengajak ku kemana?" berlari mengejar zan yang sudah jauh meninggalkannya.
Zan berhenti secara mendadak lagi dan hampir membuat rasya kembali menabrak punggungnya. "membeli perlengkapan bayi"
"ohh" mengangguk sambil memegang hidungnya.
"apa kau juga akan ikut?" menahan tangan zan yang akan berjalan duluan lagi.
"kalau tuan rangga ada aku pun juga ada" menatap datar seperti batu.
Wajah rasya berubah menjadi sumringah. "ayo om ikut" menarik tangan zan.
"pulang" kembali menarik tangan rasya ke lawan arah.
"ih gak! udah ayo ikut aja" berusaha keras menarik zan ikut dengannya.
Oke oke mall ini masih ramai pengunjung, rasya menarik-narik zan saja sudah ada yang menatap aneh. zan masih memiliki urat malu tidak seperti rasya.
"untuk apa kesini?" mengkerut kan keningnya.
"cari baju couplean" menarik zan masuk.
__ADS_1
Zan membuang nafas kasar, untuk apa?! ada-ada saja tingkah rasya ini. dia bersumpah akan membuang bajunya nanti. tidak paham zan dengan pola pikir rasya.
Bersambung